“Cin,” panggil Bias dari balik punggung Cinta yang berbaring membelakanginya. “Hm.” Cinta hanya bergumam singkat, malas membuka mata. Rasa lelah setelah menyatu dengan Bias masih melekat, membuatnya hanya ingin tenggelam dalam selimut. “Mau coba, tidur dalam gelap?” tanya Bias mengeratkan pelukannya di pinggang Cinta. “Nggak,” tolak Cinta cepat. Ia tidak perlu berpikir lebih lama, untuk sekadar memberi jawaban tersebut. “Ada aku di sini,” ucap Bias lalu mengecup pundak terbuka istrinya. Jika teringat perihal Briana yang pernah mengurung Cinta di kamar mandi, Bias jadi merasa miris sendiri. Ada nyeri yang tidak bisa ia jabarkan, jika berada di posisi Cinta saat itu. Sejak saat itu, Bias mencoba mengalah. Tidak lagi mematikan lampu di kamar di malam hari agar Cinta semakin merasa nyama

