Ciuman Kedua

1782 Kata
“Si-siapa, ya?” Ambar berpura-pura tidak tahu karena bagaimanapun dia bukan asli orang Jakarta, hanya ingin berjaga-jaga saja, siapa tahu memang benar seperti dugaannya, kalau wanita itu orang jahat. Jika memang orang jahat, Ambar harus ingat pesan orang tuanya sebelum dia pergi ke Jakarta waktu itu, jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal apalagi cuma sekali dua kali saja bertemunya, jika tidak jahat maka orang tersebut ada maksud terselubung entah apapun itu. Ibunya pun berpesan mau itu laki-laki ataupun perempuan, tetap sama saja harus berwaspada demi kebaikan diri sendiri selama hidup di kota metropolitan yang sangat terkenal kerasnya hidup di sana. “Ha ha, nggak usah gugup seperti itu, aku bukan peserta seperti kalian, kenalkan, namaku Seli, tunangannya yang punya acara sayembara gila ini,” ucap Seli dengan tampang sok cantiknya itu. Ambar hanya mengulas senyuman manisnya, karena untuk apa dia tahu siapa wanita itu? Toh, Ambar hanya gadis desa, tetapi apa katanya? Tunangan yang punya sayembara? Pantas saja waktu itu si domba bertengkar dengannya, jadi si perempuan kali ini yang selingkuh, itulah yang ada dipikiran Ambar saat ini. Seli tak bertanya-tanya lagi karena dia gagal menghasut Ambar. Rupanya Ambar yang lebih sulit untuk disuruh pergi dari sayembara tersebut, karena sebagian sudah pada pergi semenjak Seli memperkenalkan dirinya pada semua wanita yang ada. Ambar sepolos itu bukan karena apa-apa, niatnya hanya satu, mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal yang layak selama tinggal di Jakarta seorang diri, bukan ada niat lain seperti wanita-wanita itu. “Perhatian-perhatian, untuk semua yang sudah hadir, saya ucapkan terima kasih. Tentu saja yang datang pasti sudah membaca, kan, apa persyaratan yang terakhir? Jika sudah, silakan masuk ke ruangan sebelah kanan itu, ya, nanti di sana ada majikan kalian langsung, saya di sini hanya bertugas untuk mendata siapa saja yang sudah masuk ke dalam ruangan tersebut, dan tentunya mendata siapa saja peserta yang bertahan pada 10 besar,” ucap sekretaris Al yang saat ini memakai topi berwarna hitam, beserta maskernya. Entah kenapa, Ambar begitu pangling sampai tidak mengenalnya. Ambar yang ada pada urutan terakhir tentunya sangat gelisah, untung saja wanita yang bernama Seli sudah diusir satpam, entah apa alasannya, yang jelas sudah hengkang. Dari 50 wanita, Ambar lah urutan yang terakhir. Dia menunggu giliran sampai lelah, jangankan untuk bangkit pulang, minum saja tidak, kali ini rasa kantuknya menghadang, dia limbung tak tertahankan lagi, tetapi teriakan nomor peserta dirinya, membuat Ambar kembali bangun dari alam kantuknya itu. “Hah? Aku kah?” tunjuk Ambar pada dirinya sendiri. Di saat seseorang yang memakai topi itu mengiyakan, Ambar pun dengan semangat berjalan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, sekretaris Al tercengang melihatnya, kenapa ada Ambar? Tetapi dia tidak ingin menegurnya terlebih dahulu, biarkan Ambar tahu sendiri nanti. “Permisi, Tuan, aku peserta terakhir nomor urutan 50, semoga ....” Tuan Father maupun Ambar tercengang, terutama yang lebih terkejut adalah Father, kenapa bisa dia yang datang? Sengaja atau hanya kebetulan saja, karena memang dari awal acara sayembara tidak ada sedikit pun informasi siapa tuannya. “Ngapain kamu ke sini? Ke luar ... saya tolak kamu!” teriak Father. Ambar benar-benar merasa sangat bersalah, sebegitu bencinya Father padanya, sekadar melihat tanpa diseleksi dulu pun langsung ditolak begitu saja dengan nada bicara yang keras berbeda dengan sebelumnya. Father memalingkan wajahnya ke arah lain, dia malas jika harus disakiti lagi oleh seorang wanita yang dia kenal sebelumnya, cukup Seli saja yang bertubi-tubi menyakiti dirinya karena kondisinya saat ini. “Kamu benci banget sama aku, ya? Kok lama banget marahnya, aku benar-benar tulus minta maaf sama kamu, perkataan aku dulu emang salah, nggak seharusnya aku bilang gitu ke kamu, domba.” “Apa kamu bilang? Tulus? Itu apa domba segala dibawa-bawa, nama saya Father! Bukan nama hewan, tidak sopan!” “Ah, iya, maaf sekali lagi, aku nggak bermaksud kok, tapi kamu bisa maafin aku, kan?” tanya Ambar. “Tidak mau, saya masih baik sama kamu, pergi dari sini secara terhormat! Atau saya yang panggil satpam!” “Aku akan buktikan dengan cara menjadi pengasuh kamu, nggak akan ada kekecewaan lagi deh, suer.” “Ha ha, mimpi! Sudah sana pergi, saya tidak akan memilih kamu dalam ajang apapun, saya muak lihat wajah kamu,” bentak Father. “Al ... Al ... ke sini kamu! Usir dia, usir!” Sekretaris Al yang mendengar itu tentunya langsung panik dan langsung masuk ke dalam ruangan tersebut, menunduk merasa bersalah juga, kenapa dari sekian banyaknya wanita? Sampai tidak sadar ada nama Ambar di situ. “Iya, Tuan, kenapa? Ada apa, ya? Semua wanita di luar sudah menunggu pengumuman siapa saja yang masuk ke peringkat 10 besar,” ucap sekretaris Al. “Saya sudah mendapatkan nama-nama, siapa saja yang akan berada diposisi 10 besar, yang jelas bukan wanita ini! Usir dia! Jangan biarkan dia masuk lagi!” “Kamu gitu banget, sih? Aku udah jauh-jauh datang ke sini, ke Jakarta. Nyari kamu, minta maaf sama kamu, respon kamu seperti ini? Keterlaluan banget hiks,” ucap Ambar yang tiba-tiba saja menangis, dia bukannya bawa perasaan, hanya saja hatinya sangat sakit tidak dihargai. “Neng, ngapain atuh ke Jakarta? Saya teh benar-benar nggak tahu loh ada nama kamu didaftar, jangan ....” “Aku real pengen cari pekerjaan, susah banget, Al, apalagi aku bukan lulusan sarjana, jadi aaah gimana dong, bantu aku bujuk dia.” Tuan Father memang keras hatinya jika sudah terlanjur disakiti oleh wanita, siapapun itu yang menghina fisiknya, maka bersiaplah akan menjadi seseorang yang Father benci. “Tuan, bagaimana ini? Kasih kesempatan, ya, saya yakin banget Neng Ambar masih perawan sesuai yang kita cari,” ucap sekretaris Al mencoba untuk menolong Ambar. “Apa katamu? Kesempatan untuk dia? Untuk apa, Al? Untuk apa coba? Sudah jelas-jelas malam itu dia menghina keadaan saya, ngapain jadi pengasuh hmm? Ngapain?” Ambar hanya bisa menangis, kenapa bisa sepanjang ini urusannya? Padahal malam itu Ambar benar-benar tak sengaja mengatakan perkataan seperti itu, di luar kendali dirinya sendiri. “Lagian, saya ragu juga ah. Masa, sih, dia masih perawan hmm?” “Tuan, dia ....” “Gapapa, Al, percuma kamu bujuk dia. Nggak akan mempan, untuk kamu? Aku minta maaf sekali lagi karena perkataan aku malam itu benar-benar buruk, aku ditolak, kan? Aku pamit, semoga cepat sembuh, kakinya.” Namun, pada saat Ambar melangkah akan pergi, di saat itu juga Tuan Father berteriak memanggil namanya, membuat Al dan Ambar menoleh berbarengan ke arahnya. “Hehhhh! Gampar! Sini kamu,” teriak Tuan Father. “Al, kamu tinggalkan saya dengannya berdua, katakan pada semua wanita yang ada di luar, tunggu sebentar lagi,” ucap Tuan Father. “Baik, Tuan, permisi.” Ambar masih mematung di dekat pintu, tetapi pintunya pun sudah tertutup kembali oleh sekretaris Al tadi, antara maju dan tetap berdiam diri di dekat pintu, itu yang membuat Ambar bingung harus bagaimana. “Katanya, mau pekerjaan. Sinilah, tidak sopan banget di situ,” ucap Tuan Father. “Serius?” tanya Ambar. “Iya.” Ambar mendekat lagi, dia kembali tersenyum lalu menghapus air matanya secepat mungkin, dengan semangat yang menggebu-gebu, dia kembali berjuang. “Kamu masih perawan?” “Kenapa dari semua pertanyaan yang ada, harus itu dulu yang kamu tanyakan, hmm?” “Jawab saja, jangan berbelit-belit apalagi so akrab, ingat! Di sini saya majikan kamu.” Ambar gelagapan sendiri melihat atas dadanya Father yang ternyata tidak ditutup, kenapa dirinya baru sadar akan itu? Tiga kancing bajunya terbuka membuat Ambar susah payah meneguk salivanya. *** “Hei, kamu ini bagaimana, sih? Mau kerja apa tidak? Mau lolos ke tahap selanjutnya apa tidak?!” “Eh, iya, maaf napa. Sensi banget sama aku.” “Jawab, tolong jangan biarkan semua orang di luar menunggu lama, dan mulai sekarang panggil saya Tuan Father, bukan domba ataupun lainnya, saya juga paling benci dipanggil Bapak sama wanita, emangnya saya setua itu.” “Iya, iya, Tuan, saya masih perawan.” “Bisa kamu buktikan semua itu, Ambar?” “Kok kamu jadi kurang ajar, ya! Maksudnya apa?!’ “Kamu yang kurang ajar sama saya! Berani sekali kamu bentak saya!” “Buktikan seperti apa yang kamu maksud hah? Aku udah jujur, aku masih perawan! Emang kamu pikir aku wanita macam apa.” “Pikiran kamu kotor, Ambar. Jangan berpikir saya akan cek langsung, saya bukan laki-laki rendahan seperti itu.” “Ya, terus, gimana caranya aku membuktikan sama kamu, Tuan?” “Sama seperti wanita yang lainnya, coba goda saya, gimana coba caranya? Di situ akan terlihat, saya bisa membedakan, daripada harus cek ke dokter terus ... ahhh mendingan buruan! Saya tidak mau berbelit-belit.” “Aku nggak bisa, Tuan, menggoda? Memangnya aku mau bekerja gimana nantinya? Aku cuma mau jadi pengasuh sekaligus permohonan maaf dari aku aja kok.” Ini anak polos apa bodoh, sih! Jelas-jelas lah saya yakin dia masih perawan, dasar bodoh emang enak saya kerjain, ha ha. “Emangnya yang lain tadi, apa aja yang dicek? Maksudnya apa aja pembuktiannya?” tanya Ambar dengan serius. “Cium saya, dan ....” “Hah? Cium kamu? Gila itu gila!” “Alah, kamu sudah pernah merasakannya, jangan munafik!” “Itu, kan, karena ....” “Cium saya, Ambar! Cepat, atau saya yang akan usir kamu lagi!” “Nggak mau, Tuan, nggak mau.” “Kamu tega membiarkan saya yang merangkak ke situ? Saya tidak bisa berdiri, dan tidak bisa berjalan, jadi kamu lah yang duluan,” ucap Tuan Father menahan tawanya. Ambar nampak berpikir keras, pekerjaan macam apa ini? Kenapa seakan-akan dirinya akan menjadi beras kencur di pertigaan jalanan, apa dia harus melakukannya? Apa mungkin bisa? Saya yakin dia tidak akan mungkin melakukannya, toh saya yakin juga dia berbeda dengan yang lain, walaupun saya masih kesal dengannya. “Ada cara lain kah selain mencium, Tuan?” “Ada.” “Apa itu, Tuan?” “Tolong kembalikan keadaan saya seperti dulu, saya ingin berdiri dan bisa berjalan lagi, saya sangat ingin bisa menggapai kamu dari situ, bukan kamu yang mendekati saya dengan keadaan diri ini yang hanya bisa duduk tanpa bisa melakukan hal lain, bisa?” Air mata Ambar kembali menetes, entah kenapa dirinya jadi tersentuh, pasti sangat menyakitkan berada diposisi Father saat ini, dia pengusaha, sekaligus orang kaya raya, mana mungkin bisa tahan hanya berdiam diri saja di rumah sebesar itu, mana hanya duduk di kursi roda. “Kenapa kamu menangis? Saya tidak meminta kamu untuk meneteskan air mata, saya ....” Cup. Ambar mencium pipi Tuan Father lalu pergi melenggang dari ruangan tersebut, dia berlari karena sangat malu sudah melakukannya, demi tidak menyakiti hati Father terlalu banyak, hanya itu yang bisa Ambar lakukan, tak masalah jika dia akan dicap wanita buruk, tak masalah juga jika tak mendapat pekerjaan tersebut. “Kenapa dia melakukannya? Apa dia ... ahhhh! Dia sama seperti Seli! Aaaaah pusing! Al ... tolong ke sini!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN