Aku membuka pintu, disana ternyata sudah ada Desi yang menungguku. Ia juga ternyata membawakan tas dan barang-barang ku kesini. Aku tersenyum ke arahnya dan ia balik menatapku.
"Hari ini lo telat, ngapain aja?"
Aku tersenyum kikuk, "gatau nih, aku tiba-tiba males aja berangkat pagi-pagi banget, yaudah rebahan aja."
"Tas lo udah gua bawain, noh. Oh iy btw tadi Reynard nelpon tau, tapi ga gue angkat."
Aku menatap Desi dengan tatapan terkejut, "kenapa ga kamu angkat? Siapa tau penting, kan?"
Desi memutar bola matanya malas, "lo ya, sumpah deh. Coba aja lo telepon balik, kali aja emang ada hal penting," ucap Desi dengan nada ketus.
Aku terdiam lalu menghela nafas pelan, "yaudah, maaf ya. Ntar aku coba hubungin dia deh." Aku menarik nafas, "jujur aja aku bener-bener bingung tau sekarang, aku gatau harus gimana nanggepin Rey, aku udah mulai ragu."
"Terus gimana?" tanya Desi.
Aku menggeleng, "aku masih belum tau. Kadang-kadang dia ngasih aku harapan yang buat aku yakin tapi kadang-kadang dia juga jatuhin harapan aku itu. Aku masih belum tau makna kata serius buat dia."
"Gue tau gimana pusingnya lo sekarang buat coba ngertiin semua ini. Tapi kalau lo ga mikirin hal ini dari sekarang ya lo ga bakalan bisa nemu titik terangnya, Tan. Mulai dari sekarang lo harus mikirin hal ini, tentang gimana kedepannya hubungan kalian, jangan seolah-olah lo tutup mata sama tutup telinga buat stop peduli apapun." Desi menatapku lekat-lekat, ia berusaha memposisikan dirinya sama seperti yang ku rasakan saat ini.
"Aku bener-bener gak tau. Bahkan untuk mikirinnya aja aku bingung. Aku ga tau harus gimana ngomongin hal ini sama Rey, aku kadang pengen nyerah tapi susah. Ga gampang buat lepasin sesuatu yang udah kita genggam sejak lama, Des."
"Yeah, i know. Tapi coba lo pikirin sampe kapan lo mau di gantung terus-menerus? Sampai kapan lo mau ngejalin hubungan yang lo sendiri gatau bakalan kemana akhirnya. Tania, gue kenal lu udah lama dan gue tau gimana hubungan kalian. Gue gamau lo terus-menerus ngejalin hubungan yang lo sendiri gatau sebenernya dia serius apa enggak sama lo."
Aku menatap Desi, ia tampaknya mulai lelah terus-menerus menasehati ku.
"Des, kita gausah bahas ini dulu. Aku bakalan mikirin hal ini nanti—"
"Nantinya kapan? Kenapa lo terus-menerus menghindar si, Tan? Wake up, coba lo berani buat ungkapin semua keresahan lo sama Rey, gua yakin kalian bakalan bisa nyari jalan keluar kok. Omongin dulu, jangan cuma diem doang." Desi memegang kedua pundakku, menatap mataku dalam-dalam. Aku tidak menjawab ucapannya, aku hanya memberikan isyarat mata padanya dan ia menurunkan tangannya dari pundakku lalu menatap ke sembarang arah.
"Lo pikirin deh, percuma juga gue ngomong panjang lebar sama lo. Yang jalani hubungan ini itu kalian, jadi komunikasi antara kalian itu diperluin. Jangan kalau ada apa-apa lo malah simpen sendiri, jangan nyakitin diri sendiri," ucap Desi dengan tegas.
"Iya, Des. Makasih ya kamu udah selalu ingetin aku. Thank you banget kamu selalu ada buat aku disaat aku bener-bener butuh orang buat selalu ada di samping aku. Next, aku bakalan berusaha buat selesaikan masalahku sendiri."
"Anyway, apapun itu gue berharap yang terbaik buat kalian. Yaudah, gua cabut duluan ya mau ngecekin pasien."
"Yaudah, makasih ya."
"IYAA!!" seru Desi sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ku.
Kali ini pandanganku mengarah pada ponsel yang berada di atas meja kerjaku, "apa mending aku telepon atau chat aja?" gumamku dalam hati.
Aku menuju ke kursi kerja, mulai merapikan mejaku yang sedikit berantakan kemudian mulai mengecek ponselku. Ku lihat ada 3 panggilan tak terjawab dari Reynard, entah apa yang akan ia katakan sekarang.
Aku mencari namanya kemudian menekan ikon telepon. Tidak butuh yang lama teleponku diangkat oleh Reynard.
["Hallo, kenapa sayang?"]
"Kenapa? Aku yang harusnya nanya. Kenapa kok tadi nelepon?"
["Enggak, bukan apa-apa. Oh iya, tadi kamu sibuk ya sampe teleponku di anggurin?"]
Aku menghela nafas pelan, dia mulai lagi.
"Enggak, tadi ada kondisi darurat di ruang ICU otomatis aku harus handle makanya ga bawa hp."
["Em, yaudah iya."]
"Kenapa?"
["Aku cuma mau mastiin kamu udah ga marah sama aku lagi. Ya aku tau ini memang ga mudah, tapi aku juga ga bisa berbuat apa-apa. Aku juga tau sampai saat ini kamu masih mikirin soal ucapan temen kamu itu, ya dia memang ga salah kok cuman aku bener-bener belum bisa ngasih kepastian apapun sama kamu, intinya aku sayang banget sama kamu dan aku ga main-main, Tan."] Reynard berusaha untuk menjelaskan semuanya padaku agar aku tidak marah lagi padanya, tapi aku masih bingung dan ragu untuk saat ini.
"Iya, aku tau." hanya itu yang bisa aku katakan sekarang, rasa bingung dan pasrah semuanya bercampur menjadi satu. Untuk apa aku menuntut kepastian darinya jika memang dari awal aku tau bahwa hubungan yang kami jalani ini sebenarnya tidak akan menghasilkan apa-apa.
["Aku mohon maafin aku, maaf kalau aku buat kamu selalu berada di situasi yang bener-bener bikin kamu sendiri bingung antara bertahan atau pergi. Tapi aku cuma mau bilang supaya kamu mikirin soal ini dulu dengan mateng, biar kita sama-sama ga menyesal nantinya. I love you so much."]
"Aku pengen ketemu, kita perlu buat ngomong. Kita perlu bicarain soal ini. Rey, aku tau gimana besarnya rasa sayang kamu ke aku tapi apa salah kalau aku mulai mempertanyakan keseriusan kamu? Ini bukan soal omongan Desi, tapi aku bener-bener cuma pengen tau aja sebenernya kamu serius apa enggak sama aku. 5 tahun itu bukan waktu yang sebentar dan kamu pun juga tau itu kan. Jadi aku mau ketemu secepatnya, please kali ini jangan nolak aku." Setelah mengatakan hal ini aku langsung mematikan ponselku secara sepihak, kali ini aku tidak ingin mendengarkan alasan keluar dari mulutnya itu. Aku tidak ingin tau apapun kecuali dia ingin bertemu.
Tak lama setelah aku menutup teleponku, pintu ruanganku di ketuk.
"Masuk."
Seorang perawat datang menemuiku.
"Dok, sekarang jadwal kunjungan pasien."
"Oh iya, aku hampir lupa. Yaudah ayo kita pergi."
Kami berdua berjalan menelusuri sepanjang koridor rumah sakit untuk menuju ke kamar rawat inap pasien. Di jam seperti ini, jam 11 kami biasanya melakukan kunjungan pasien untuk mengecek apa saja keluhan yang pasien rasakan atau untuk mengetahui apakah ada perubahan dari kesehatan pasien.
Kali ini kami menuju ruangan Aster yang diisi oleh orang-orang usia lanjut.
"Dok, pasien ini baru masuk semalam jadi belum mendapatkan kontrol apapun dari dokter."
Aku mengangguk mengiyakan lalu berjalan mendekati seorang ibu, "gimana perasaan ibu sekarang? Dibagian mana yang terasa sakit?"
"Dibagian sini dok, rasanya sakit. Bahkan untuk bangun saja saya gak bisa," ucap ibu itu sembari menunjuk perutnya dibagian bawah.
"Kita ga bisa menerka-nerka, tapi nanti ibu akan di USG dulu ya."
"Iya dokter."
Inilah kegiatan yang setiap hari aku lakukan, kunjungan pasien, dan juga melayani dalam kondisi darurat. Aku kadang ngerasa takut kalau aku tidak bisa menyelamatkan nyawa seseorang, tapi balik lagi aku akan tetap berusaha soal sembuh atau tidaknya itu sudah ada di tangan Tuhan, 'kan?