Reynard menatap sebuah foto besar terpajang pada dinding kamarnya yang menampakkan dirinya dengan sang ibu. Foto yang diambil 9 tahun lalu, kala itu umurnya baru menginjak 15 tahun. Ia tersenyum penuh luka, kenangan manis akan kehadiran sosok ibu membuatnya merasa bahwa ternyata selama 9 tahun ia hidup tanpa bayangan ibu mau pun ayah, ia tumbuh jadi anak yang sangat kesepian.
Ia ingat setiap detik, detail kejadian yang menimpanya kala itu. Yang terpaksa membuatnya jadi seperti sekarang ini.
"Permisi, Tuan."
Seorang pria paruh baya masuk, pria yang sudah bersama dengan Reynard sejak 10 tahun terakhir. Yang mengetahui setiap tingkah dan perilaku Reynard. Dia adalah asisten pribadi Reynard, pria paruh baya yang sudah berumur. Ia tetap terlihat gagah dengan balutan busana jas hitam dengan rambut yang sudah beruban tapi tertata rapi.
"Saya udah cari tau segala informasi tentang Muhammad Akbar, yang katanya calon tunangan Nak Tania."
Reynard menoleh, "taruh aja di meja pak."
Pria itu membungkuk bermaksud untuk berpamitan.
"Rey udah nungguin bapak dari tadi. Masa udah langsung mau pamit aja," tukas Reynard.
"Ada yang mau Tuan omongin sama saya?"
Reynard mengangguk, "ayo pak, sini duduk."
Reynard mempersilahkan asistennya untuk duduk bersamanya di sofa panjang yang ada di kamarnya. Di meja sudah di hidangkan teh hangat dan beberapa jenis kue dan cake.
"Papa tadi datang ke kantor nemuin Rey." Reynard mulai bercerita. Tampaknya asisten pribadinya mendengarkan dengan baik.
"Tuan Wijaya bilang apa sama Tuan Reyn?"
"Aku ga begitu peduli dengan apapun yang Papa bilang. Aku pedulinya ketika Papa dateng. Aku selalu ngerasa kalau dia laki-laki yang gak berhak punya anak atau hidup bahagia. Apa Rey salah mikir kayak gitu?" Reynard kini menatap pria yang saat ini ada di sampingnya.
"Salah. Tuan salah mikir kayak gitu. Seburuk-buruk apapun orang tua, dia tetap orang tua kita. Beliau tetap jadi tempat kita untuk pulang. Tuan gak berhak buat benci atau doakan yang tidak-tidak. Beliau tetap Ayah Tuan, dia tetap orang yang turut andil dalam proses penciptaan Tuan."
Rey terkekeh, "jangan manggil Tuan. Panggil aja Rey, aku ga nyaman di panggil Tuan."
"Siap!"
"Awalnya Papa marah. Dia dateng dengan angkuhnya bilang kalau ia ga perlu janji temu buat ketemu sama aku, terus setelah itu dia bilang aku tumbuh jadi pengusaha yang sukses walaupun tanpa bantuan Papa, ya itu bener. Terus ada hal yang kadang buat ngerasa lucu, dia bilang ga ada anaknya satu pun yang bisa gantiin posisi aku, apa gak lucu? Justru udah dari 9 tahun yang lalu posisi aku di gantikan," ucap Reynard. Ia masih tetap terlihat tenang.
"Mungkin emang ada benernya 'kan? Beliau ninggalin kamu pasti ada sebab dan akibatnya 'kan? Dan mungkin memang bener kalau sampai saat ini tempatnya kamu belum ada yang bisa gantiin. Apalagi kamu anak satu-satunya, anak pertama yang Papa kamu punya dari almarhum Mama kamu," jelas asisten Reynard.
"Menurut aku itu ga perlu di bahas. Itu udah terjadi selama bertahun-tahun. Harusnya dia sadar bahwa apa yang dia lakuin itu salah! Dan setelah 9 tahun dia ga berusaha minta maaf sama sekali soal kesalahan fatal yang dia lakuin, itu berarti dia belum nyesel'kan?" Balas Reynard tidak terima.
Reynard menghela nafas, "aku gak tau lagi harus percaya sama siapa kecuali sama Pak Tedjo."
"Non Tania?"
Reynard kembali menatap asistennya, "dia juga udah ga bisa aku percaya, pak. Kami udah ga bareng-bareng lagi."
"Lho, kenapa?" Pak Tedjo menatap Reynard dengan tatapan yang benar-benar terkejut.
"Orang tuanya gak setuju, Pak. Gara-gara kami beda kepercayaan." Reynard menunduk. Tampaknya ia kembali mengingat kejadian kala itu, kejadian dimana Papanya Tania meminta dirinya untuk mundur dan meninggalkan Tania.
"Ya wajarlah orang tuanya ga terima. Toh kalian beda kepercayaan. Orang tua mana si yang mau anaknya mengkhianati kepercayaannya demi cinta. Tapi coba kamu pikirkan lagi, kalau kamu cinta sama non Tania kamu pasti bakalan lakuin sesuatu 'kan? Jangan hanya diam seolah-olah tidak bisa melakukan apa-apa. Selama non Tania belum menikah, masih ada kesempatan untuk, Mas."
"Kesempatan apa? Tania udah punya calon tunangan, Pak. Dia juga kayaknya enggak mau berjuang sama-sama," balas Reynard.
"Perempuan itu memang ga butuh janji, Mas. Perempuan butuhnya kepastian dan bukti. Mungkin selama ini Mbak Tania ga pernah lihat kepastian yang Mas tunjukkan sama dia."
"Terus saya harus apa, Pak? Saya cinta sama Tania."
Pak Tedjo tampak berpikir, "Saya juga gak tau, Mas. Tapi coba aja Mas pikirin. Katanya kalian udah bertahun-tahun pacarannya, masa Mas sama sekali ga mau buktiin kalau Mas itu serius sama Mbak Tania. Tunjukin kalau Mas ga main-main, jangan sampe dia ngerasa kalau selama ini dia cuma buang-buang waktu aja."
"Saya harus nikahin dia?" Reynard kini menatap Pak Tedjo. Entah yang ia ajukan adalah sebuah pertanyaan atau pernyataan.
"Menurut, Mas?"
Reynard benar-benar terlihat bingung. Sampai saat ini ia masih belum mendapat titik terang.
"Mas pernah denger gak, katanya jodoh ga bakalan kemana," timpal Pak Tedjo, asisten pribadi Reynard.
"Saya ga percaya."
"Percaya aja, jodoh itu di tangan Tuhan. Jodoh, rezeki, dan kematian semuanya ada di tangan Tuhan."
Pak Tedjo kian mendekat, ia mulai berbisik pada Reynard. "Dalam ajaran agama saya, jodoh itu cerminan kita, jadi kalau mau cinta sama makhluknya kita harus cinta dulu sama penciptanya. Mas mau belajar tentang agama saya?" bisik Pak Tedjo. Reynard terdiam seketika. Usai mengatakan hal itu Pak Tedjo akhirnya bangkit dari kursi dan berdiri berjarak dari Reynard.
Kini pandangan Reynard mengarah pada Pak Tedjo yang sedang berdiri sembari menunduk.
"Teguhkan hati dan pikiran Mas dulu. Jangan sampai salah langkah. Inget aja, kalau jodoh ga bakal kemana. Kita mah tinggal tawakkal dan berdoa, biar yang urus semuanya Tuhan," jelas Pak Tedjo. Reynard hanya diam, ia tidak mengatakan apapun.
"Kalau Mas butuh apa-apa, silahkan panggil saya. Kalau gitu saya ke bekalang dulu," panit Pak Tedjo. Sebelum ia pergi ia memberikan penghormatan terlebih dahulu dengan berbungkuk.
Kini hanya ada Reynard di ruangannya. Ia diam seribu bahasa, hanya menatap ke arah jendela saja dengan tatapan kosong. Ucapan Pak Tedjo benar-benar menari di otaknya.
"Bagaimana cara mencintai penciptanya?" gumam Reynard. Ia tampak bingung, dan bertanya-tanya di dalam hati.
"Apa aku harus izin dulu sama Tuhannya?" ucap Reynard.
"Aku mencintai salah satu hamba-Mu. Maka tolong izinkan aku bersamanya. Tak kan ku biarkan ia lupa dengan-Mu," lirih Reynard. Entah untuk siapa dan dengan maksud apa dia mengatakan hal itu. Tapi itu mungkin adalah sebuah awal dari bentuk keseriusannya pada Tania.