Bukan hanya sekedar maaf
Menikah adalah saling berbagi dengan teman hidup, menikmati perjalanan panjang dan penuh liku, kemudian bersama sampai ditempat tujuan yang paling indah tanpa terpisahkan.
Fatah meneguk berkali-kali air didalam gelas. Dalam hati dia sadar telah melakukan kesalahan yang begitu fatal tadi. Membuat Sabrin menangis bagaikan kiamat dalam hidupnya. Padahal hanya sekali dia membuat Sabrin menangis kala itu karena hubungan mereka masih terbilang baru, lalu mengapa sekarang ini dia kembali melakukannya lagi.
Harusnya tadi dia jangan membalas semua kata-kata Sabrin dengan penuh emosi, seharusnya bila Sabrin dalam keadaan seperti itu dialah yang bertugas memadamkannya. Bukan sebaliknya.
Terlalu banyak kata seharusnya yang berputar dalam pikirannya saat ini. Dan rasa penyesalan yang mendominasi semuanya.
Kadang kata orang memang benar, mulut mu harimau mu. Semua yang terucapkan tidak akan mungkin terhapus begitu saja. Sakit yang terasa didalam hati tidak akan sembuh walau beribu kata maaf terucap.
Fatah membentur-benturkan kepalanya pada lemari es didepannya. Sejak keluar dari kamar tadi, Fatah langsung mencari segelas air putih untuk menghapus amarahnya. Hingga kini dia seperti enggan untuk beranjak. Dia terlalu takut menghadapi kenyataan bila Sabrin masih terus menangis didalam kamar.
"Ya Allah mas, kamu ngapain?" tanya Mama yang menatap bingung putra sulungnya tengah bersandar pada lemari es. Disamping sang mama ada Mami, ibu mertua Fatah, yang turut mengerutkan kening tanda tidak mengerti.
Fatah membalik posisinya, menghadap kedua ibu yang sangat penting dalam hidupnya.
"Mas sudah salah Ma" lirihnya. Dia menunduk tak enak hati bila Mami tahu dia telah membuat Sabrin menangis kembali.
"Salah?" tanya Mami.
"Minta maaflah bila salah. Jangan sampai kesalahan mu menjadi berlarut-larut. Manusia salah itu wajar. Karena bagaimana pun sempurnanya manusia, tetap saja manusia itu makhluk ciptaan Tuhan. Bukan yang menciptakan" nasihat mama walau dia belum mengetahui Fatah memiliki kesalahan seperti apa.
Fatah mengangguk paham atas apa yang dikatakan mamanya, ia ingin kembali ke kamar untuk menemui Sabrin namun ternyata istrinya itu sudah berjalan turun dari arah kamar.
Dari wajahnya yang putih pucat, masih nampak terlihat bila wanita ini mengeluarkan sangat banyak air matanya.
Pagi ini Sabrin nampak begitu sederhana. Ia hanya memakai abaya putih gading dengan hijab berwarna cokelat keemasan. Warna yang ditimbulkan dari hijab tersebut membuat wajahnya kurang memancarkan cahaya. Mungkin memang raut wajahnya kini seperti bumi yang habis di guyur hujan lebat.
Tidak ada senyum, tidak ada suara. Ia hanya melirik kearah Mami sambil menggendong Syafiq ditangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya sudah berisi tas yang cukup besar berisikan keperluan Syafiq seharian ini.
Syafiq yang berada dalam gendongan Sabrin sibuk membenarkan posisi tali tas yang bahunya sandang. Tas kecil tersebut bentuk bulat, bergambar fotonya sedang memakai baju koko putih.
Kebetulan tas tersebut hadiah dari paman tercintanya pada ulang tahun keduanya waktu itu. Dan sekarang tas itu sangat bermanfaat untuk diisikan perlengkapan sekolah pertamanya.
"Kamu sudah siap Rin?" Mami melirik Fatah yang terus saja menatap Sabrin tanpa bersuara.
Sabrin menjawabnya hanya dengan anggukan kepala, lalu berjalan terlebih dahulu ke luar rumah.
"Dah ayah..." teriak Syafiq sambil melambaikan tangan kearah Fatah.
"Mami pamit dulu ya mas, sudah janji mau temani Sabrin" Mami mulai curiga ada yang tidak beres diantara keduanya. Mungkin karena ini Fatah berkata seperti tadi.
Ketika Mami baru berjalan beberapa langkah, Fatah menyuarakan isi pikirannya. "Fatah antar Mi" terburu-buru dia kekamar mengambil sebuah jaket yang tergantung dilemari kemudian dengan cepat meraih kuncil mobil serta dompetnya. Ia tidak peduli mau kemana pun Sabrin pergi, akan dia antar sampai ketempat tujuan.
Bukannya memang seperti itu tugas seorang suami?
Melindungi istri dengan sepenuh hati.
"Ayo Mi." Ajak Fatah untuk bergegas agar Sabrin tidak semakin marah.
****
Sabrin tersentak dari lamunannya saat pintu mobil dibuka oleh seseorang dari luar. Namun bukan Pak Kardi yang berada disana, melainkan suaminya.
Fatah terlihat sangat santai dimata Sabrin, celana jeans pendek serta Jaket Merah yang baru saja laki-laki itu pakai. Sabrin sadar suaminya itu belum mandi pagi ini. Biasanya Fatah akan sangat rapih bila sudah mandi dipagi hari.
"Rin, gak papa kan Mami ajak suami mu" ucap Mami saat masuk kedalam mobil.
Syafiq yang berada dipangkuan Sabrin, langsung meminta pindah bersama sang nenek. Mungkin anak kecil ini sadar aura menyeramkan berada disekitarnya saat ini.
"Iya gak papa Mi."
Sebelum jalan, Fatah melihat kearah spion kiri dan kanan. Berusaha menempatkan kedua alat bantu itu agar pas dengan posisinya.
Selama membeli mobil ini untuk Sabrin, ia tidak pernah sekalipun memakainya. Karena Pak Kardi sudah ditugaskan memang mengantar jemput Sabrin kemana pun dan kapanpun.
Apalagi insiden pencopetan itu masih jelas sangat dia ingat, walau sudah bertahun-tahun berlalu. Tetap saja ia masih trauma untuk mengijinkan Sabrin menggunakan angkutan umum.
"Mau kemana memang?" tanya Fatah sembari mulai menjalankan mobilnya.
"Walah Rin, kamu belum kasih tahu Fatah kita mau ke sekolah Syafiq hari ini" ucap Mami.
Fatah melirik kearah Sabrin yang sibuk memandang kearah jendela tanpa suara sedikitpun.
"Hari ini kesekolah Syafiq Mi?" ulang Fatah. Ia berusaha mengingat-ingat apa Sabrin pernah membicarakan ini kepadanya?
"Bu, kamu belum cerita sama aku?"
Sabrin menghembuskan nafas lelah, tidak enak rasanya memendam rasa kesal seperti ini kepada suaminya sendiri. "Aku Cuma ikut saran mu, mas" Sabrin menatap Fatah yang juga sedang meliriknya.
"Saran ku?"
"Iya. Yang kamu inginkan Syafiq mendapatkan pendidikan agama yang paling utama. Maka dari itu aku menuruti mu."
"Bukannya kamu setuju Syafiq disekolahkan dengan pendidikan taraf internasional. Kata mu disana Syafiq bisa mendapatkan segalanya." Tanpa bermaksud menyindir istrinya, dia mengulang kembali apa yang pernah menjadi topik pembicaraan mereka beberapa bulan lalu.
"Lupakan soal itu mas, aku mengikuti mu. Karena aku percaya padamu" lirihnya kembali. Wajah Sabrin kembali ia alihkan pada pemandangan jalan pagi ini yang sangat tidak bersahabat. Padatnya lalu lintas di ibukota memang sulit dihindari. Apalagi pada waktu-waktu tertentu, sangat bisa dipastikan memakan waktu berjam-jam untuk menempuh perjalanan yang tak begitu jauh.
"Ya Ampun Rin, kamu mau sekolahin Syafiq di sekolah bertaraf internasional seperti itu. Dimana otakmu Rin, kamu mau mengulang kesalahan yang sama seperti yang Mami lakukan? Iya? Kamu mau membuat Imam Imam lainnya? Mami gak setuju ! Mami pikir memang keinginan mu menyekolahkan Syafiq di sekolah agama seperti ini. Tapi ternyata kamu hanya ingin menuruti suami mu.
Dengar Rin, menuruti suami memang baik, percaya suami juga baik. Tapi memilihkan anak yang terbaik itu suatu keharusan. Apalagi terbaik dalam bidang agama. Harusnya kamu percaya pada dirimu sendiri bila kamu mampu melakukan yang terbaik untuk Syafiq, bukan karena hanya menuruti suami mu" Sabrin sudah tidak heran bila mami akan menceramahinya seperti ini. Sejak dulu ceramah dari Mami bagaikan camilan baginya.
"Mi, Sabrin juga ingin yang terbaik untuk Syafiq. Bukan mas Fatah doang. Lagi juga disekolah internasional dapat pelajaran agama. Sama saja kan. Kenapa harus sekolah yang berlandaskan Islam? Huruf 'Alif' baik disekolah Islam ataupun sekolah internasional dibaca sama."
"Sabrin, dengar Mami. Mengenal Islam itu tidak hanya sekedar membaca huruf hijaiyah. Masih banyak ilmu Islam yang perlu digali dan diterapkan dalam kehidupan. Memang kamu pikir orang yang bisa mengaji sudah pasti paham seluk beluk Islam. Apa kamu pikir orang yang berhijab sudah merasa bangga diri bahwa ia lebih dari perempuan yang auratnya terbuka. Astagfirullah al'adzim. Istigfar coba. Dari mana kamu dapat pemikiran seperti itu?"
"Mi, coba pikir sedikit. Setidaknya perempuan yang telah berhijab sudah mengikuti ajaran Islam dengan baik. Setidaknya orang yang pandai mengaji bisa mengamalkan ilmunya untuk orang lain"
Mami menggelengkan kepala, tak menyangka Sabrin berpikir sedangkal ini. "Jadi sekarang kamu mulai bangga karena telah berhijab, jadi kamu mulai bangga karena bisa mengaji. Coba Mami tanya apa yang kamu dapat setelah merasa bangga seperti itu?"
Sabrin menatap Fatah berharap suaminya bisa membantunya saat ini. Tapi yang Sabrin dapat kekecewaan, karena Fatah menggelengkan kepalanya.
"Sabrina, putri ku. Islam itu luas, Islam itu agama yang paling sempurna. Islam itu indah sayang. Dari Islam kita belajar segalanya. Mana yang baik dan yang buruk. Karena Islam adalah agama yang memang dipilihkan Tuhan untuk semua umatnya. Terus perdalam ilmu agama mu Rin, jangan karena sifat sombong kamu merasa sudah mengetahui segalanya.
Kamu tahu kan kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta. Kenali dulu agama mu, baru kamu bisa mencintai Tuhan mu dengan tulus." Jelas Mami panjang lebar.
Sabrin membungkam, dia bergumam tak setuju atas apa yang di ucapkan maminya barusan. 'tak kenal maka tak cinta' itu semua klise baginya. Buktinya saat ini, ia sangat tidak mengenal sosok Fatah suaminya. Kadang laki-laki itu terlalu baik dan bisa menahami apa yang dia inginkan. Namun terkadang Fatah bisa berubah menyeramkan dalam memberikan penjelasan.
Lalu apa hubungannya dengan kata-kata mami?
Sabrin memang merasa tidak kenal dengan sosok dalam diri Fatah. Tapi bila ditanya cintakah Ia pada suaminya itu, ribuan kata yang mampu dituliskan tak mampu mengukur rasa cintanya kepada sosok Fatah Al Kahfi.
"Belajarlah terus Bu, mas akan selalu menemani mu, membimbing mu, dan mengajarkan mu" ucapnya sembari menggenggam tangan Sabrin.
"Emas... emas.. ? Emas itu siapa, ayah kan bukan emas" celetuk Syafiq.
Sabrin, Fatah dan Mami tertawa serempak akibat ulah Syafiq yang tak tahu tempat untuk membuat kelucuan. "Kenapa?" ia bingung melihat ibu, ayah serta neneknya tertawa.
Merasa dirinya tidak diajak untuk tertawa bersama, Syafiq merengek pada Sabrin. "Bu. Sapik ndak diajak main" ia berpindah kembali ke pangkuan Sabrin dikursi depan.
Kedua mata bulatnya menatap Sabrin dengan penuh kesedihan.
"Syafiq mau ikut main juga?" tanya Fatah dengan tangan yang terulur mengusap kepala putranya.
"Mau ayah. Asik Sapik diajak main sama Ayah." Histerisnya bahagia. Dia berdiri dipangkuan Sabrin dan memeluk leher sang ibu. Matanya menatap nenek yang tersenyum dari kursi belakang. "Nek, denger kan, Sapik mau main nek. Sama ayah. Emang dede Saka doang yang punya ayah"
Fatah kembali diam. Ternyata kenyataan ini yang luput dari perhatiannya bila putranya sangat membutuhkan kehadirannya selama ini.
***
Mobil Jazz putih itu terparkir dihalaman parkir sebuah sekolah Islam yang cukup besar. Mungkin karena disekolah ini bukan saja untuk anak seusia Syafiq, namun hingga tingkatan KPP pun ada disini.
Sabrin tercengang melihat semua ini, dia lahir di jakarta dan besar pun di tempat yang sama. Namun baru sekali ini melihat ukuran sekolah yang cukup besar bernuansa Islam didalamnya.
"Ayo" ajak Mami sambil menggandeng Syafiq.
Sebelumnya Mami sudah berkonsultasi dengan pengajar disini bagaimana kurikulum belajar untuk murid-murid disini. Ternyata selain ilmu agama, ilmu pendidikan lainnya juga diajarkan disini. Namun dalam persentase lebih dominan ilmu agama. Setiap harinya semua menggunakan bahasa arab sebagai percakapan sehari-hari. Kecuali bila mereka didalam kelas, semua menggunakan bahasa inggris.
Pelajaran agama yang akan diajarkan tidak hanya secara garis besarnya, namun begitu detail dan mendalam.
Seorang tenaga pengajar menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Ia menjelaskan latar belakang sekolah ini hingga semua tata letak bangunannya.
Tanpa sadar Sabrin meraih lengan Fatah ketika mereka semua beranjak naik ketingkat atas dimana Syafiq akan memulai kelas barunya.
"Ustadzah, berarti bisa dimulai sekarang ya Syafiq sekolahnya?" tanya Mami dengan penuh semangat.
"Bisa. Bila sudah membawa semua peralatan sekolahnya"
Mami mengangguk antusias, lalu dengan cepat menarik tangan Syafiq untuk masuk kedalam kelas tersebut.
Sedangkan Sabrin dan Fatah menatap dari luar kepada Syafiq yang tengah memperkenalkan dirinya. Rasa bahagia menyelimuti keduanya saat ini. Dan dalam hati sama-sama berharap kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir.
***
Fatah menyerahkan sebotol minuman ketangan Sabrin. Keduanya duduk dibangku taman yang dibuat melingkar dengan bagian tengah ditumbuhi sebuah pohon besar yang sangat rimbun daunnya.
Bagi murid-murid ketika jam istirahat, inilah tempat yang sangat mereka perebutkan. Kadang mereka bersenda gurau dengan yang lain, kadang mereka sibuk membaca sebuah buku, terkadang pula ada yang tertidur dibangku ini.
"Aku bahagia mas" ucap Sabrin tiba-tiba. Kedua matanya menatap lurus ke langit luas dimana awan putih tengah berkumpul membentuk bulatan-bulatan partikel. Biasanya partikel-partikel itu membawa kandungan air didalamnya yang bisa kapan saja membasahi permukaan bumi.
Hembusan angin bermain-main dengan hijab yang Sabrin pakai saat ini hingga Fatah ikut membantu merapihkannya. "Bahagia kenapa?"
"Bahagia karena aku sadar kasih sayang bagi seorang anak di eja seperti WAKTU. Dan Waktu itulah kita sebagai orang tua yang memberikannya. Membuatnya merasa bila kedua orang tuanya begitu menyayangi dirinya. Seperti Syafiq tadi. Kamu lihatkan bagaimana bahagianya dia? Harusnya kamu mulai berpikir mas bagaimana caranya agar kamu dapat mengembalikan waktu yang terbuang begitu saja."
Sabrin menunggu apa reaksi suaminya itu, tapi sedikit pun ia tidak mendengar Fatah berbicara. Kemana perginya Fatah yang dulu, Fatah yang sering menasihatinya dengan beribu kisah didalamnya.
Kepala yang tadinya terangkat keatas, dia turunkan kembali. Kemudian dia tertawa pelan namun terasa sangat menyedihkan.
"Sudahlah mas. Jangan terlalu dipikirkan. Bahagia dalam kehidupan itu sesuai dengan bagaimana sudut pandang mu. Seperti cerita dalam sebuah novel picisan. Ketika kamu membaca saat sang penulis membuat seolah-olah dirinya adalah pelaku utama, kamu akan menangis-nangis membacanya. Namun sebaliknya, saat penulis itu merubah sudut pandangnya menjadi tokoh antagonis dalam cerita tersebut, kamu akan dibuat marah dan kesal sendiri" jelas Sabrin.
"Jadi, biarkan saat ini aku bahagia walau hanya sebatas tulisan dalam sebuah cerita" ucapnya yang diikuti isakan kecil. "Tersenyumlah didepan anakmu, mas. Gambarkan seolah-olah kita dalam keadaan baik-baik saja. Namun bila kamu tidak mampu, persiapkan banyak jawaban atas pertanyaan Syafiq terhadap mu selanjutnya"
Tangan Fatah terulur, mengusap lembut bahu Sabrin. "Ai..."
"Pergilah mas, tinggalkan aku sendiri untuk saat ini" bibirnya bergetar menahan isak tangisnya yang semakin tak terkendali. Wajahnya semakin menunduk malu menatap dunia bila dia tengah menangis saat ini.
Tanpa pikir panjang, Fatah merengkuhnya dalam pelukan hangat. Diusapnya lembut punggung Sabrin seraya mengucapkan kalimat mantra berulang-ulang. "Maafkan mas, Maaf"
Ia semakin mempererat pelukannya kepada tubuh Sabrin. Semakin sering Sabrin mengucapkan untuk meninggalkannya, Fatah semakin tidak ingin melepaskannya.
Fatah tidaklah bodoh mengartikan kata-kata Sabrin itu. 'Meminta untuk ditinggalkan namun berurai air mata', begitulah sifat perempuan yang sangat Fatah tahu. Berucap kebalikan dengan isi hatinya.
Saat seperti ini memanglah Sabrin ingin tahu bagaimana reaksi Fatah, apa akan pergi meninggalkannya atau melakukan hal sebaliknya.
Karena seorang istri bila memiliki masalah, ia ingin dikejar dan ditenangkan oleh kekasih hati sambil ingin tahu didalam hatinya.
"Show that you want and need me"
***
Acara isak tangis Sabrin tadi telah usai, kini mereka sedang berada disalah satu Rumah Makan favorit pilhan Sabrin.
Dengan modal memesan semua menu yang disajikan, Sabrin duduk kembali disamping Fatah yang terlihat sibuk bercakap-cakap dengan Syafiq.
"Bu, tadi Sapik punya banyak temen dong. Terus tadi Sapik gambar bebek kakinya empat dong"
Sabrin tertawa menanggapi cerita sang anak yang duduk disamping mami.
"Kok bebek kakinya empat?" tanya Fatah pada putranya. Ia mulai melakukan pendekatan lagi dengan sang putra yang terasa merenggang.
"Iya dong empat, kan bebeknya dua" sahut Syafiq cepat sambil menunjukkan kedua jarinya kepada Fatah.
"Aduh, Cucu nenek siapa yang ngajarin bisa pinter begini" Mami mencium Syafiq dengan gemas. Tapi dengan cepat Syafiq menghapusnya dengan cepat.
"Nenek jangan cium dong, kata Ammah kalau cium itu bisa bikin buncit diperut" ujarnya dengan polos.
Fatah dan Sabrin keduanya sama-sama menatap Syafiq tak percaya. Ya Tuhan, anaknya sudah diracuni oleh sang tante yang tidak tahu diri.
"hmm.." Fatah berdehem sebelum menjelaskan. "Kapan Ammah bilang begitu sama Syafiq?"
"Sapik lupa"
"Begini nak, Ayah jelaskan. Syafiq kan pernah ayah jelaskan kalau Syafiq itu laki-laki. Terus..." Fatah melirik kearah Sabrin yang tak mau ikut campur menjelaskan.
"... Terus apa yah?"
"Syafiq juga sudah ayah ajarkan agama. Dalam Islam nak, perempuan dan laki-laki itu tidak boleh bersentuhan. Apalagi berciuman. "
"Nanti bisa bikin perut buncit ya Yah?"
Fatah mengangguk saja dengan cepat. Belum waktunya dia menjelaskan hal ini lebih jauh.
"Sudah-sudah, ayo Syafiq cuci tangan dulu sama ibu" Potong Sabrin untuk membuat Syafiq lupa akan pertanyaannya tadi.
Ketika Syafiq dan Sabrin sudah beranjak pergi, Mami tertawa melihat wajah gugup Fatah.
"Mami nggak sangka, dokter seperti mu bisa gugup juga menjelaskan hal demikian kepada anak kecil."
"Ya Allah Mi, dia masih terlalu kecil untuk aku jelaskan secara detail" belanya tak terima di sindir seperti itu.
"Tapi inget loh mas, pepatah mengatakan, kebakaran besar terjadi berawal dari percikan api yang kecil, namun tidak disadari dan dibiarkan. Jangan sampai kamu menjelaskan setengah-setengah hingga membuat anakmu mencaritahu sendiri didunia luar."
"Iya Mi, yang pertama Fatah ingin ajarkan kepada Syafiq, rasa cintanya kepada Allah, Allah dan Allah. Karena setelahnya semua akan mengikuti" ungkapnya sembari menatap istri dan putranya berdiri ditempat mencuci tangan.
"Baguslah bila itu tujuan mu. Jangan sampai menyesal diakhir"
Ia mengangguk kepada Mami dan kembali menatap Sabrin beserta Syafiq. Tapi kedua matanya menatap sosok lain berdiri dekat dengan kedua belahan jiwanya. Sosok yang sudah lama sekali dia tidak lihat, dan kali ini kembali lagi.
Apa ini pertanda cobaan kembali dalam rumah tangganya?
Komunikasi yang baik adalah komunikasi dua arah. Bukan yang satunya menjadi pendengar dan yang satunya tak bicara-bicara.
-----
Continue..
Komen yuk yang banya
Buat Fatah Al Kahfi di kenal lagi