Tamu

405 Kata
Tania pulang kerumah tepat pada pukul 6 sore. Betapa terkejutnya ia tatkala membuka pintu rumah. Rumahnya tampak begitu bersih dan rapih, tidak serapih biasanya. Wangi semerbak bunga pun tercium ke indra penciuman. Tania kini menuju ke arah dapur untuk melihat apa yang tengah ibunya lakukan. "Mah," panggil Tania. Ibunya menoleh lalu menatap Tania. "Kamu udah pulang ya? Yaudah sekarang kamu mandi terus siap-siap kota bakalan kedatengan tamu." "Siapa, Mah? Terus hubungannya tamu itu sama Tania apa? Kan Tania ga kenal." "Kan tamu papah ya tamu kita juga sayang. Kamu jangan kayak gitu dong. Udah sana mandi terus abis itu nanti balik kesini lagi bantuin Mamah siap-siap ya." Tania menghela nafas pelan, ia terpaksa mengangguk mengiyakan. Tak apalah sekaligus mencari kesibukan di rumah. Setelah mandi, Tania mulai bersiap-siap. Hari ini ia memakai dress warna hitam dengan motif bunga berwarna pink. Ia terlihat sangat anggun dengan rambutnya yang ia biarkan terurai. Se-uisai itu, ia segera turun ke bawah untuk membantu Ibunya menyiapkan makanan dan lain sebagainya. Jam menunjukkan pukul 8 malam, dan makanan pun telah siap. Tania duduk di kursi sembari memainkan ponselnya sementara Ibunya masih sibuk bolak-balik entah membawa apa. Ayahnya datang dengan tergesa-gesa. Menyimpan tasnya di sembarang tempat. Lalu membuka jasnya, dan berjalan mendekati Tania. "Ayo ikut Papah." Ayahnya menarik tangan Tania untuk mengikutinya berdiri di depan pintu. "Mau ngapain sih?" Indra penglihatan Tania kini mengarah pada mobil mewah yang memasuki area halaman rumahnya. Tania mengerutkan dahinya, ia melirik ayahnya sekilas yang terlihat memasang wajah penuh senyuman. Seorang pria paruh baya yang mungkin seumuran dengan Ayahnya Tania turun dari mobil mewah tersebut kemudian di susul oleh seorang pria yang jauh lebih muda, Tania bisa menarik kesimpulan kalau itu adalah anaknya. Ayahnya menyambut mereka, mereka bersalaman kemudian berpelukan seperti orang yang lama tak berjumpa. "Mari masuk," ucap Ayahnya mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah. Tania hanya mengikut dari belakang. Tujuan pertama mereka adalah meja makan, untuk dinner bersama. Tania mulai sibuk mempersiapkan makanan, tapi sang ayah justru menariknya untuk duduk dan ikut makan bersama. "Oh iya, gimana kabarmu? Kamu kelihatan makin seger," tukas Ayah Tania yang mulai membuka pembicaraan. "Tentu saja, bagaimana tidak. Setiap hari anak ini pasti akan ganggu aku kalau ga minum suplemen vitamin. Kadang suka kesel sendiri," balas pria itu sembari tertawa. Mereka mulai asik bicara sembari Tania makan. Matanya terkadang beradu dengan mata putra dari pria paruh baya itu, tapi Tania langsung memutuskannya lebih dulu. Ia merasa tidak nyaman duduk disini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN