Bab 18

1081 Kata
Malam ini Raga berniat untuk pergi ke supermarket dan membeli barang untuk kebutuhan pribadinya. Raga hanya tak ingin merepotkan Bi Ani karena Bi Ani pasti tidak tau barang pribadi Raga. Daripada harus memberi tau Bi Ani terlebih dahulu, lebih baik ia sendiri berangkat ke supermarket. Raga mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan di kota ini. Raga tak seberapa memperhatikan jalan karena menurutnya lumayan sepi dan ia sudah mengendarai dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat. Pikiran Raga hanya tertuju pada Zahra. Raga memikirkan bagaimana jika seandainya Zahra tau tentang kebenarannya. Ia tak siap menerima respons Zahra yang mungkin akan memperburuk hubungan yang sedang ia jalani dengan Zahra sekarang. Raga benar-benar sudah mencintai gadis itu. Raga tak mau jika ia harus kehilangannya. Raga masih setengah melamun sambil menyetir, fokusnya terbagi. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis yang menyebrang. Raga terkejut dan menginjak rem mobilnya dengan tiba-tiba. Mobilnya tak sampai menabrak gadis itu tetapi bisa Raga lihat, gadis itu sangat ketakutan. Raga segera turun dan menghampirinya untuk meminta maaf. "Sorry sorry gue gak sengaja. Lo gak papa kan?" Tanya Raga. Gadis itu masih terdiam di tempatnya. Ia meringkuk, lututnya bergetar. "Helloo, lo gak papa kan?" Tanya Raga lagi. "Guu...e gak pa...pa" Ujar gadis itu. "Rania?" Raga terkejut saat gadis itu telah mendongakkan kepalanya. "Raga?" Ucap Rania yang sama terkejutnya. "Aduh... Gue minta maaf banget ya sama lo. Gue gak fokus nyetir tadi, jadi gue gak lihat kalo lo lagi nyebrang" Ujar Raga. "Gini deh, lo mau kemana? Biar gue anterin" Tambahnya. "Gue mau pulang. Gak usah diantar, gue bisa pulang sendiri" Ujar Rania. "Gue ngerasa salah sama lo, Ran. Izinin gue ya nganterin lo balik" Ucap Raga. "Yaudah deh terserah lo" Ujar Rania pasrah. Lalu, ia mengikuti Raga dan masuk ke mobil Raga. "Dimana rumah lo?" Tanya Raga saat sudah di dalam mobil bersama Rania. "Di depan belok kiri, nanti lurus aja. Terus rumah yang ketiga itu rumah gue" Ujar Rania. Raga hanya menganggukkan kepalanya tanda ia sudah mengerti. Meskipun ia sedang bersama Rania saat ini, tetapi pikirannya kembali memikirkan Zahra. Entah mengapa sejak Zahra bercerita bahwa ia mendapat teror sms itu, Raga menjadi kepikiran. Raga merasa bersalah dan juga merasa takut. Merasa salah karena ia sudah bohong kepada Zahra dan merasa takut jika ia jujur, Zahra akan meninggalkannya begitu saja. Raga sungguh serba salah. Rania menoleh, ia mengerutkan dahinya saat melihat Raga melamun. Ini cukup berbahaya bagi Raga, juga baginya yang saat ini sedang bersama Raga. "Kalo nyetir tuh jangan ngelamun, kalo lo nabrak orang beneran gimana?" Ujar Rania. Raga menoleh sekilas. "Iya sorry" Balas Raga. "Lo ada masalah?" Tanya Rania. "Nggak kok" Ujar Raga, ia berusaha untuk fokus menyetir dan mengantarkan Rania dengan selamat sampai rumahnya. Rania hanya ber'oh' ria mendengar jawaban Raga. Ia tak berniat untuk menanyai Raga lebih jauh karena itu juga bukan urusannya. Kini, mobil Raga telah sampai dan berhenti di depan rumah yang Rania tunjukkan tadi. Raga dan Rania turun dari mobil. "Thank, Ga udah repot-repot nganterin gue sampe rumah" Ujar Rania. "Santai aja. Gue minta maaf sekali lagi. Karena keteledoran gue, lo hampir aja celaka" Ujar Raga menyesal. Rania hanya mengangguk pelan. "Eh, mampir dulu yuk" Tawar Rania. "Nggak usah, Ran. Lain kali aja. Gue masih ada urusan" Balas Raga. "Sebentar aja, Ga. Gue kasih lo minuman biar lebih fokus nyetirnya. Bahaya tau kalo lo ngelamun terus. Bisa ngebahayain lo juga orang lain" Ujar Rania. "Tumben lo banyak omong" Sindir Raga. Rania menutup mulutnya. Ia tak sadar dengan apa yang telah diucapkannya. Semua terasa biasa saja baginya. "Makasih atas tawarannya. Gue balik dulu" Pamit Raga kemudian ia masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya untuk segera menuju ke supermarket, tujuan awal ia keluar rumah. ***** Saat ini, Zahra sedang berada di rumah Nadien, mungkin akan menginap malam ini. Zahra memang berkeinginan sendiri untuk menginap di rumah Nadien karena ia masih ingin berbincang dengan gadis itu. Memang, diantara ketiga temannya, Zahra lebih dekat dengan Nadien. "Jadi gimana rencana lo selanjutnya untuk Karin?" Tanya Nadien yang baru saja kembali ke kamarnya dengan tangannya yang sudah dipenuhi beberapa snack dan minuman untuk Zahra. Zahra menaikkan bahunya. "Gue masih ragu kalo pelakunya Karin" Ujar Zahra, ia mengambil minuman yang ada di meja dan menyesapnya pelan. "Kenapa lo bisa gak yakin? Padahal lo tadi udah lihat sendiri kebenarannya" Tanya Nadien. "Gue harus punya bukti lebih kuat biar mastiin kalo memang Karin-lah pelakunya" Ujar  Zahra yang kini berjalan menuju kasur milik Nadien. "Lo udah jalanin rencana lo itu?" Tanya Zahra. "Belum. Gue bakal coba besok" Ujar Nadien. Zahra menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. ***** Zahra dan Nadien masih mencoba melakukan penyelidikan tentang siapa si peneror Zahra. Mereka berdua sangat yakin jika pelakunya ada disekitar mereka. Untuk Nadien sendiri, ia sudah yakin bawah pelakunya adalah Karin. Nadien sudah menyarankan Zahra untuk segera memperingatkan Karin tetapi Zahra masih ingin mengumpulkan bukti-bukti lain agar ia yakin jika memang Karin adalah pelakunya. Di kelas, Zahra dan Nadien selalu memperhatikan gerak gerik Karin. Jika ada yang mencurigakan, maka mereka akan terus mengawasinya, dan jika memang Karin adalah pelakunya, Zahra tak segan-segan untuk segera memaki Karin. Zahra sudah berusaha untuk berbuat baik pada perempuan itu, tetapi mengapa balasan Karin seperti ini padanya. Apalagi ini menyangkut hubungannya dan Raga. Zahra memang sudah mulai mencintai Raga, jadi di dalam hati kecilnya, ia tak ingin jika ada sesuatu yang bisa merusak hubungannya dengan Raga untuk saat ini. "Ra, lihat deh. Itu Karin hp nya ada dua?" Tanya Nadien sambil menunjuk Karin yang memainkan ponselnya. Yang satu ada di atas meja, dan yang satu lagi ia letakkan di lokernya. "Yah teruss kenapa?" Ucap Zahra yang tak paham dengan tujuan Nadien. "Ya berarti ada kemungkinan kalo beneran Karin pelakunya. Lemot banget sih lo" Ujar Nadien yang mulai kesal. "Kok bisa?" Tanya Zahra masih saja tak paham. "Punya temen b**o banget sih" Gerutu Nadien. "Ya bisa aja kan dia pake hp satunya lagi itu buat neror lo" Ujar Nadien. "Masa iya sih" Ujar Zahra. "Bodoamat terserah lo, Ra" Ujar Nadien yang makin kesal karena ulah Zahra. "Eh tapi masuk akal juga sih. Bisa aja kan ya, hp satunya tuh dia buat chat biasa sama temen-temennya termasuk lo dan gue juga. Terus yang satunya lagi buat neror gue" Ujar Zahra. "Maksud gue daritadi gitu b**o. Baru sadar lo" Ujar Nadien. Zahra terkekeh. "Ya maap. Kan gue masih mikir" Ujarnya. "Apa gue coba telfon lagi nomornya ya?" Tanya Zahra meminta pendapat Nadien. "Boleh. Lo coba gih. Gue nanti liatin tingkahnya tuh bocah pas lo telfon" Ujar Nadien. Zahra segera mengambil ponselnya yang berada di tas dan mencari nomor si peneror itu. Setelah ketemu, ia segera mendiallnya. "Ih kok direject sih" Gerutu Zahra saat melihat telfonnya di reject oleh si peneror. Zahra dan Nadien masih memantau melihat tingkah laku Karin. Sedangkan Karin masih setia memainkan ponselnya. Tidak ada yang mencurigakan tetapi yang namanya maling pasti lebih pandai dari korbannya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN