Jihan menuruni tangga dengan terburu-buru sambil membawa tas dan beberapa buku. Pagi ini dia bangun kesiangan padahal ada kelas di jam 08.40 dan sekarang sudah pukul 8 tepat. Meskipun jarak rumah ke kampus tak sampai menghabiskan waktu setengah jam, tetap saja jalanan kota Bandung sekarang tak bisa di prediksi, bisa saja kan pagi ini malah macet, belum lagi lampu merah di simpang dekat rumah sakit selalu lama menurutnya.
“Abang!!” teriak Jihan memanggil Sean, Kakaknya.
Sean yang berada di dapur mendengar teriakan adiknya langsung berlari menghampiri Jihan yang sudah menuruni tangga. “Kenapa teriak-teriak sih, Dek?” tanya Sean.
“Anterin aku cepetan! Aku telat banget, kalau aku bawa mobil sendiri nanti aku gak konsentrasi jadi Abang yang anterin aku ya,” balas Jihan.
“Masuk jam berapa?”
“Jam 08.40, Abang,” rengeknya.
“Ya udah tunggu di luar, Abang ambil kunci dulu,” ucap Sean kemudian berjalan ke arah kamar untuk mengambil kunci mobil.
Beruntung hari ini dia belum berangkat menuju galeri, jadi bisa mengantarkan adiknya ke kampus. Sementara Dio, tadi sudah lebih dulu berangkat menuju kantor. Pun dengan Ayah mereka.
Jihan menunggu Sean diluar dengan perasaan tak sabaran, dia benar-benar takut terlambat. Kalau sampai itu terjadi dia harus masuk di kelas berikutnya dan Jihan sama sekali tak nyaman jika bukan bersama dengan teman-teman satu kelasnya. Apalagi Jihan yang memang sulit untuk mengakrabkan diri dengan orang baru.
“Abang lama ih,” rengeknya melihat ke arah pintu rumah dan Sean belum juga datang.
Tak lama Sean pun datang dan segera menuju mobilnya, diikuti oleh Jihan. Sean dengan tenang menyetir mobil menuju kampus sang adik. Beruntung kembali karena jalanan Bandung kali ini berpihak pada Jihan, tak begitu ramai dan Jihan terus berharap dia tak akan terlambat sampai kampus.
**
“Ada yang ketinggalan gak?” tanya Sean saat adiknya hendak keluar dari mobil.
Mereka sudah sampai di parkiran kampus, Jihan tengah mengecek kembali barang bawaannya dan memastikan semua buku dia bawa dan juga tugasnya hari ini. Merasa semua sudah lengkap, Jihan mengangguk.
“Udah. Makasih ya Abang udah anterin aku,” ucap Jihan sebelum keluar dari mobil.
“Iya, nanti pulang kabarin ya.”
“Nanti aku bareng sama Nana aja, aku ke kelas dulu ya Abang,” pamit Jihan yang diangguki dengan cepat oleh Sean.
Dia seperti tengah mengantar anak sekolahan apalagi sifat adiknya yang masih seperti anak kecil. Tetapi Sean sama sekali tak masalah karena sampai kapanpun Jihan itu tetap menjadi adik kecilnya seperti dulu.
Jihan melangkah dengan sedikit terburu-buru menuju lift yang akan mengantarkan dia ke lantai empat. Hari ini kelasnya memang berada di lantai empat dan tadi Nana bilang kalau dia sudah berada di depan kelas menunggu kelas lain selesai. Jihan pun sedikit tenang karena dia tak terlambat meski tetap melangkah dengan terburu-buru.
Di dalam lift hanya ada dia sendiri naik dari lantai dua, sampai di lantai tiga pintu lift terbuka dan seorang mahasiswa masuk. Jihan menunduk sibuk dengan handphonenya sambil mengabari Nana kalau dia sudah berada di dalam lift.
Sampai pintu lift terbuka saat di lantai empat Jihan bernapas lega dan segera keluar dari lift dan berjalan menuju depan kelas di mana Nana sudah ada di sana bersama dengan Sinta.
“Untung lo gak telat, Han,” ucap Nana saat melihat temannya baru datang.
“Iya. Gue telat bangun tadi, tapi untung ada Bang Sean yang anterin gue dan jalanan tadi gak macet. Selamat gue,” balas Jihan mengelus sambil dadaanya.
“Lo gak lupa sama tugas yang hari ini di kumpulin kan?” tanya Nana, mengingat kalau Jihan ini terkadang pelupa dan juga teledor. Meski sejak semalam Nana sudah memberitahu Jihan tetapi dia harus memastikan lagi.
“Udah, tenang aja. Makasih ya selalu ingetin gue,” ucap Jihan tersenyum tulus.
“Iya sama-sama, gue selalu ingetin lo karena lo pelupa.”
"Ya namanya juga lupa."
**
Damar ternyata salah kelas, dia malah naik ke lantai tiga padahal hari ini kelasnya di lantai empat. Dengan buru-buru dia kembali menunggu di depan lift yang masih belum terbuka sampai tak lama lift tersebut terbuka dan Damar pun langsung masuk ke dalam.
Ada satu mahasiwa yang tengah menunduk membuat suasana agak aneh bagi Damar tetapi diam-diam Damar mencuri pandang pada mahasiswa tersebut, sepertinya mahasiwa jurusan yang sama dengannya karena terlihat tengah membawa kamus berbahasa Jepang.
Dalam diam Damar terus memperhatikan gadis yang tengah sibuk dengan handphonenya. Mungkin tengah chat tengan kekasihnya atau teman.
Ah kenapa Damar jadi memikirkan itu, lalu pintu lift terbuka dan gadis itu dengan tergesa-gesa keluar dari lift membuat Damar tersenyum kecil. Damar masih memperhatikan gadis itu yang sudah bersama dengan temannya dan terlibat percakapan.
“Dam!” tepukan di bahunya membuat Damar harus mengalihkan perhatian dari gadis tadi. Damar melihat Bani yang sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan yang juga mengarah ke arah yang sedari tadi Damar tuju.
“Lihatin siapa lo?” tanya Bani penasaran.
“Bukan siapa-siapa, gue tadi salah kelas, siallan!” umpat Damar membuat Bani menertawakan sahabatnya. “Gak usah ketawa lo!” serunya.
“Lagian lo ada-ada aja, sejak kapan lo bisa salah kelas. Ini kayanya lo lagi gak konsen, mangkannya jangan kebanyakan kegiatan di kampus, Pak Ketua,” ucap Bani kemudian melangkah lebih dulu menuju kelas mereka saat ini.
“Ya wajar kalau lupa,” gumam Damar namun tatapannya kembali ke arah gadis tadi. Tetapi Damar tak menemukan gadis tersebut, mungkin sudah masuk ke dalam kelas. Damar pun segera menyusul Bani yang sudah masuk ke dalam kelas mereka.
**
“Hari ini kumpul semua panitia,” ucap Sinta. Mereka tengah berada di kantin setelah melewati dua mata kuliah di jam 08.40 yang merupakan mata kuliah Kanji dan berlanjut ke mata kuliah umum di jam 10.20 tadi.
“Panitia apa?” tanya Jihan yang tengah asyik melahap mie yamin langgaanannya di kampus. Paling terkenal yang dibuat oleh Pak Jaka, si penjual mie yamin dan bakso di kantin kampus mereka.
“Ya panitia ospek lah, Han! Masa lo lupa?! Bukannya lo udah masuk ke grup juga?” tanya Sinta gemas. Jihan mengangkat bahunya acuh, dia tak tahu dan tak mau tahu sampai sekarang pun dia masih tak rela jika harus menjadi bagian dari panitia ospek tahun ini.
“Udah, Ta. Gue jamin Jihan datang nanti,” ucap Nana yang mendapatkan tatapan protes dari sahabatnya, “Emangnya lo siap buat bilang sama ketua panitia kalau lo gak jadi ikut?” tanya Nana membuat Jihan menekukkan wajahnya.
“Iya deh, gue datang nanti. Kenapa juga gue bisa kepilih sih, nyebelin banget,” gerutu Jihan sementara Sinta dan Nana tertawa, mereka malah senang karena ini artinya Jihan bisa berorganisasi karena selama ini yang Jihan lakukan adalah kuliah terus pulang.
“Han, lo di cari sama Indah Sensei,” ucap salah satu mahasiswa yang baru saja menghampiri mereka.
Jihan mengernyit, “Ngapain?” tanyanya.
“Ya gak tau lah, masa nanya ke gue. Buruan deh!”
“Ck! Iya iya, sabar elah gue makan dulu, gak tau apa ini lagi jam istirahat,” kesal Jihan kemudian segera menghabiskan makanannya.
“Dosa lo marah-marah sama dosen,” tegur Sinta.
“Ah iya bener, sorry kelepasan. Gue ke ruangan Sensei dulu ya,” pamit Jihan.
“Lo merhatiin siapa sih, Dam?” Damar tersentak. Sedari tadi dia memang tengah memperhatikan gadis yang tanpa sengaja tadi pagi bertemu di dalam lift -gadis yang juga Damar lihat kemarin- dan kali ini Damar kembali melihatnya saat mereka tengah makan di kantin.
Entah kenapa gadis itu membuat Damar tak bisa berhenti untuk tak memperhatikannya. Padahal sebelumnya Damar tak pernah seperti ini.
“Woy! Lo malah ngelamun!" seru Riki melihat temannya yang malah asyik melamun.
“Gue gak lihat apa-apa,” ucap Damar mengelak.
“Alah, paling ada yang lagi dia incer,” celetuk Agil.
“So tahu lo, Gil! Gimana kumpul sama panitia jadi kan?” tanya Damar mengalihkan pembicaraan mereka.
“Jadi. Gue udah kasih tahu di grup, lo belum masuk grup?”
“Belum, add gue aja.” Agil mengangguk kemudian saat itu juga langsung memasukkan kontak Damar ke dalam grup kepanitiaan. Sementara Damar kembali dengan pikirannya sendiri, memikirkan gadis tadi yang entah kenapa sulit sekali untuk diabaikan.