Tania duduk tepat di samping Akbar. Hidangan telah siap diatas meja, semua orang terlihat mulai sibuk memilih makanan yang ingin mereka makan.
"Kenapa gak makan di meja terpisah aja?" ucap itu sukses membuat iris mata Tania membulat. Ia menatap Papa dan Mamanya secara bergantian. Tania tidak mengerti apa maksud Papanya Akbar mengatakan hal itu, ia juga tidak tau untuk siapa perkataan itu ditujukan.
"Papa setuju, lagian kan di ruangan ini emang di sedian 2 meja, jadi kenapa kalian berdua ga ke meja yang satunya aja buat makan sekalian ngobrol-ngobrol," timpal Wirawan mengiyakan.
"Tania sama Akbar kayaknya juga ga pengen ngomongin sesuatu. Lebih enak makan bareng 'kan?"
Sejak tadi yang banyak bicara hanya Tania, Akbar tampaknya tetap tenang.
"Iya, Pa. Bener kata Tania. Lebih baik makan bareng biar kebersamaannya lebih kerasa, lagian Akbar juga kayaknya ga keberatan 'kan?" Raisa melirik Akbar yang sedari tadi hanya diam saja.
"Iya, Tante."
Tania kembali melirik Akbar sekilas, Akbar pun melakukan hal yang sama.
"Yaudah, gapapa. Makan bareng aja sambil ngobrol-ngobrol," potong Papanya Akbar dengan cepat karena situasi mendadak menjadi hening dan canggung.
Mereka mulai makan, Wirawan dan Papanya Akbar sesekali mengobrol lalu tertawa, begitupun juga dengan Raisa. Sedangkan Tania dan Akbar hanya larut dalam pikiran masing-masing. Tania bisa melihat perubahan sikapnya Akbar akhir-akhir ini. Ia sepertinya mulai mengerti kalau Tania tidak ingin mereka berdua dekat, itu sebabnya ia terlihat menjaga jarak dari Tania.
"Tania," panggil Wirawan.
Tania menoleh lalu menatap Papanya, "kenapa, Pa?"
"Kamu tau ga apa alasan Papa sama Mama bawa kamu kesini?"
"Buat dinner, right?"
"Iya, Papa tau. Tapi kita semua punya alasan lain. Tujuan Papa bawa kamu kesini tuh karena kita mau bahas soal perjodohan kalian."
Uhuk uhuk uhuk!!!
Tania batuk, ia tersedak. Buru-buru Raisa memberikan Tania air minum untuk membuatnya merasa lebih baik.
"Kamu gapapa sayang?" Raisa tampak panik, begitupun dengan Akbar.
"Perjodohan? Tania ga ngerti maksud Papa apa, perjodohan siapa?"
"Ya perjodohan kamu sama Akbar. Papa sama om kamu setuju buat jodohin kalian."
"Hah?!" Tania benar-benar terkejut dan shock. Perjodohan? Tapi bagaimana bisa?
Tania kemudian beralih menatap Akbar yang sedari tadi hanya diam sembari fokus dengan makanan yang ada di piringnya.
"Gimana mungkin Mama sama Papa setuju buat jodohin aku tanpa ngomong dulu sama aku, apa aku setuju atau enggak," gumam Tania.
"Tania!!"
Tania bangkit dari kursi miliknya lalu berjalan keluar dari ruangan di susul oleh Wirawan dan Raisa. Tania ingin bicara dengan mereka berdua tanpa melibatkan Akbar dan Papanya.
"Tania, sayang." Raisa memanggil putrinya. Ia bergegas menghampiri Tania.
"Ma? Kok bisa-bisanya Mama setuju aku buat di jodohin sama Akbar? Aku baru kenal sama dia lho, Ma. Aku belum tau gimana kepribadian dia, gimana dia perlakukan aku, kenapa Mama setuju tanpa minta pendapat aku sih?" Tania menatap Raisa dengan tatapan yang penuh kekecewaan.
"Aku belum siapa buat jalin hubungan serius, Ma."
"Tania, jangan salahin Mama kamu. Ini semua keputusan Papa. Kamu kenapa nolak? Apa yang kurang dari Akbar? Dia ganteng, tajir, baik, pinter, punya gelar dan nama baik di kalangan orang-orang hebat dan sukses, terus kenapa kamu masih mikir?" Wirawan langsung
"Pa, apa menurut Papa persetujuan dari Tania itu ga penting? Yang jalani hubungan ini bukan Papa sama Akbar, tapi Tania. Ga semudah itu Papa langsung jodohin Tania sama orang yang baru aja Tania kenal. Kenapa si Papa ga mikirin gimana perasaan aku?" Tania menatap Papanya lekat-lekat.
"Bukannya Papa ga mikirin perasaan kamu. Tapi Papa rasa ini keputusan yang terbaik. Justru karena Papa mikirin kamu itu sebabnya Papa lakuin ini. Papa percaya sama Akbar, dia pasti bakalan bisa bahagiain kamu, sayang." Wirawan mencoba memberikan pengertian pada Tania bahwa keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang tepat.
"Bahagiain Tania? Bahagian gimana Pa? Gimana Tania bisa bahagia sama orang yang gak Tania cintai?" jawab Tania.
Manik mata Tania tampak berkaca-kaca, ia kembali ingat waktu Papanya menolak Reynard, orang yang teramat ia cintai.
"Bahkan pas Papa nolak Reynard waktu itu aja Papa ga mikirin gimana perasaan Tania, terus sekarang Papa lakuin hal yang sama. Tania harus apa? Pasrah aja? Tetep terima aja ya. Toh keputusan Tania disini itu ga penting. Yang penting buat Papa itu keputusan Papa sendiri, Papa ga peduli sama perasaan dan keputusan Tania sama sekali. Jadi ya udah, terserah Papa sama Mama aja. Emangnya kalau Tania nolak Papa sama Mama bakalan setuju apa? Jawabannya pasti enggak 'kan." Usai mengatakan hal itu dengan panjang lebar, Tania berlalu meninggalkan Wirawan dan Raisa yang tampak terkejut dengan apa yang putrinya katakan barusan. Ini pertama kalinya ia melihat putrinya bicara seberani itu.
"Ma, liat anak kamu."
"Pa tolong, Pa. Kasian Tania. Mama ga tega liat Tania kayak gini."
"Kita bicara dirumah aja nanti."
Tania kembali ke ruangan tadi. Ia duduk di kursinya kembali. Akbar tampaknya menyadari ada yang tidak beres, terlihat dari raut wajah Tania yang tampak sangat ketus.
"Papa sama Mama kamu dimana?" tanya Papanya Akbar.
"Udah kesini om, tadi Tania jalan lebih cepet soalnya udah pengen lanjut makan lagi." Tania tampak berusaha untuk menutupi perasaannya. Tentang betapa muaknya ia duduk di tempat ini.
"Om kira kalian bakalan pulang, ternyata enggak."
"Aku dari tadi udah pengen kabur dari sini, tapi aku ngehargain om! Dan kalau bukan karena Papa mungkin aku udah acak-acak ruangan ini." gumam Tania dalam hati. Ia hanya memberikan senyuman palsu pada Akbar dan Papanya.
"Maaf ya kami agak lama." Wirawan dan Raisa pun datang. Ia duduk ke tempat semula. Mulai melanjutkan makan malamnya dengan kondisi yang canggung dan hening.
Tania fokus pada makanan yang ada dihadapannya. Ia sama sekali tidak melirik atau menatap apapun selain piringnya. Makan malam hari ini benar-benar sangat membosankan bagi Tania, ia benar-benar muak dan seperti ingin kabur dari tempat ini skrng juga.
"Tan, kamu gapapa?" bisik Akbar. Ia tampak khawatir dengan Tania.
Tania melirik Akbar dengan sinis, "bukan urusan kamu. Lagian aku gapapa kok. Gausah khawatir sama aku."
"Kamu ga suka, ya? Kalau ga suka mending sekarang kamu pulang aja. Biar aku yang ngomong sama Papa aku. Dan asal kamu tau, aku sama sekali ga ada niat buat maksa kamu untuk nikah sama aku, jadi tolong jangan salah paham. Disini aku cuma ikutin apa yang Papa bilang." Akbar mencoba mengikis jarak antara mereka walaupun Tania tampak acuh tak acuh.