“Aduh, mules banget. Aku kalau ke luar tanpa memakai pembalut bisa malu banget, terus gimana? Mana nggak ada sinyal untuk pesan online pun.”
Ambar celingukan mencari sesuatu yang sekiranya bisa dia pakai untuk menyembunyikan rasa malunya di hadapan tuannya, tetapi apa? Di dalam kamar mandi yang begitu luas, tak ada perlengkapan wanita sama sekali. Hampir setengah jam berdiam diri di kamar mandi, Ambar akhirnya memberanikan dirinya ke luar dan menghampiri tuannya lagi, Tuan Father pun meliriknya dengan sangat tajam.
Apa yang dia pikirkan? Toh, tuannya belum mengetahui apapun. Sedikit mendekat lalu duduk kembali di atas keset yang tadi dia bawa dari kamar mandi.
“Hei, kenapa kamu duduk di lantai? Mana pakai keset segala, duduk di sofa dong. Aneh-aneh saja tingkahmu, Ambar.”
“Nggak perlu, Tuan. Aku sadar diri kok, udah seharusnya dari awal duduknya di sini.”
“Oh, ayolah ... jangan buat saya darah tinggi, apa yang saya perintahkan harus kamu patuhi, duduklah dengan benar, sebelum saya marah padamu,” titah Tuan Father.
“Jangan, Tuan. Aku gapapa kok, he he di desa udah biasa kayak gini, bahkan pernah duduk di jerami,” ucap Ambar dengan senyumnya.
“Begitu, ya? Tapi, kalau kamu seperti ini. Saya terkesan jahat sekali, walaupun posisi kamu di rumah ini hanya seorang pengasuh, tetap saja kamu seorang wanita, masih manusia juga. Tidak seharusnya saya memperlakukan kamu dengan buruk,” katanya dengan tulus, Tuan Father sudah tak marah lagi pada Ambar.
“Tuan, sebenarnya ....”
“Kenapa, Ambar? Ayo, duduk yang benar.”
“Aku minta maaf, Tuan. Mengenai ucapan aku di desa waktu itu, malam yang sangat kejam untukmu, di saat aku dengan tega berbicara seperti itu, dan yang paling penting, maaf untuk kejadian kemarin, kursi roda nya jadi ....”
“Semuanya sudah saya lupakan, jangan khawatir.”
“Semudah itu, Tuan?”
“Maksudnya semudah itu Tuan memaafkan semua kesalahanku?”
“Memangnya mau terus bermusuhan dengan orang yang tinggal satu rumah denganmu? Santai, saya tidak sekejam itu.”
“Kenapa tiba-tiba baik? Ah, maksudnya kenapa jadi nggak nyebelin kayak biasanya, pasti lagi menyembunyikan kekecewaannya, lagi, kan?” tanya Ambar.
Tuan Father membuka buku nya lagi, seolah-olah dia tak ingin membahasnya kembali. Dia hanya ingin hidup tentram tanpa adanya masalah dengan siapapun juga, hidupnya sudah hancur selama ini, dia tidak mau membuat semuanya semakin berantakan.
Selain sudah benar-benar memaafkan Ambar dengan ikhlas, Tuan Father pun masih penasaran darah apa itu sebenarnya? Tidak mungkin jika Ambar sudah dia lecehkan, karena sudah jelas-jelas semalaman dia terjaga tak bisa tidur. Tuan Father sangat mengingat semuanya dengan jelas, jadi dia harus menanyakannya langsung pada orangnya.
“Ambar.”
“Tuan.”
Bahkan mereka sampai kompak seperti itu, sebagai laki-laki yang baik Tuan Father pun mempersilakan Ambar lebih dulu untuk berbicara.
“Tuan, aku boleh tanya sesuatu?”
“Tanya saja, ada apa? Masih lapar, kah?”
“Bukan itu, Tuan.”
“Terus apa? Cepat katakan, apa yang ingin kamu tanyakan.”
Ambar terlihat sangat aneh, dia bertingkah laku seperti orang salah tingkah, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, antara bingung dan penasaran tengah Ambar rasakan saat ini.
“Ambar, kenapa? Saya tidak mau dipermainkan seperti ini, langsung tanyakan saja.”
“Apa Tuan punya pembalut?”
“Hah? Maksudnya?” Tuan Father terkejut sekaligus menahan tawanya untuk tidak menertawakan dirinya sendiri, bisa-bisanya Tuan Father sempat menyangka bahwa Ambar tengah hamil.
“Jangan gitu juga ekspresi mukanya, aku serius. Ternyata darah tadi ... darah bulanan, bukan darah keperawanan. Maafkan aku mengenai itu, Tuan.”
“Ambil, ada di lemari sebelah kanan tidak jauh dari kulkas. Di dalam sana ada peralatan P3K, sekaligus yang kamu butuhkan sekarang,” titah Tuan Father.
Kedua mata Ambar melotot mendengarnya, bahkan di kamar tuannya tersedia pembalut juga? Siapa yang pakai? Maksudnya, untuk apa ada di rumahnya? Sedangkan tidak ada seorang wanita pun selain Ambar di sana, itupun dia datang belum lama.
“Jangan aneh-aneh deh pikirannya, saya tidak seperti yang kamu pikirkan, cepat ambil! Keset saya ternodai tuh,” cetusnya.
“Ihhh, kenapa Tuan tahu?!”
“Keset saya warnanya putih, lah itu? Semenjak diduduki olehmu berubah warna jadi merah ha ha.”
Ambar memanyunkan bibirnya, “Nyebelin! Ya udah, aku permisi mau pakai dulu!”
Namun, pada saat Ambar akan pergi ke arah yang sudah diarahkan, saat itu juga Tuan Father memanggilnya lagi, membuat Ambar pun kembali menoleh ke arahnya sembari bertanya-tanya ada apalagi.
“Kenapa lagi, Tuan?”
“Maaf, karena saya sudah mencium bibirmu.”
Deg.
Kenapa dia ungkit lagi, sih? Padahal aku udah melupakannya.
***
“Aahhh, enak banget alhamdulilah sekali. Nyaman banget deh bersayap. Ini rumah bagaikan surga kali, ya, bisa ada semuanya.”
Semenjak itulah keduanya tak lagi bertengkar seperti biasanya, sudah saling memaafkan kesalahan satu sama lainnya, walaupun masih sering iseng tetap saja Tuan Father lebih dewasa tidak terlalu ambil pusing dalam menghadapi tingkahnya Ambar.
Tidak terasa karena sudah dilalui dengan baik, pagi, siang, dan bahkan saat ini sudah sore akhirnya mereka berdua bisa terbebas juga dari dalam kamar. Pintu nya sudah terbuka, dan tidak lagi menyekap keduanya di dalam.
“Tuan, sekarang boleh ke kamarku, kan?”
“Ya, sekalian bawa stok pembalut nya ke kamarmu, supaya kamu tidak sembarangan masuk ke sini lagi, tanpa perintah saya jangan macam-macam,” titah Tuan Father.
Ambar membungkuk lalu tersenyum menatapnya dengan tulus, “Siap laksanakan, Tuan. Jangan lupa kalau butuh apa-apa, langsung tekan tombol yang ada di dinding aja, supaya aku bisa langsung ke sini,” ucapnya.
“Tidak perlu, malam ini saya benar-benar ingin sendiri. Sudah cukup semalam kamu meremasnya.”
“Eh, apaan? Meremas apa maksudnya? Aku nggak paham, nih, kali ini.”
Wajahnya berubah menjadi pucat setelah mendengar apa yang Tuan Father ucapkan padanya barusan, takutnya dia sudah melakukan hal-hal yang tidak senonoh semasa tidurnya.
“Meremas ... meremas guling saya lah, apa menurutmu? Hih, m***m sekali pikiran kamu, Ambar!”
“Idih, siapa yang seperti itu? Aku hanya bertanya, dasar. Yang jelas aku nggak pernah nakal dari kecil, dicium pun untuk pertama kalinya, itu pun olehmu, Tuan!”
“Alaaah, masa? Itu ayah dan ibumu bagaimana? Semasa kecil pasti pernah lah dicium mereka. Jadi, bukan saya doang.”
Ambar menjadi gedek tidak tertahankan lagi jika berlama-lama meladeninya walaupun sudah berbaikan, tetap saja seringkali memancingnya untuk bertanduk. Melihat kondisi tuannya yang seperti itu, dia mengurungkan niat untuk cek-cok lagi, Ambar pun dengan memanyunkan bibirnya langsung melangkah menuju ke luar kamar tersebut, tetapi langkahnya tertahan.
“Aaaaah, Tuan sakit! Lepas, ih!”
“Tuan, apaan, sih, lepasin, aku nggak kuat!”
“Heh! Lepasin apaan? Saya tidak melakukan apapun sama kamu!” teriak Tuan Father.
Ambar yang tadinya sudah sempat ingin pergi dari kamar tersebut, tiba-tiba tubuhnya seperti ada yang menahan, sudah tahu memang bahwa tuannya tidak mungkin melakukan apapun karena kondisinya sedang tidak baik-baik saja, lantas siapa yang saat ini menariknya? Ambar pun menoleh, ternyata ujung bajunya tersangkut di pintu.
“Tuan? Jadi, ini pintu? Aku pikir, Tuan.”
“Astaga! Bodoh! Dasar Gampar tidak jelas huhhhh, pergi sana ... menyebalkan!” Padahal Tuan Father ingin sekali tertawa terbahak-bahak hanya saja ditahan lagi.