Aku masih berusaha mencerna kata-kata yang barusan Mamah katakan padaku. Ia memintaku untuk memahami dan mengenal Akbar, padahl sungguh aku sama sekali tidak tertarik apapun tentang dirinya.
"Yaudah kamu siap-siap gih buat berangkat sayang. Inget kan Akbar masuk ke tempat kerja kamu hari ini? Kamu harus selalu ramah sama dia," ucap Mamah.
"Aku berangkat sekarang, Mah." Setelah mengatakan hal itu aku bangkit dari kursi makan, mengambjl tasku lalu segera pergi. Entah apa maksud dari semua perkataan Mamah barusan, aku benar-benar masih tidak mengerti. Entah sesuatu apa yang telah mereka siapkan untukku dan untuk Akbar nantinya. Ku harap bukan sesuatu yang mengganggu.
Ku buka pintu mobilku, lalu masuk ke dalam. Memasang sabuk pengaman dan mulai menyalakan mesin mobil. Aku akan bicara dengan Akbar hari ini, tak peduli bagaimana tanggapannya padaku nanti.
Hari ini aku tidak pergi bersama Desi, ia telah berangkat lebih dulu dan tidak menungguku. Saat melewati ruangan Desi, ia memanggilku dan memintaku untuk bicara dengannya.
"Kok kamu hari ini ga nunggu aku?" tanyaku pada Desi.
"Sorry, gue buru-buru tadi. Gue juga lupa ngabarin lo. Hehe," jawabnya sembari cengengesan menatapku.
"Oh iya, lo udah tau ga kalau ada dokter baru yang di pindahin ke sini?" Tanya Desi. Sudah ku tebak pasti hal ini akan menyebar dengan mudah.
"Eum, dokter ahli bedah itu ya?" tanyaku untuk memastikan.
"Iya, lo udah tau?"
"Aku kenal orangnya. Dia anaknya temen papaku. Jadi aku tau deh."
"Iya? Anjir!!! Ganteng gak?" tanya Desi dengan penuh excited.
"Eumm, lumayan. Ntar liat sendiri lah. Bentar lagi juga kayaknya dateng dia." Aku menoleh ke belakang, kemudian menatap Desi sekilas.
"Yaudah aku ke ruanganku dulu ya. Mau beresin ruanganku dulu, terus mau ngecek beberapa hal."
"Oh yaudah!! Ntar kenalin gua sama tu cowo. Gue pengen liat dia, terus pengen kenal sama dia. Sumpahh, kepengen banget gue."
"Iya Des, kamu bersemangat banget sih. Sampe aku jadi pengen ketawa terus tau. Aslii wkwkw."
"Oh iya, Reynard udah keluar, tadi Mawar datang buat cerita ke gue. Katanya dia minta keluar tiba-tiba. Dia ga cerita sama lo?"
"Enggak, orang kita udah ga berhubungan kok. Lagian ngapain coba dia cerita ke aku? Udahlah, gapapa. Lupain aja, aku duluan ya?"
"Yaudah, byee."
Aku berjalan menuju ruanganku, membuka pintu kemudian menutupnya kembali. Rasanya air mataku seakan akan jatuh sekarang. Aku terluka, dan tidak berdaya. Entah mengapa aku harus menghadapi situasi ini, entah kenapa harus aku yang diberikan cobaan seberat ini.
Aku duduk di kursi, meremas kepalaku, mencoba untuk menenangkan diri, tapi tampaknya apapun yang aku lakukan tidak akan menghasilkan apa-apa. Aku telah kehilangan dirinya dan tidak akan mungkin bagi kami untuk bersama. Itu sangatlah mustahil. Terlebih lagi Mama dan Papa tampaknya memiliki rencana besar terhadapku dan Akbar, semoga saja itu bukan sebuah perjodohan. Jika itu sampai terjadi maka entah bagaimana aku akan mengatasinya.
Aku mengecek ponselku, membuka kontak Reynard, melihat pesan terakhir kali yang ia kirimkan untukku, hanya sebuah pesan yang bertuliskan agar aku mau merawatnya di rumah sakit, dan hingga saat ini aku tidak mendapat kabar sama sekali darinya. Ia benar-benar melakukannya, ia menjauh dariku.
Tok tok tok!!
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, aku terkejut. Buru-buru ku hapus air mataku lalu menyunggingkan senyum dia kedua sudut bibirku.
Aku bangkit dari kursi lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya. Padahal aku baru saja sampai di ruanganku tapi seseorang sudah datang.
"Iya?"
Saat ku buka pintu, seorang pria yang sangat aku kenali datang, ia berdiri tepat di pintu ruanganku, dengan wajah dan sikapnya yang dingin. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit untuk ku jelaskan.
"K-kamu?"
"Aku mau bicara," jawabnya seperti sudah mengerti apa yang akan ku tanyakan.
"Kamu kok bisa ada disini? Siapa yang ngasih tau kalau aku disini?" tanyaku lagi.
"Aku kenal kamu bukan sehari atau dua hari. Aku udah kenal kamu dari lama, 5 tahun. Kenapa hal kayak gini gak aku tau coba?" tanya Reynard kembali.
Aku terdiam, rasanya sangat canggung tiba-tiba saja berhadapan dengannya. Membuatku merasa tidak nyaman, dan bingung.
"Kamu mau ngomongin soal apa?" Aku kembali membuka pembicaraan agar kita bicara langsung ke intinya.
"Disini?" Tanya Reynard sembari melirik kanan kiri untuk mengecek situasi. "Kamu yakin mau ngobrol disini?"
"Terus kamu maunya dimana? Di dalam? Aku ga bisa. Aku gamau orang lain nanti mikir gimana-gimana soal kita."
"Ya sama aja kalau ngobrolnya di sini, di tempat terbuka, apalagi ini rumah sakit, banyak orang lalu lalang," ujar Reynard.
"Mereka pasti ngerti, aku dokter dan kamu pasien ku. Sekarang kamu mau ngomongin soal apa?"
"Ini soal kita, soal hubungan kita. Soal perasaan aku ke kamu, ini tentang kita."
Deg, jantungku serasa berpacu dengan cepat. Ia ingin membicarakan soal kita? Apa mungkin dia sudah menemukan jalan keluarnya? Aku tau seharusnya aku tidak berharap lebih pada Reynard karena aku tau jawaban Papa pasti bakalan tetep tidak, tapi susah buat lepasin sesuatu yang udah kita genggam dengan erat.
"Aku tau, kamu pasti bingung kenapa aku tiba-tiba aja datang buat ngomongin soal hubungan kita yang sebenernya udah berakhir. Aku tau banget."
"Kalau kamu tau kenapa kamu lakuin? Kenapa kamu buat aku bingung Rey. Kamu kayak ngasih harapan ke aku buat nunggu, tapi kadang-kadang kamu juga ngasih aku peringatan biar aku mundur. Sekarang aku bingung harus tanggepin gimana ucapan kamu," balasku tanpa basa-basi agar ia bisa mengerti seperti apa yang aku mau dan yang aku inginkan.
"Aku... Aku masih bingung, masih belum bisa terima keputusan Papa kamu. Aku ga bisa nolak karena posisi aku yang ga kuat, ga bisa apa-apa. Aku harus gimana? Aku bingung. Aku ga tau lagi."
Aku terdiam, entah bagaimana aku bisa menjawab ucapannya. Apa yang ia rasakan sama dengan apa yang aku rasakan saat ini. Dilema, bingung, cemas, dan rasa takut yang berlebihan. Aku juga tau Reynard pasti ga bisa berbuat apa-apa karena ini semua udah jadi keputusan Papa. Jangankan Reynard, aku aja yang merupakan anak kandung Papa aja bingung harus bertindak gimana.
"Tania?" Panggil seseorang. Aku menoleh, dia Akbar datang bersama Desi. Desi tampak terkejut dengan kehadiran Reynard disini.
"Dia siapa?" Tanya Reynard dan Akbar secara bersamaan. Aku dan Desi saling menatap. Bagaimana ini? Aku harus jawabnya bagaimana?
"Temen kamu?" tanya Reynard lagi.
"Kenalin, gua Akbar. Lo siapa?"
"Gua Rey, lo yang siapa?"
"Dia dokter disini. Dokter baru," jawab Desi dengan cepat.
"Kok dia bisa kenal kamu, Tan?"