Jam sudah menunjukkan pukul 13.30 siang, Tania kembali ke ruangannya. Di jam ini merupakan jam istirahat bagi para dokter dan perawat.
Tania mengambil tas yang ia bawa dari rumah, lalu mengeluarkan bekalnya yang seharusnya ia makan saat sarapan tadi, tapi ia lupa.
Tok tok tok!!
Terdengar suara ketukan pintu
"Masuk," ucap Tania.
Seseorang yang sangat ia kenali pun masuk, ia membawa dua kotak makan yang tampaknya ia pesan di salah satu warung makan.
"Gue ganggu gak?" ucap Desi. Tania menggeleng, setelah itu Desi melenggang masuk dan duduk di depan Tania.
"Lo ngapain makan disini sendiri? Kek ga punya temen aja lo!"
Tania terkekeh, "kan biasanya emang aku makan tuh selalu disini. Kamu kek gak tau aku aja ish."
Desi tersenyum.
"Eum yaudah, ni tadi gue pesen makanan online terus yaudah sekalian gue beliin buat lu juga. Terus makan bareng kita," ucap Desi sembari menyodorkan satu kotak makanan untuk Tania.
"Makasih, ya. Repot-repot banget."
Tania mengambil makanan yang diberikan oleh Desi. Desi tersenyum senang, setidaknya muka kusut sahabatnya itu sudah lebih baik sekarang.
"Oh iya, lo ga ada yang mau di bicarain atau di ceritain sama gue gitu?" tanya Desi. Ia tau ada sesuatu yang mengganjal pikiran Tania sejak tadi pagi tapi ia belum sempat bertanya karena terlalu banyak kegiatan.
"Soal apa?"
"Kok nanya gua balik? Ya menurut lo? Gue tau lo pasti ada apa-apanya, karena lo keliatan beda banget dari kemaren-kemaren. Gue kenal lo bukan baru sebulan atau dua bulan, kita kenal udah bertahun-tahun. Gue tau kalau lo ada masalah dan nutupin itu dari gue, jangan buat gue jadi ngerasa ga berguna. Lo sahabat gue, dan udah sepantasnya kalau lo ada masalah lo bisa bagi sama gue," jelas Desi.
Tania terenyuh, entah bagaimana bisa Desi mengerti perasaan dirinya bahkan sebelum ia menceritakannya. Kadang Tania merasa tidak enak pada Desi karena menurutnya ia selalu saja jadi beban untuk sahabatnya itu.
"Kok lo malah diem, jangan bilang lo gamau bagi bagi ya sama gue?"
"Des, kamu itu baik banget sih. Aku gatau lagi deh harus gimana bilang makasih sama kamu."
Tania pun mulai menjelaskan semuanya tentang apa yang membuatnya merasa tidak nyaman, tentang bagaimana perilaku Papanya yang memaksa dia agar menerima perjodohan antara dirinya dan Akbar. Tania juga menjelaskan bahwa tampaknya Akbar memang setuju dengan perjodohan ini jadi menurutnya akan sangat sulit bagi dirinya untuk menolak perjodohan ini.
"Jadi, om Wirawan mau jodohin lo sama Akbar?" tanya Desi, ia tampak terkejut ketika mendengar penjelasan dari Tania barusan.
Tania mengangguk mengiyakan.
"Secepet itu? Maksud gue tuh, nih ya lo kan baru aja deket sama orang nih terus sampe kenalan juga nyokap sama bokap lo, masa tiba-tiba aja bokap lo mau jodohin lo sama orang lain yang baru aja lo kenal beberapa hari, apa ga terlalu buru-buru? Ga habis pikir gue," keluh Desi, ia tampak sangat terkejut, karena menurutnya ini terlalu cepat.
"Ya maka dari itu, aku aja ga nerima. Ya coba kamu pikir, Papa mau jodohin aku sama Akbar tanpa ngomong dulu tanpa ngasih tau dulu dan gamau dengerin gimana pendapat aku. Menurut aku ya, ini itu penting banget buat aku karena yang bakalan jalanin hubungan ini tuh kan bukan Papa atau Akbar doang tapi aku. Jadi harusnya kan di omongin baik-baik dulu. Lagian kan aku masih belum ada kepikiran buat lanjut ke jenjang pernikahan, aku masih belum bisa lupain Reynard." Tania tampak murung.
"Gue bisa ngerti gimana perasaan lo. Tapi ini menyangkut hubungan dua keluarga, yaitu keluarga lo dan keluarganya si Akbar. Atau gak gini aja, lo coba buat ngomong sama Akbar, buat cari jalan keluar dari masalah ini, gue yakin dia ga bakalan keberatan, ini cuma perkara waktu bilang aja sama dia, ngomong."
Tania menghela nafas, baginya ini sangat berat. Ia seperti tidak bisa melakukan apapun lagi. Ia sudah merasa benar-benar putus asa.
"Jangan nyerah, lo harus cari jalan keluarnya. Jangan diem aja, lo gamau 'kan tiba-tiba aja jadi Nyonya Muhammad Akbar, astaga gue aja sampe ga habis pikir loh," ujar Desi.
"Iya, makasih ya sarannya. Aku emang pengen ngobrol secara langsung sama Akbar karena menurutku ini cepet banget, aku belum siap."
"Gue setuju!" potong Desi, "jangan hanya karena ini permintaan om Wirawan lo jadi ga bisa ngapa-ngapain. Tenang aja, gue bakalan selalu ada buat lo. Jadi kalau lo butuh bantuan gue bilang aja langsung sama gue, jangan di pendem sendiri ya."
"Makasih, lagi."
***
Tania menurut, ia segera menemui Akbar di ruangannya.
Tok tok tok!!
Tania mengetuk pintu ruangan Akbar, tampaknya sang empunya ada di dalam sana.
Tok tok tok!!
Pintu terbuka, terlihat Akbar sedang berdiri masih memakai pakaian lengkap untuk kegiatan operasi, ia terkejut dengan kehadiran Tania tiba-tiba.
"Aku mau ngomong sama kamu," ucap Tania.
Akbar mengangguk, "mau ngomong di dalem?" tawar Akbar.
"Iya, boleh."
Akbar mempersilahkan Tania untuk masuk. Ia juga mempersilahkan Tania untuk duduk, setelah itu ia langsung duduk juga di depan Tania.
"Tumben kamu mau ketemu sama aku di sini. Biasanya kan kamu selalu ngehindarin aku," ucap Akbar.
"Maaf soal itu. Tapi aku ga bisa nunggu lagi buat omongin soal ini."
"Soal apa?"
"Perjodohan yang Papa kamu sama Papaku inginkan. Mereka mau supaya kamu sama aku itu tunangan secepatnya. Tapi, apa menurut kamu ini ga terlalu cepat? Aku tau ini tuh bukan rencananya kamu, tapi kan yang bakalan jalanin hubungan ini tuh kita. Jadi apa kamu ga ngerasa kecepetan?"
"Emangnya kamu itu maunya kayak gimana?"
"Kita baru kenal, kamu sama aku. Terus tiba-tiba kita di jodohin, aku yang notabenenya belum siap jadi bingung. Aku ga bilang kalau aku ga nerima hubungan kita, cuma aku mau kalau ini tuh di undur. Kamu sama aku kan baru kenal, kita perlu waktu buat saling kenal lebih jauh, ga mungkin dong kita asal aja."
Akbar tampak berpikir, ia terdiam beberapa saat.
"Kenapa kamu ga ngomong sama Om Wirawan. Maksud kamu ngomong sama aku kenapa? Jujur aja aku emang suka sama kamu sejak dari awal kita ketemu. Dan aku juga seneng sama perjodohan yang orang tua kita lakuin. Tapi kalau kamu merasa terbebani ya gapapa, bilang aja secara langsung. Jangan temuin aku buat omongin berdua aja, tapi ngomong sama Papa kamu juga. Aku gatau niat kamu apa terlebih lagi setelah aku tau kamu ada hubungan sama cowok lain, ya mungkin aja kamu ga mau nerima perjodohan ini tapi kamu ga bisa bilang."
Tania terkejut setelah mendengar apa yang Akbar katakan. Ia merasa apa yang Akbar katakan itu tidak seperti apa yang ia inginkan.
"Kamu kok mikirnya gitu?" tanya Tania.
"Terus aku harus mikir kayak gimana? Kamu selalu ngehindarin aku, bukannya itu ngebuktiin kalau kamu ga ada rasa sama sekali? Malah kamu ilfeel?"
"Akbar, stop!!"
Akbar bangkit dari kursinya, "aku ada jadwal operasi. Aku pergi dulu."
Tania menghela nafas, ia tidak menginginkan ini terjadi. Bukan ini yang ia inginkan, tapi kenapa malah jadi seperti ini?