Bab 3

3121 Kata
Kau adalah tulang rusukku. Bukan waktu yang menjamin seseorang tulus, bukan pula sebuah kata yang menjamin ia jujur, bukan juga rupa yang membuatnya bahagia. Karena yang menjamin segalanya adalah sikap yang berbahasa bukanlah mulut yang memanjangkan alasan untuk sebuah pembelaan.   Sabrin tersenyum pada putranya yang sedang ia bantu untuk mencuci kedua tangannya. Wajah Syafiq memantul pada cermin besar dihadapan mereka. Semakin bertambah usia Syafiq semakin menyerupai Fatah namun dalam versi mini. Mulai dari kedua matanya, hidungnya, bibirnya, bentuk rahangnya hingga warna rambutnya. Tidak ada sedikin pun gen yang Sabrin miliki menurun ke Syafiq. Walau begitu Sabrin tetap mensyukuri apapun itu. Karena Syafiq adalah prioritasnya, buah cintanya dengan Fatah. “Bu, udah bersih belum sih?” Sabrin terkekeh pelan, lalu menutup keran air didepannya. Menurun kan Syafiq dari beberapa anak tangga yang kebetulan disiapkan oleh pihak Rumah Makan. “Sudah sayang” Sebelum pergi berbalik, Sabrin melirik sekilas bentuk hijabnya yang masih dalam posisi yang benar. Ia teringat dulu ketika pertama kali memakai hijab hanya karena hijabnya itu oleh-oleh dari Mas Imam yang baru kembali dari Jerman. Ingin rasanya menertawakan keanehannya itu, tapi dari sanalah Sabrin belajar bagaimana menjadi lebih baik lagi. Bukannya menjadi orang besar pasti melewati proses orang kecil terlebih dahulu. Ia berbalik menggandeng tangan Syafiq untuk kembali ke tempat mereka tadi. Karena kebetulan sekali saat ini tepat jam makan siang, banyak karyawan-karyawan yang mengisi perut mereka disini. Letak Rumah Makan ini memang sangat strategis. Dikelilingi oleh gedung-gedung perkantoran dan tak begitu jauh dari sekolahan membuat Rumah Makan yang terkenal dengan menu rendangnya di penuhi oleh pembeli. “Sabrina...” langkah Sabrin terhenti dan berbalik melihat sosok yang memanggilnya tadi. Kedua matanya menyipit berusaha mengenali sosok yang ia rasa sangat familiar. “Apa kabar?” Satu pertanyaan itu membuat Sabrin kembali membuka semua kenangan lama yang sudah sangat ia kubur. Kenangan yang sejatinya tidak ingin ia buka kembali. Tapi sosok didepannya ini membuat ia ingat bagaimana kisahnya dulu memuja laki-laki ini. Tapi sayang, setelah adegan penolakan itu dan takdirnya dengan perjodohan yang sampai sekarang ia masih jalani, Sabrin sudah berusaha melupakan laki-laki ini. Dan menganggapnya adalah sebuah kenangan dan pelajaran dalam hidup. Mungkin bila dulu laki-laki ini tidak mengingatkan akan kisah laki-laki dan perempuan dilarang untuk berdekatan tanpa ikatan yang halal, pastinya Sabrin akan mengikutinya. “Baik kak Darwan” Terjadi kekosongan waktu diantara mereka berdua. Karena baik Darwan maupun Sabrin sama-sama terus menundukkan kepala. Memikirkan hal-hal yang terus saja berkecamuk dalam otak mereka. “Bu, ayo..” suara rengekan Syafiq mengintrupsi keheningan diantara mereka. Tanpa sadar mereka berdua tertawa secara bersamaan. “Maaf ya kak, aku kesana dulu.” Pamit Sabrin. “Iya.” Baru saja ingin memutar badannya, Kak Darwan kembali memanggil namanya. “Aku lupa memberitahu mu, ada reuni dikampus kita. Kebetulan pengisi acaranya mentri yang sekarang menjabat. Pastilah yang akan dibicarakan akan sangat bermanfaat.” Karena topik yang dibicarakan menarik perhatiannya, Sabrin kembali menatap Kak Darwan dengan antusias. “Kapan itu kak? Wah, udah lama rasanya gak kekampus” kekehnya lucu membayangkan wajah-wajah teman sejawatnya dan para senior yang dulu cukup dekat dengannya. “Minggu pertama bulan depan, kebetulan aku panitianya. Kalau kamu ingin ikut, akan aku daftarkan.” Lagi-lagi Sabrin mengangguk dan mempererat pegangan tangannya pada Syafiq. Bocah laki-lakinya itu sedikit sebal karena perutnya sudah memanggil untuk diisikan namun ibunya nampak tidak peduli sama sekali. “Baiklah, nanti akan aku infokan lagi.” Putusnya. “Nomor mu masih yang lama kan?” “Iya kak.” “Ya sudah, selamat menikmati makannya” ucap Kak Darwan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Kakak juga” Sabrin berbalik menuju kursi dimana Fatah masih menatapnya. Akan tetapi yang ditatap seperti tidak sadar akan hal itu. Sedangkan Kak Darwan tersenyum kearah dimana Fatah duduk kemudian menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka setelah sekian lama tidak bertemu, ia bertemu ditempat yang tidak terduga dengan perempuan yang membuatnya pernah menyesal telah melepaskan. *** “Nenek...” teriak Syafiq memeluk tubuh Mami. “Aduh cucu nenek buat kaget aja.” Candanya bahagia. Mami membantu Syafiq duduk disebelahnya sambil menyiapkan nasi beserta lauk-pauk untuk cucunya makan. Dari bibir mungilnya terus saja menanyakan tentang semua menu yang tersaji diatas meja. Sesekali akan keluar kata “OH” dari bibirnya setelah mendengar penjelasan dari sang nenek. “Mas mau yang mana?” tanya Sabrin. Ia berusaha melayani suaminya dengan sepenuh hati tanpa tahu bagaimana kondisi emosi fatah saat ini. “Mas..” tegurnya sekali lagi. “Nanti mas ambil sendiri. Kamu makan saja dulu. Kenyangkan perut mu jangan pikirkan aku, bu” ucapnya. Sabrin merasa aneh dengan sikap Fatah, tidak biasanya Fatah seperti ini. Biasanya ia akan meminta dilayani atau ditemani makan olehnya. “Ya sudah.” Hanya itu akhirnya yang keluar dari bibirnya. Perlahan Sabrin makan dalam diam sambil memperhatikan Syafiq yang berusaha menyuapkan sendiri makanannya. “Hati-hati dong nak.” Ucapnya mengingatkan. Sering kali tangan Sabrin terulur merapihkan sisa nasi dibibir Syafiq yang terus saja berceloteh tidak jelas. “Kamu nggak makan mas?”melihat menantunya bersikap aneh, mami merasa ada yang salah disini. Tadi Fatah masih terlihat normal namun mengapa saat ini seperti membisu. “Ini mau makan Mi” ucap Fatah pada akhirnya. Tadi ia diam berusaha menenangkan percikan api yang membakar perasaanya. Bila ia tidak bisa mengkontrol dengan baik, salah-salah maka Sabrin lagi yang akan menjadi sasaranya lagi. Usai mereka makan, Fatah meminta Sabrin untuk masuk kedalam mobil terlebih dahulu bersama Mami dan Syafiq. Ia berniat ketoilet terlebih dahulu setelah membayar semua yang telah keluarganya makan. Tanpa sengaja, Fatah bertemu kembali dengan Darwan disana. “Assalamu’alaikum, Mas Fatah apa kabar” “Wa’alaikumsalam, kabar saya baik” Fatah tahu laki-laki didepannya ini sedang menilainya, jika kedua bola mata Darwan tidak menempel mungkin bisa tergelincir dengan sempurna dari tempatnya. “Masih berprofesi sebagai dokter mas?” “Masih. Menjadi dokter adalah impian saya untuk menolong siapapun.” Jawabnya dengan tenang. “Kamu bekerja dimana saat ini?” “Di bank. Masih ditempat yang sama” jawabnya malu. Darwan merasa tidak sebanding dengan Fatah yang memiliki segalanya. Dan beruntungnya Sabrin memilih laki-laki ini dari pada dia, walau semua yang pernah terjadi itu menandakan bahwa menuntun seorang perempuan saja ia tidak mampu apalagi menafkahinya. “Saya...” “AYAH.....” Teriak seorang bocah laki-laki yang memeluk kaki Fatah dengan kuat. “Syafiq, kamu kok disini nak.” “Syafiq mau pipis.” Ucapnya terburu-buru meminta bantuan sang ayah untuk membuka celananya. Dengan sigap Fatah membantu Syafiq dan menuntun putranya itu untuk mengeluarkan air seni nya. Keberadaan Darwan yang masih tak berpindah terus saja melihat bagaimana Fatah begitu menyayangi anak itu. Itu anak Fatah dengan Sabrin. Jika boleh berandai-andai, bila waktu itu dirinya lebih percaya bahwa Sabrin adalah perempuan yang ditakdirkan untuknya mungkin bocah kecil itu adalah putra mereka. Tapi itu hanya pengkhayalannya saja. Mengapa semua disesali sekarang? Bukannya dulu dirinya yang menolak Sabrin. Bukannya dulu dirinya yang mengejar-ngejar perempuan yang ternyata tak cinta dengannya. “Kamu masih mau disini?” tanya Fatah mengintrupsi lamunan dari Darwan. “Kalau begitu saya permisi” Syafiq yang digandeng sang ayah menatap wajah Darwan yang tersenyum kearahnya. Laki-laki itu juga berjalan keluar dari toilet tak jauh dari mereka. “Kamu disini bu?” Sabrin memang tadi yang mengantar Syafiq masuk kembali ke Rumah Makan ini. Namun saat diajak memasuki toilet wanita Syafiq menolak. Putranya itu berkata tidak boleh laki-laki masuk kedalam ruangan yang berisi banyak perempuan. Awalnya Sabrin bingung siapa yang mengajarkan Syafiq akan hal-hal yang untuk sebagian anak kecil belum saatnya dimengerti. Tapi Sabrin berpikir kembali, ada baiknya semua diajarkan sejak dini kepada anak. Bukannya melarang tapi mengarahkan, itu lah tugas orang tua yang sesungguhnya. “Iya, nemenin Syafiq, tapi dia masuk kedalam toilet laki-laki. Jadinya aku menunggu diluar.” Fatah mengangguk mengerti, lalu mendorong Sabrin untuk berjalan lebih dahulu didepannya. Menghindarkan sesuatu yang dia tahu tepat dibelakang mereka saat ini. *** Ketika sampai dirumah, Syafiq langsung diminta oleh Sabrin untuk mencuci kaki dan tangannya. Seperti sudah sangat paham apa yang diajarkan kedua orang tuanya, Syafiq melakukannya dengan baik tanpa bantuan sedikit pun. Kemudian Syafiq merangkak naik keatas ranjang ibu dan ayahnya. Masuk kedalam selimut tebal, dan menyelami mimpi indahnya siang ini. “Mas.” Fatah yang sudah membaringkan kembali tubuhnya diatas ranjang melirik Sabrin sekilas lalu kembali menenggelamkan wajahnya pada bantal. “Kamu tidur ya?” Setelah membuka hijab, Sabrin mendekati Fatah kemudian duduk disamping tubuh suaminya. Tangannya terulur mengusap lembut punggung Fatah sambil terus memanggil-manggil suaminya. “Apa bu?” Kini Fatah berbalik posisi tidurnya menghadap Sabrin yang terus saja menatapnya. “Maaf ya tadi pagi aku sudah salah. Aku juga merasa salah karena meminta mu memutar waktu.” Lirihnya. Fatah tersenyum senang melihat Sabrin masih tetap Sabrinnya yang dulu. Ketika perempuan ini marah dan kesal semua memang terasa seperti mencubit kesabarannya. Tapi setelahnya, Sabrin akan meminta maaf kembali kepadanya dengan wajah penuh dosa. Fatah menegakkan badannya, tubuhnya ia senderkan pada kepala ranjang sambil terus saja tersenyum kepada Sabrin. “Tidak perlu meminta maaf bu, ayah juga salah tadi. Terlalu mudah tersulut emosi. Padahal kemarahan adalah sifat setan. Dan ayah sadar tadi pikiran ayah sudah dikacaukan oleh bisikkan setan. Maka dari itu ayah lebih memilih menghindar. Dari pada nanti kemarahan ayah semakin berlarut tanpa titik kejelasan” jelas Fatah. “Tapi ayah janji jangan begitu lagi, aku gak rela kamu marah sama aku karena aku ingin memberikan Syafiq yang terbaik.” Gumamnya tak suka. Fatah menarik Sabrin kedalam pelukannya. Dia mengecup puncak kepala Sabrin dengan sayang. “Ai, para ulama pernah mengatakan satu hal yang akan selalu aku ingat sebagai seorang suami. ليس حسن الخلق مع المرأة كف الأذى عنها بل احتمال الأذى منها، والحلم على طيشها وغضبها، اقتداءً برسول الله صلى الله عليه وسلم “Bukanlah termasuk akhlak suami yang baik yaitu hanya menahan diri agar tidak menyakiti istri akan tetapi sabar terhadap “gangguan” dari istri. Lembut menghadapi kekurangan dan kemarahannya. Hal Ini adalah meneladani Rasulullah “. (Mukhtashar Minhajul Qashidin 2/12) Mas sadar, seharusnya mas harus lebih bersabar dalam menghadapi mu dan Syafiq. Tapi lagi-lagi kadang mas lepas kendali dan gagal membuat diri mas untuk selalu sabar. Mas juga manusia biasa Ai, perlu sekali untuk diingatkan. Maka dari itu mas ingin kamu juga mengingatkan mas bila mas salah.” “Nanti kalau aku bicara disangka aku melawan mu. Bukannya dosa istri melawan suami?” “Bedakan Ai, melawan dengan mengemukakan pendapat dan keinginan mu” ucap Fatah dengan lembut. Kedua tangannya memeluk Sabrin dengan sangat erat. “Bedanya?” “Sini mas beri contoh. Suatu saat nanti pasti akan terjadi bila Syafiq telah besar.” Ucapnya. Kini matanya menatap Syafiq yang tertidur pulas disamping tubunya dengan kedua tangan kecilnya itu terangkat keatas. Bibir mungilnya sedikit terbuka seperti sedang menikmati indahnya tidur siang kali ini. “Masa?” “Iya, saat dimana Syafiq memberitahukan apa yang ia ingin kan untuk jalan hidupnya kelak. Peran kita sebagai orang tua adalah mencoba merangkul Syafiq. Merangkul disini berarti mencoba mengarahkan dan memberikan pendapat bila ia tetap pada keputusannya akan seperti apa kedepannya kelak. Namun bedakan dengan melawan atau menentang. Kamu akan memberikan larangan keras atas apa yang telah dipilih oleh Syafiq, namun kamu disini tidak memberikan alasan mengapa kamu menentang” “Aku kan gak gitu mas, orang gak suka pasti ada alasannya.” Bela Sabrin tak terima. “Kamu yakin orang tidak suka pasti memiliki alasan? Coba buktikan pada ku” godanya. Fatah tahu Sabrin akan bingung mencontohkan apa untuk masalah yang tengah dibahas saat ini. “Begini mas..” Sabrin memposisikan duduknya menghadap Fatah dengan kedua kaki dia lipat. Mereka berdua terlihat seperti dua orang yang sedang berdiskusi dengan serius. Bukan seperti suami dan istri, namun seperti patner hidup yang bebas bersikap tanpa harus ditutup-tutupi. “Ada orang yang sifatnya ngeselin banget, pastikan kita gak suka. Jadi alasan ketidak sukaannya karena sifat orang itu” “Hm, begitu. Kalau misalkan orang itu baik-baik saja kepada mu, dia baik, dia ramah, apapun yang kamu butuhkan akan kamu dapatkan darinya, kamu bisa membencinya?” “Ya gak lah. Kamu gimana sih mas, mana bisa aku benci sama orang kayak gitu. Contohnya kamu. Kamu laki-laki baik mas, selalu mengajarkan aku, membimbing aku, pokoknya kamu is the best” ucap Sabrin sambil mengangkat kedua ibu jarinya. Fatah menangkup kedua ibu jari Sabrin kemudian menatap Sabrin dengan raut wajah yang sulit diartikan. “Itu sama saja kiamat untukku. Karena saat itu aku tahu tidak ada lagi cinta untukku” Kening Sabrin berkerut semakin dalam. Mengapa benci dihubungkan dengan cinta? “Kamu ngomong apa sih mas, aku gak suka ah bawa-bawa kiamat” ucapnya sebal. “Benci dan cinta itu ledakan emosi Ai, kalau tadi penjelasan kamu diawal bila kamu tidak sanggup membenci ku karena aku terlalu baik. Berarti dalam dirimu hanya terselip rasa kagum bukan rasa Cinta. Karena Cinta dan benci itu sangat tipis tersekat oleh sesuatu yang tak tembus oleh mata. Diantara benci pasti terselip Cinta, begitu pun sebaliknya.” “Oh begitu ya mas.” Ucap Sabrin sambil terus mengerti atas apa yang Fatah ucapkan. “Iya seperti itu, hanya saja yang jadi pertanyaan, ‘Siapa yang menyuruhnya menutupi lembaran cinta itu, disaat kebencian meledak? Siapa sebenarnya yang menyuruh menutupi lembaran kebencian itu, disaat cinta meledak?’ Jika yang menunjukkannya adalah Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Kasih Sayang, maka ia berada dalam jalan kebenaran. Begitu juga jika yang mengajarkan menutupi cinta dan benci itu Rasul-Nya, maka ia dalam keselamatan. Sehingga manusia akan membenci apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, dan mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Membenci orang-orang yang dibenci Allah dan Rasul-Nya dan mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Inilah barometer yang tepat sasaran dan tepat guna. Bukan hanya karena kamu tidak suka dengan sifat seseorang sehingga kamu membencinya.” Jelas Fatah panjang lebar. Sudut bibirnya tersenyum senang. Rasanya kondisi-kondisi seperti ini sudah sangat lama dia alami. Dulu hampir setiap hari ia menjelaskan semua yang Sabrin tidak mengerti. Lambat laun dia sadar, Fatah rindu masa-masa seperti ini. “Satu ilmu lagi aku dapat hari ini, terima kasih suami ku.” Tutup Sabrin dengan sebuah ciuman singkat dipipi suaminya. Kemudian dia beranjak turun untuk keluar dari kamar. “Mau kemana Ai?” “Kebawah, bantu mama siapkan makan malam” jawab Sabrin sambil tersenyum kearah Fatah. “Tidurlah.” Saat pintu tertutup Sabrin tersenyum mengejek pada dirinya sendiri. Merasa terlalu bodoh hingga selalu saja diakhiri seperti ini ketika dirinya dan Fatah saling berbicara. Fatah terlalu dominan untuknya hingga ia sendiri bingung akan sesuatu dalam dirinya sendiri. *** “Bagaimana tadi Syafiq disekolah barunya Rin?” mama dan Sabrin sibuk menyiapkan menu makan malam untuk keluarga mereka. Walau Sabrin tidak bisa memasak, tapi dia bisa membantu memotong-motong bahan-bahan yang akan diolah menjadi sebuah masakan oleh sang mama. Selama ini Fatah tidak pernah meminta istrinya itu memasak atau melakukan hal-hal yang diluar tugas seorang istrinya. Bagi Fatah, istri itu adalah perempuan yang menemaninya, bukan yang menyiapkan segala sesuatu untuknya. Jadi bila Sabrin sedang tidak ingin menyiapkan apapun untuk Fatah, laki-laki itu rela melakukan semuanya sendiri. Tanpa sedikit pun marah kepada Sabrin. “Dia senang banget Ma, punya teman baru. Dan aku rasa memasukkan dia kesekolah itu diumurnya sekarang sangat tepat.” “Baguslah kalau cocok. Mama senang” Kemudian keduanya terdiam sejenak sebelum Mama kembali menyuarakan isi dikepalanya. “Rin, kamu baik-baikkan sama Fatah saat ini? Bukannya mama mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. Mama Cuma mau mengarahkan, bila sepasang suami istri bertengkar coba biasakan untuk mendengarkan keluhan dari pasangan masing-masing” nasihatnya. Sabrin menghela nafas lelah, dicap dengan semua sifat buruknya rasanya Sabrin sangat menyebalkan baginya. “Iya Ma, Cuma selisih pendapat saja” Mama terkekeh lucu melihat wajah Sabrin yang cemberut saat ini. “Begini Rin, Mama ceritakan. Dulu saat Mama sama Papa masih muda, sering sekali mengalami kondisi hal yang sama seperti kalian saat ini. Bukannya Mama tidak tahu, kadang Papa Hadi sering sekali berteriak frustasi dikamar mandi atas masalah yang kami hadapi.” “Jadi bukan aku sama mas Fatah saja yang sering terlibat hal seperti ini?” ia menjadi tidak fokus memotong sayuran didepannya. Karena cerita dari sang Mama lebih menarik perhatiannya. “Lanjut Ma” “Harusnya Fatah tahu slogan yang dipakai oleh papa mu sejak dulu.” “SLOGAN?” Mama mengangguk sebagai jawaban kemudian kembali terkekeh melihat Sabrin yang kebingungan. “Ayo Ma cerita sama Sabrin” “Begini bunyi slogannya,  ‘Intinya Suami yang harus minta maaf’ Suami salah, segera suami minta maaf kepada Istri. Lalu istri salah, suami membenarkan atau menegur, kemudian suami minta maaf kepada istri (misalnya minta maaf karena kurang perhatian atau kurang bisa mendidik). “ “Tadi kayaknya mas Fatah pakai Slogan ini” gumam Sabrin. Mama melirik sekilas pada menantunya itu, kemudian melanjutkan kata-katanya. “Suami harus sadar ini adalah kunci sukses rumah tangga, jika istri sangat berbahagia, maka anak juga akan mendapat perhatian dan pendidikan terbaik serta rumah akan terasa kehangatannya. Istri seperti ini adalah kaum mayoritas didunia ini. Dan harusnya suami sadar harus melakukan apa untuk bisa  menyenangkan hati istrinya. Akan tetapi ada istri yang berbeda dan luar biasa.” “Contohnya Ma?” ia juga ingin menjadi kaum yang luar biasa sebagai seorang istri. “Mudah, yang pertama, Istri yang malah meminta maaf dahulu kepada suaminya dan mencari ridha suaminya Seperti sabda Rasulullah, أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى “Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380) Lalu yang kedua, berusaha menjaga dan menunaikan hak suami karena suami adalah pintu menuju surga atau neraka bagi istri. Rasulullah bersabda, لَوْ كُنْتُ آمُرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا “Sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada lainnya, niscaya akan kuperintahkan seorang istri sujud kepada suaminya” . (HR. At-Tirmidziy , shahih Al-Irwa’ 1998) Yang terakhir, berusaha mensyukuri kebaikan suami dan tidak melupakan sama sekali. Seperti Sabda Rasulullah, لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِيْ عَنْهُ “Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya” .[HR. An-Nasa’i, shahih, Ash-Shohihah 289) Yang perlu kamu tahu Rin, Bukanlah maksud syariat Islam memerintahkan agar istri lebih rendah dari suami tetapi semua orang sudah tahu bahwa psikologis suami pasti ingin dihormati dan dipatuhi. Jika suami sudah merasa dihormati oleh istri, maka suami yang berjiwa hanif pasti akan sangat sayang kepada Istrinya.” Jelas mama panjang lebar. Satu kesimpulan yang dapat Sabrin ambil, ia kembali salah kali ini. *** Fatah tersenyum seorang diri sembari duduk diatas anak tangga terakhir. Posisi nya saat ini begitu dekat dengan dapur, hanya terbatas oleh sekat meja besar yang menjadi pembatas antara dapur dan ruangan lain disebelahnya. Sejak awal dia mendengar bagaimana Mama dan Sabrin bercakap-cakap. Ketika Mama menceritakan tentang slogan itu, dia sudah pasti tahu. Bukan karena papanya tapi menghadapi istri seperti Sabrin memang harus seperti itu. Tapi yang membuat Fatah bersyukur, Sabrin termasuk istri yang berbeda dari yang lain. Ketika terjadi masalah, keduanya akan sama emosinya. Tapi setelahnya, baik Fatah maupun Sabrin akan saling meminta maaf satu sama lain. Bukannya seperti ini yang memang harusnya terjadi didalam pernikahan. Adanya saling melengkapi kekosongan yang ada dalam pasangan. Karena itu Fatah sangat bersyukur menjadikan Sabrin istrinya. Walau ia harus lebih banyak bersabar, tapi selamanya ia tidak ingin melepaskan orang yang membuatnya tahu bahwa sabar tidak pernah ada batasnya. Aku belum sanggup mencari seperti kamu yang mudah menyulut emosi. Jangan pernah tanyakan mengapa. Karena cinta dari hati tidak akan dengan mudahnya mati. ---- Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN