Salah Tingkah

519 Kata
Tania POV Saat tengah asik berbincang-bincang, pandangan pria paruh baya itu kini mengarah padaku. Ia menatapku sembari tersenyum, aku hanya membalasnya dengan senyuman juga. "Ini Tania ya? Yang kamu bilang dokter di rumah sakit umum di kota ini?" tanya pria itu pada Papah tanpa mengalihkan pandangannya dariku. "Iya, dia Tania. Putriku satu-satunya." Aku kembali tersenyum tatkala Papah memperkenalkan aku dengan temannya. "Oh iya, kamu pasti baru pertama kali liat om ya? Jadi om sama Papah kamu itu temenannya dari jaman SMA, terus pas om nikah, om pindah ke Surabaya nah baru sekarang nih om balik ke Jakarta karena anak om juga tiba-tiba pindah tugas di Jakarta, ya namanya orang tua ya om ikut aja karena kan Mamahnya juga udah ga ada, terus perusahaan om juga udah ada yang handle, sekarang om tinggal handle perusahaan yang ada disini," terang pria itu tanpa henti-hentinya tersenyum ke arahku. Entah apa maksudnya menjelaskan ini semua tapi yang pasti dia pria yang cukup baik. Jam menunjukkan pukul 9 malam, kini mereka beralih untuk berbincang di ruang tamu. Aku yang hendak membantu Mamah langsung di tarik Papah untuk ikut duduk dan berbincang-bincang. Aku sendiri tidak tau apa maksud dari ini semua. Tiba-tiba saja aku harus ikut dalam hal seperti ini. Aku duduk di sebelah Papah lalu pria paruh baya dan anaknya duduk di depan kami. "Jadi sekarang umur kamu berapa nak?" tanya teman Papah padaku. "Udah 23 tahun om," jawabku sembari tersenyum. "Oh kalau Akbar dia umurnya udah 25. Ayo dong ngobrol jangan cuma liat-liatan aja." Aku tersenyum kaku, maksud dari liat-liatan apa? Aku sendiri sama sekali tidak berniat untuk beradu pandang dengan pria yang saat ini duduk di depanku. "Oh iya, kenalin aku Akbar." Pria itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan denganku. Aku membalas uluran tangan itu dengan senyuman yang hangat. "Papah kamu banyak cerita soal kamu. Katanya kamu dokter ya? Kebetulan banget, aku pindah tugas dan bakalan bergabung di rumah sakit yang sama tempat kamu bertugas sekarang," jelas Akbar. Aku mengerutkan dahiku, kemudian melirik Papah sekilas. Ia hanya tersenyum ke arahku. "Kamu dokter?" tanyaku. "Iya, spesialis bedah dan ginekologi." "Oh iya, emang kebetulan rumah sakit kami lagi butuh dokter bedah. Syukur deh kalau udah ketemu," ujarku. "Tania, om boleh nanya lagi gak?" suara itu kemudian mengalihkan perhatianku, aku melirik Ayah Akbar yang menatapku. "Silakan om." "Kamu udah punya pacar atau calon pendamping?" Tanya ayah Akbar tiba-tiba. Aku terdiam, kenapa ia mengatakan hal seperti ini di pertemuan pertama kami? Membuatku benar-benar merasa aneh. "Maaf kalau om lancang nanya kayak gini ke kamu. Ya om ga percaya ajaa kata Papah kamu, kamu belum punya calon pendamping padahal usia 23 tahun udah cukup matang ke jenjang yang lebih serius, iya 'kan?" ucapnya lagi. "Eum... Iya om, belum ada yang cocok," jawabku seadanya. Aku melirik Papah, ia tampak kikuk tatkala aku menatapnya. Situasinya mendadak canggung. Aku merasa tidak nyaman sekarang berada disini. Aku benar-benar ingin pamit masuk kembali ke kamarku. "Pah, gausah bahas kayak gini dulu. Ga enak banget," bisik Akbar yang masih bisa terdengar olehku. Aku yakin Akbar pasti sangat mengerti bagaimana perasaan ku saat ini. Ia sangat-sangat paham. Akbar melirikku seraya tersenyum, membuatku salah tingkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN