Hari ini adalah bagianku untuk jaga malam. Jadi aku tidak masuk pagi. Jam menunjukkan pukul 7 pagi dan aku masih tetap terlelap dibawah selimut tebal. Hari ini aku akan tidur puas, bukan apa-apa semalam aku benar-benar merasa sangat lelah. Banyak sekali yang terjadi di rumah sakit kemarin itu sebabnya hari ini aku ingin santai. Ibu tampaknya tidak ingin mengganggu ku hari ini, itu sebabnya ia tidak membangunkan aku untuk sarapan atau melakukan aktivitas pagi-pagi.
Tapi suara teleponku berhasil membuatku terjaga. Aku melirik ponselku di atas meja nakas dan dengan malas aku bangun lalu mengambil ponselku untuk mengecek siapa yang telah menghubungi ku pagi-pagi seperti ini sehingga mengganggu waktu tidurku.
"Reynard"
Aku sedikit terkesiap tatkala melihat namanya. Baru kali ini ia menelpon diriku, aku benar-benar tidak menduga ia rela meluangkan waktunya sepagi ini untuk menghubungi diriku.
"Halo?" sapaku.
Tidak ada jawaban dari sana, hanya terdengar samar-samar deru nafas saja.
"Rey? Ini kamu 'kan?" tanyaku untuk memastikan.
["Aku pengen ketemu sekarang, Tan."] Suaranya terdengar serak dan parau.
Aku terkejut, "sepagi ini? tumben banget. Biasanya kamu belum bangun at—"
["Tolong, aku perlu kamu sekarang."]
"Kamu dimana sekarang? Aku kesana. Kamu kirim alamat lengkapnya aku bakalan nyamperin kamu," ucapku.
["Di apart."]
"Okay, tunggu aku sebentar ya."
Usai mematikan telepon aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi, setelah itu aku langsung mengganti pakaian dan segera keluar dari kamar. Dengan langkah terburu-buru aku menuruni tiap anak tangga. Aku bahkan tidak berpamitan pada Ibu dan Ayah yang saat ini tengah sarapan di meja makan.
"Tania, kamu mau kemana sayang?" teriak Ibu tapi aku tidak menanggapi. Aku langsung menuju ke garasi.
Tidak butuh waktu yang lama bagiku tiba di parkiran apartemen Reynard. Segera aku masuk tanpa basa-basi lagi. Aku menuju ke arah lift. Aku benar-benar takut dan khawatir pada Reynard, ini pertama kalinya ia menghubungi aku sepagi ini, dan suaranya terdengar berbeda. Aku akhirnya sampai di lantai 16. Segera aku menuju ke depan pintu apartemen Reynard.
Tok tok tok!!
Aku terus mengetuk pintu dan berharap Reynard segera keluar.
"Reyn!!" panggilku.
Pintu akhirnya terbuka, terlihat seorang pria paruh baya di depanku. Ia sudah terlihat lumayan tua, rambutnya dipenuhi uban tapi tubuhnya masih terlihat segar.
"Nona Tania, ya?"
"I-iya pak."
"Masuk non, Pak Reynard udah nunggu dari tadi," jawabnya.
Aku masuk setelah di persilahkan masuk, segera aku bergegas ke kamarnya untuk mengecek kondisinya.
Saat aku masuk, ia tengah berada di bawah selimut tebal, bibirnya gemetar. Aku mendekat lalu duduk di tepi ranjang king size miliknya.
Ia menatapku dengan tatapan sayu lalu tersenyum. "Kamu dateng juga."
"Kamu kenapa bisa kayak gini? Kamu darimana emang?" tanyaku.
"Semalem pak Reynard lagi dinner sama klien non di ruangan terbuka gitu, mungkin masuk angin makanya demam," jawab bapak-bapak paruh baya tersebut.
"Tapi dia udah minum obat 'kan?" Aku menoleh lalu menatap bapak-bapak itu.
"Belum non, karena bapak belum sarapan sama sekali."
"Oh yaudah, pak tolong siapin sarapan dulu ya, sama obatnya juga. Nanti biar saya yang nyuapin sekalian ngasih dia obat," ucapku dengan ramah.
"Siap Non, kalau gitu saya kebelakang dulu."
Sekarang pandangan ku mengarah pada Reynard yang sudah terlihat lemas itu.
"Kamu segitu cintanya sama pekerjaan kamu sampe ga mikirin kesehatan kamu sendiri." Hanya kalimat itu yang pertama kali keluar dari bibirku untuk menyinggung dirinya. Ia tidak menjawab hanya diam sembari menatap ka arah langit-langit kamarnya, ia tidak menatap ku.
"Kamu bikin aku khawatir tau. Aku pikir kamu kenapa, aku bahkan ga mandi sebelum kesini," ucapku sembari mengerucutkan bibir karena kesal.
"Maaf."
"Kamu jangan kayak gini. Kamu bikin aku khawatir aja. Aku takut kamu sampe kenapa-napa. Tolong lebih perhatiin kesehatan kamu Reyn."
"Kan pacarku dokter, kenapa aku harus khawatir."
"Kalau misalnya aku sama kamu ga bareng-bareng lagi, gimana? Kamu harus bisa ngatur diri kamu sendiri, tolong jangan keras kepala."
"Iya sayang," jawabnya dengan santai.
Aku menghela nafas lega.
"Kamu ga ke rumah sakit emang?"
"Aku jaga malam."
"Berarti seharian ini kamu bisa nemenin aku dong? Eh enggak, sampai sore aja."
Aku kini menatapnya dengan sinis, "jadi aku bakalan duduk disini sampe sore gitu nungguin kamu sampe bener-bener enakan?" tanyaku.
"Iyalah, kenapa emang? Lagian kan kamu ga bakalan bosen karena ngeliat muka aku yang ganteng ini," Ia mengatakan hal itu dengan sangat pede.
"Ish, kamu kepedean banget sih," sewotku.
"Biarin, kan emang kenyataannya."
"Nyenyenye."
Bapak paruh baya yang ku yakini adalah asisten pribadi Reynard akhirnya datang dengan seorang pelayan wanita yang membawa nampan besar. Ia datang membawa makanan dan juga obat untuk Reynard seperti yang aku perintahkan.
"Ini non, sudah di siapkan," ucap bapak itu.
"Eh iya pak, makasih banyak. Oh iya tolong jangan panggil non ya, panggil aja Tania pak, biar makin akrab," balasku dengan seutas senyum yang mengambang di kedua sudut bibirku.
"Iya non, eh nak Tania. Kalau gitu panggil saja saya pak Tedjo. Ini kali pertama pak Reynard mengajak perempuan datang ke apartemennya selama saya kerja disini," timpal Pak Tedjo. Tentu saja ia baru melihatku toh ketika kami akan bertemu selalu saja diluar, Reynard sama sekali tidak pernah mengajakku main kerumahnya.
Aku hanya tersenyum untuk menanggapi ucapannya.
"Udah ah ceritanya. Kapan aku makannya, nih?" keluh Reynard. Aku meliriknya sekilas lalu kembali menatap Pak Tedjo.
"Reynard-nya udah komplien tuh pak."
"Waduh, kalau gitu kami permisi deh. Selamat menikmati."
Pak Tedjo keluar kamar bersama satu asisten wanita tadi. Aku kembali menatap Reynard.
"Kamu cepet banget akrab sama Pak Tedjo," ucap Reynard.
"Mau gimana lagi." Aku mengambil piring yang berada di nampan. "Sekarang kamu makan gih terus minum obat."
"Kalau aja aku sakit tiap hari kamu pasti bakalan selalu nemenin aku 'kan?"
"Tergantung."
"Tergantung apa?" Reynard mengerutkan keningnya.
"Tergantung aku mau apa enggaknya."
Reynard diam sesaat lalu aku menyodorkan sendok yang berisi nasi tepat di depan bibirnya.
"Aaaaa!" ucapku sebagai isyarat agar ia mau membuka mulutnya.
Reynard menurut, ia membuka mulutnya.
"Kamu jangan sampe sakit deh, ga boleh. Kamu harus jaga kesehatan kamu baik-baik. Pokoknya kamu ga boleh sakit. Jangan buat aku khawatir terus, sesekali kamu harus mikir gimana kesehatan kamu." Aku memperingatkan Reynard.
"Iya, aku tau. Ini juga ga di sengaja kok. Mau gimana lagi, kayaknya ini isyarat supaya aku bisa ketemu kamu deh."
"Halah ada-ada aja. Ayo buka mulutnya lagi," timpalku.