Jace Graves Point of View
Hari ini aku berangkat lebih pagi dibandingkan hari biasa setelah mendapat pesan bahwa sebuah pertemuan penting yang harus kuhadiri mendadak di percepat. Mengingat orang tuaku dan Jean masih terlelap, tentu aku tidak ingin merepotkan para pelayan untuk menyiapkan sarapan untukku. Untuk itu, saat ini aku berada di sebuah restoran di salam salah satu hotel bintang lima yang masih dalam satu naungan perusaahn Graves Entreprise.
Aku memilih duduk pada meja yang berada tepat di sisi jendela besar agar dapat melihat pemandangan kota Manhattan sembari menunggu hidangan untuk disiapkan. Namun tanpa kusadari, sembari menunggu makanan siap untuk dihidangkan. Pandanganku kosong dan pikiranku entah melayang kemana. Padahal aku tidak pernah melamun sedikitpun selama ini mengingat pekerjaanku benar-benar menumpuk. Bahkan aku merasa, waktu sebanyak 24 jam dalam sehari masih saja kurang.
"Selamat pagi nona Graves. Saya minta maaf telah membuat anda menunggu..."
Aku menoleh, mendongak menatap pria paruh baya berdiri di sisi meja. Pria itu terlihat sangat rapi dengan setelah seragam ciri khas hotel. Aku melirik ke arah nametag dari plat silver berukir nama dan juga jabatan pria itu sebelum mengangkat sudut bibir dan berkata, "Tidak masalah, Paul. Aku tidak sedang buru-buru." kataku dengan nada ramah. "Jadi apa menu sarapan hari ini?" tambahku bertanya.
Pria itu membungkuk sopan sesaat sebelum membuka satu persatu tudung saji dan memindahkan hidangan keatas meja dari sebuah kereta dorong yang sejak tadi di letakkan di belakangnya berdiri. "French toast, salad roquefort, mash potato dengan pork bacon dan cheese mushroom omlete. Untuk minuman saya ada green juice dan earl grey hangat."
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh hidangan yang sudah tertata rapi di hadapanku. "Kau tidak menghubungi ayahku dan bertanya apa menu sarapan kesukaanku bukan?"
Pria itu menggeleng kecil. "Lebih tepatnya ayah anda memberitahu kami semua menu kesukaan ibu anda, anda, dan nona Jean."
"Sudah kuduga akan seperti itu jawabannya." gumamku tidak terdengar. Aku mengambil tas tenteng yang ku letakkan di bawah karpet untuk mengambil selembar uang seratus dollar dari dompet sebelum memberikannya kepada pria itu. "Ini untukmu. Terima kasih."
Pria itu menerima uang pemberianku dengan hati-hati. Ia kemudian kembali membungkuk sopan. "Saya yang berterima kasih kepada anda. Kalau begitu, selamat menikmati sarapan anda." katanya sambil lalu.
Tanpa berlama-lama aku segera membuka kain serbet yang tersedia, meletakkannya dengan rapi di atas pangkuan dan menyantap sarapan yang sudah dibuatkan khusus untukku.
...
Alexander Harper Point of View
Aku turun dari atas ranjang dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan wanita yang masih terlelap di sisiku. Aku memungut pakaianku satu-persatu yang berserakan di karpet hingga lantai sebelum memakai semuanya sesegera mungkin. Kemudian aku berusaha mencari keberadaan dompet dan ponselku, namun aktifitasku terhenti oleh suara seorang wanita yang terdengar serak khas bangun tidur.
"Apa yang kau cari?" Wanita itu merapatkan selimut ketubuhnya dan berguling hingga posisinya tengkurap. Ia menyangga kepalanya dengan bertumpu tangan.
"Apakah kau melihat dompet dan ponselku?" aku balik bertanya. Aku mengedar ke seluruh ruang kamar tidur. "Aku tidak melihatnya di manapun." tambahku.
"Oh kau menitipkan barang-barangmu di tasku." jawab wanita itu. Ia bangun, setegah memposisikan tubuhnya duduk menyandar.
Aku mencoba mengingat kejadian setelah acara tadi malam. Aku pergi bersama wanita itu ke sebuah bar terdekat untuk sekedar mengobrol sebelum diriku lepas kendali atas minuman alkohol. Aku tidak begitu ingat kalau aku sudah menitipkan barang-barangku di tas wanita itu karena terlalu mabuk. Beruntung aku masih bisa bangun pagi ini, kalau tidak Benedict mungkin akan murka dan mungkin akan membantaiku saat kembali. "Benarkah?"
Wanita itu berdehem dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Kalau tidak salah aku melemparkan tasku di sofa."
Aku melangkah menuju sofa untuk mencari tas tenteng wanita itu. Setelah menemukan, aku mengambil barang-barangku dan memasukkan ke dalam saku celana mengingat ponselku sendiri dalam keadaan mati kehabisan daya. Jadi tidak ada lagi yang perlu diperiksa.
"Apakah kau sudah mau pergi?"
Aku mendongak menatap wanita itu sebelum menelengkan kepala. "Aku harus kembali karena pukul delapan nanti akan ada pertemuan dengan produser musikku." jawabku sambil mengambil jas yang tadi sempat kusampirkan di tepi ranjang. "Oh aku juga sudah menyiapkan mobil dan seorang supir untuk mengantarmu pulang."
Wanita itu mengangguk kecil. "Baiklah. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa."
Aku berpindah ke sisi ranjang, sedikit membungkukkan tubuh dan mengecup pipi wanita itu. "Sampai jumpa." pamitku setengah berbisik sebelum keluar dari dalam kamar.
Saat itu aku baru melangkah masuk kedalam lift, tiba-tiba perutku terasa lapar mengingat tidak banyak hidangan sempat kulahap selama acara. Ditambah rasa pengar dari alkohol yang kuminum membuatku langsung memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Aku menekan tombol lantai dua dan tidak membutuhkan waktu lama, aku sampai.
Seorang host yang berdiri di belakang meja resepsionis segera menghampiriku. Pria itu tersenyum ramah ke arahku. "Selamat pagi tuan Harper. Selamat datang di restoran kami." sapanya. "Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Aku membalas senyuman pria itu sebelum mengeluarkan ponsel dari saku celana. Aku menyodorkan ponselku kepada pria itu. "Aku akan mencari kursi sendiri. Aku minta tolong isikan saja daya ponselku."
Pria itu menerima ponselku perlahan. Ia mengangguk paham. "Baik tuan." jawabnya. Ia membuka sebelah tangan sebagai tanda aku boleh masuk. "Silahkan..."
Aku hanya berdehem pelan sebelum melangkah masuk ke restoran. Aku mengedarkan pandangan berusaha mencari tempat yang pas untuk menikmati sarapan. Namun saat mataku mendapati seorang wanita sedang duduk di sisi jendela sambil menyesap teh, perlahan senyuman di bibirku mengembang. Aku mendengus geli dan menggelengkan kepala pelan sambil melangkah mendekat. "Sepertinya dunia sangat sempit." kataku menyapa.
...
Jace Graves Point of View
Aku mengalihkan pandangan saat mendengar suara itu. Perlahan kuletakkan cangkir dan lepek dalam genggaman tanganku di atas meja sebelum menghela napas panjang. "Apakah kau mengikutiku?" tanyaku tanpa basa-basi dengan nada menuduh.
Pria itu menyeringai lebar hingga menciptakan kesan sangat menggoda. Namun itu tidak berlaku untukku. Aku malah merasa kesal melihat seringaian itu seolah sedang mengejek otak cerdas dan cepat tanggapku karena mengenalinya. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu? Apakah kau mengikutiku nona?"
Aku mendengus geli, menggeleng tidak percaya mendengar pria itu balik bertanya dengan nada penuh percaya diri. "Aku tidak mengikutimu." jawabku mantap.
"Apa kau yakin kau tidak mengikutiku?" pria itu kembali bertanya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
Aku menyandarkan diri pada sandaran kursi. Aku melipat tangan di depan d**a dan memberikan tatapan tajam. "Tidak ada untungnya bagiku mengikutimu."
Tanpa menunggu persetujuan, ia menarik kursi dan duduk di hadapanku dengan seenaknya. "Baiklah. Tidak masalah kalau kau tidak mau mengaku. Tapi aku akui kau cukup hebat karena berhasil mengikutiku sampai kemari." katanya santai.
Aku memejamkan mata selama beberapa detik. "Oh Tuhan..." aku mendesah frustasi. Sepertinya aku tidak akan bisa menikmati sarapanku dengan tenang pagi ini. Entah mengapaku bisa bertemu lagi dengan pria menyebalkan yang memiliki tingkat kepercayaan diri melebihi rata-rata manusia pada umumnya itu. "Masih banyak kursi kosong di re-"
"Kursi ini juga kosong." sergah pria itu. Ia tersenyum lebar seperti sedang memamerkan gigi putih bak bintang iklan pasta gigi. Kedua tangannya menumpu agar dapat menopang dagu.
Aku kembali menghela napas. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanyaku pada akhirnya. Sebenarnya aku terlalu malas untuk meladeni pria aneh itu. Namun tidak ada pilihan lain atau kalau tidak ia tidak akan beranjak pergi. Anggap saja ini sebagai negosiasi bisnis.
"Berhubung kau bertanya seperti itu. Aku ingin tahu, apakah kau benar-benar tidak tahu siapa aku?"
"Sudah kukatakan kemarin padamu, aku tidak tahu siapa kau. Apakah masih kurang jelas?"
"Kau pasti jarang menonton televisi." komentar pria itu. "Mungkin juga membuka youtub dan mendengarkan musik di Spotify?"
Aku melirik pria itu sekilas sebelum membuang pandangan keluar jendela, memperhatikan jalanan kota yang mulai dipenuhi kendaraan bermotor. "Waktuku terlalu berharga. Jadi sangat disayangkan membuang ratusan juta dollar hanya untuk hal seperti itu."
"Baiklah, setidaknya kau memiliki akun i********: bukan?"
Aku tidak menjawab dan memberikan ekspersi datar sebagai jawaban.
Pria itu langsung bertepuk tangan beberapa kali sambil menggeleng tidak percaya. "Woah ini benar-benar tidak masuk akal. Aku tidak pernah mengira ada orang yang benar-benar tidak mengenalku." katanya dengan nada takjub. Kemudian ia memberikan tatapan heran kepadaku. "Apakah kau hidup di dalam gua selama ini?"
Aku mendengus pelan mendengar pria itu masih berusaha menemukan jawaban yang diinginkannya meski aku tidak paham hingga detik ini. "Bisakah kau berhenti memberikan pertanyaan yang tidak penting?"
Pria itu menelengkan kepala. "Baiklah aku akan mengganti pertanyaanku..." gumamnya. "Ini akan menjadi pertanyaan terakhirku. Setelah itu aku akan pergi dan kau boleh melanjutkan sarapanmu." tambahnya sambil mengedarkan pandangan pada seluruh hidangan di atas meja.
Aku menoleh menatap pria itu dengan tatapan malas kali ini. "Kalau pertanyaan itu masih seputar masalah aku mengenalmu atau tidak. Lebih baik pergilah sekarang."
"Tenang saja. Pertanyaan ini berbeda dan sangat mudah untuk di jawab." Pria itu mengangkat sudut bibir sebelum menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kalau begitu cepat tanyakan, sebelum aku berubah pikiran."
Pria itu mencondongkan tubuh hingga menempel pada tepian meja. "Siapa namamu?"
Aku mendengus pelan mendengar pertanyaan itu. Memang benar mudah untuk dijawab. Namun aku tidak berniat untuk menjawab sama sekali. "Kenapa kau ingin tahu namaku?" tanyaku sebelum menarik kain serbet di atas pangkuankku dan memindahkannya di kursi kosong di sisi kananku.
Pria itu menggeleng samar sambil memberikan senyuman penuh arti. "Tentu saja agar aku bisa memanggilmu saat kita bertemu lagi."
"Aku yakin itu tidak akan pernah terjadi. Jadi kau tidak perlu tahu siapa nam-"
"Permisi nona Graves. Maaf jika saya mengganggu waktu anda. Saya hanya ingin mengantarkan pesanan tambahan anda tadi."
Aku dengan cepat menoleh saat mendengar suara itu. Aku mendengus samar, menyadari pelayan pria itu baru saja memberikan jawaban yang diinginkan pria menyebalkan dihadapanku ini membuatku memaki dalam hati. Namun aku tidak bisa kesal bahkan hingga marah mengingat pelayan pria itu sama sekali tidak tahu menahu apa yang kami berdua bicarakan. Aku jadi merasa heran, mengapa keberuntungan selalu mengkianati diriku disaat aku bersama pria itu?
Bahkan saat ini bisa ku lihat dengan jelas keberuntungan beralih pihak. Pria itu tersenyum penuh kemenangan kepadaku sebelum menepuk bahu pelayan pria yang sedang membereskan piring kotor setelah meletakkan sebuah cake pudding di hadapanku. "Kerja bagus."
Pelayan pria itu menoleh dengan ekspersi bingung. "Oh! Maafkan saya tidak mengenali anda sebelumnya, tuan Harper." katanya merasa bersalah. Ia menegakkan tubuh, menunduk selama beberapa detik.
"Tidak masalah. Bukan kau yang seharusnya mengenaliku." balas pria itu sambil melirikku sekilas. Aku paham sekali apa maksud perkataannya. Ia sedang memberikan sindiran untukku.
"Apa ada yang bisa saya bantu, tuan?"
Pria itu bangkit berdiri, mengambil dompet di saku celana untuk mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyelipkannya disaku setelan jas pelayan pria itu sambil tersenyum lebar. "Kau sudah banyak membantu. Terima kasih." jawabnya.
"Ya. Sangat membantu sepertinya." komentarku pelan dan tidak terdengar oleh siapapun kecuali diriku sendiri.
Sebelum pria itu benar-benar berlalu. Ia menepuk bahu pelayan pria itu dan mengedipkan sebelah mata kearahku. "Semoga harimu menyenangkan, nona Graves."
Aku tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun dan mengatupkan bibir dengan rapat. Aku lagi-lagi hanya bisa mendesah sebelum memijit pelipis karena kepalaku mulai berdenyut.
...