Bab 6

1139 Kata
"Mbak!" Suara itu menghentikan langkah Riri yang sudah hampir membuka pintu ruangan James. Riri menoleh."Iya?" Dahinya berkerut ketika melihat wanita asing di meja sekretaris James. "Mbak siapa? Kok mau masuk gitu aja?" Tanya Naina sedikit ketus. "Saya mau ketemu James," ucap Riri dengan segala kebingungannya melihat Naina. "Seharusnya mbak bilang dulu ke saya, enggak bisa masuk seenaknya begitu,Mbak. Di sini ada aturan," kata Naina. "Oh," jawab Riri yang kemudian duduk di ruang tunggu. Tampak Naina masuk ke dalam ruangan James. Tak butuh waktu berapa lama,James bergegas keluar menemui Riri dan langsung memeluknya erat. Naina menganga, tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. James, pria yang beberapa hari ini kerap tidur dengannya malah berpelukan dengan wanita lain. "Aku rindu kamu, Ri," kata James. "Eits ... sudah, enggak enak dilihat orang. Tuh, sampe mulutnya nganga." Riri melepaskan pelukan James. "Oh, iya... ini Naina,sekretaris baru aku," kata James memperkenalkan Naina. "Sekretaris?" ucap Naina spontan. Sepertinya ia tak suka dengan ucapan James barusan. Dia memang sekretaris James, tapi ... kenapa di depan wanita yang baru saja dipeluknya ini ia tidak diakui kekasih. "Iya, di kantor ini kamu sekretarisku," kata James dengan penekanan. Naina menunduk, matanya terasa panas. Naina pura-pura disibukkan dengan komputer di hadapannya. "Ayo, masuk!" James menarik Riri ke dalam ruangan lalu menguncinya. Riri tersenyum kala James menatapnya lekat."Kenapa?" James menangkup kedua pipi Riri, lalu mencium bibir Riri. Setelah beberapa saat ia melepasnya."Aku rindu." "Naina kekasihmu?" James mengangguk."Dia menginginkannya." "Bukan seleramu," kata Riri tertawa kecil. James memeluk pinggang Riri merapatkan ke tubuhnya."kamu seleraku, Ri." Tangan kanannya menelusuri wajah Riri. Sementara tangan kirinya mengusap punggung hingga ke b****g Riri. "Kerjaan kamu masih banyak, James, aku ke sini untuk menemui seseorang," kata Riri. "Damar?" tebak James. Riri mengangguk."Iya." James mencium pipi Riri dengan gemas."Baiklah, sayang. Aku hargai keputusanmu. Jaga dirimu baik-baik. Dan... aku selalu bersedia bila kamu menginginkannya." Riri mencolek perut James sedikit keras, membuat James tertawa. "Jangan gitu, ih, aku pergi dulu, ya." Riri melambaikan tangannya lalu keluar. James mengangguk, dalam hatinya ada rasa kecewa. Tapi bagaimanapun mereka hanyalah berteman. Riri kembali ke recepcionist."Fio, gimana?" Fio mengangguk." Sudah, Mbak. Kata Pak Damar langsung ke ruangannya saja. Ruangannya ada di lantai dua, terus dari lift belok kiri paling ujung sebelah kanan." "Oke, Sip.Makasih." Fio mengangguk."sama-sama, Mbak." Riri merogoh tasnya, mengeluarkan kertas dua lembar."Nih, voucher belanja di butik Rie, ya." "Mbak...!!" Fio melonjak kegirangan."Makasih, Mbak." Fio keluar dari meja recepcionist lalu memeluk Riri. "Iya, sama-sama. Ke atas dulu, ya." Riri melambaikan tangannya sekilas. Fio membalas dengan girang sembari mencium voucher pemberian Riri. Riri menuju ruangan yang dimaksud Fio, pintu ruangannya sedikit terbuka. Riri mengintip, benar. Damar ada di sana. Riri masuk perlahan. Damar menoleh dan langsung shock. "Sayang!" Damar berlari memeluk Riri,tapi kemudian ia sadar lalu secepat kilat ia mengunci pintu ruangannya. Damar kembali memeluk Riri dengan manja. Riri tersenyum geli."Maaf baru nemuin sekarang. Jahat, ih, enggak tukeran nomor hape." "Kamu, ih,jahat," kata Damar dengan suara yang lunak. "Jadi, yang dimaksud Fio itu kamu. Astaga... maaf kamu nungguin lama." Riri mengangguk."iya." "Kamu jangan kemana-mana sampai aku selesai kerja," kata Damar. "Memangnya boleh, aku di sini terus?" "Boleh, tungguin ya? Aku enggak mau kamu ngilang lagi." Damar mengecup bibir Riri. Kecupan itu membuat hati Riri bergetar. Ia mengangguk kemudian duduk di sofa dengan tenang. Damat melanjutkan pekerjaannya dengan cepat. Tak sabar ingin melepaskan kerinduannya dengan kekasih tercintanya itu. James sibuk dengan laptop di hadapannya. Hari ini pekerjaannya memang banyak, besok ia harus bertemu dengan beberapa pengusaha untuk mengadakan kerja sama.Gerakannya terhenti begitu ia menyadari ada orang yang kini tengah memperhatikannya. "Loh? Nai, kenapa belum pulang? Udah jam pulang, kan?" kata James sambil mepihat jam tangannya. Naina tak menjawab, ia memilih mendekat dan duduk di pangkuan James. "Kenapa, Nai? Hari ini aku banyak kerjaan. Jangan ganggu!" James berusaha menurunkan Naina dari pangkuannya. "Kamu kenapa, sih?" tanya Naina kesal. James mendelik."Maksudnya?" "Siapa perempuan tadi?" tanya Naina sambil melipat kedua tangannya di d**a. "Riri," jawab James singkat saja. Naina mendecak sebal."Iya, Riri itu siapa?" "Dia itu ... teman spesial." James kembali fokus pada laptopnya. "James, aku serius." Naina menutup layar laptop James setengah. James menatap Naina. Sedikit ada kekesalan di wajah James."Namanya Riri. Kami berteman sejak kecil. Dia itu teman spesialku. Lebih dari segalanya. Kamu paham?" "Spesial?Oke... spesial karena dia teman kamu dari kecil, kan," kata Naina memastikan. James tak menjawab, ia melirik Naina dengan kesal. Ingin sekali rasanya ia menendang Naina keluar dari ruangannya. Saat ini ia benar-benar ingin sendiri. "James!" Naina menghentakkan kakinya membuat James mengacak-acak rambutnya. "Ada apa, Nai? pulang, lah, ini udah jam pulang," kata James gusar. "Aku masih mau di sini sama kamu." Naina kembali mendekati James, merapatkan tubuhnya. "Nai, saat ini ... ak...." Belum selesai James bicara Naina sudah menyerang James dengan ciumannya. James paling tidak suka dicium dengan sembarang wanita. Hanya wanita yang diinginkannya saja yang boleh berciuman dengannya. Tapi, sayangnya terlambat,miliknya sudah mengeras. James melepas ciuman Naina yang kini sudah tersenyum penuh kemenangan. "Pintu sudah aku kunci," kata Naina seolah paham saat James melirik pintu ruangan. James membuka seluruh pakaian yang menempel di tubuh Naina. Naina itu  cantik. Kulitnya putih, badannya tinggi, kurus, rambut panjang bergelombang, untuk ukuran d**a tergolong standar. Begitu juga dengan bokongnya. Jika dilihat-lihat, Naina cukup menarik mata pria yang melihatnya. Namun, tetap, Naina bukan tipe wanita idaman James. Tapi untuk sekedar memuaskannya, tidak ada salahnya.  James melakukannya dengan cepat, tanpa harus b******u mesra seperti yang ia lakukan dengan Riri. Tak berapa lama kemudian James telah selesai, tanpa peduli bagaimana dengan Naina. Biar bagaimana pun ia tak pernah menginginkan Naina. Naina yang sedari awal menawarkan dirinya sebagai pemuas James, asalkan ia diterima bekerja. James tak membutuhkan pemuas nafsunya, karena ia bisa cari dimana saja. Tapi, karena Naina juga memenuhi syarat, apa salahnya sambil menyelam minum air. Yang penting James tak pernah menawarkan itu pada Naina. "Sudah, pulang, lah, sudah malam," kata James yang baru keluar dari toilet sehabis membersihkan dirinya. "Kamu enggak antar aku pulang?" tanya Naina. James mengernyit."Kenapa harus?" "Aku, kan, pacar kamu." "Nai, dari awal kamu yang menawarkan itu padaku. Dan ... satu hal, Nai, kita ini bukan sepasang kekasih," jelas James membuat Naina tersentak. Akhirnya ia memutuskan bahwa Naina itu bukanlah kekasihnya. Meskipun dulu ia sempat mengakuinya di depan Riri. "Tapi kita, kan, sudah tidur bersama, James. Itu artinya kamu kekasihku," kata Naina mencari pembelaan. James mendekat, menatap Naina."Nai, dari awal... kamu yang menawarkan itu. Asalkan kamu diterima. Sekarang kamu menganggap kita pacaran karena kita sudah tidur bareng gitu?" "Memangnya kamu enggak tertarik sama aku?" James memandang Naina dari atas sampai bawah. "Kamu cantik, Nai. Tapi... kamu bukan selera saya." James kembali ke mejanya. Naina menangis dalam hati. Merasa tak rela diperlakukan seperti ini. Masa iya setelah James menidurinya beberapa kali, hatinya tak bisa ia dapatkan. "Aku pulang." Naina meninggalkan ruangan James dengan luka di hatinya. Dalam hati ia bersumpah untuk mendapatkan hati James kembali. James hanya mengangguk, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN