Bab 1 - Gadis dengan Ransel Lusuh
Derap langkah saling berpacu, menghentak jalanan yang berlapis salju. Serentak berhenti di persimpangan saat target pengejaran lolos dari pengamatan. Kemudian berbalik kembali ke tempat semula berkumpul.
Mereka adalah gerombolan pemabuk liar yang berusaha mengejar gadis manis berambut pirang dengan tas ransel besar di punggungnya. Tajam mata itu menyapu mereka yang terbahak dengan lelucon murahan. Ia begitu lelah dengan hari yang tak baik, sejak pertama kali tiba di Kota Tirana ini. Meski tenaga sudah terkuras, ia bergegas mengambil langkah seribu sebelum gerombolan itu memenuhi nafsu untuk membuli atau bahkan lebih dari itu.
Lisy, nama gadis tegar dengan blazer panjang, sarung tangan kulit dan topi rajut yang menjadi ciri khasnya. Tergeragap ketika seseorang menarik lengan dan satu tangan yang lain membekap mulutnya. Sontak gadis itu menghempaskan cekalan itu dengan kasar saat keadaan sekitar sudah aman. Sejurus melirik tajam ke arah si pemilik tubuh kurus yang menyeretnya tadi.
"Siapa, kau? Kenapa ikut campur?" Lisy menelisik tajam, ia berpikir mungkin saja lelaki ini salah satu dari komplotan b*****h itu. Namun, sorot itu sedikit melunak saat pandangannya bertumpu pada manik hitam khas Asia di depannya.
"Gue Luby." Lelaki yang berlindung di balik jaket tebal itu mengulurkan tangan. Tersenyum selebar mungkin hingga lesung pipinya melekuk tajam. Gadis pirang tak membalas, hanya membalikkan tubuhnya membelakangi Luby. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia berlalu.
"Woi, siapa nama, lo?" teriak Luby.
"Woi! Nama gue Luby, lo?" Luby memaksa dengan menjegat langkah sang gadis.
Namun, sekuat apapun tenaga Luby, tak bisa memaksa seorang wanita yang mencoba mengempas gelindan tangannya. Ia pun mengendurkan kejaran dan membiarkan gadis pirang itu berlalu dengan langkah tergesa.
"Dasar wanita! Sudah ditolong, masih sok kuat. Bodo, ah. Mending gue lanjut jalan-jalan."
Luby, melanjutkan petualangan di Negeri Albania untuk melakukan penelitian demi menyelesaikan desertasinya. Namun, di sela waktu selalu saja menemukan hal tak terduga. Membuat niat lelaki Indonesia itu kadang membelokan pikiran. Sebab itulah ia sering tak fokus dan terlalu lama menyudahi masa belajar untuk meraih gelar doktor. Pria itu pun kembali melanjutkan langkah menuju museum di pusat Kota Tirana sebagai tempat penelitian. Jauh dari area kampus yang berada di Budapest, Hungaria.
"Hey, bukankah itu gadis Macedonia yang tadi kita kejar?" ucap David, salah seorang gerombolan pemabuk tadi. Lelaki dengan jambang lebat itu menunjuk ke arah gadis lusuh dengan tas ransel, berjalan menyusuri koridor pertokoan di seberang mereka berkumpul.
"Iya, benar. Tas dan balzer-nya pun sama. Ayo kita kerjai lagi." Si tubuh buntal yang tinggi tegap--John--menepuk pundak David dan kedua rekan lainnya.
Gegas mereka mengambil langkah mengejar gadis malang itu.
"Hey, Nona! Mau ke mana kau, hah?" David menyeringai. Ketiga kawan lainnya hampir membuat lingkaran hendak menyergap Lisy.
's**l!' Lisy membatin. Mengutuki kesialan hari ini sambil terus berlari.
Semakin panik, Lisy menyusuri bagian tengah koridor pusat pertokoan. Tiba di perempatan, ia melihat orang-orang berkerumun tengah menyaksikan pertunjukan musik yang dibawakan musisi jalanan Tirana. Mengendurkan langkah dengan napas masih terengah, gadis itu mengendap di sela kerumunan. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak sebuah gantungan kayu dengan satu jaket panjang khas musisi Albania, di bawahnya tergeletak satu 'accordion,' alat musik khas yang banyak digunakan di daerah Eropa Timur.
Tak buang waktu, gadis itu meraih jaket besar dan menangkupkan ke seluruh badan, termasuk ranselnya. Topi bundar berukuran besar diletakan di atas kepala, lalu mengangkat 'accordion' itu dengan penuh percaya diri. Tak sedikitpun paham bagaimana memainkan alat itu, Lisy hanya berpura-pura menekan tut dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menggerakkan buka tutup lipatan harmoni yang merupakan sumber suara alat tersebut.
Tidak satupun menaruh curiga, karena mereka bukanlah anggota pemusik tetap, biasanya anggota yang bermain selalu berganti-ganti. Beruntung, satu anggota terlambat datang.
"Hey, kau mainkan di nada Clarinets untuk lagu selanjutnya." Seseorang yang duduk di barisan depan menunjuk Lisy. Gadis itu terkesiap, lalu merespon hanya dengan anggukan.
Degup jantung makin terpacu tak karuan, memegangnya saja baru kali ini. Bagaimana ia mengerti dengan seluk beluk alat tersebut.
'Sudahlah, yang penting ikuti saja. Mana mereka dengar jika nada itu berbunyi atau tidak.' Lisy mencoba menenangkan diri. Daripada bertaruh nyawa dengan gerombolan pemabuk itu. Pertunjukan pun kembali berlanjut di bawah langit musim dingin.
"Hey, tunggu!" Seseorang yang tadi memerintahkan Lisy berseru saat gadis itu mulai beranjak setelah pertunjukan selesai.
"Ini, upahmu hari ini." Lelaki dengan kemeja putih itu mengulurkan tangannya. Beberapa koin Lek Albanian memenuhi telapak tangan. Bibirnya menarik lengkung bahagia.
Ia rasa jumlah ini bisa digunakan untuk mengawali hidup di Albania, sebelum mengeruk tabungan yang ia siapkan. Menghentikan langkah di depan sebuah salon kecantikan yang tampak ramai. Sekian menit Lisy menunggu di luar pintu kaca. Ada keraguan untuk memasukinya, tetapi harus dicoba.
***