Sarapan

1054 Kata
Tania, Wirawan, dan Raisa akhirnya pulang. Acara dinner mereka telah selesai. Tania duduk di belakang seorang diri, menatap layar ponselnya dan berusaha bersikap acuh. Raisa tampaknya mengerti dengan apa yang putrinya rasakan saat ini. Ia tau kalau putrinya merasa tidak nyaman dan tidak suka dengan keputusan yang suaminya ambil tanpa bicara dahulu padanya. Mobil sedan milik Wirawan akhirnya sudah sampai di garasi rumah. Tanpa basa-basi Tania segera turun dari mobil, begitu pun dengan Raisa. Ia juga turun lalu mengejar Tania. "Tania, Tania Mama mau ngomong dulu sama kamu sayang," panggil Raisa, tapi Tania acuh ia tetap melenggang menaiki anak tangga dengan langkah yang terburu-buru. Ia sangat tau kalau putrinya saat ini benar-benar marah besar. "Tania, sayang. Kita bicara dulu ya." Brukk!!! Tania menutup pintunya dengan kasar. Ia membanting pintunya, Raisa yang mendengar hal itu langsung merasa tidak enak. Ia merasa bahwa yang telah ia lakukan pada putrinya adalah hal yang buruk. "Ma, Tania mana?" Wirawan masuk, ia menghampiri istrinya. "Di kamarnya, Papa ga liat apa gimana marahnya Tania. Dia sampai ngebanting pintu, Pa. Mama jadi takut dan khawatir. Apa ga terlalu cepat bicarain soal perjodohan sama Tania?" Raisa menatap lekat-lekat suaminya. "Kalau ga sekarang ya kapan? Kamu mau sampai kapan ngebiarin anak kita deket sama laki-laki ga bener itu? Udahlah Ma, Mama jangan ikut-ikutan sama Tania buat nentang perjodohan ini," ucap Wirawan. "Nentang? Mama ga nentang keputusan Papa. Cuma apa ga sebaiknya di bicarain nanti-nanti aja? Tania belum siap, apalagi waktu kemaren Papa minta Tania lupain orang yang dia suka, hatinya belum siap buat nerima orang baru,Pa." balas Raisa tak mau kalah. "Ma, Papa tau ini keputusan yang baik buat Tania. Udah ya, Papa ga mau debat soal ini. Intinya sekarang yang harus kita pikirin itu tentang gimana caranya supaya kita bisa bujuk Tania, biar dia mau mempertimbangkan keputusan Papa dan biar dia ga marah lagi." Raisa tidak mampu berkata-kata lagi, apapun yang ia katakan tidak akan berarti bagi Wirawan. Suaranya tak akan di dengarkan, Wirawan memang sangat keras kepala, ia hanya peduli dengan apa yang ia katakan tanpa meminta pendapat keluarganya, ia egois. Tania duduk di tepi kasurnya, ia menarik nafas dalam-dalam rupanya ini adalah alasan mengapa Papanya mengajak keluarga Akbar datang kerumah, ini adalah siasat mereka untuk menjodohkan keduanya. Entah bagaimana ia harus mengatakan kalau ia benar-benar tidak ingin menjalin hubungan itu, ia sama sekali tidak tertarik dengan pernikahan atau perjodohan. Tapi tampaknya Papanya tidak mau mengerti, ia tidak mau mendengar perkataan putri semata wayangnya. Ia bangkit lalu kini menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Ia memilih untuk tidur dan beristirahat dan hanya bisa berharap agar besok Papanya akan berubah, dan hari esok akan jauh lebih baik. *** Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Tania yang awalnya merasa baru tidur beberapa jam saj terpaksa harus bangun karena cahaya mentari pagi yang menembus sela-sela ventilasi kamarnya. Ia membuka matanya secara perlahan, menelisik tiap sudut kamarnya, tak ada yang berubah setiap kali ia bangun pagi. Matanya kini mengarah pada punggung seorang wanita yang tengah memunggungi dirinya, ia tampak sibuk menata baju-baju di lemari. Tania bangkit lalu turun dari kasur king size miliknya bermaksud untuk menghampiri Mamanya. "Ma," panggil Tania. Raisa menoleh seraya tersenyum, "mama ganggu ya? Pintu kamu ga ke kunci yaudah Mama masuk buat bantu kamu beresin kamar. Lain kali pintunya harus di tutup, Mama ga enak sama kamu," ucap Raisa menjelaskan. Tania tampak acuh, ia hanya menatap Raisa dengan tatapan sayu. "Gapapa." Tania berbalik, ia kini beranjak menuju kamar mandi. "Maafin Mama ya, sayang. Mama tau kamu pasti kecewa ya sama Mama. Tapi kamu harus tau kalau Mama ga bisa lakuin apa-apa. Mama cuma bisa bantu gini aja, Papa ga mau dengerin apa pun yang Mama bilang. Dia keras kepala." Tania kembali menoleh, "mama ga perlu ngerasa bersalah. Lagian apa pentingnya keputusan atau pendapat Tania disini? Toh yang di dengerin cuma omongan Papa doang. Gausah bahas ini lagi, Tania ga mau konsentrasi Tania tergganggu dan malah gak maksimal nanti pas meriksa pasien nantinya," jawab Tania. Raisa terdiam, ucapan Tania benar-benar membuatnya merasa tidak enak pada putrinya sendiri. Ia merasa bahwa apa yang telah ia lakukan telah melukai perasaan putrinya, dia tidak bisa berbuat banyak untuk membelanya, ia merasa benar-benar bersalah. "Yaudah, kamu bersih-bersih ya. Abis itu kamu kebawah buat sarapan sama Mama dan Papa," ucap Raisa seraya tersenyum. "Tania ga bisa ikut makan bareng sama Mama dan Papa. Aku harus buru-buru ke rumah sakit, ada situasi darurat," balas Tania beralasan. "Kalau gitu Mama buatin bekal ya buat kamu. Kali aja nanti kamu ga sempet sarapan disana, ntar kamu sakit sayang. Kali ini jangan nolak ya? Selagi kamu siap siap Mama juga siapin bekal, okey?" "Terserah Mama aja, Tania ngikut." "Yaudah sayang. Mama ke bawah dulu ya. Kamu siap siap gih, bersih-bersih." Raisa berbalik, ia kemudian keluar dari kamar Tania. Saat Mamanya keluar Tania menarik nafas dalam-dalam. Ia tersenyum kecut, ia harus melakukan ini agar Mama dan Papanya sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, walaupun sebenarnya ada rasa tidak enak tatkala ia bersikap ketus terhadap kedua orang tuanya. Tania akhirnya benar-benar masuk ke dalam kamar mandi untuk siap-siap dan bersih-bersih. *** Tania menuruni anak tangga dengan langkah terburu-buru. Saat hendak melewati ruang makan, Raisa langsung memanggilnya. "Kamu lupa bekalnya, sayang," teriak Raisa. Ia berlari kecil untuk membawakan bekal milik Tania. "Makasih, Ma." "Kenapa kamu ga ikut sarapan sama Mama dan Papa? Kamu lagi ngambek?" Tania berbalik, ia menatap Papanya. "Tania ada pasien, Pa. Beliau lagi sekarat, Tania gak ada waktu buat debat sekarang. Kalau mau bahas soal semalam Tania ga ada waktu." Usai mengatakan hal itu, ia kembali pergi. Wirawan menarik nafasnya, ia kemudian melirik istrinya yang terlihat cemas. "Gausah khawatir, dia bakalan baik-baik aja. Gausah terlalu di pikirin, kalau gitu aku juga mau berangkat sekarang," ujar Wirawan. Raisa hanya mengangguk mengiyakan. Ia di kelilingi oleh dua orang yang sama sama keras kepala. Wirawan sejak dulu tidak pernah berubah, bagi Raisa ia selalu saja keras kepala dan tidak mau mendengar pendapat orang lain dan hal itu juga menurun pada putrinya, anak satu-satunya yang ia punya. "Anak sama Papanya sama ya. Sama-sama keras kepala dan egois. Entah gimana aku bisa atasin ini semua," gumam Raisa. Ia berbalik kemudian kembali ke meja makan dan merapikan beberapa makanan yang ada di meja makan. Menu sarapan hari ini hanya omelette dan nasi goreng sosis, menu kesukaan Tania, sayangnya Tania menolak untuk ikut makan malam bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN