Begitu pekerjaannya selesai dan jam kerja berakhir, Damar menemui kekaishnya dengan semangat yang menggebu-gebu. Rasa rindunya sudah tidak terbendung. Rasa bahagianya juga sudah tidak terkatakan lagi. Betapa ia mencintai wanita itu meskipun baru beberapa hari saling mengenal.
"Ayo kita pergi!"kata Damar tak sabar.
"Ke mana, Mar?"
"Ke mana saja, asal dengan kamu,"balas Damar dengan tatapan penuh cinta.
Riri tertawa, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Damar, memberikan kecupan di bibir laki-laki itu,"sabar, aku nggak akan pergi."
"Aku tidak bisa sabar lagi, sayang,"bisiknya mesra.
Keduanya bertatapan, lalu saling melempar senyuman penuh arti.
Damar menarik Riri keluar dan membawanya ke mobilnya dengan cepat."Sekarang kita ke rumah kamu." Ia menyalakan mesin mobil, lalu dengan hati-hati keluar parkiran.
"Aku tinggal di apartemen, bareng asisten aku," jawab Riri santai.
"Orangtua kamu?"tanya Damar.
"Mereka sudah meninggal,keduanya," jawab Riri membuat Damar terperanjat. ia tersenyum tipis."Ma-maaf, Ri, seharusnya aku nggak nanya itu."
"Enggak apa-apa, aku juga punya rumah kok. Kamu mau ke sana? atau mau ke apartemenku?" Riri memberi pilihan. Kedua tempat itu aman untuk dikunjungi. Tentunya mereka akan ebbas melakukan apa saja di sana.
"Beri tahu aku keduanya, jadi, kalau kamu ngilang lagi, aku tau harus cari kemana." Damar mencolek hidung Riri.
"Kan udah tukeran kontak." Riri terkekeh.
"Enggak ngejamin, sayang. Kamu tukang ngilang." Damar melajukan kendaraannya.
"Ya sudah kita ke rumahku dulu saja, ya. Di sana jarang ditempatin sih," kata Riri yang kemudian disetujui oleh Damar.
Damar sedikit bingung begitu mereka tiba di sebuah rumah dengan pagar warna hitam. Sebuah rumah dua lantai, hanya memiliki dua jendela kecil di lantai satu dan dua. Rumah tanpa desain unik dan menarik.Bahkan tampilannya sangat biasa. Bukankah selama ini orang mengatakan kalau Riri adalah wanita kaya. Riri tampak mengambil sebuah benda kecil dari tasnya,mengarahkan ke pagar dan otomatis pagar itu terbuka.
"Ayo masuk!"
setelah mobil Damar masuk, pintu pagar otomatis tertutup sendiri. Damar kembali takjub dibuatnya.
"Kita masuk ke garasi aja, yang itu pintu sebelah kanan," tunjuk Riri.
Riri kembali menekan benda kecil tadi yang mungkin sejenis remote kontrol, garasi terbuka.Damar terbelalak begitu melihat pemandangan di hadapannya. Ia bisa melihat dengan jelas dari jendela kaca ruangan yang kira-kira berjarak sepuluh meter dari hadapannya. Ruangan dengan desain mewah. Sepertinya Riri ingin menipu orang-orang di luar sana. Dari luar terlihat rumah biasa saja, bahkan orang tak tertarik sama sekali untuk melihat. Tapi, di dalamnya bak istana.
"Ayo masuk." Riri mendahului Damar. Damar tersenyum melihat Riri yang sudah hampir sampai di bangunan utama. Ia merasa beruntung sedang bersama wanita mandiri seperti Riri.
Malam ini Riri tampak menawan mengenakan lingerie. Damar memutuskan untuk menginap di rumah Riri setelah beberapa jam mereka berbincang. Kini Damar hanya bisa tertegun melihat Riri berjalan ke sana ke mari dengan pakaian seperti itu. Damar menghampiri Riri dan menghentikan langkahnya dengan sebuah pelukan .Riri tersentak, mereka bertatapan.
"Kenapa?"tanya Riri bingung.
"Kamu cantik." Tangan kanan Damar menaikkan paha Riri dan menempelkannya ke pinggang. Rasa rindu di dalam dadanya sudah ingin diluapkan melalui sentuhan. Tapi,sayangnya harus terhenti saat ponsel Riri berbunyi.
"Sebentar, ya, aku angkat dulu. Kali aja penting." Riri berusaha bangkit.
Damar menyingkir,lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, bersiap-siap melakukan pergumulan panas dengan sang kekasih.
Riri terkejut melihat layar ponselnya tertera nama James. Dengan ragu, ia menajwab panggilan tersebut."Iya,James?"
"Hai, Ri...." Suara sendu itu kembali mengejutkan Riri. Suara itu adalah suara kesepian dan kesedihan. James sedang sedih.
"James .. ka-kamu enggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Riri khawatir.
"Enggak, Ri, aku baik-baik aja," kata James dari sana.
Riri mengembuskan napas lega."Lalu ... ada apa, James?"
James tersenyum bahagia kala menyadari bahwa Riri mengkhawatirkannya."Besok kamu ke kantor, ya."
Riri mendadak bingung. Tak biasanya James menyuruhnya datang menemuinya, jika ada perlu pasti James yang datang padanya."Ada apa, James?"
"Mama sama Papa datang," kata James. Lalu ia tersenyum puas karena ia yakin, wanita itu tidak akan pernah menolak untuk datang ketika orangtuanya datang. jadi, ia bisa bertemu lagi dengan Riri.
"Oh ya? oke ... oke, aku pasti dateng. Sama Eve juga boleh, ya?" kata Riri memastikan. Perasaan kaget bercampur bahagia bisa bertemu dengan mereka.. Ia sudah menganggap orangtua James seperti orangtuanya sendiri.
"Tentu! kalian sudah dianggap anak Mama dan papa, kan?" kata James yang kini senyum-senyum sendiri. Ia bisa mendengar suara bahagia Riri di seberang sana.
Riri mengangguk."Iya, nanti aku beritahukan Eve. Dia pasti seneng."
"Ya sudah, Ri. Aku ada kerjaan. Jaga kondisi tubuhmu. I love you, Ri." James mengakhiri teleponnya.
"i love you too, James," balas Riri. Kemudian ia tersadar, kenapa ia harus membalas ucapan James. Dulu, mungkin iya hanya sebagai bentuk sayang... tapi hanya sebatas teman. Kalau sekarang ... itu tidak boleh ia lakukan, karena ia memiliki Damar. Riri duduk di sofa dengan santai, padahal ia belum berpakaian. Kini ia pun disibukkan dengan ponselnya.
"Kamu ngapain?" Damar datang dan duduk di sebelah Riri.
"Lagi chatting asisten aku," jawab Riri santai.
Damar hanya ber oh ria saja. Kepalanya bersandar di pangkuan Riri.
"Eits ... aku belum ke toilet."Riri menyingkirkan kepala Damar.
Damar merengut."Kamu, ih, enggak bisa liat orang seneng."
Riri tertawa kecil, mengecup bibir Damar sejenak lalu berlari ke kamar mandi.
Damar menyalakan televisi di depannya. Memindah channel beberapa kali, lalu fokus menonton. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Beberapa pesan dari w******p masuk.
Mendadak wajah Damar memucat.Kini ia disibukkan dengan ponselnya sampai ia tak menyadari Riri datang.
"Serius amat?"
Damar tersentak,ponsel yang ia pegang jatuh ke pangkuannya.
Riri tertawa."Maaf ngagetin."
"Kamu, ih." Damar merengut.
Riri mencium pipi Damar."Kamu mau makan enggak?"
"Boleh," jawab Damar yang kembali fokus dengan ponselnya.
"Mau makan apa?" Tanya Riri.
"Apa aja aku makan, kok. Yang penting bukan seafood, aku alergi soalnya," jawab Damar.
"Lah, itu, sih namanya bukan apa aja," balas Riri sambil mengenakan kaos ketat dan celana katun selutut.
Damar hanya tersenyum."kamu mau masak emang?"
"Enggak,lah, capek. Ada yang masak, kok, sebentar ya... aku ke dapur dulu." Riri meninggalkan kamar.
Setelah memastikan Riri benar-benar pergi. Damar menelepon seseorang.
"Iya... halo?"
"...."
"Kapan?"
"...."
"Memangnya tidak bisa ditunda bulan depan saja?""
"...."
"Enggak!"
"...."
"Aku tetap enggak bisa."
"...."
"Tapi ... halo? Halo...."
Sambungan telepon terputus. Damar mendadak frustrasi sambil mengacak-acak rambutnya. Ponselnya ia lempar ke atas tempat tidur dengan kesal. Setelah mondar-mandir tak jelas, Damar memakai bajunya dan keluar dari kamar mencari Riri.
"Sayang," panggil Damar pada Riri yang sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya.
"Iya? Kenapa? Bi ... itu ya buatin makanannya. Ntar kasih tau aja kalau sudah selesai," kata Riri.
"Iya, Mbak."
"Kenapa?" Tanya Riri menghampiri Damar.
Damar menggeleng."Temenin aku, dong! Masa ditinggalin."
"Sebentar doang, kok." Riri memeluk lengan Damar lalu mereka kembali ke kamar untuk membicarakan banyak hal yang belum sempat mereka bicarakan.