Papa

1022 Kata
Angin berhembus kencang, aku pulang dengan perasaan kalut. Ku hentikan mobilku di pinggir jalan, lalu segera turun. Aku menatap hamparan laut yang berada dibawah jalan, angin berhembus menerpa kulitku membuatku merasa sedikit lega. Setiap masalah yang terjadi di hidupku, aku selalu mencoba untuk tetap santai, padahal rasanya sangat melukai hatiku. Ku tarik nafasku dalam-dalam lalu menghembuskannya. Akbar membuatku bingung, ia tidak menjelaskan segalanya secara rinci, membuatku terus bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa rencana yang ia punya. Hanya satu orang yang bisa menjawab seluruh pertanyaan ku, dia adalah Papa. Aku curiga padanya bahwa semua pertemuan yang terjadi kemarin adalah bentuk upayanya agar aku dan Akbar bisa menjalin hubungan, jika hal itu benar itu berarti Papa tidak peduli dengan perasaanku. Dreet!! Sebuah bunyi pesan dari ponselku membuat lamunanku buyar. Aku segera mengambil ponselku dari dalam tas bermaksud untuk mengeceknya. Seseorang mengirimiku pesan, nomor tidak di kenal. ["Kamu dimana? Papa kamu hubungin aku buat nyari kamu. Katanya kamu belum pulang, bukannya dari tadi harusnya kamu udah sampai rumah ya?"] tulisnya melalui pesan singkat tapi entah siapa pengirimnya. Aku sama sekali tidak berniat untuk membalasnya atau memperdulikan pesan itu. Siapapun orang itu, aku yakin dia pasti sangat dengan dengan Papa. Disaat situasi seperti ini aku teringat Reynard, saat fikiranku sedang kalut pelarian ku hanyalah dirinya, kini sudah tidak lagi. Bahkan setelah hari ini aku sudah tidak bisa menunjukkan wajahku lagi di hadapannya. Ia mempunyai niat yang baik awalnya agar kami tidak terus-menerus seperti ini, tapi Akbar datang dan merusak segalanya, semuanya. "Sampai kapan lo mau disini terus?" terdengar suara Desi, tampaknya ia sudah mulai jenuh menunggu di dalam mobil. Aku tidak menggubris, aku masih menatap hamparan langit dan laut biru yang berada di depanku saat ini. "Tan, mending sekarang kita pulang deh. Ntar Mama sama Papa lo khawatir soalnya lo belum balik dari tadi. Lo gapapa 'kan?" "Aku gapapa," jawabku dengan singkat. "Gue tau lo kenapa-napa. Dengerin, gue emang ga bisa bantu banyak setiap masalah yang lo hadapi, tapi paling enggak ketika elo butuh orang buat cerita atau support elo, gue bakalan berdiri di barisan paling depan. Gue tau lo pasti bisa lewatin ini, lo pasti bisa pecahin teka-teki yang saat ini ada di hadapan lo. Jangan nyerah, jangan ngerasa sendiri, I here for you, anytime and anywhere." Desi menepuk pundakku. Jika saja semua orang bisa memahamiku sebaik Desi mungkin aku tidak akan pernah merasakan hal ini atau bahkan merasa bahwa tidak ada satu pun yang paham dan mengerti apa yang aku inginkan. "Kita pulang ya?" Ajaknya lagi. Aku mengangguk mengiyakan. Alhasil kami akhirnya pulang, aku mengantar Desi ke rumahnya setelah itu segera pulang ke rumah. Saat sampai di rumah, aku melirik mobil milik Papa, ia pulang lebih cepat hari ini, walaupun aku pulang agak terlambat. Aku membuka pintu rumah, saat hendak menuju tangga aku terkejut dengan kehadiran Papa tiba-tiba. "Kamu darimana?" tanya Papa. "Kerja," jawabku dengan singkat. "Kok baru pulang jam segini? Ga biasanya. Kamu kemana? Jangan jangan kamu ketemuan sama laki-laki itu, ya?" tuduh Papa padaku. Aku tidak habis pikir dengannya lagi. "Laki-laki siapa si, Pa? Tania udah ga berhubungan sama dia. Jadi tolong jangan bawa-bawa dia, dia sama sekali ga terlibat apa pun soal Tania," balasku membela diri. Papa tampak jenuh dengan jawabanku. "Terus ngapain laki-laki itu dateng ke rumah sakit? Dia kenapa? Pengen apa?" "Pa, rumah sakit itu bukan milik pribadi. Siapapun yang dateng, mau musuh atau siapapun itu sebagai dokter kita harus tetep ngelayanin. Dan aku hanya sebagai dokter dan dia sebagai pasien, tidak lebih." "Terserah kamu aja, Papa udah capek ngasih tau kamu Tan. Tolong jangan deketin dia, dia laki-laki yang ga baik buat kamu." "Papa!!" balasku tidak terima. Papa berbalik, ia menatapku. "Kenapa? Kamu masih mau belain dia? Dia ga baik buat kamu. Apalagi kalian beda keyakinan. Apa kamu mau mengkhianati kepercayaan kamu sendiri? Papa ga habis pikir sama kamu ya!" Aku terdiam, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. "Cukup, Papa gamau denger apapun lagi. Kalau Papa tau kamu masih berhubungan sama laki-laki itu Papa bener-bener bakalan lakuin sesuatu, kamu bakalan nyesel. Papa lakuin ini karena Papa sayang sama kamu, harusnya kamu ngerti itu. Jangan malah ngelawan." Usai mendengarkan ocehan Papa, aku bergegas menaiki anak tangga. "Papa masih belum selesai bicara!" teriak Papa. Tapi aku sama sekali tidak menggubrisnya. Aku membuka pintu, lalu menutupnya dengan membantingnya. Melempar tas ke sembarang arah, kemudian berlari menuju kasur king size milikku. Aku menangis, tangisku pecah aku tidak bisa menahannya lagi. Lukanya terasa sangat memilukan, aku benar-benar tidak tahan lagi. "Kami cuma beda kepercayaan, tapi dia bukan laki-laki yang ga baik buat aku, dia baik. Kenapa Papa kayak gini si??" gumamku dalam hati. Aku memendam wajahku ke dalam kasur, jawaban yang ku cari bukan ini! Aku tidak ingin mendengar hal ini. Bukan jawaban ini yang aku inginkan. *** Aku melenguh, membuka mata secara perlahan lalu mengedarkan pandanganku ke sembarang arah. Perhatianku kini langsung mengarah pada jam yang berada di dinding, jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Aku bangun, lalu berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Aku ingat, usai bicara dengan Papa semalam aku kembali ke kamar, ternyata aku ketiduran hingga pukul 2 pagi. Aku memutuskan untuk mandi, dan bersih-bersih. Setelah mandi dan berpakaian, aku langsung memakai skin care untuk menjaga kulitku agar lebih sehat. Usai itu, aku berjalan menuju meja kerja, membuka laptop, mengambil buku dan alat tulis lainnya kemudian mengambil beberapa buku yang telah ku beli di toko buku sebagai acuan pembelajaran. Kegiatan inilah yang selalu ku lakukan ketika merasa tidak mengantuk sama sekali. Membaca beberapa sumber atau artikel yang menjadi acuan pembelajaran membuatku merasa bahwa ternyata di dunia ini masih banyak hal yang tidak aku ketahui. Ketika aku belajar seperti ini, aku sama sekali tidak mengingat waktu. Ku lirik jam, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4 lewat. Aku bergegas untuk menyudahi kegiatan ini. Aku mematikan laptopku kemudian menutup buku lalu menyimpannya ke tempat semula. Ku rapikan kembali meja kerjaku, setelah ku rasa sudah cukup rapi, aku kini beralih ke tempat tidur. Merebahkan tubuhku di atas kasur king size, lalu mematikan lampu. Aku menatap langit-langit kamarku, kemudian menghela nafas. "Ku harap besok jadi lebih baik daripada hari ini. Aku gak mau terus-terusan kayak gini. Aku harus kuat dan lakuin sesuatu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN