Berbagi banyak hal

1056 Kata
Aku telah sampai di rumah. Ku masukkan mobilku ke dalam garasi kemudian bergegas turun. Aku sampai di rumah jam 8 malam, ini pertama kali aku pulang telat, aku tau ayah dan ibu pasti akan sangat khawatir padaku. Saat ku buka pintu rumah, ayah dan ibu sedang duduk di ruang tamu sembari berbincang-bincang. "Assalamualaikum." Ibu dan ayah menoleh ke arahku secara bersamaan. Ibu bangkit dari kursi lalu menyambutku, "kamu kok pulang telat sayang? Gak seperti biasanya." tanya ibu. "Eum... tadi ada masalah di rumah sakit, mah. Mau gak mau aku harus bantu nyelesaiin." "Oh gitu, yaudah kamu istirahat dulu di kamar abis itu turun buat makan malem ya. Mamah sama Papah udah nunggu dari tadi," ucap ibu sembari mengelus pundakku. "Iya. Lain kali mamah sama papah gausah nungguin aku. Mamah sama papah makan duluan aja, aku gapapa kok." "Enggak sayang, kita harus makan bareng. Jangan kayak gitu, mamah gak mau jarak dan komunikasi antara kita itu terputus. Jadi kalau kamu ada masalah kerjaan atau masalah sama temen kamu cerita aja sama mamah dan papah, jangan ragu. Terbuka aja sayang, oke?" Aku tersenyum simpul, "Iya, mah. Yaudah aku naik ke atas dulu ya buat bersih-bersih." Aku berjalan menuju ke arah tangga, menaiki satu per satu anak tangga sembari terus memikirkan ucapan ibu tadi. Banyak hal yang telah aku sembunyikan dari mereka, dan ku hadapi seorang diri. Aku benar-benar bingung harus memulainya dari mana. Aku juga tidak bisa mengatakan bahwa selama ini aku menjalin hubungan dengan seseorang selama 5 tahun terakhir ini. Aku membuka pintu kamarku, lalu menutupnya kembali. Aku berjalan ke arah foto besar yang berada di salah satu sudut kamarku, foto keluarga kecil kami bertiga, ayah, ibu dan aku. Aku telah membuat jarak antara kami bertiga, komunikasi kami hanya seputar pekerjaan saja tanpa ada hal lain. Aku merasa ragu untuk menceritakan masalah percintaan ku yang memang tidak ia ketahui. "Aku pengen banget bagi ini sama kalian, tapi aku belum siap. Aku belum tau harus mulai darimana, aku gak tau harus gimana cara jelasinnya. Aku bener-bener bingung," gumamku dalam hati. Aku duduk di kursi, memijat pelipisku. Situasiku benar-benar di tekan sekarang. Aku tidak tau harus melakukan apa sekarang. Apakah aku hanya akan diam dan mengikuti alur hubungan kami saja? Apakah aku tidak berhak untuk menuntut sesuatu dari hubungan yang sudah 5 tahun kami jalani ini? Aku menarik nafas dalam-dalam, "lebih baik aku ngasih kesempatan buat dia. Kalau aku nuntut dia terus-menerus bisa-bisa dia ngerasa tertekan sama aku. Semoga kamu bisa nemu jalan keluar buat hubungan kita, aku bener-bener berharap banget sama kamu, Rey." *** Jam menunjukkan pukul 22.23 malam dan aku masih terjaga. Aku membuka buka buku yang ku beli di toko buku waktu itu, tentang kisah kisah dokter dunia. Tapi tampaknya ini membosankan untukku. Ku tutup buku tersebut lalu berjalan menuju kasur king size milikku, duduk di tepinya sembari memainkan ponsel. Mengotak-atik semua social media yang ada di dalam sana tapi sama-sama tidak ada yang menarik perhatian ku sama sekali. Aku memutuskan mematikan ponselku lalu merebahkan tubuhku, memakai selimut tebal sembari menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang kosong, hanya satu yang saat ini ada di otakku ialah Reynard. "Apakah semua bakalan baik-baik aja? Apa aku sama Rey bakalan tetep bareng-bareng terus? Aku takut, tapi disisi lain aku bener-bener berharap lebih sama dia," gumamku. Tak terasa aku akhirnya terlelap. Matahari mulai menampakkan dirinya dari balik sela-sela ventilasi kamarku membuatku terusik. Aku membuka mataku perlahan, sayup-sayup ku lihat ibu sedang berdiri di depan jendela sembari membuka gorden kamar. "Mamah?" "Pagi sayang. Mamah dateng mau bangunin kamu, tapi pas mamah buka pintu eh ga di kunci, yaudah mamah masuk buat buka gorden kamu, biar mataharinya masuk." "Iya, mah. Yaudah, Tania mandi dulu ya." Aku bangkit dari kasur lalu berjalan ke kamar mandi dengan langkah sempoyongan. "Mamah tunggu di bawah, ya. Kita sarapan bareng, soalnya papah udah berangkat ke kantor." ucap Ibu. "Iya, mah. Bentar ya, aku mandi dulu." Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 pagi, aku telah bersiap. Kali ini aku menguncir rambut panjangku dengan memakai celana hitam, dan kemeja berwarna baby pink. Tidak lupa aku membawa tas dengan warna senada. Aku berjalan menuruni anak tangga menuju dapur untuk sarapan bersama ibu. "Cantik banget anak mamah," puji ibu yang membuatku tersipu malu. "Siapa dulu dong, anak mamah. Oh iya, tumben banget papah berangkat sepagi ini, mah?" "Iya, katanya ada masalah di kantor. Sebelum berangkat aja tadi papah sempet marah-marah," jawab ibu sembari menurunkan nasi untukku di piring. "Mau lauk apa sayang?" "Gapapa, mah. Biar Tania aja. Harusnya Tania yang tiap hari giniin mamah. Next time Tania bakalan bangun lebih awal, buat masak untuk mamah sama papah." Aku tersenyum menatap ibu, ia balik tersenyum ke arahku. "Ga perlu sayang, kamu pasti capek banget kan. Seharian kerja, bantuin orang-orang. Ngecek kondisi orang, belum juga kalau tiba-tiba ada kondisi darurat, mamah tau kamu pasti capek banget, sayang." "Enggak kok, mah. Tania malah seneng loh, Tania bisa nolongin banyak orang, Tania sama sekali ga ngerasa capek." "Mamah tau kamu pasti bakalan bilang gitu. Semoga nanti kamu dapet jodoh yang baik, yang bisa pahami kamu, yang bisa sayang kamu dan jaga kamu, mamah selalu doain yang terbaik buat kamu, nak." Aku memegang tangan ibu, "doain Tania ya, mah." "iya sayang, yaudah kamu makan dulu gih, takutnya telat kamu tuh." "Iya mah." Usai sarapan bersama, aku membantu ibu untuk membereskan meja makan sebelum berangkat ke rumah sakit. Setelah selesai aku pamit untuk berangkat lalu mencium tangan ibu. Aku benar-benar beruntung, walaupun aku hanya anak satu-satunya dan memiliki tanggung jawab yang besar aku tetap merasa sangat beruntung dan bersyukur memiliki orang tua yang sangat menyayangi diriku, dan tidak pernah menuntut yang macam-macam padaku, suatu kebesaran yang luar biasa yang Allah berikan padaku. *** Aku tiba di rumah sakit bersama Desi, kami selalu berangkat dan pulang bersama. Desi adalah orang yang tau segala hal tentangku. Desi yang paling bisa memahami diriku. Segala sesuatu yang tidak ku ceritakan pada siapapun akan ku beritahu pada Desi. Dia tidak pernah mengeluh ketika aku menceritakan segala hal padanya, dia justru menyemangati diriku dan selalu mendukung apapun keputusan yang ku ambil. "Kemaren lo ketemu sama Rey?" Aku menoleh menatap Desi, "Iya." "Dia bilang apa?" Aku menggeleng, "aku gamau nuntut banyak hal sama dia. Lebih baik aku diam dan nunggu gimana usahanya dia, dari situ aku bisa lihat dia serius ga sama aku." "Gue ngerti, gue paham banget." Ia memegang tanganku lalu mengelus pundakku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN