Kepingan hati
Perempuan yang sempurna untuk seorang laki-laki bukanlah yang bisa mempesonanya dengan tampilan apa yang bisa dilihat oleh kedua mata. Melainkan seorang perempuan yang siap menjadi tempat anak-anaknya mencari surga kelak.
Pagi ini semua terlihat berbeda, karena semua telah berkumpul kembali setelah kemarin ini suami dari adik perempuan Fatah harus meninggalkan rumah ini untuk pekerjaannya.
Fatah yang baru saja turun dari kamarnya, mendatangi meja makan dimana semua keluarganya berkumpul. Ia bisa melihat sang istri tengah memaksa putranya untuk memakan sarapannya.
"Syafiq, makan yang benar baru kita kesekolah." Perintah Sabrin tak terbantahkan.
"Sapik ndak mau makan bu, ndak mau." Rengeknya. "Sapik mau jajan nanti disekolah."
"Sarapan dulu baru nanti jajan." Sabrin menyuapkan Syafiq dengan roti tawar yang sudah dilapisi selai cokelat beserta keju didalamnya.
"Ndak.. ndak.. ndak."
Fatah mengangkat putranya itu untuk duduk dipangkuannya. "Kenapa kamu sayang? Pagi-pagi sudah buat ibu marah."
"Sapik ndak mau makan. Tapi ibu suluh sapik makan telus." Adu nya khas anak kecil.
"Syafiq harus makan sayang, katanya Syafiq ingin cepat besar. Ingin seperti ayah, karena itu ibu minta kamu untuk makan nak." Fatah mengusap rambut putranya itu dengan sayang.
"Kenapa Syafiq halus makan? Emang Tuhan makan juga ya yah?"
Semua yang berkumpul dimeja makan menatap Syafiq dengan sebuah pertanyaan aneh yang lolos dari bibir mungilnya. Umi yang duduk dihadapan Fatah, terlihat menutup mulutnya karena tak tahan ingin menertawakan pertanyaan bodoh keponakannya.
"Kenapa kamu tanya begitu nak?"
"Abis ibu suluh Syafiq makan telus. Kata Ayah yang disuruh ibu belalti disuruh Tuhan juga."
Fatah menutup kedua matanya sejenak. Berbicara salah sedikit dengan anak kecil memang sangat rumit efeknya.
Bila menjelaskan harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan bisa diterima oleh putranya yang terlewat berlebih rasa ingin tahunya.
"Begini nak, Tuhan itu ada tapi tidak bisa terlihat oleh kedua mata kita. Bila Syafiq tanya apa Tuhan makan? Maka ayah jawab tidak. Tuhan itu tidak berbentuk, Tuhan itu tidak makan dan minum, Tuhan tidak berjenis kelamin seperti Syafiq yaitu laki-laki atau seperti ibu yang seorang perempuan. Tapi.." Fatah sengaja menggantung penjelasannya. Ia ingin tahu reaksi dari Syafiq, apa anaknya paham atas penjelasannya atau tidak.
"Tapi kenapa yah?" tubuh Syafiq berputar. Ia berdiri diatas pangkuan Fatah dan merangkul leher Fatah dengan erat. Kedua matanya menatap Fatah dengan keingintahuan yang sangat besar untuk anak seusianya.
"Tapi, walau pun Syafiq tidak melihatNya, Dia akan selalu ada. Dia akan selalu mendengar semua doa Syafiq ketika kamu sholat nak. Dia selalu tahu apa yang Syafiq butuhkan. Dia selalu menyayangi Syafiq seperti ayah dan ibu. Dia selalu ada menemani Syafiq." Jelas Fatah kembali.
"Telus dimana Tuhan yah? Syafiq mau lihat." Rengeknya.
Fatah tersenyum, tangannya terangkat merapihkan rambut Syafiq. "Tuhan ada disini sayang." Jawab Fatah meraih tangan Syafiq lalu menempelkan dihati Syafiq. "Bila kamu mempercayai Tuhan, ia akan selalu disini. Bila kamu mengikuti semua perintah Tuhan, dia akan semakin memenuhi hati mu dengan perasaan sayangnya. Bila kamu berbakti kepada Ayah dan Ibu, maka surgalah jawaban untukmu nak."
"Jadi Tuhan bener ndak makan?" ringisnya kecewa. "Padahal Syafiq mau kasih roti buat Tuhan. Biar Tuhan tahu kalau Syafiq sayang sama dia."
Fatah mengecup pipi Syafiq, matanya beralih ke arah Sabrin yang terus memandangnya. "Tuhan tidak butuh roti sayang, yang Tuhan butuh cinta mu. Hanya itu. Cinta kepada dirinya dengan tulus sepenuh hati mu."
"Benar Syafiq, Tuhan nggak butuh roti. Yang butuh roti itu Ammah." Goda Umi berusaha mengambil piring yang berisikan roti Syafiq.
"Ammah makan telus nih, pelutnya makin buncit loh."
Serempak semuanya tertawa akan tingkah polos Syafiq, bocah itu ikut tertawa melihat seluruh keluarganya tertawa begitu bahagia pagi ini.
"Syafiq dengarkan Ammah, Tuhan nggak suka roti, tapi sukanya ikan goreng." Goda Umi sekali lagi sampai Fatah menatapnya dengan kedua mata melebar.
Umi memang tidak akan pernah lelah menggoda keponakannya yang terlalu ingin tahu itu.
***
"Hati-hati nanti dijalannya, bilang pak Kardi jangan ngebut-ngebut. Perasaan ku sedang tidak enak bu. Aku takut kamu sama Syafiq kenapa-kenapa." Ucap Fatah sebelum ia masuk kedalam mobil.
Sabrin memang mengantarkannya sambil menggendong Syafiq yang terus sama menatap wajah Fatah.
"Kamu jangan takutin aku dong mas."
"Bukannya buat kamu takut bu, tapi perasaan mas memang tidak enak dalam beberapa hari ini. Jadi mas mohon berhati-hatilah. Jangan lupa berdoa sebelum berangkat. Mas pergi dulu." Sabrin mencium tangan Fatah. Kemudian Fatah mengulurkan tangannya pada Syafiq, putra kecilnya itu mencium punggung tangan Fatah.
Ia tersenyum lalu membalas mencium pipi Syafiq dengan sayang. "Mas pergi dulu ya sayang." Fatah menunduk mencium kening Sabrin sebelum masuk kedalam mobilnya.
"Dah ayah."
"Dah sayang, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sesaat mobil Fatah sudah melaju meninggalkan rumah, Sabrin masuk bersama Syafiq yang masih berada dalam gendongannya. Kemudian dia mendudukan Syafiq di sofa untuk memakaikan sepatu pada anaknya itu.
"Fatah kenapa Rin?" mama datang menghampiri Sabrin selepas merapihkan sisa sarapan tadi.
"Katanya perasaannya sedang tidak enak. Entah apa yang mas Fatah rasakan."
"Ya sudah hati-hati saja. Bersikap hati-hati memang diharusakan dalam Islam tapi bukan berarti setelah merasakan pertanda tidak enak, kamu hanya mengurung diri dikamar. Rezeki, jodoh dan maut sudah diatur sedemikian rupa Rin. Pasrahkan segalanya pada sang pencipta."
"Iya ma, Sabrin juga biasa saja. Tapi mas Fatah khawatir banget. Mudah-mudahan bukan hal buruk."
Mama mengangguk dan terus memperhatikan cucunya yang masih duduk memeluk leher Sabrin. "Sudah, ayo nak nanti kamu kesiangan."
"Ma, Sabrin berangkat dulu ya." Pamitnya setelah mengucapkan salam.
Setiap hari rutinitas Sabrin dalam seminggu ini hanya bolak balik mengantar jemput Syafiq disekolah. Kadang setelahnya mereka sempatkan untuk melihat Fatah dirumah sakit.
Pak Kardi yang memang sudah ditugaskan mengantar jemput Sabrin, tak pernah meninggalkan nyonya mudanya itu.
Disekolah banyak sekali ibu-ibu selain Sabrin yang sibuk menunggui anak-anaknya. Mereka sibuk bergosip ini dan itu. Tapi Sabrin lebih memilih membuka aplikasi diponselnya untuk melakukan sesuatu yang sangat ia perlukan.
Jangan dibayangkan ia seperti ibu-ibu muda jaman sekarang ini. Semenjak mengenal Fatah, semua jejaring sosialnya mati total. Ia hanya memakai salah satu aplikasi sosial bukan untuk melakukan hal negatif, namun sebagai tempat untuk menghubungi saudara-saudaranya yang berada jauh selama ini.
Dan sekarang Sabrin tengah berselancar dalam dunia pencarian. Ia melakukan ini karena satu hal, mencari apa yang dia butuhkan saat ini.
Saat menemukan apa yang dia cari, dia mencatat dimana tempat tersebut dan tersenyum bahagia. Semoga apa yang ia lakukan tidaklah salah lagi kali ini.
***
Syafiq menganyun-ayunkan tangannya yang di genggam erat oleh Sabrin. Selepas ia bersekolah tadi, Sabrin mengajaknya kesuatu tempat yang sangat jarang ia datangi.
Lalu ketika langkah kakinya memasuki gedung besar dengan puluhan toko didalamnya, bibir Syafiq tersenyum bahagia.
Memang selama ini, bila Fatah mengajaknya pergi untuk liburan maka tempat-tempat yang mendatangkan ilmulah yang mereka tuju.
Fatah berusaha menjauhkan putranya dari jangkauan-jangkauan pengaruh buruk lingkungan sekitar. Ia juga sering sekali berkata pada Sabrin, belum saatnya Syafiq menatap dunia luar yang terlihat sangat baik tapi ternyata menyimpan banyak kejahatan. Apalagi sekarang ini banyak sekali manusia yang mengaku muslim namun sejatinya mereka adalah kaum lain. Mereka seperti itu hanya karena satu dua alasan yang menurut Fatah tidak berguna. Memainkan agama hanya untuk sebatas kekayaan didunia buat apa?
Fatah sering sekali bercerita kepada Sabrin saat hari jum'at tiba-tiba masjid akan sangat lenggang. Seperti sebuah lapangan untuk pertandingan sepak bola. Namun ketika tibanya saat hari kemenangan, entah dari mana datangnya manusia yang mengaku muslim berlomba-lomba datang ke masjid dengan semua pakaian baru yang menempel pada tubuh mereka.
Innalillahi...
Dunia memang sangat keras membentuk manusia hingga lebih mencintainya dibanding mencintai akhirat. "Bu, kita nanti makan disana ya." Tunjuk Syafiq pada salah satu restaurant dimana ada tempat bermain didalamnya.
Sabrin menggeleng tanda tak setuju. "Makan dirumah saja ya sayang, nenek sudah masak untuk Syafiq, nanti nenek nangis." Bujuk Sabrin.
"Sekali-sekali bu." Rengeknya.
Karena merasa tidak tega, Sabrin mengangguk lemah. Mungkin sekali-kali tidak apalah membuat putranya bahagia karena bisa merasakan seperti anak lainnya.
Setelah Sabrin mendapatkan apa yang ia butuhkan, mereka menuju restaurant yang Syafiq inginkan tadi.
"Syafiq boleh main setelah makan dulu ya. Ibu nggak mau kamu makan sambil main. Nggak boleh. Kamu inget kan kata Ayah. Makan itu harus duduk yang be..."
"BENAR..." Teriak Syafiq.
"Iya bu, tapi ntal boleh kan?" lanjut Syafiq.
"Iya sayang." Syafiq berteriak histeris. Ia akan menjadi anak yang menurut hari ini karena ibunya sudah begitu baik mengijinkannya bermain hari ini.
Sabrin memperhatikan putranya yang tengah bermain bersama beberapa anak lainnya. Ia ikut tertawa melihat Syafiq yang begitu bahagia. Rasanya ia lupa kapan terakhir kali mengajak Syafiq ketempat yang putranya itu inginkan.
"Sabrina."
Tangan yang tadi ia gunakan untuk menopang kepalanya, ia turunkan dari meja. Kedua mata bulat Sabrin menatap tak percaya atas apa yang ia lihat saat ini.
Laki-laki itu datang lagi.
"Boleh saya duduk?"
"Boleh. Boleh kak." Jawabnya gugup.
"Sepertinya kamu sedang bahagia melihat putra mu bermain." Ucap Darwan sambil tersenyum. Ia juga ikut menatap Syafiq yang masih sibuk bermain.
"Ia mirip kau, Sabrina.".
Sabrin menatap wajah Darwan yang duduk dihadapannya. Laki-laki ini tidak berubah. Masih sangat sama seperti 4 tahun lalu. Sebelum dirinya memilih memutuskan untuk menikah. Senyuman khas laki-laki ini sangat sulit hilang dari pikiran Sabrin. Bibir tipisnya akan melebar dengan kedua matanya yang melengkung seperti bulan sabit.
Tubuh Darwan tidak ada perubahan yang berarti. Hanya terlihat lebih berisi dari waktu kuliah dulu. Rambutnya sudah dipotong rapih khas laki-laki pekerja kantor.
"Kenapa?" tanya Darwan merasa aneh Sabrin melihat kearahnya.
"Nggak papa kak, rasanya baru kemarin aku menangis dikelas mu karena jaringan yang tidak menyala. " Kekeh Sabrin. "Rasanya baru kemarin aku dibuat ketakutan oleh setan hitam. Dan sekarang, kau sudah sangat berubah kak. Selama mengenal mu, aku tidak pernah menyangka kau akan duduk dihadapan ku seperti ini dengan gaya yang tidak formal seperti dulu." Sambungnya.
"Maaf waktu itu."
"Soal?"
Darwan menundukkan wajahnya, dia menakup kedua tangannya diatas meja. Seperti sedang mengakui sebuah dosa kepada Sabrin yang selama ini ia pendam dalam dirinya.
"Kala dimana aku menolakmu."
"Oh."
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Sabrin, ia kembali melihat Syafiq yang tersenyum sambil melambai kepadanya.
"Jujur waktu itu aku kecewa pada mu kak." Jawab Sabrin. Ia menyeruput air mineral yang tadi ia pesan untuk Syafiq. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa begitu kering, bahkan untuk menjawab hal yang telah berlalu pun sangat sulit.
"Suami ku pernah menjelaskannya kepada ku" sambung Sabrin. Ia sengaja menyebut Fatah dengan kata 'Suamiku' agar laki-laki dihadapannya tahu bahwa ia sudah menjadi milik orang lain.
"Perasaan kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa' (naluri mempertahankan diri) yang Allah ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia bukan onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa bergembira tapi juga bisa kecewa. Dan kala itu kakak telah menunjukkan bagaimana rasanya kecewa atas harapan penuh yang telah ku bangun sejak awal pertemuan kita." Jelas Sabrin. Ia menghembuskan nafasnya lelah.
"Bagiku, kakak dan aku hanya sepasang manusia yang diciptakan Tuhan dengan garis cerita yang berbeda. Tapi aku ingatkan kembali, garis cerita kita pernah saling bersinggungan."
"Aku tahu." Lirihnya.
"Tidak perlu menyesali yang sudah berlalu kak. Kisah ku dengan dia tidak akan pernah berakhir maka tidak akan pernah ada kisah mu dengan ku." Ucap Sabrin disisa-sisa kekuatannya menahan sesak.
Tubuhnya berdiri dan berjalan menghampiri Syafiq yang masih sibuk bermain. "Kita pulang yuk sayang. Nanti nenek nangis ditinggal lama sama Syafiq." Bisiknya.
"Sabrina." Panggil Darwan. Laki-laki itu sadar bahwa dirinya sudah ditinggali oleh perempuan itu sendirian.
Ia terus mengikuti langkah Sabrin. Bahu perempuan itu terlihat bergetar, hingga berkali-kali sebelah tangan Sabrin menyeka laju air matanya.
Darwan bukan laki-laki bodoh yang tidak dapat membaca situasi, dia sadar Sabrin menangis sekarang. Tapi dia bisa apa sekarang? Merengkuhnya dalam pelukan. Sama saja menjerumuskan dirinya ke neraka.
Dia datang menemui Sabrin kembali karena ia ingin membereskan semua rasa yang mengganjal dalam hidupnya. Tapi baru seperti ini saja, perempuan itu sudah menangis. Apa benar masih ada rasa untuknya dari Sabrin?
Lalu mengapa ia menangis?
Langkah Darwan terhenti ketika seorang laki-laki merengkuh tubuh Sabrin dalam pelukannya. Tatapan tajam mata pria itu terus menusuknya. Seakan-akan ingin mengirim dirinya ke neraka yang paling kejam.
Darwan berusaha menormalkan sikapnya, dan berjalan kearah mereka. Seolah tidak terjadi apa-apa diantara dirinya dan Sabrin.
"Kau..." ucapan laki-laki itu tertahan. Ia masih berusaha mengontrol emosinya. Apalagi orang yang melewati mereka mulai memperhatikan apa yang terjadi.
"Ya Allah, Rin, kamu kenapa?"
Darwan melihat seseorang yang baru menghampiri mereka. Sosok yang juga ia kenal sejak dulu. Melihat Sabrin dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
Kemudian tatapan itu teralih kepadanya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, merasa tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan laki-laki ini.
"Kak Darwan." Panggilnya lirih.
Bukan cintamu lah yang salah pada saat ini, bukan pula rasa bersalah mu kepada ku. Tapi yang seharusnya disalahkan disini, rasa melupakan yang tidak pernah tumbuh untuk dirimu.
-----
Continue
Lagi enggak?