Malam ini hujan turun amat deras, bersama petir yang menggelegar. Tania berdiri di depan jendela, menatap langit malam yang gelap, tak terlihat bintang dan bulan yang bertebaran.
Jam menunjukkan pukul 8 malam, Tania masih enggan untuk beranjak dari tempatnya berdiri. Ia masih setia menatap langit.
Sesekali ia menghela nafas, ia terlihat banyak beban. Semua masalah berputar-putar di otaknya, entah bagaimana ia bisa menghadapi masalah ini satu per satu.
Ia teringat Reynard. Ia ingat dulu Reynard pernah mengatakan bahwa ia benci hujan, benci langit yang mendung. Tania tersenyum, "entah gimana dia sekarang. Akhir-akhir ini musim hujan, langit selalu mendung. Apa mungkin dia baik-baik aja ya?" gumam Tania.
Ia tidak pernah bertanya kenapa Reynard membenci hujan dan langit yang mendung, ia cuma tau bahwa Reynard punya kenangan pahit tersendiri yang ia simpan rapat-rapat.
"Reynard punya semuanya, harta dan jabatan. Tapi dia tetep ngerasa kesepian, ga ada satu pun orang yang bisa jadi tempat dia buat pulang. Kadang aku ngerasa kalau aku yang harusnya jadi tempat dia pulang justru malah jadi salah satu orang yang nyakitin dia. Kenapa ya, kita ga bisa milih buat hidup sama orang yang kita sayang. Kenapa kita harus sayang sama orang tapi pada akhirnya kita ga bisa bareng-bareng?" ucap Tania. Ia masih tetap menatap langit.
"Karena ga semua yang kita pengenin itu bisa di kabulin."
Tania menolah, Raisa datang sembari membawa s**u untuk Tania.
"Jangan egois, jangan hanya mau keinginan kamu doang yang harus di penuhi. Terkadang ada sesuatu yang mungkin menurut kita baik, tapi menurut Tuhan itu ga baik buat kita."
"Maksud Mama?"
"Iya, seperti kamu yang ngerasa kalau Reynard itu baik buat kamu, tapi bagi Tuhan ternyata Reynard itu tuh ga baik buat kamu jadi Tuhan tarik deh dia, Tuhan jauhkan dia sama kamu, karena Tuhan tau bahwa kalian itu gak sejalan, dan ga bisa bareng-bareng. Inget sayang, Tuhan udah punya rencana yang baik buat hamba-hamba-Nya. Kamu, Mama sama Papa tinggal nunggu aja, biar Tuhan yang atur semuanya. Tuhan adalah sebaik-baiknya penulis skenario." jelas Raisa dengan penuh kelembutan.
"Belajar buat ikhlas, Mama tau ini tuh pasti berat banget buat kamu, tapi inget ya sesuatu yang emang di takdirkan buat kita pasti bakalan balik buat kita. Jadi serahin aja semuanya sama Tuhan, biar Tuhan yang atur. Kamu jangan marah, jangan ngerasa kalau Tuhan itu ga adil sama kamu, justru Dia lagi ngatur yang terbaik buat kamu, oke sayang?"
"Ma," satu cairan bening jatuh membasahi pipi Tania. "Tania sayang banget sama dia, Tania ga bisa ngelepasin dia. Aku ga bisa nerima perjodohan ini secepet ini, Ma. Tania perlu waktu, tolong kasih aku waktu, Ma."
"Mama tau sayang. Harusnya Mama bisa bela kamu, bisa bantu kamu buat ngomong sama Papa. Tapi Mama ga bisa apa-apa, Papa gak mau denger apa yang Mama bilang. Maafin Mama sayang, Tapi tenang aja, Mama bakalan usaha biar Papa kamu mikirin ini lagi. Kamu bener, ini terlalu cepat buat kalian, kalian aja baru kenal, masa udah mau di jodohin aja."
Tania mengangguk mengiyakan, "iya, Ma."
"Kamu tenang aja, ya?" Raisa menarik Tania kedalam pelukannya. Ia mendekat tubuh putrinya dengan sangat erat.
"Itu s**u kamu, nanti sebelum tidur di minum dulu. Kamu istirahat yang cukup jangan terlalu mikirin hal ini ya, Mama takutnya kamu ga konsen nantinya," ucap Raisa memperingatkan.
"Iya, Mah."
"Yaudah, kalau gitu Mama keluar ya. Kamu istirahat, Mama juga mau coba buat ngomong sama Papa kamu, ya semoga aja dia mau dengerin Mama."
"Iy, Ma. Makasih lagi. Tania bener-bener butuh dukungan Mama. Tania bukannya gak setuju tapi kita perlu waktu, Tania perlu kenal sama Akbar, tentang gimana dia, gimana kepribadian dia."
Raisa mengangguk, "iya sayang. Yaudah Mama keluar dulu ya."
Ceklek!!
Saat Raisa keluar dari kamar Tania, rupanya Wirawan berada di sana. Ia berada tepat di depan pintu kamar Tania.
"Mama mau ngomong soal apa sama Papa?"
"Sejak kapan Papa disini? Kok gak masuk aja?"
"Tadi Papa lewat, terus denger kalian lagi ngobrol. Emang Mama mau ngomongin soal apa sama Papa?"
Raisa menghela nafas, "Kita bicara di kamar, Pa. Ga enak sama Tania, dia udah mau istirahat."
"Yaudah."
Mereka berdua kembali ke kamar. Wirawan tampak tidak sabaran menunggu.
"Kenapa? Tania pengen punya adek?"
"Pa!! Mama lagi serius, Mama lagi ga pengen becanda!" balas Raisa dengan ketus.
"Yaudah, apa sayang?"
"Pa, apa ga sebaiknya kita undur dulu buat perjodohan ini? Anak kita ngerasa tertekan. Ini terlalu cepat buat Tania."
"Ma, kan Papa udah bilang. Papa gamau bahas hal ini lagi. Harus berapa kali sih Papa bilang sama Mama?"
"Pa, coba deh Papa pikir. Tania anak kita satu-satunya, terus kita jodohin sama orang yang baru beberapa hari dia kenal, dia belum tau Akbar itu gimana orangnya, dia belum tau gimana kepribadiannya. Papa jangan terlalu buru-buru gitu. Jangan hanya karena Papa sama Papanya Akbar kenal dari SMA terus Papa ga perlu buat mereka saling mengenal lebih jauh. Apalagi soal perjodohan, yang bakalan ngarah ke pernikahan. Jangan gegabah, mereka perlu waktu buat saling mengenal satu sama lain," jelas Raisa.
Wirawan tampak frustasi, ia menghela nafas lalu menatap istrinya.
"Terus kamu maunya gimana?" tanya Wirawan.
"Jangan buru-buru. Kasih mereka waktu buat saling mengenal. Kamu rela emang anak kita satu-satunya tiba-tiba aja harus ninggalin kita karena pernikahan? Jujur aja Mama masih belum rela, Pa." Raisa menunduk, tampaknya ia merasa sedih.
"Maafin, Papa. Aku ga mikir ini dulu, kamu pasti ngerasa sedih banget 'kan? Aku bakalan ngomong sama Papanya Akbar biar mereka di biarin buat saling mengenal dulu." Wirawan memegang kedua bahu istrinya, ia lalu menarik istrinya ke dalam dekapannya.
"Ma, gimana kalau kita buatin Tania adik? Biar kalau Tania udah pergi kan kita masih punya adiknya," bisik Wirawan dengan nakal.
"Pa, inget umur dong!" ketus Raisa. Ia menjauh dari dekapan suaminya lalu berjalan menuju tempat tidur.
"Ya kan Papa cuma nawarin aja. Kali aja gitu Mama mau."
"Ish, apa sih Pa? Jangan becanda deh!" balas Raisa dengan nada kesal.
Wirawan terkekeh, ia telah berhasil menggoda Raisa hingga kesal. Ia kemudian ikut serta di atas kasur king size bersama Raisa.
"Papa cuma becanda! Kamu baperan banget sih!"
"Lagian, Papa udah kayak anak muda aja. Inget umur dong, Tania udah 23 tahun loh!"
"Iya, Ma."