Bab 1
"Saya terima nikah dan kawinya, Alesya Andita Prameswary binti Bapak Ahmad Jarmantiyo dengan maskawin tersebut, Tunai."
Terdengar suara ijab qobul dari rumahku ini diiringi suara riuh yang mengucap sah dan mengaminkan doa pak penghulu. Aku menghela nafas panjang dan menatap diriku didepan cermin, cantik, tapi sayang, dihariku yang seharusnya bahagia, justru sebaliknya.
Laki-laki yang seharusnya menjadi imamku, bukanlah Dia.
Ya, Dia adalah pengganti calon imamku, Revan calon imamku yang seharusnya bersanding denganku, bukan dia, orang yang selama ini aku benci, Kaenan Arya Alfarizi.
Dia adalah kakak tertua dari kekasihku, Revan. Umur yang terpaut jauh, dan wajah yang begitu dingin, membuat dia terlihat menakutkan bagiku. Entah bagaimana ceritanya dia mau menggantikan Revan menjadi suamiku.
Sedih, tentu saja, mungkin jodoh yang Alloh berikan yang terbaik adalah Kaen,ya, mas Kaen atau mungkin bapak Kaen...hihihi. Lucu, membayangkan sebutan apa yang pantas untuknya.
Selepas acara ijab berlangsung aku di jemput bunda untuk keluar dari kamar, melihat laki-laki yang sekarang sah menjadi suamiku itu. Dengan langkah terpaksa dan senyum yang ku paksakan, aku berjalan bersama Bunda menemuinya.
Jantung ini benar-benar menyebalkan, mengapa tiba-tiba tidak beraturan seperti ada yang salah denganya. Ku duduk di samping Kaen, dan pengulu mengarahkanku untuk mencium punggung tangan suamiku. Kucium dan Kean membalasku dengan mencium keningku.
Selesai menyalami para tamu, aku bergegas masuk kamar tanpa mengajaknya. Rasanya penat dan lelah melandaku, ku rebahkan tubuhku yang masih dengan berpakaian pengantin ini, tiba-tiba mataku berat dan akhirnya ngantuk berat melanda. Sayup sayup ku dengar seseorang masuk kekamarku, dan ku paksakan membuka mataku.
Kulihat mas Kaen duduk di sofa kamarku, dan melepas kemeja serta aksesoris yang menempel ditubuhnya. Aku yang masih berpura-pura tidur, merasakan tubuhku di goyangkanya.
"Bangun! Kalau kau pura pura tidur, jangan salahkan aku yang akan menidurimu!" ucapnya.
Badanku langsung kaku, dan tanpa aba-aba langsung ku bergegas bangun dan berjalan ke kamar mandi dengan cepat.
"Bruukkkk, ... aaawww ...! pekik ku.
"s**l, kenapa aku harus menabrak pintu ini!" batinku
"Itu balasan kalau kau suka berpura-pura dan dengan sengaja membohongi suamimu!" omelnya.
Aku hanya melirik tanpa membalasnya. Rasanya aku marah sekaligus malu, kenapa dia berbicara seperti itu, tanpa memikirkan perasaanku. Hatiku perih, membayangkan pernikahan apa yang akan aku jalani kedepan mengingat Kaen yang kejam itu.