Tamu Tak Diundang

1011 Kata
Semilir angin berhembus menerpa kulit mulus Reynard. Ia berdiri di depan jendela besar yang terbuka, ia membiarkan angin masuk memenuhi seluruh ruangannya. Suasana tampak begitu pilu, ia menatap langit yang tampak mendung. Senyuman manis, kenangannya bersama seorang gadis yang sangat ia cintai kini muncul, terkadang ia terkekeh lalu setelahnya ia kembali sedih, bagaimana tidak? Ia harus melupakan kenangan itu, ia harus berhenti memikirkan gadis yang sangat ia cintai itu. Seorang pria masuk, ia berdiri di belakang Reynard. "Kenapa?" tanya Reynard ketus. "Seseorang datang, pak. Katanya mau ketemu dan mau bicara sama Bapak. Tapi dia sama sekali ga buat janji temu, jadi bagaimana?" tukas sekertaris Reynard. "Suruh aja masuk, saya juga lagi free kok." Sekertarisnya mengangguk. Ia kembali keluar, beberapa menit kemudian terdengar kembali pintu di buka. Reynard masih tetap berdiri menghadap jendela tanpa menghiraukan siapa yang datang menemuinya. "Sepertinya saya datang di waktu yang tepat," tukas seorang pria paruh baya. Intens Reynard teralihkan, ia menoleh menatap pria itu. "Kamu kaget saya ada disini? Kenapa susah sekali ya ketemu sama anak sendiri? Masa saya harus buat jadwal temu sama kamu, kan saya Papa kamu," ucap pria itu lagi. "Apa yang membawa seorang Bapak Wijaya datang ke kantor saya?" Reynard kini menatap nyalang pria yang ia panggil dengan sebutan Wijaya. "Kenapa? Kayaknya kamu ga suka saya dateng kesini." Pria itu kemudian melenggangkan kakinya dari satu sudut ke sudut yang lain, ia mengamati setiap inchi ruangan Reynard. "Kamu sekarang udah jadi pebisnis yang terkenal, udah jadi orang hebat. Saya cukup salut sama kamu." "Langsung aja keintinya, Papa ngapain dateng ke sini? Kalau cuma untuk basa-basi mending Papa pulang dan balik ke rumah istri Papa." "Kamu ngusir Papa?" Pria paruh baya itu kini menatap Reynard dengan tatapan tajam, "kamu ngusir papa? Kamu bener-bener anak yang gak tau diri ya." "Aku yang gak tau diri? Bukannya Papa yang ga tau diri? Papa udah ninggalin Mama buat nikah sama perempuan itu, Papa yang gatau diri. Papa keterlaluan! Terus sekarang Papa mau apa? Papa dateng kesini buat apa? Bukannya selama ini yang ninggalin aku sama Mama itu Papa ya?" ucap Reynard dengan tegas. Ia tampak sangat murka dengan kehadiran sang Papa. Bertahun-tahun ia hidup tanpa bayangan seorang Ayah, ia harus mengurus Ibunya kala itu seorang diri karena sakit-sakitan, rasa kecewa dan amarah yang melekat dalam d**a Reynard tidak bisa ia lupakan. Ia masih sangat membenci ayahnya hingga saat ini. Inilah sebab kenapa ia sangat tertutup, bahkan hal sebesar ini tidak ada yang mengetahuinya, ia menyimpannya seorang diri. Tania-lah satu-satunya orang yang bisa Reynard percaya tidak akan meninggalkan dan mengkhianatinya, walaupun ia tau ternyata hal itu tidak benar karena wanita yang sangat ia cintai itu akhirnya meninggalkan dirinya dan sudah memiliki calon tunangan. Wijaya terdiam, ucapan Reynard benar-benar telah berhasil membungkam mulutnya. Ia tak mampu berkata-kata lagi, ucapan Reynard membuatnya merasa terluka. "Sekarang tolong, silakan keluar dari ruangan saya sebelum saya panggil satpam," timpal Reynard. "Papa masih mau bicara sama kamu." "Ga ada yang perlu dibicarakan, Pa. Reyn ga mau dengerin apapun lagi dari mulut Papa. Cukup sekali aja Reynard pernah percaya semua omongan Papa tapi apa? semua omongan Papa cuma omong kosong, Reyn udah ga percaya lagi, udah ga mau tertipu lagi." Wijaya tersenyum, "kamu tumbuh jadi anak yang keras kepala. Okey, kalau kamu ga mau bicara lagi sama Papa juga gapapa, Papa ngerti kamu pasti kecewa banget sama Papa. Tapi yang perlu kamu ketahui, sampai saat ini ga ada anak Papa yang bisa gantiin kamu. Papa sayang banget sama kamu Reyn, jadi tolong sesekali dateng ke rumah Papa. Jangan menjauh, jangan bertindak seakan-akan kamu udah ga punya Papa lagi," ujar Wijaya. "Emang dari dulu bagi Reyn Papa udah ga ada. Sejak Papa ninggalin aku sama Mama, saat itu juga Reyn udah ga anggep Papa ada. Jadi kehadiran Papa disini ga berarti apa-apa buat Reyn." Reynard tetap terlihat tegar, tak ada satu tetes pun cairan bening yang menetes. Tampaknya ia sudah tidak punya rasa kasihan lagi. Wijaya menghela nafas panjang, Reynard lagi-lagi telah membuatnya bungkam. Ia terdiam cukup lama. Setelah itu ia tersenyum simpul ke arah Reynard. "Papa harap, suatu saat nanti ada seorang perempuan yang bisa ngerubah kamu. Bisa ngerubah sikap egois, keras kepala kamu. Papa masih nunggu kamu buat dateng ke rumah, Papa selalu nunggu. Maafin Papa Reyn, setidaknya Papa bisa ngerasa tenang karena kamu," Wijaya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, "berhasil jadi orang sukses tanpa bantuan Papa. Kamu hebat, papa akui itu." Reynard diam, Wijaya kini melangkah menuju pintu. Ia membukanya. Ceklek!!! Sebelum ia melangkahkan kakinya keluar, ia kembali tersenyum. "Lain kali, sebelum Papa dateng kesini Papa bakalan buat janji temu dulu. Maaf kalau Papa ga ngikutin aturan yang dibuat sama perusahaan kamu." "Reyn ga nunggu Papa dateng lagi. Kalau perlu ga usah dateng kesini lagi." Degg!! Hati Wijaya rasanya benar-benar tertusuk belati. Pria yang saat ini berada di depannya tampaknya benar-benar sudah tidak memiliki nurani lagi. Ia benar-benar berubah menjadi pria yang arogan. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Reynard atas perilakunya ini semua terjadi karena ulahnya juga. Ia melangkahkan kakinya keluar, lalu menutup pintu itu kembali dan disaat itu juga Reynard terjatuh, ia duduk lemas di kursi kerjanya. Satu persatu cairan bening jatuh membahasi pipi mulus Reynard. Ternyata ia se-rapuh ini, ia tidak sekuat seperti apa yang orang-orang lihat. Oa punya sisi lemah, dan inilah dia. Tidak ada yang membalut lukanya, hanya ada dirinya sendiri yang akan kembali memberikan perban untuk lukanya itu. Tidak ada yang bisa menjadi penyembuh. Ia melirik sebuah foto yang terpajang di meja kerja miliknya. Dua foto wanita yang amat ia cintai hingga sampai saat ini. "Aku ga sekuat yang orang-orang lihat. Bahuku ga setangguh itu, lagi dan lagi aku harus nahan rasa sakit ini sendirian," ucap Reynard lirih. Ia berdiri kembali, menatap langit yang semakin mendung. Langit yang sama yang terakhir kali ia pandang tatkala ia mendengar kabar bahwa ibunya telah tiada. Langit yang sama ketika Papanya meninggalkan dirinya. Dan langit yang sama tatkala Tania dan dirinya mengakhiri hubungan mereka yang telah berlangsung sejak 5 tahun. Langit mendung memberikan rasa tersendiri bagi Reynard dan rasa itu ialah pilu. Pada dasarnya, ia hanyalah seorang diri. Tanpa siapapun yang menemani.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN