Mengunjunginya

1113 Kata
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Aku telah bersiap-siap untuk pulang, saat ini aku pun tengah menunggu Desi untuk pulang bersama. Aku telah selesai, sekarang bersiap untuk keluar dari ruanganku tapi tiba-tiba saja Desi muncul hingga membuatku terkejut. "Kenapa, kok ngos-ngosan banget? Abis dikejar-kejar hantu emang?" tanyaku pada Desi. "Lo pulang duluan aja deh, hari ini jadwal jaga gue. Alhasil lembur deh." "Kasian banget sih," ucapku seraya meledek dirinya. Ia memasang wajah cemberut. "Yaudah, balik jaga dulu. Gue kesini cuma mau bilang itu doang." Desi kembali pergi. "Yee, semangat yaa!" seruku. Aku menghela nafas pelan lalu ikut menyusul Desi dari belakang, tak lupa pula aku mengunci pintu ruanganku. Aku menulusuri koridor rumah sakit dengan langkah santai. Tiba-tiba ponselku berdering. Tertera nama Reynard disana, tidak biasanya ia meneleponku di jam seperti ini. "Halo?" sapaku. ["Sayang, katanya kamu mau ketemu kan? Yaudah kita ketemu sekarang. Kamu ke kantor aku bisa engga?"] "Aku udah mau pulang." ["Yaudah, kamu nunggu disitu sebentar biar aku yang samperin."] "Enggak-enggak. Biar aku aja deh yang kesana. 15 menit lagi aku sampe." Tut tut tut Satu hal yang sampai saat ini membuatku bertahan adalah karena sikapnya padaku. Dia tidak pernah marah ketika aku menolak permintaannya. 5 tahun menjalin hubungan dengannya memang bukan waktu yang sebentar, aku telah mengenal bagaimana sifat dan tingkah lakunya. Dan aku pun telah memaklumi jika memang ada beberapa sikapnya yang kadang tidak bisa ia kontrol. Aku bergegas menuju parkiran, mencari dimana mobilku lalu segera masuk dan pergi. Akan lebih baik jika kami cepat bertemu bukan? Masalah akan mudah diatasi jika seperti ini. Terkadang kami hanya bertukar pesan atau saling menelepon saja karena ketika aku mengajaknya untuk bertemu dia selalu saja punya alasan yang terpaksa membuatku tidak bisa berkutik. Aku akhirnya tiba di kantornya. Mulai memarkir mobilku lalu mengambil tas dan ponsel dan segera keluar dari mobil. Aku menuju ke arah receptionist untuk memintanya mengantarku ke ruangan Reynard. "Halo." "Iya, halo mbakTania. Ada yang bisa saya bantu?" "Jadi gini aku mau ketemu sama pak Reynard. Kamu bisa nganter aku?" tanyaku. "Pak Reynard lagi ada di ruangan meeting. Meetingnya baru dimulai 10 menit yang lalu. Mbak mau nunggu di sini aja atau mau saya antar ke ruangannya?" "Di ruangannya aja." "Baik, mbak. Mari saya antar." Jujur saja aku sangat kesal mendengar bahwa Reynard sekarang sedang meeting. Bagaimana bisa ia menjalankan meeting padahal ia tau bahwa aku akan datang untuk menemuinya. "Mbak tunggu di dalem aja. Meeting pak Reynard bakalan selesai 30 menit lagi." "Yaudah, makasih ya." Aku membuka pintu ruangan Reynard. Nuansa monokrom terlihat jelas di ruangannya. Beberapa foto terpajang rapi disana, tidak ada yang berubah seperti saat terakhir kali aku datang kesini. Foto-foto kami berdua masih ia pajang di meja kerjanya. Wangi ruangannya masih sama. Aku berjalan ke arah kursi kerjanya lalu duduk disana. Ku lirik foto-foto yang terpajang di meja kerjanya itu, dia masih menyimpannya disana. Cukup lama aku menunggu, akhirnya ia datang dengan membawa beberapa camilan dan juga minuman. Aku menatapnya dengan tatapan terkejut dan tentunya heran, "OB kamu lagi gak ada?" tanyaku. "Ada, kok." Ia meletakkan nampan yang berisi camilan dan minuman di meja lalu menghampiriku. "Kok CEO yang bawa makanan untuk tamunya?" "Iya, soalnya pangkat kamu lebih tinggi daripada aku," ucap Rey seraya menarik hidungku dengan gemas. "Kamu kan CEO. Aku cuma dokter biasa." "Iya, tapi kamu udah selametin banyak orang, lho makanya pangkat kamu lebih tinggi." Aku menghela nafas pelan, "iya iya. Eumm, kenapa kamu ngajak aku ketemuan?" "Kok nanya sih? Emang nggak kangen? Aku aja kangen loh. Lagipula kan kamu sendiri yang bilang pengen ketemu, pengen ngobrolin soal kita. Yaudah, kita ngobrol sekarang." Rey menatapku dalam-dalam, tatapannya benar-benar teduh dan membuatku nyaman. "Aku gak tau mau mulai darimana," gumamku. "Kamu jujur aja, ga perlu ada yang di tutup-tutupi sekarang. Aku tau kok gimana perasaan kamu sekarang, aku tau apa yang sekarang ganggu pikiran kamu, kita omongin baik-baik terus cari jalan keluarnya, okey?" Rey mengusap kepalaku dengan lembut. "Kita ini sebenarnya mau kemana? Hubungan kita bakal kamu bawa kemana?" kali ini aku menatap Rey dengan tatapan yang serius, ekspresinya berubah. "Sayang... aku gak tau." Reynard menundukkan kepalanya. Aku yakin dia merasa malu dan tidak enak padaku. "Kamu gak tau? Sebenernya kamu itu serius sama aku enggak sih? Aku capek loh, Rey. Ini udah 5 tahun, usia kita juga udah sama-sama mateng. Tapi kenapa sampai sekarang aku belum bisa lihat bukti keseriusan kamu, sih?" "Tania kamu udah tau dari awal kalau hubungan kita itu enggak mudah. Ada dinding pembatas tinggi yang susah untuk diancurin. Aku belum bisa ngasih kepastian yang kamu minta, aku belum bisa ngasih bukti keseriusan aku karena aku sendiri masih bingung harus gimana." Rey menghela nafas, "aku bukannya ga ada niatan serius sama kamu, tapi aku harus pikirin gimana solusi untuk hal ini, aku ga bisa ngambil keputusan tanpa pikirin dulu." Aku diam, menundukkan kepala, menghela nafas dalam-dalam. Satu tetes cairan bening sukses jatuh membahasi pipiku. "Aku tau kalau kita pasti gak akan bisa bareng, Rey. Aku udah bilang dari awal tapi kamu yakinin aku. Lihat sekarang, kita akhirnya sampai di titik ini, titik dimana mau maju aja ga bisa, apalagi mundur." Reynard memegang kedua tanganku lalu menggenggamnya. "Terus kamu mau apa sekarang?" Ia menatapku dengan tatapan sendu. "Aku gak tau. Aku cuma butuh kepastian dari kamu." "Tania, please tolong ngertiin situasi kita saat ini. Sabar ya sementara aku cari jalan keluarnya." Reynard menarikku ke dalam pelukannya, memelukku erat-erat. Jujur saja aku sendiri merasa bingung, bagaimana dengannya. Aku menuntutnya karena aku mau agar dia bergerak dengan cepat mencari jalan keluarnya, aku tidak ingin ia terus-menerus berdiam diri seperti ini. "Sabar ya sayang," ucapnya lagi. Aku mulai merasa tidak enak sekarang. Kemudian aku menatap matanya, "kita cari jalan keluarnya sama-sama. Maaf kalau aku ga bisa ngertiin posisi kamu sekarang." "Iya, aku ngerti." Aku tersenyum simpul, suasana mendadak menjadi sangat canggung. "Kamu mau dinner dulu gak sama aku sebelum pulang?" ajak Reynard. Setelah ku pikir-pikir mungkin untuk sekarang aku akan membatasi diri darinya, kita harus belajar terbiasa tidak saling bergantung kan? Aku mulai ragu sekarang. "Mamah sama papah udah nunggu di rumah. Next time aja yah, aku bener-bener ga bisa nemenin kamu." "Iya, gapapa. Aku ngerti kok. Kalau kamu mau pergi sekarang, gapapa." "Yaudah." Aku berbalik lalu mengambil tas dan juga ponselku. Sebelum aku melewatinya, Reynard memegang tanganku. "Tolong jangan raguin perasaan aku sama kamu, aku bener-bener tulus sama kamu. Jadi jangan ngerasa kalau aku nggak effort apapun untuk hubungan kita, sekarang aku lagi cari solusi gimana baiknya." "Iya, aku ngerti kok. Yaudah aku pergi dulu, jangan lupa kamu istirahat. Jangan capek-capek." Reynard tersenyum, "siap bu dokter. Hati-hati ya." Aku mengangguk pelan lalu segera keluar dari ruangan Reynard. Aku berjalan menuju lift dengan langkah yang berat. Finally, kita akhirnya sampai di titik ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN