Kelas terakhir baru saja selesai, tetapi Jihan tak bisa langsung pulang seperti biasanya. Hal itu karena dia harus ikut kumpul kepanitiaan bersama dengan Nana dan juga Sinta. Padahal Jihan sudah ingin rebahan di rumah, menikmati camilan sambil menonton film tetapi semua harus Jihan urungkan.
Jihan tadinya berniat untuk kabur saja dan tidak akan ikut kumpul panitia, untung saja dia masih ingat konsekuensi yang akan dia terima, apalagi kalau bukan harus berurusan dengan sang ketua panitia.
Jihan tak suka!
“Luar biasa! Untuk pertama kalinya, seorang Jihan Annaila ikut kumpul kepanitiaan kaya gini. Harusnya lo itu dikasih penghargaan pemecah rekor mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang,” seru Sinta.
“Urusai! (Berisik!)” Jihan mendelik, “Bahagia banget lo kayanya lihat gue menderita karena harus kumpul kaya sekarang,” lanjutnya.
“Pastinya! Kapan lagi kan, gue lihat lo ada di antara para panitia kaya sekarang dan kayanya lo cukup populer ya, Han. Lihat aja mereka, semua mata tertuju pada Jihan Annaila,” ucap Sinta membuat Nana dan Jihan sama-sama menoleh ke sekeliling mereka dan benar saja semua yang menjadi bagian dari panitia sedang memperhatikan mereka, lebih tepatnya Jihan si mahasiswa populer yang pintar dalam kegiatan akademik.
Ya hanya dalam kegiatan akademik Jihan memiliki nilai plus, kalau sudah di luar akademik, Jihan adalah seorang mahasiswa kupu-kupu, yang menjadi sebutan untuk mahasiswa yang hanya kuliah dan setelah itu pulang.
Jihan malu sekali, kenapa juga dia harus berada di sini. Jihan tidak suka jika harus menjadi pusat perhatian seperti ini. Beda lagi kalau dia sedang berada di depan umum dan melakukan pidato bahasa Jepang, fokusnya ya akan ke satu titik yaitu Sensei-nya kalau seperti ini Jihan harus fokus pada siapa.
**
Damar baru saja keluar dari ruang himpunan, sejak selesai mata kuliahnya tadi dia memang langsung ke ruangan ini dan tidur. Ya dia selalu mencuri waktu untuk istirahat sebentar di ruang himpunan sampai Bani datang membangunkan dia dan mengatakan mereka harus mengadakan kumpul bersama dengan panitia ospek, Damar akan langsung bangun di saat mendengar kegiatan kampus. Apapun itu.
“Jadi kita kumpul di ruang 120?” tanya Damar saat mereka berjalan menuju tempat yang di pakai untuk kumpul panitia. Tadi dia sempat mencuci muka membuat wajahnya kembali segar.
“Iya, tadi Riki cek. Ruangan itu yang sore ini gak di pake, dia juga udah minta kunci-nya sama Pak Dede.”
Damar mengangguk, “Semua hadir kan?”
“Kayanya iya, tadi gue sempat cek ke sana, udah banyak anak panitia yang kumpul.”
Damar dan Bani pun melangkah lebar menuju ruangan tempat mereka akan berkumpul dan mendiskusikan acara nanti.
Saat masuk ke dalam ruangan, sudah banyak yang datang dan suasana yang semula ramai tiba-tiba sepi saat Damar dan Bani juga para panitia Seniorr masuk ke dalam. Damar yang memang terkenal dengan sikap tegas sebagai ketua membuat siapa pun menjadi anggota kepanitiaan segan kepadanya.
“Oke! Dari pada kita buang waktu. Kita mulai saja, terima kasih untuk kalian yang sudah datang ke ruangan ini dan sudah bersedia menjadi panitia acara orientasi mahasiswa baru yang akan berlangsung sebentar lagi, rapat pertama kali ini akan dilakukan susunan kepanitiaan dan untuk kalian bisa memilih akan masuk ke divisi mana meskipun sebelumnya sudah di tentukan tetapi sekarang akan kembali di rombak sesuai dengan keinginan kalian,” ucap Bani memulai rapat yang terkesan santai tapi serius ini.
Damar yang sejak tadi berdiri di belakang Bani menatap ke arah sekeliling ruangan, memperhatikan setiap mahasiswa yang merupakan Juniorr mereka yang menjadi bagian dari kepanitiaan.
Sampai kedua matanya menangkap sosok tak asing yang bahkan membuat Damar tak percaya. Dia kembali bertemu dengan gadis itu, gadis yang dia temui tanpa sengaja di dalam lift tadi pagi. Damar tersenyum tipis, entah kenapa dia merasa begitu senang kembali bertemu dengan gadis tersebut.
“Dam!” Damar tersentak, “Lo kenapa jadi gak fokus. Sana mulai!” ucap Bani.
“Sorry,” gumam Damar.
Damar agak maju satu langkah. “Terimakasih untuk kalian yang sudah datang di rapat pertama kepanitiaan ini. Perkenalkan saya Damar Eka Perwira, ketua panitia acara ini dan seperti yang tadi sudah Bani sampaikan, kali ini kita akan membagi anggota setiap divisi acara ini.”
**
Jihan begitu bosan berada di antara mahasiswa yang menjadi panitia ospek di ruangan ini. Sekarang mereka semua tengah memilih divisi acara sementara dia asyik dengan handphonenya. Nana yang menyadari nama sahabatnya belum tercantum di divisi mana pun, melirik ke arah Jihan. “Lo mau masuk divisi apa, Han?” tanya Nana.
“Terserah deh, yang penting ini rapat bisa selesai,” balas Jihan asal.
“Lo fokus dong. Sekali doang kan, jangan sampe lo kena tegur sama seniorr,” ucap Nana membujuk sahabatnya agar ikut dalam kepanitiaan ini. Kan sayang kalau sudah terpilih, kesempatan bagus agar nanti memiliki catatan aktif dalam kegiatan kampus selama menjadi mahasiswa.
Jihan pun mengangguk dan menyimpan handphone kemudian menatap ke arah depan di mana papan tulis yang sudah terisi penuh dengan nama dari mahasiswa yang ikut dalam susunan kepanitiaan. Jihan tak menyadari, ada mata lain yang sejak tadi terus memperhatikannya. Melihat bagaimana ekspresi gadis itu sejak tadi, kedua mata milik Damar Eka Perwira sang ketua panitia.
“Ada yang belum menjadi anggota divisi?” Faris selaku juru tulis memastikan keanggotaan mereka.
“Han, angkat tangan,” ucap Nana berbisik.
“Gue doang yang belum?” tanya Jihan yang sama-sama berbisik.
“Iya. Lo sih tadi malah main handphone,” balas Nana.
Jihan mendengkus. Kemudian mengangkat tangannya membuat semua orang menatapnya termasuk dengan Damar, dia juga penasaran siapa nama gadis tersebut.
“Iya kamu, nama dan mau masuk divisi apa?” tanya Faris.
“Nama gue Jihan, divisi pubdok,” ucap Jihan.
“Oke,” Faris menuliskan nama Jihan di divisi publikasi dan dokumentasi, yang menjadi koor divisi tersebut adalah Herlan dan laki-laki itu tersenyum karena di divisinya ada mahasiwa cantik seperti Jihan.
Damar yang menyadari Herlan terus menatap gadis yang bernama Jihan itu, berdeham cukup kencang membuat Herlan menatap Damar.
“Apa?” tanya Herlan dengan polosnya.
“Mata lo!” desis Damar yang kemudian membuat Herlan terkekeh. Tak biasanya Damar bersikap seperti ini bahkan perduli pada seorang perempuan.
“Iya deh, milik lo,” ucap Herlan terkekeh.
“Berisik lo!” Herlan hampir saja tertawa kencang kalau tak ingat dia sedang berada di ruangan rapat seperti sekarang ini.
Damar kembali fokus menatap Jihan yang kali ini tengah berbincang dengan gadis di sampingnya yang Damar tahu gadis itu Nana, kekasih dari sahabatnya -Bani.
“Pisah divisi kita,” ucap Nana.
“Ya abisnya apa lagi kalau bukan publikasi, masa gue mau gabung sama lo di divisi konsumsi, yang ada gue bakalan makan terus bukan kerja,” balas Jihan.
“Ini kapan selesai sih?” tanya Jihan.
“Paling bentar lagi,” balas Nana. Mereka pun kembali fokus pada pembahasan setiap divisi dan juga hal-hal lainnya tentang acara orientasi nanti.
**
“Lo di jemput?” tanya Nana pada Jihan, mereka baru saja selesai kumpul panitia.
“Gak tahu. Tadi pagi gue bilang sama Abang kalau gue pulang bareng lo,” ucap Jihan.
“Lah! Gue sama Kak Bani, gimana lo tetep mau ikut?”
“Ih! Gue kira lo pake mobil sendiri, gak mau gue jadi obat nyamuk!”
“Tadi dia jemput gue, jadi ya gak bawa mobil. Terus mau lo gimana?”
“Ya udah pake taksi online aja,” ucap Jihan meski dia pun tak yakin karena selama ini dia sama sekali tak pernah pergi menggunakan angkutan umum, baik itu taksi online maupun yang lainnya. Apalagi kedua kakaknya yang selalu melarang karena tak ingin terjadi sesuatu kepada adiknya.
“Jangan! Gue nanti kepikiran, lagian lo kan gak pernah naik taksi online,” larang Nana. “Gini aja, kita tunggu Kak Bani. Udah gapapa, lo kaya sama siapa aja sih. Udah kenal juga sama cowok gue,” lanjutnya.
Jihan mengangguk. Mereka pun menunggu kedatangan Bani yang merupakan kekasih dari Nana. Tak berselang lama, Bani menghampiri Nana dan Jihan yang masih berada di dekat mading.
“Ayo!” ajak Bani kepada Nana.
“Anterin Jihan dulu ya, Kak.”
“Kamu lupa, kita kan mau ke rumah sakit jenguk Mama,” ucap Bani.
“Ah iya, terus gimana dong? Ini Jihan gak ada yang jemput juga.”
“Gapapa, Na. Gue bisa pake taksi kan tadi gue bilang,” sela Jihan.
“Atau lo dianter sama temen gue aja ya, bentar. Lan!” panggil Bani kepada temannya yang tengah berbicara dengan mahasiswa lain.
Herlan yang merasa di panggil menoleh kemudian segera menyelesaikan urusannya dan setelah itu menghampiri Bani yang tadi memanggilnya.
“Ada apa?” tanya Herlan pada Bani, dia juga sempat melirik gadis yang berdiri di samping Nana, kekasih Bani.
“Bisa anterin Jihan gak, gue sama Nana buru-buru mau ke rs,” ucap Bani.
“Gak usah Kak,” tolak Jihan tak enak dan dia juga tak kenal dengan laki-laki yang di panggil oleh Bani tadi.
“Lo lewat jalan mana?”
“Djunjunan.”
“Searah sama gue, gapapa barengan aja atau lo takut sama gue?”
“Hah! Nggak ko, gak enak aja kalau harus anterin gue,” ucap Jihan. Kenapa dia jadi serba salah begini. Kalau dia ikut, dia tak tahu apa Herlan orang baik atau tidak, belum lagi kedua kakaknya pasti akan mengomel tahu dia diantar oleh laki-laki lain. Tetapi kalau dia menolak, tak enak juga.
“Ya udah, Han sama kak Herlan aja. Gapapa kok, gue sama Kak Bani duluan ya,” ucap Nana. Bukannya dia tega meninggalkan Jihan tetapi dia memang sedang buru-buru, dan Nana percaya kalau Herlan, teman Bani tak akan melakukan hal-hal yang bahaya.
“Iya deh,” ucap Jihan pelan. Mau bagaimana lagi, dari pada dia di tinggal di kampus sendiri, mau menghubungi kakaknya pun, keduanya pasti masih sibuk.
“Kalau gitu ayo! Tapi gue pake motor, gapapa?”
“Helm-nya?”
“Tenang kalau itu, gue selalu bawa dua. Maklum sering ditebeng,” balas Herlan.
Jihan tersenyum, “Sebelumnya makasih ya, Kak.”
“Gak masalah, yuk! Nanti keburu hujan,” ajak Herlan.
Mereka tak menyadari dari kejauhan sudah ada yang memperhatikan mereka sejak tadi. Damar mengepalkan tangannya, kenapa dia seperti seorang kekasih yang cemburu melihat kedekatan Jihan dan Herlan.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia merasakan kesal seperti ini?