Apa Adanya

465 Kata
Hari ini aku akan melakukannya, benar-benar akan melakukannya. Aku ingin bicara dengan Akbar terkait apa yang telah ia katakan. Aku ingin ia menjelaskan apa maksud ia mengatakan hal semacam itu sehingga semua orang menjadi salah paham. Acara penyambutan Akbar telah di adakan, aku memutuskan untuk bicara dengannya usai acara penyambutan. Aku duduk menunggu di kursi sembari mendengarkan pidatonya. Akbar di kenal dokter profesional di bidang bedah, itu memang keahliannya itulah sebabnya kenapa acara besar-besaran ini di lakukan. Desi menghampiriku sembari membawakan ku sekotak nasi. Ia duduk tepat di sebelahku. "Lo gapapa?" tanyanya. "Iya, aku gapapa kok. Kok Akbar lama banget pidatonya?" tanyaku dengan nada kesal. Aku sudah sangat kesal menunggu, ia harus menjawab semua pertanyaanku. "Baru juga mulai. Sabar dong. Lagian kenapa ga langsung lo geplak aja tadi palanya anjir. Kenapa pake acara diem dieman? Kan bego." "Aku ga enak. Aku juga gatau bakalan jadi kayak gini. Bener bener diluar dugaan tau. Kok bisa-bisanya dia ngomong kayak gitu, padahal aku sama dia baru aja kenal." "Yaudah, kalem. Gue juga aslinya kesel si kocak. Tiba-tiba aja dia ngomong sembrono. Tapi yaudah lah kali aja dia punya sesuatu yang sengaja dia tutupin dari elu ya kan atau mungkin dia punya rencana lain?" Aku menghela nafas pelan, "bodoamat aku ga peduli soal apapun itu. Yang terpenting sekarang tuh dia harus jelasin semuanya se detail-detailnya," ujarku dengan cepat. Kami menunggu cukup lama, Akbar akhirnya selesai dan acara penyambutannya pun akhirnya berakhir. Ia berjalan menuju ke arahku dengan langkah yang santai, entah apa yang sedang ia rencanakan saat ini. Ia terus tersenyum ke arahku dengan tampang tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. "Kamu udah makan?" tanya Akbar padaku. Aku memasang wajah tidak suka, ia masih bisa basa-basi setelah apa yang ia perbuat tadi? Sungguh aku benar-benar masih tidak percaya. "Aku pengen ngomong sama kamu, bisa ikut sama aku sebentar gak? Ini bener-bener hal penting." Aku menatap Akbar dengan tatapan memohon. Ia kemudian mengangguk dan mulai mengikuti aku dari arah belakang. Aku membawanya ke tempat yang sepi dengan maksud agar percakapan kami tidak ada siapapun yang mendengarnya. "Jadi kamu mau ngomongin soal apa?" tanya Akbar, ia masih tampak tidak bersalah sedikitpun. Ia hanya memasang wajah penuh senyuman dan semangat. "Ya, aku pengen nanya sama kamu soal apa yang udah kamu bilang tadi pas ketemu sama Reynard." "Oh soal yang tadi? Terus?" "Ya aku nanya, maksud kamu itu apa bilang kalau aku itu calon tunangannya kamu? Padahal kita baru kenal, harusnya kamu ga ngomong kayak gitu. Apalagi kamu sama aku gada pembicaraan soal hubungan kayak gitu!" "Iya, aku tau. Aku cuman ngomong apa adanya sih. Lagian aku ga ada maksud apa-apa, jadi jangan salah paham, ya?" "Hah? Maksud kamu apa?" "Maksud aku apa? Ya aku ngomong apa adanya aja." Ucapan Akbar lagi lagi membuatku terkejut. Entah apa lagi yang ia maksud sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN