“Ma, empat mata,” pinta Bias menunjuk ke arah ruang kerja Danuar. Saat Alma mengangguk, Bias berjalan lebih dulu dan membukakan pintu untuk mamanya. Mempersilakan Alma masuk, barulah ia menyusul setelah menutup pintu. “Tumben pake empat mata segala?” tanya Alma duduk di sofa panjang, lalu menyilang kaki, “apa ada masalah dengan kehamilan Cinta?” “Kehamilan Cinta baik-baik aja,” jawab Bias duduk di samping mamanya, “tapi, yang mau aku bicarakan juga terkait masalah kehamilan Cinta. Tolong jangan bilang ke siapa-siapa dulu kalau dia hamil.” “Why? Ini, kan, kabar baik?” “Masih ingat dengan kecelakaan Cinta sebelum kami menikah?” “Ahhh … iya …” Alma mendesah dan mengerti ke mana arah pembicaraan Bias. Masalah kecelakan Cinta kala itu sampai terlupakan, karena Alma sibuk mengamati pernika

