“Tuan, apa yang sudah terjadi? Kenapa teriak-teriak lagi?” Sekretaris Al sampai lupa dengan dirinya sendiri di saat keadaan sudah seperti sekarang, bahkan Al lupa makan demi membantu apapun yang Tuan Father mau.
“Al, sini ... saya benar-benar butuh kamu.”
“Tuan, ada apa? Kenapa lagi? Terus saya lihat Ambar berlari ke luar begitu saja, kalian tidak perang, kan?” tanya sekretaris Al penuh dengan selidik.
Tuan Father menggeleng, justru saat ini kepalanya dia sandarkan tepat pada bahu sekretaris Al, melupakan jenis kelamin mereka jika sudah seperti ini. Al bahkan sangat baik sampai mengelus rambut Tuan Father lalu menenangkannya sudah seperti pasangan kekasih yang saling mencintai.
“Al, bertahun-tahun saya selalu menjaga wanita, kamu tahu, kan, saya selama berpacaran dengan Seli, belum pernah ngapa-ngapain.”
“Iya benar itu, karena setiap kalian bertemu pasti harus ada saya diantara kalian, sampai saya sendiri mati kutu.”
“Toh, walaupun kamu sering jadi kambing conge, saya tidak sedang melakukan apapun dengannya, jadi tidak rugi, kan? Saya benar-benar menjaganya, Al.”
“Tapi, saya lebih rugi lagi kalau Tuan yang selalu menjaganya tapi malah dirusak oleh laki-laki lain, rugilah Tuan.”
“Rugi dirinya, bukan saya. Untung saja belum menikah, jadi bisa dihempas jauh-jauh,” cicit Tuan Father yang saat ini tengah ndusel di dadanya Al.
“Tuan yang sabar, ya, ayo, move on, Tuan lebih dari sempurna, jangan pantang menyerah hanya karena satu sampah.”
“Saya selama ini berhubungan dengan sampah, ya, Al?” tanya Tuan Father polos.
“Iya lah, untung saja Tuan bisa terbebas.”
“Tapi, Al ... saya sudah seperti Seli.”
“Maksudnya gimana, Tuan?”
“Saya pernah ciuman bibir, Al.”
“Sama Seli, Tuan?!”
Sekretaris Al sontak langsung terkejut membuat mereka menjadi berhadapan dan saling bertatapan, banyak sekali yang harus diceritakan oleh Tuan Father pada sekretaris sekaligus sahabatnya itu, terutama mengenai Ambar.
“Bukan sama dia, tapi ....”
“Tapi? Ayolah, Tuan, jangan buat saya penasaran seperti ini, semua wanita di luar pun lama menunggu jadinya.”
“Dengan Ambar.”
“Hah? Tuan ciuman sama Ambar?!”
“Sssttt, mulut kamu ini ember, jangan keras-keras lah.”
“Ah, maaf banget, Tuan, saya refleks. Itu gimana kejadiannya? Coba ceritakan, dan ini akan menjadi rahasia kita, Tuan.”
Tuan Father pun tanpa rasa malu langsung menjelaskan kejadian di sawah waktu itu, memang tidak sengaja tetapi itu sama saja berciuman untuk pertama kalinya, Al sampai geleng-geleng dengarnya, apalagi di saat Tuan Father menceritakan kejadian tadi, hari ini, dan di tempat ini bersama Ambar.
“Ya ampun, Tuan, apa yang sudah Tuan lakukan? Dia sampai cium pipi Tuan duluan? Itu pun karena dipaksa, keterlaluan Tuan.”
“Saya tidak memaksa dia, Ih! Dia sendiri yang nyosor terus langsung pergi begitu saja tidak tanggung jawab.”
“Lah? Tuan yang keterlaluan, harusnya Tuan juga yang minta maaf, bila perlu tanggung jawab, huft, pasti sekarang Neng Ambar lagi sedih.”
“Yaaah, gimana dong, Al? Saya jadi merasa bersalah sama dia, ayo, cepat umumkan pada semua orang siapa saja yang lolos ke tahap 10 besar, nama-namanya nih di kertas ini, sekalian umumkan di internet dan sosial media juga.”
“Coba saya baca dulu, Tuan.”
“Wah? Tuan ... nama yang pertama kok bisa Neng Ambar? Bahkan tadi dia nomor urut terakhir loh,” cicit sekretaris Al.
“Hush, tidak usah dibahas, cepat lakukan apa yang saya katakan! Jangan pancing emosi saya, Al.”
Sekretaris Al manggut-manggut saja menuruti sebelum Tuan Father kembali menjadi singa, karena sedari tadi dirinya sudah berubah menjadi hello Kitty yang berbulu, berani-beraninya juga ndusel padanya sampai tidak merasa bersalah sama sekali, untung saja sekretaris Al normal, jadi tidak terpancing.
***
Malam harinya, semenjak kejadian tadi siang membuat Tuan Father tidak bisa tidur dengan nyenyak, selain kakinya sudah sering keram lagi, dirinya pun kepikiran dengan Ambar, bagaimana jika nanti dia menyebar gosip bahwa seorang Father itu m***m? Bagaimana jika seperti itu? Membuat Father semakin ketakutan sendiri di dalam kamar, karena malam ini sekretaris Al izin untuk pulang ke rumahnya yang lumayan jauh jaraknya dengan kediaman Tuan Father.
“Duh, gimana, ya? Saya harus apa? Hubungi nomornya? Aih, nanti harus apa coba, jangan ... jangan lakukan itu.”
Kepalanya terus gulang-guling ke kanan dan ke kiri, sampai dirinya sendiri pusing tujuh keliling, dengan ulahnya sendiri malam ini, kebingungan harus melakukan apa tanpa adanya sekretaris Al di sisinya.
Modal nekat, Tuan Father pun membuat akun fake, mengirim pesan pada Ambar melalui aplikasi biru berlambang F, dia bisa-bisanya juga menyamar sebagai wanita, siapa tahu dengan cara seperti itu bisa langsung dikonfirmasi lalu dibalas pesannya.
Belum lama, langsung dikonfirmasi bahkan sudah dibaca pesan yang dia kirimkan tadi, Tuan Father pernah berpacaran hampir 10 tahun tetapi rasanya pengalaman dia dalam cinta sangat minim, tengah malam seperti orang yang kehilangan urat malunya.
“Hallo, salam kenal, Nona, kamu cantik sekali photonya, pasti aslinya juga cantik banget.”
Ambar mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh dengan pesan itu, lebih tepatnya bukan isi pesannya, tetapi akun yang mengirim pesan tersebut, photonya orang Korea tetapi namanya nama orang Turki, benar-benar membingungkan.
“Ini orang fake atau gila, sih? Emang dia pikir aku nggak tahu apa kalau ini pasti akun gajelas.”
Ambar hanya membacanya tetapi tidak berniat untuk membalasnya sekali pun, benar-benar membuang waktunya, Ambar langsung tarik selimut lalu tidur tanpa memedulikan ponselnya lagi.
Berbeda dengan Tuan Father, sampai pukul dua belas malam masih melek mantengin ponsel dan akun sosial medianya, dia bingung kenapa sudah dibaca tetapi tidak dibalas sama sekali, akunnya pun sudah tidak aktif lagi.
“Kenapa kamu sombong sekali, apa hanya pesan dari laki-laki saja yang akan kamu balas hah? Rese, ahhhhh saya benar-benar kepikiran dia terus kalau begini ceritanya, cipok balik baru tahu rasa dia! Ambar ... tunggu pembalasan saya!”
Father memang sudah tak punya urat malu lagi semenjak lumpuh, dia teriak-teriak sendiri di dalam kamarnya, mengumpat berkali-kali padahal tidak ada artinya sama sekali bagi siapapun, tanpa Father sadari saat ini dia tengah khawatir pada Ambar, musuhnya yang sempat dia benci karena sudah menghina fisiknya.