Tentang Dia

1007 Kata
Hari ini aku benar-benar menghabiskan waktu bersama Reynard di apartemen miliknya. Aku menemaninya sepanjang hari karena ia tidak ingin membiarkan aku pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, aku akhirnya berpamitan pada Reynard untuk pulang karena sebentar lagi aku akan berangkat ke rumah sakit. "Aku mau pulang sekarang," ucapku. Reynard menatapku dengan tatapan tidak percaya. "Sekarang? Padahal kamu baru sebentar disini, masa langsung pulang, sih?" "Sebentar apanya. Aku disini dari pagi. Aku harus buru-buru ke rumah sakit sekarang, aku ga bisa terus-terusan nemenin kamu." Reynard tidak menjawab, ia hanya diam tanpa bersuara. "Aku pulang ya?" ucapku mengulangi. "Sekarang banget ini? Ya ampun. Nanti aja, aku masih kangen sama kamu," timpal Reynard dengan manja. "Reyn, jangan keras kepala gitu deh." Ia diam kembali. Mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, aku tau kalau saat ini dia sedang "ngambek". "Sama seperti kamu yang mementingkan pekerjaan kamu, aku juga sama. Dan terlebih lagi aku ini dokter Reyn, aku ga boleh tinggalin tanggung jawab aku. Jadi aku harap kamu bisa ngerti itu," kataku menjelaskan. Ia kembali menatap diriku. "Yaudah, kamu bisa pergi sekarang. Maaf kalau aku udah bertindak seenaknya. Aku tau tugas kamu lebih penting daripada aku," timpalnya. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar dari mulutnya itu. Reyn, orang yang selama bertahun-tahun aku kenal tidak pernah mempermasalahkan soal kesibukan atau apapun itu dari ku kini bicara seperti ini, aku tidak menduganya, sungguh. "Reyn, kamu kok ngomongnya kayak gitu? Kamu kok bisa-bisanya nyangka aku lebih mentingin tugas aku daripada kamu?" "Emang kenyataannya 'kan? Emang bener kalau kamu itu sebenernya ga peduli sama aku. Kamu tau aku sakit tapi kamu lebih penting—" "Iya! Aku memang lebih mentingin pekerjaan aku yang menyangkut nyawa banyak orang daripada kamu!" Setelah mendengar perkataan ku, sorot mata Reynard kini berubah. "Kurang peduli kayak gimana sih aku? Aku harus gimana memperlakukan kamu sampai kamu percaya kalau aku itu peduli sama kamu? Aku yang nanya keseriusan kamu aja sama aku, kamu justru malah ngelak, tapi aku tetep percaya dan yakin kalau kamu itu serius sama aku jalin hubungannya. Tapi kenapa ya rasanya sekarang kamu malah kayak gini, malah membesar-besarkan masalah yang aku sendiri gatau apa maksud kamu itu. Aku capek banget kalau kamu kayak gini terus tau gak?" ucapku lagi dengan tegas. Raut wajah Reynard berubah, ia tidak menatapku tapi aku tau kalau saat ini ia merasa tidak enak. "Aku mau pulang sekarang. Kamu jaga kesehatan, gausah berangkat ke kantor dulu kalau masih enggak enak badan. Terus jangan terlalu banyak pikiran atau banyak ngelakuin kegiatan yang bisa buat kamu stress atau kelelahan, ngerti?" "Kamu ingetin semuanya sama aku seolah-olah aku ga pernah mikirin kesehatan aku sendiri," cecar Reynard. "Reyn, jangan mulai lagi. Aku gamau debat." "Yaudah deh, kamu pergi aja. Aku bisa ngurusin diriku sendiri tanpa bantuan kamu." Ia mengusir diriku dengan lantangnya, sehingga aku bisa menyadari bahwa pria yang saat ini ada di hadapanku memang benar-benar berubah. "Jujur aja ya, aku sama sekali gatau gimana jalan pikiran kamu sekarang, aku ngerasa kalau laki-laki yang dari tadi sama aku itu beda sama laki-laki yang sekarang ada di hadapanku." Aku sudah muak untuk basa-basi lagi dengannya. Buru buru ku rapikan tasku beserta dompet dan juga ponsel milikku. Saat melangkahkan kaki keluar dari kamar Reyn, sebuah tangan besar menarikku dan membawaku ke sudut ruangan. Orang itu adalah asisten Reynard, si pria paruh baya yang katanya selalu menemani Reynard ke manapun dia pergi, Reynard bilang orang terdekat yang sangat tau tentang seluk-beluk Reynard hanyalah Pak Tedjo saja. "Kenapa, pak?" tanyaku. "Tadi saya dengar kamu sama pak Reynard berantem, apa bapak salah dengar?" Aku menggeleng, "kita ga berantem kok pak. Sama sekali enggak," ucapku berbohong. "Jangan diambil hati ya nak, sikap dan tingkahnya Reyn. Wajarlah dia kayak gitu. Kamu tau kan emosinya emang ga stabil? Kadang kala dia marah-marah untuk hal yang ga jelas. Dia susah buat ngontrol emosinya," jelas Pak Tedjo. Aku hanya mengangguk mengiyakan saja, "iya pak, saya ngerti kok. Saya bisa paham." "Bapak bareng-bareng Pak Reynard itu udah bertahun-tahun, sejak dia masih kecil sekali. Bapak selalu menemani Pak Reynard kemanapun dia pergi, selalu menjadi walinya di sekolah. Reynard juga banyak cerita sama bapak, terutama perihal kamu Tania. Mungkin kamu belum kenal bapak, karena terkadang bapak itu tidak di bolehkan ikut sama pak Reynard kalau kalian mau ketemuan, katanya malu." "Tania boleh nanya gak pak?" Aku mulai memberanikan diri bertanya pada Pak Tedjo. "Perihal apa?" "Orang tua Reynard dimana pak? Kenapa Reynard cuma tinggal disini?" tanyaku dengan hati-hati. Aku tau aku tidak seharusnya menanyakan hal ini pada Pak Tedjo, seharusnya aku menanyakan langsung pada Reynard. Hanya saja aku tau kalau Reynard tidak akan mungkin menceritakan soal ini. "Tuan sama nyonya ada kok, cuman Reynard tidak pernah betah tinggal di rumahnya. Ya wajar aja sih menurut bapak, karena selama bertahun-tahun Reynard selalu melakukan apa-apa sendiri, orang tuanya tidak pernah turut menemani itu sebabnya sampai saat ini Reynard belum bisa memaafkan orang tuanya. Bahkan kamu tau? Reynard merupakan CEO perusahaan ternama itu bisa kayak gini karena usahanya sendiri, sama sekali tidak ada campur tangan orang tuanya." Aku tertegun. Banyak hal yang terjadi di kehidupan Reynard tapi aku sama sekali tidak tau apapun padahal kami telah bersama 5 tahun. Ia tidak pernah membagi ceritanya padaku, ia menyimpannya seorang diri dan menganggap bahwa aku tidak perlu tau segala hal privasi tentang dirinya. "Pak Reynard tidak pernah cerita?" pertanyaan Pak Tedjo membuatku terkejut. "Emm...iya pak." "Maklumlah, Reynard memang anaknya sangat tertutup nak." "Kedekatan aku sama Reyn selama ini ternyata ga membuat dia percaya sama aku," gumamku dalam hati. "Oh yaudah pak, Tania pulang dulu ya. Soalnya mau berangkat kerja, takut telat." "Iya, nak. Hati-hati di jalan ya." "Iya pak. Permisi." Sebelum pergi aku mengambil tangan Pak Tedjo untuk berpamitan. Aku keluar dari apartemen Reynard lalu menuju ke lift yang berada di sudut lorong koridor. Apapun yang aku dengar dan aku lihat hari ini benar-benar menarik perhatianku, aku bisa menyimpulkan bahwa apapun yang aku lakukan, atau seberapa lama pun kita dekat, bahkan status apapun yang terjalin antara aku dan dirinya itu semua tidak akan membuatnya mempercayaiku, sekalipun aku memohon. Ternyata sulit masuk di kehidupannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN