Dua hari setelah kejadian di kamar itu, Ambar maupun Tuan Father kembali bersikap seperti biasanya, tidak memperlihatkan sikap aneh ataupun yang lainnya. Sebenarnya sekretaris Al pun sudah tahu ceritanya, tetapi lengkapnya belum dia tanyakan lagi pada tuannya.
Karena setelah kejadian itu, Ambar yang biasanya bawel pun hanya diam saja. Fokus mengurus Tuan Father layaknya majikan dengan pengasuh biasa, membuat Al semakin khawatir dengan keduanya.
“Tuan, sebenarnya ada apa?” bisik sekretaris Al.
“Apa? Memangnya ada apa?” Tuan Father justru kembali bertanya.
“Ish, tidak perlu berpura-pura sama saya, Tuan. Cerita dong apa yang sudah terjadi di kamar waktu itu diantara kalian.”
“Oh, itu. Tidak ada yang terjadi. Hanya pertengkaran biasa, seperti biasanya kamu pun tahu itu, Al. Sudah, jangan dibahas. Sekarang, lebih baik kamu pikirkan bagaimana caranya supaya saya bisa lolos dari mama, tidak mau tahu, beliau jangan sampai datang ke sini!”
Sekretaris Al pun mengangguk, padahal tanpa sepengetahuan Tuan Father, dia sudah bersekongkol dengan kedua orang tuanya Father, untuk mengatur pertemuan dadakan itu. Al melakukan itu semua demi kebaikan tuannya juga, bukan karena ada niat buruk ataupun bersifat kejahatan.
Dia tahu, jika tuannya mengetahui semuanya, bisa habis dia, sekaligus gajinya melayang berbulan-bulan, hanya saja jika tidak seperti itu, tuannya tidak akan pernah mau diobati lagi kakinya, yang sebenarnya masih bisa disembuhkan kalau benar-benar ditangani tenaga medis di rumah sakit.
Sikap keras kepalanya yang tidak bisa terkalahkan, meskipun itu mamanya, tetap selalu gagal. Sebentar lagi mamanya akan segera datang, tanpa bilang-bilang terlebih dahulu pada Tuan Father.
“Al, kenapa? Chatting dengan siapa kamu? Beraninya pacaran di dekat saya,” cetus Tuan Father.
“Eh, bukan pacaran, Tuan. Jangan salah paham dulu.”
“Awas saja, harus saya dulu yang menikah! Kamu belakangan,” cetusnya lagi.
Ambar pun terkekeh mendengarnya, mereka berdua memang benar-benar makhluk yang sangat aneh, tetapi nyata. Bisa-bisanya urusan masa depan pun mereka sudah atur seperti itu, membuatnya tak menyangka masih ada manusia seperti itu.
“Heh! Kenapa kamu tertawa? Potong gaji kalau kamu berani menertawakan saya lagi!”
“Ya ampun, iya aku minta maaf, Tuan. Nggak sengaja ketawa kok,” sahut Ambar memohon maaf dengan terpaksa.
“Ya, kali ini saya maafkan.”
Ih, nyebelin banget, sih. Kenapa semenjak kejadian di kamar itu, domba nggak usil lagi, ya? Nggak asik lagi, jadi dingin banget sikapnya, apa aku ada salah? Tapi apa?
“Al, kamu lanjutkan pekerjaan yang diperintahkan papa saja, sana ... ke ruang kerja, biarkan si Ambar yang mengurus saya,” titah Tuan Father.
“Baik, Tuan, tapi mohon maaf nih, sebelum saya pergi, ada yang ingin saya bicarakan dulu pada Ambar, boleh?” tanya sekretaris Al.
“Ini bersangkutan dengan desa, Tuan,” lanjut Al lagi.
“Ya, silakan, jangan lama karena saya perlu bicara juga dengannya,” sahut Tuan Father.
Sekretaris Al pun mengangguk sembari mengajak Ambar berbicara di ruangan lain yang lebih aman, karena jika sampai terdengar oleh tuannya, bisa gagal total semua yang sudah direncanakan dari kemarin.
Ambar sendiri masih bingung kenapa Al seperti itu? Apa sebenarnya yang ingin dia bicarakan sampai mengajaknya ke ruangan belakang rumah itu, yang katanya kosong.
“Al, hei? Kenapa? Ada apa? Sepenting itu kah?”
“Neng, saya mau cerita sekaligus menjelaskan sesuatu yang memang sangat penting, sebelumnya janji dulu jangan panik apalagi bongkar semuanya pada tuan, oke?”
“Iya aku janji, memangnya ada apa, Al? Jangan buat aku khawatir atuh.”
Sekretaris Al pun menceritakan sekaligus menjelaskan semuanya yang sudah dia dan mamanya Tuan Father rencanakan dari kemarin, membuat Ambar mengerti apa yang harus dia lakukan nanti, tentu selain berjanji tidak akan membongkar semuanya, Ambar pun harus bisa berhasil membujuk tuannya itu.
“Gimana? Mengerti, Neng?”
“Mengerti, Al. Jangan gegabah dulu, boleh kah aku akrab sama mamanya?”
Kali ini, sekretaris Al sampai terbatuk-batuk karena mendengar seorang Ambar bertanya seperti itu padanya, pikirannya tentu mengarah ke arah seperti yang tidak seharusnya dia pikirkan.
“Ihhh, Al ... jangan mikir yang aneh-aneh, justru aku mau bantu si domba, eh maksudnya tuan Father, supaya dia mau berobat.”
“Aaaaa yakin tuh cuma itu saja? Hmm hmm, hati-hati naksir loh, Neng.”
“Apaan, sih, nggak akan naksir. Lagian dia ketuaan bagi aku yang masih muda ini. Usianya itu loh 34 tahun, nggak mau nikah sama aki-aki.”
“Alaah, si Neng mah jangan munafik. Kamu tahu? Ciuman pertamanya saja sama kamu loh, siapa tahu pertama dan terakhir ayey.”
Ambar dengan gemas pun menginjak kaki kirinya Al, bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu, mengerikan bahkan tidak ada dipikirannya sama sekali, mana mungkin dia bisa jatuh cinta pada domba badot, untuk menyukainya saja tidak akan mungkin terjadi apalagi mencintainya.
***
Setelah lama meninggalkan tuannya untuk berbicara dengan sekretaris Al, dengan gayanya so cool, Ambar pun datang lagi menghampiri tuannya itu di dekat ruang keluarga. Paling ditunggu-tunggu adalah mamanya si domba yang sebentar lagi akan datang.
“Lama sekali, ngapain saja dengannya?” tanya Tuan Father tanpa melirik orang yang dia tanya padahal sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.
“Nggak lama kok, sebentar aja, Tuan. Oh, iya? Katanya, Al mau selesaikan pekerjaan yang harus selesai hari ini, jadi tugas menyuapi Tuan dialihkan, tentunya sama aku.”
“Kalau begitu, ambilkan makanannya saja di dapur, jangan pakai gaya suapi segala, modus wanita.”
“Tuan, kok seperti itu? Aku hanya menjalankan tugas dan amanah aja kok, nggak modus.”
“Saya bilang apa tadi? Jangan pakai gaya suapi segala! Memangnya kamu pikir tangan saya lumpuh juga hah? Kedua tangan saya masih normal!”
Deg.
“Aku salah bicara, ya? Aku minta maaf, Tuan. Aku benar-benar nggak ada maksud untuk ....”
“Biarkan dia makan sendiri! Jangan repot-repot mengurusinya yang keras kepala seperti batu itu! Kasian kamu, dibebani seperti itu.”
Mendengar suara itu, membuat Tuan Father terkejut bukan main, mamanya datang? Siapa yang mengizinkannya untuk datang lalu masuk begitu saja tanpa izinnya. Karena sebelumnya dia sudah melarang keras sekretaris Al untuk mengizinkan siapapun masuk ke rumah pribadinya tanpa sebuah izin.
“Nyonya?” Ambar mengusahakan untuk tetap sopan dan membungkuk.
“Nggak usah seperti itu, Sayang. Saya bukan dia yang keras seperti batu, cukup senyum sudah lebih dari cukup untuk menghormati saya,” ucap wanita itu, yang masih terlihat sangat cantik walaupun sudah berumur.
Ambar pun tersenyum manis merasa aman, ternyata mamanya domba baik sekali tidak seperti domba yang galak, dia pikir mamanya domba akan lebih bertanduk, tahu-tahu lebih baik.
“Untuk apa ke sini? Bukannya sudah puas mengatur anak sampai lumpuh seperti ini!”
“Jaga ucapanmu, Father! Ini mamamu, wanita yang melahirkan kamu, jaga ucapan agar lebih sopan lagi!”
“Sopan? Sudah dari dulu saya lakukan, tetap saja selalu diatur ini dan itu, sudah hentikan, mau apa datang ke sini? Nyonya Banobe!” Tuan Father lebih ganas dari sebelumnya.
Ambar semakin bingung, kenapa mereka seperti bermusuhan? Dia yang tidak tahu apa-apa pun sedikit mundur, agar tak menghalangi anak dan ibunya bertengkar.
“Pelankan suaramu, jangan kamu membalikkan fakta, kamu yang selama ini membangkang! Disuruh jadi CEO menolak, diminta untuk menikah pun menolak hanya karena mempertahankan wanita rendahan itu! Putuskan hubunganmu dengan Seli!”
“Apa? Sudahlah, jika untuk membahas itu lagi, lebih baik pulang ... dan biarkan saya di sini sampai mati seorang diri,” cecar Tuan Father.
“Tuan, maaf, jangan kasar sama mamanya. Bagaimana pun juga dia ....”
“Heh, siapa yang minta kamu berpendapat? Tidak ada, kan? Pergi sana, jangan ikut campur urusan saya!” titah Tuan Father dengan nada membentak.
“Father hentikan! Cukup Mama yang kamu kasari, dia tidak bersalah sama sekali.”
“Ambar, pergi lah dulu. Saya harus menyelesaikan masalah ini, kamu jangan ikut campur,” bisik Tuan Father.
“Tapi, Tuan gimana?” bisik Ambar.
“Jangan pedulikan saya, Ambar, pergi lah ....”
“Hei, kenapa kalian jadi bisik-bisik, katakan, kalian membicarakan apa?” tanya mamanya domba.