Waktu berlalu begitu cepat, ia tampak sibuk dengan tugasnya sebagai seorang dokter. Menemui pasien, melakukan operasi, dan juga jaga malam.
Ia mencoba mengesampingkan permasalahan yang ia hadapi. Tentang Papanya yang melarang ia menemui Reynard lagi. Ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Ia mulai fokus pada pekerjaan yang sudah ia tekuni selama 2 tahun terakhir.
Malam ini Tania pulang pada pukul 7. Saat ia sampai di rumah, Papa dan Mamanya seperti sedang asik mendiskusikan sesuatu. Mereka berdua tampak serius. Tania mencoba untuk bersikap acuh, ia berjalan menuju ke arah tangga tanpa menyapa Papa dan Mamanya.
Papanya yang menyadari akan kehadirannya kemudian langsung menghentikannya.
"Kesini dulu, Papa mau ngomong," panggil sang Papa. Tania menoleh, ia menurut.
"Kenapa, Pa?" Tania tampak acuh.
"Papa sama Mama dapat undangan dari Papanya Akbar, katanya dia mau ngajak kita dinner," Papanya yakni Wirawan mulai menjelaskan apa maksud dan tujuan dari ia memanggil Tania tadi.
"Tania capek, Pa."
"Cuma sebentar aja kok, ada beberapa hal yang mesti Papa sama Papanya Akbar bahas. Lagian kan ada Akbar juga, kalian juga udah saling kenal dan bahkan kerja di tempat yang sama jadi gapapa dong kalau Papa sama Mama ajak kamu."
Tania menghela nafas, ia tampak sangat tidak ingin. Ia benar-benar tidak tertarik untuk ikut dinner bersama Akbar dan Papanya.
"Ayo sayang, Mama sama Papa ga enak kalau harus nolak. Lagian kan Papanya Akbar itu teman masa SMA nya Papa, mereka udah sahabatan sejak lama. Kan ga enak kalau harus nolak, iya 'kan Pa?" Mama Tania tampaknya mulai berusaha untuk membujuk Tania agar ia setuju.
Mama Tania berdiri lalu menghampiri Tania, ia tersenyum ke arahnya lalu memegang kedua pundak putrinya itu.
"Ayo sayang, Mama sama Papa udah bilang kalau kita jadi buat dateng nanti. Ga enak kalau di cancel, mereka udah nunggu di resto," ucap Raisa, ibu dari Tania.
Tania mengangguk dengan terpaksa, ia melirik Mama dan Papanya sekilas lalu berbalik dan menuju ke tangga.
"Cepet siap-siapnya kita berangkat sebentar lagi sayang," timpal Raisa.
"Anak kita udah mulai keras kepala sejak berhubungan sama laki-laki itu. Papa ga habis pikir sama anak itu." Wirawan terlihat sangat kesal dengan perubahan sikap putrinya akhir-akhir ini yang banyak menunjukkan raut wajah kesal dan acuh.
"Udahlah, Pa. Namanya juga anak muda, kita ga bisa paksa dia buat selalu ikutin kemauan kita. Untung aja tadi dia masih mau dengerin ucapan Mama. Kita ga boleh maksa maksa dia, kalau kita maksa yang ada dia ga bakalan mau dengerin. Kita harus pinter pinter buat ngambil hatinya dia. Apalagi kemaren kita habis minta dia buat putusin laki-laki yang udah 5 tahun jalin hubungan sama Tania, gimana dia gak frustasi coba. Makanya jangan di kasarin, kan kasian anaknya," ucap Raisa memberi saran pada suaminya.
"Yang terpenting sekarang buat Papa, Ma dia udah ga berhubungan sama laki-laki itu. Laki-laki itu ga bener, bawa pengaruh buruk buat anak kita. Emang paling bener itu jodohin Tania sama Akbar, kita udah tau gimana keluarannya dia dan gimana circle pertemanan Akbar, apalagi mereka itu sama sama dokter jadi sama sama ngerti soal ini lah."
"Jadi Papa ajakin Mama sama Tania buat ketemu sama mereka untuk ngomongin soal perjodohan ini? Papa beneran mau jodohin Tania sama Akbar? Mereka baru kenal beberapa hari loh, takutnya Tania ga nyaman Pa." Raisa mulai cemas dengan keputusan suaminya.
"Kenapa harus ga nyaman, Ma. Akbar anaknya baik, perhatian, pinter, dan juga punya nama yang bagus di hadapan semua orang. Dia bener-bener jodoh yang sesuai buat Tania," balas Wirawan.
"Tapi, Pa. Kita juga harus dengerin keinginan Tania dong. Kita ga bisa paksain kemauan kita, yang jalanin hubungan pernikahan itu Tania sama Akbar, kita ga boleh gegabah." Raisa tampak sangat mengkhawatirkan putri semata wayangnya itu.
"Ma, pernikahan itu bukan cuma soal Tania sama Akbar, tapi soal nyatuin dua keluarga. Kenapa kita harus ga yakin sama Akbar dan keluarganya. Papa yakin Tania juga pasti ga bakalan nolak."
"Tapi, Pa!"
"Udah, Ma. Papa gamau dengerin apa-apa lagi. Papa mau siap-siap juga."
Wirawan bangkit dari kursi lalu berlalu meninggalkan istrinya yang hanya bisa pasrah dengan keputusan sang suami. Pada dasarnya apapun yang akan ia lakukan tidak akan bernilai apa-apa karena yang memutuskan hal ini hanyalah Wirawan. Ia hanya bisa berharap yang terbaik untuk putrinya itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tania sudah siap. Malam ini ia terlihat sangat anggun dengan memakai dress berwarna putih dengan motif bunga daisy. Rambutnya ia biarkan terurai. Ia juga memakai make up tipis untuk menunjang penampilannya. Tak lupa juga ia memakai flatshoes dengan warna senada. Tas gucci berwarna hitam menjadi pilihannya.
Seusai siap-siap, ia segera ke bawah untuk menemui Papa dan Mamanya.
Saat melihat putrinya tampil dengan sangat anggun, Wirawan tampak sangat terkesima. Putrinya benar-benar terlihat begitu cantik dengan balutan busana yang ia kenakan.
"Anak Papa cantik banget ya Ma," puji Wirawan. Tania hanya tersenyum tipis tatkala mendengar pujian yang di lontarkan Papanya barusan.
"Anak siapa dulu dong," balas Raisa.
Wirawan melirik jam tangannya, "yaudah kita berangkat sekarang, kasian Akbar sama Papanya udah nunggu dari tadi."
Hari ini mereka bertiga berangkat dengan menggunakan mobil sedan hitam milik Wirawan. Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka akhirnya tiba di salah satu restoran mewah yang ada di kota Jakarta. Wirawan segera turun dari mobil disusul oleh Raisa dan juga Tania.
"Ma, kok Papanya Akbar niat banget sampai ajak kita dinner di restoran mewah kayak gini," bisik Tania pada Mamanya.
"Mama juga gatau sih sayang. Tapi ya mungkin aja ini bentuk penghargaan Papanya Akbar buat Papa kamu 'kan?"
"Papanya Akbar ga punya niat apa-apa 'kan Mah? Tania jadi khawatir deh."
Raisa berhenti, ia menatap putrinya. "Kamu mikir apa sih sayang? Kok mikirnya gitu? Ga baik loh."
"Ya kan Tania cuma nanya, Ma. Tania cuma pengen tau maksudnya mereka itu apa." Tania menunduk. Ia memiliki firasat yang buruk sekarang.
"Udah-udah, ayo masuk. Papa udan ninggalin kita tuh. Masa masuknya ga barengan sih."
Tania mengangguk, mereka berdua kembali jalan menyusul Wirawan yang tampaknya tidak menyadari akan ketidakhadiran istri dan putrinya.
Mereka bertiga telah sampai di ruangan VIP yang dipesan oleh Papanya Akbar. Ruangan yang benar-benar tertutup. Mereka bertiga di sambut hangat oleh Akbar dan Papanya.
Seperti biasa, ketika Wirawan bertemu sahabatnya itu mereka pasti langsung berpelukan. Tidak lama setelah mereka duduk, makanan pun mulai di hidangkan.
Tania melirik Akbar sekilas yang sedari tadi tampak memperhatikannya. Jujur saja ia merasa agak grogi jika di tatap seperti itu.
"Oh iya, Tania kamu apa kabar?" sapa Papanya Akbar. Senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya.
"Kabar Tania baik, om. Om sendiri gimana kabarnya?" balas Tania basa-basi.
"Om baik, kok. Seneng banget liat kamu disini. Akbar tadi sempet cerita kalau akhir-akhir ini kalian jarang ngobrol karena kamu katanya sibuk ya, banyak operasi juga."
Tania kikuk, bagaimana bisa Akbar menceritakan hal ini pada Papanya? Tania melirik Akbar sekilas, ia kemudian langsung mengangguk.
"Iya, om. Akhir-akhir ini emang banyak banget operasi yang harus Tania tangani. Akbar juga sibuk banget sama tanggung jawabnya juga, jadi kita jarang ketemu."
Bukannya mereka jarang bertemu, hanya saja Tania sepertinya sengaja untuk menghindar dari Akbar.
"Yasudah, gapapa kok."
"Iya, om."