Tipe idaman

1034 Kata
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan aku sudah benar-benar sangat lelah. Di jam seperti ini biasanya aku sudah bergumul di bawah selimut tebal sembari menonton film di serial tv favorit. Aku sudah sangat lelah terus tersenyum menanggapi ucapan mereka. "Yaudah, kami berdua pamit ya. Ini juga sudah malem banget," ucap Papahnya Akbar yang langsung mendapatkan senyuman sumringah dariku, akhirnya!!! "Iya, hati-hati. Lain kali kita yang perlu datang ke rumah kalian buat silahturahmi. Atau mungkin kita bisa lunch atau dinner di luar aja, tinggal kabar-kabaran aja." Mereka berdua akhirnya untuk berpamitan pulang. Saat hendak berbalik badan, panggilan seseorang membuatku berhenti, aku kembali berbalik lalu menatap ayahnya Akbar dengan tatapan yang bingung. "Kenapa om?" tanyaku langsung. "Besok Akbar udah masuk buat kerja, om harap kamu bisa bantu dia buat bersosialisasi disana. Terlebih lagi kan kalian udah kenal, jadi mungkin beberapa kali bisa pergi atau pulang bareng." Aku hanya tersenyum kikuk sembari mengangguk, entah apa maksud dari kejadian hari ini. Aku sendiri tidak mengerti. Mereka akhirnya benar-benar pergi, aku menarik nafas pelan lalu kini menatap Papah yang tampaknya sangat bersemangat sedari tadi. "Tania masih ga ngerti maksud ini semua apa. Tania harap Papah punya jawaban dari pertanyaan Tania." "Pertanyaan apa? Jawaban apa? Apa salahnya nyambung tali silahturahmi sama temen? Papah cuma ngelakuin apa yang harus dan benar untuk dilakuin. Lagian Akbar juga anaknya baik, pinter, mandiri, perhatian, dan juga ganteng. Dia bener-bener tipe cowo..." "Terus?" Tanyaku langsung memotong pembicaraan Papah. Aku tidak ingin mendengar kelanjutannya. "Dan pastinya idaman semua orang, kamu ga usah mikir yang enggak-enggak. Disini Papah maksudnya cuma mau ngejalin hubungan silahturahmi aja sayang. Maaf kalau kamu merasa terganggu. Tapi kalau misalnya kamu sama sekali ga muncul tadi apa kamu ga ngerasa ga enak? Mereka baiklah mau dateng berkunjung ke rumah kita. Harusnya kan kita yang kesana karena mereka baru pindahan," balas Mamah. "Mah, Tania ga permasalahin soal itu, ini cuma soal gaya Papah sama om tadi tuh annoying banget. Tania jadi salting tau, Tania bingung sama situasi yang tiba-tiba aja kayak gini." "Udah-udah, kenapa harus di omongin sekarang? Kan besok-besok masih punya banyak waktu, Papah juga masih punya banyak waktu kok. Tenang aja, kalem ya." Usai mengatakan hal itu, seperti biasa Papah pasti akan pergi begitu saja sementara aku masih belum mendapatkan jawaban yang aku inginkan. "Udah-udah, mending istirahat kamu. Kamu pasti capek banget 'kan ya? Istirahat sayang biar besok seger banget ke kantornya." "Iya, Mah." Aku memeluk Mamah dan berlalu meninggalkannya menuju kamarku tentunya. Hari ini sangat-sangat melelahkan. Aku duduk di tepi ranjang, menatap ke arah ventilasi kamar sambil melihat langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Hari ini adalah hari pertama kami tidak berhubungan, rasanya benar-benar berbeda. Aku yang setiap hari mendapat kabar darinya kini terpaksa harus berubah. Aku kehilangan banyak hal, seakan-akan duniaku mulai runtuh. Hubungan yang ku pertahankan 5 tahun terakhir harus ku lepaskan begitu saja. Terkadang aku merasa bahwa Tuhan itu tidak adil. Dia-lah yang memberikan perasaan ini, tapi dia juga yang merenggutnya. Lantas untuk apa cinta diciptakan jika kita tidak bisa memilikinya? Aku melirik ponselku sekilas, benar-benar tidak ada notifikasi pesan darinya yang ada hanya pesan-pesan dari grup kerja dan juga pesan dari teman-teman ku. Aku kini berjalan menuju lemari pakaian, mengambil baju tidur lalu menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Usai mengganti pakaian dan juga bersih-bersih dan skincare-an aku kini beranjak menuju ke meja kerja, membuka laptop, mengecek beberapa buku, dan juga menulis info penting mengenai seputar kesehatan baik dari sosial media, internet, atau pun dari buku. Ini yang biasa ku lakukan saat aku sulit untuk tertidur. Tenggorokan ku terasa kering dan tampaknya aku membutuhkan minuman yang hangat-hangat, aku terpaksa harus kembali ke bawah untuk membuat secangkir s**u coklat hangat dan juga mengambil cookies, tampaknya malam ini akan jadi malam yang sangat panjang dengan di temani s**u coklat hangat di tambah cookies cokelat. *** Dringg dringg dringg!! Suara alarm menganggu tidurku, ku buka mataku secara perlahan lalu mengedarkan pandangan ke sembarang arah. Ini sudah pagi, rasanya aku baru tidur sebentar tapi hari sudah berganti kembali. Aku mengambil ponselku dari meja nakas, melihat jam sekalian mengecek beberapa pesan beruntun yang masuk sejak semalam tapi tidak ku tanggapi. Aku menghela nafas pelan, menyimpan kembali ponselku lalu melakukan peregangan. Tujuan pertama hari ini adalah membuka jendela kamar untuk membiarkan udara pagi masuk lalu setelahnya aku akan mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Hari ini tampaknya hari yang akan sangat padat dan mungkin lebih melelahkan dari hari kemarin. Aku telah bersiap-siap, hari ini aku tidak memakai pakaian yang ribet, aku hanya memakai celana kain panjang berwarna hitam dengan kemeja berwarna abu-abu. Rambut ku cepol, dengan beberapa helai ku biarkan jatuh di samping telinga dan tentunya memakai make up tipis-tipis. Setelah itu aku kemudian beralih untuk menyiapkan tas, membawa dompet, handsanitizer, makser, beberapa obat, make up, buku, power bank, dan masih banyak lagi. Usai semua telah siap, kini aku turun ke bawah untuk sarapan bersama Papah dan Mamah sebelum berangkat tapi tampaknya aku telat—lagi. "Pagi, Mah?" Sapaku sembari melayangkan satu ciuman di pipi kanan Mamah. "Pagi sayang." "Papah udah berangkat?" tanyaku sembari celingak-celinguk mencari keberadaan Papah. "Iya, baru aja. Katanya ada masalah di kantor makanya Papah buru-buru," jawab Mamah. "Tapi Papah masih sempet makan 'kan Mah? Takutnya Papah ga sarapan lagi." "Enggak sempet sayang, tapi Mamah bawain bekel kok, tenang aja. Sekarang kamu juga duduk, kita sarapan bareng sambil ngobrol-ngobrol. Mamah udah lama ga ngobrol banyak sama anak Mamah ini soalnya sibuk banget deh akhir-akhir ini." Aku tersenyum kikuk, Mamah membuatku malu. "Oh iya, gimana pendapat kamu soal Akbar?" tanya Mamah tiba-tiba sehingga membuatku hampir tersedak s**u. "Maksudnya, Mah?" "Kan kalian udah ketemu nih, terus first impression kamu ketemu dia gimana sayang? Apa yang ada di dipikiran kamu soal dia?" Aku tidak mengerti, "maksud Mamah nanya soal Akbar apa? Tania masih ga ngerti." "Ya menurut dari segi penglihatan kamu, Akbar itu orangnya gimana? Asik gak? Baik gak? Atau tipe calon idaman kamu gak?" tanya Mamah blak-blakkan. "Mah? Please, jangan mikir yang aneh-aneh, Tania risih banget tau kalau kayak gini. Ya jawabannya simple aja, Tania baru ketemu sekali jadi Tania ga tau dia baik apa enggak, asik apa enggak. Semuanya perlu waktu, Mah." "Yaudah, Mamah kasih kamu waktu buat pahami dia, terus berusaha buat nerima dia. Paham?" "Hah??? Mamah??"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN