Bab 15

1061 Kata
Karin sudah diperbolehkan untuk kembali masuk ke sekolah. Karin menjalani hari-hari seperti biasanya tetapi ia lebih bisa mengontrol untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh lagi karena Karin sudah kapok setelah ia tertangkap dan masuk ke penjara. Raga melihat Karin semakin hari semakin malas, mengingat Raga tau bahwa Karin telah menculik Zahra. Zahra meminta Raga untuk tak memberi tahu siapa-siapa tentang dalang dibalik penculikannya. Zahra hanya tidak ingin banyak orang yang mengetahui kejahatan Karin. Zahra telah sepenuhnya memaafkan Karin. Disamping itu, Raga dan Zahra kini makin dekat. Kemana-mana mereka selalu bersama seperti prangko yang melekat pada amplopnya. Raga sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan selalu berada disamping Zahra dan akan melindungi Zahra dari orang-orang yang mau berniat jahat dengan Zahra. "Eh bambang, lo beneran udah suka ya sama Zahra?" Tanya Fikri yang melempari Raga dengan kulit kacang. Saat ini, Fikri, Reihan, Raga, dan Ardan sedang berada di rumah Raga. Mereka melakukan kegiatan rutinnya, yaitu merusuhi rumah Raga, dan juga menghabiskan snack yang ada di rumah Raga. "Gak tau" Jawab Raga singkat. "Halah pake so so an gak tau. Bilang aja udah sama kita-kita, ya gak?" Ujar Ardan. "Bener tuh. Tinggal jujur aja susah amat b**o" Ujar Reihan. "Padahal kalo gue inget yang dulu nih, Raga sama Zahra tuh kaya mustahil banget bisa jadian. Makanya gue kasih dare kaya gitu. Eh ternyata malah mereka berdua saling cinta dong" Ujar Fikri. "Bener juga kata lo, Fik. Bisa tuh dibuat film yang judulnya 'Aku Berpacaran Karena Dare dari Temanku" Ujar Ardan tertawa. Reihan dan Fikri pun tertawa. Raga hanya meliriknya sekilas dan tak berniat menanggapi gurauan absurd teman-temannya itu. "Gue takut" Ujar Raga yang membuat ketiga temannya berhenti tertawa dan menatap ke arahnya. "Kenapa lo? Takut diputusin Zahra?" Tanya Reihan. Raga hanya menggeleng. "Terus, lo takut apaan?" Tanya Ardan. "Gue takut kalo Zahra tau tentang dare ini. Bisa-bisa di salah paham" Ujar Raga. "Maksud lo?" Tanya Fikri. "Makanya otak tuh dipake. Lo diajak ngomong tapi dengkul yang lo pake mikir" Ujar Reihan menjitak kepala Fikri. "Ya kaya gini ini yang buat otak gue kagak bisa jalan. Jangan jitak mulu dong. Dikira kagak sakit apa" Ujar Fikri mengelus kepalanya. "Alah lebay banget lu jadi cowok" Balas Reihan. "Ini kan yang tau cuma kita-kita aja, Ga. Pokoknya kita harus saling menjaga aja sih biar Zahra gak tau tentang ini" Ujar Ardan. "Tapi yang namanya kebohongan juga pasti kebongkar pada waktunya, Dan. Cepat atau lambat" Ujar Raga. "Apa gue cerita duluan aja sama Zahra? Biar nanti dia gak salah paham sama gue" Lanjutnya. "Tuhkan, berarti lo tuh udah cinta banget sama Zahra. Buktinya, lo takut banget kalo sampe Zahra tau kalo lo pacarin dia awalnya cuma gara-gara dare." Ujar Reihan yang diangguki oleh Ardan dan Fikri. "Mungkin gitu" Jawab Raga. Pandangannya fokus mengarah ke depan dan tak menatap teman-temannya. "Kalo menurut gue sih, jangan sekarang kalo lo mau bilang tentang ini. Lo harus buat dia percaya dulu kalo lo bener-bener cinta sama dia. Baru deh nanti lo coba cerita pelan-pelan ke dia dan lo juga harus jujur tentang perasaan lo yang sekarang ini" Ujar Ardan. "Nah bener banget tuh. Gue setuju sama Ardan" Balas Reihan. Raga masih menatap ke depan. Ia memikirkan ucapan teman-temannya. Ia harus mempertimbangkan kembali apakah harus berbicara masalah ini ke Zahra atau lebih baik dia diam saja. ***** Zahra sedang makan malam di rumahnya bersama dengan kedua orang tuanya dan kakaknya. Sesekali keluarga itu bercanda tawa, ia senang bisa melihat papanya kembali tertawa setelah beberapa hari yang lalu, papanya dipusingkan oleh perusahaan nya yang terancam bangkrut. Setau Zahra, sekarang perusahaan papanya sudah kembali normal dan bisa berjalan seperti biasa. Hal itulah yang membuat papanya kembali tertawa lepas tanpa memikirkan beban pada perusahaannnya itu. Setelah selesai makan malam, Zahra masuk kamar dan membuka ponselnya, ia ngecek grup di w******p nya. Siapa tau ada chat penting yang belum ia baca. CIWI-CIWI CANTIK Natasya Adinda : Guys udah bikin pr fisika belum? Rania Amanda : Udah Nadien Olivia : Lo tau sendiri jawaban gue apa Natasya Adinda : Eh gue nyontek dong Ran @Rania Amanda Rania Amanda : Ogah. Natasya Adinda : Hilih pelit banget lo jadi temen. Nad, bantuin dong biar Rania mau kasih PR nya @Nadien Olivia Nadien Olivia : Kalo nyontek Rania tuh besok aja pagi-pagi. Pasti juga dicontekin Rania Amanda : Kalo gue gak kasih gimana? Natasya Adinda : Laknat banget lu jadi temen. Gue pecat baru tau rasa lu!!! Natasya Adinda : Woi @Azzahra Paramita lo bantuin gue dong buat bujuk si Rania. Gue mau bikin PR tapi gue kagak tau jawabannya Azzahra Paramita : Gue samaan kaya Nadien. Azzahra Paramita : Besok dikerjain pagi-pagi lihat punya Rania. Rania Amanda : Punya temen kagak ada yang bener. Natasya Adinda : Padahal gue udah rajin mau bikin PR, tapi Rania laknat banget gak mau kasih jawaban. Read by 3. Natasya Adinda : DASAR TEMEN LAKNAT. KOK DIREAD DOANG ! Read by 3. Zahra menutup grup chat absurdnya itu. Ia merebahkan tubuhnya dan memeluk gulingnya. Tiba-tiba wajah Raga terlintas di pikirannya. "Kenapa sih gue? Halu gak jelas malem-malem" Ujar Zahra pada dirinya sendiri. Tetapi otak Zahra tetap saja tak mau lepas dari bayangan Raga. Wajah cowok itu selalu menghantuinya. "Lo kenapa sih hadir terus. Pusing gue" Ujar Zahra yang mengubah posisinya menjadi duduk dan mengomeli dirinya sendiri. Ponsel Zahra berbunyi, ada panggilan masuk disana. Zahra melihat namanya dan ternyata adalah Raga. "Hallo, Ga" Sapa Zahra yang telah menempelkan ponsel di telinganya. "Lo sibuk?" Tanya Raga. "Enggak. Kenapa?" Tanya Zahra. "Gue kira, gue bakal ganggu lo" Ujar Raga. "Enggak kok. Ada apa telfon gue?" Tanya Zahra. "Kali aja lo lagi mikirin gue sekarang makanya gue telfon lo" Jawab Raga. Zahra menutup mukanya malu. Mengapa yang dibicarakan Raga benar. Baru saja Zahra memikirkan Raga, tiba-tiba cowok itu menelfonnya. "Kok diem? Bener ya?" Tanya Raga karena ia tak mendengar jawaban apapun dari Zahra. "Eh, enggak kok. Sorry-sorry gue gak fokus" Ucap Zahra. Ia menepuk-nepuk jidatnya saat menyadari betapa bodohnya ia malah diam saja saat Raga bicara seperti itu. Kan Raga makin percaya jika dia sedang memikirkannya. "Raa" Ucap Raga lembut. "Iya, Ga?" Jawab Zahra. "Apapun yang terjadi lo harus percaya sama gue ya?" Ujar Raga. "Percaya? Tentang apa?" Tanya Zahra bingung. "Apapun itu. Lo harus selalu percaya sama gue kalo gue gak akan pernah bohongin lo" Ujar Raga.  "Iya" Ujar Zahra sambil menganggukkan kepalanya. "Gue tutup ya telfonnya. Good night" Ujar Raga. "Good Night" Jawab Zahra. Lalu ia menutup telfonnya dan meletakkan ponselnya di sebelahnya. Zahra senyum-senyum sendiri setelah mendapatkan telfon dari Raga. Raga kini telah sukses merebut hatinya. Zahra sudah jatuh cinta kepada Raga. Ponsel Zahra kembali berbunyi, tetapi kali ini adalah notifikasi pesan singkat masuk disana. Zahra membuka dan segera membacanya. Matanya terbelalak.  081357823*** : Kasian banget jadi lo. Dipacarin Raga cuma gara-gara dare dari temen-temennya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN