“Aaaaaa, kenapa banyak sekali ini wanita yang harus saya seleksi. Gimana, ya? Bisa gila.”
Sekretaris Al mengotak-atik laptopnya dengan cepat, memberikan jalan pintas untuk pekerjaannya yang super gila itu, dia memang bingung harus bagaimana, tetapi otaknya sangat bisa diandalkan saat ini, memiliki ide yang benar-benar berlian untuk dicoba. Walaupun beresiko, hanya itu yang dapat sekretaris Al lakukan demi selesainya pekerjaan tersebut, sampai larut malam akhirnya selesai membuat pengumuman di internet, banyak sekali para wanita yang komplen dengan peraturan gila tersebut, harus perawan, asli dan jangan curang karena akan ada sangsi tegas jika berbuat seperti itu.
“Ha ha, kalau begini, kan, enak jadinya. Kalau saya buat ancaman seperti ini, pasti satu-persatu yang merasa sudah tidak perawan akan mundur dengan sendirinya, tanpa harus saya cek satu-satu juga.”
Tiba-tiba pada saat sekretaris Al hampir menyelesaikan semuanya, teriakan dari kamar tuannya berhasil membuat konsentrasi dirinya buyar, berlarian sampai ke dalam kamar tersebut dengan napas yang terengah-engah.
“Huft, selamat malam, Tuan, ada apa, ya? Kenapa teriak-teriak tengah malam?” tanya sekretaris Al.
“Al, coba lihat ke sini deh, ah bagaimana ini?” Tuan Father tengah meringis entah apa yang sedang dia alami malam ini.
Sekretaris Al dengan polos melihat langsung apa yang tengah Tuan Father perlihatkan, mulutnya menganga sampai ileran, walaupun sama-sama berjenis kelamin laki-laki, tetap saja sekretaris Al syok melihatnya.
“Waaaah, luar biasa.”
“Heh, tutup mulut kamu, ya! Saya harus gimana, ini? Kenapa jadi seperti ini!”
“Tuan, duh bagaimana cara saya menjelaskan, tapi itu duh.”
“Buruan, katakan apa yang harus saya lakukan, Al? Saya tidak mau seperti ini, masa perut saya jadi buncit? Mana d**a roti sobek saya coba? Kenapa jadi gini, aaaaa tidak mau,” rengek Tuan Father.
Sekretaris Al mengerti bagaimana perasaan tuannya itu, pasti sangat terpukul karena sudah hampir satu tahun lamanya dia lumpuh tanpa bisa beraktivitas seperti biasanya, sering berolahraga pada zamannya, tetapi sekarang sudah tidak bisa melakukannya.
Sekretaris Al dengan tulus mendekati tuannya, lalu mengelus pundaknya dengan memberikan support penuh pada tuannya itu, tetap saja Tuan Father menjerit-jerit dengan keadaan tubuhnya saat ini, berbeda dengan yang dulu.
“Al? Gimana ini? Ah, saya batalkan saja sayembara itu, saya tidak mau semua gadis melihat saya seperti ini.”
“Jangan Tuan, saya sudah bekerja keras untuk itu. Sebentar lagi kita akan tahu siapa, sih, gadis yang benar-benar tulus membantu Tuan, dan bisa menerima keadaan Tuan saat ini, percayakan semuanya sama saya,” ucap sekretaris Al.
“Benar begitu, Al? Gimana dong ini? Aaaa, saya insecure dengan semua ini, Al.”
“Saya yang insecure dengan tubuh Tuan, walaupun memang sedikit buncit, tetap saja gagah perkasa, beuh apalagi bulu-bulu yang ....”
“Ish, tangan kamu nakal sekali, Al. Saya masih normal heh, aaaa gimana dong? Tapi, nanti saya tetap bisa kembali gagah, kan?!”
“Bisa dong, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita tetap berusaha untuk bersyukur, Tuan. Percaya deh, Allah tidak tidur.”
“Allah?” tanya Tuan Father.
“Iya, Tuan.”
Tuan Father menunduk malu mendengar semua itu, jujur saja sudah bertahun-tahun lamanya dia melupakan kewajibannya sebagai umat muslim, dia terlalu sombong dengan karir hebatnya, dan juga dengan pencapaian dirinya selama ini, sampai tega meninggalkan Allah SWT yang sudah jelas-jelas tidak pernah meninggalkan dirinya dalam keadaan apapun juga.
“Tuan? Kenapa Tuan menangis? Ini mata saya yang rabun karena terlalu lama menatap laptop atau Tuan benar-benar sedang menangis, sih?” tanya sekretaris Al mengucek matanya.
“Saya benar-benar menangis, maaf, kalau selama ini sikap saya sering jahat sama kamu, Al, mari kita berdoa semoga perut saya kembali kotak-kotak seperti dulu.”
“Mari, Tuan, alfatihah.”
Tuan Father pun meggeplak kepala Al karena bisa-bisanya serius melakukan itu semua, dirinya sudah seperti mayat yang akan disalatkan karena terkena azab perut buncitnya. Al sendiri justru tidak marah, bahkan tetap tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi tuannya itu.
“Tuan, jangan menyerah, semangat. Pasti bisa sembuh kok, saya juga rindu jalan-jalan sama Tuan di pagi hari.”
“Saya pun rindu akan itu semua, Al, saya harus lebih semangat lagi untuk sembuh, besok secepatnya benar-benar seleksi 10 orang oke? Nanti jika berhasil dengan hasil yang memuaskan, saya naikan gaji kamu tiga kali lipat.”
“Wahh, beneran, Tuan? Sampai dinaikan tiga kali lipat?” Kedua mata sekretaris Al sampai berbinar-binar.
“Tentu benar dong, kapan, sih, saya main-main dengan ucapan saya.”
“Yes, alhamdulilah terima kasih, Tuan. Jangan khawatir, malam ini akan saya pastikan besok langsung ada 10 orang tanpa harus kita tes satu-satu di rumah sakit,” ucap sekretaris Al.
“Baiklah, saya tunggu kabar baiknya, Al.”
“Tapi, ini serius untuk dijadikan pengasuh doang, Tuan?” tanya sekretaris Al yang sudah bersiap untuk pergi sebelum ditimpuk bantal oleh Tuan Father.
“Al ... kauuuuuuuu!”
“Aaaaa ampun, Tuan, ampun.”
Tuan Father pun terkekeh melihat sekretaris Al terbirit-b***t pergi dari kamarnya bahkan sempat terpentok tembok juga tadi, benar-benar lelucon di malam hari membuat Father jauh lebih baik dari sebelumnya.
***
Keesokan harinya, Ambar dengan semangat bersiap untuk datang ke tempat yang sudah disebutkan pada pengumuman semalam, dia percaya diri sekali karena dirinya masih perawan, jangankan perawan, dia masih murni, hanya saja bibirnya yang menjijikkan sudah pernah dijamaah oleh domba liar yang entah mengapa dia sangat merindukan sosok domba itu.
“Semoga si domba cepat-cepat baik lagi, entah di mana dia tinggal, yang penting aku masih setia menunggu maaf darinya, aku tulus banget minta maaf.”
Ambar memesan taxi kali ini, karena dia tak ingin terlambat pada ajang sayembara 10 besar itu, tanpa dicek terlebih dahulu pun dia sudah pasti masih perawan, sangat antusias karena gajinya besar tanpa harus bekerja capek-capek di kota Jakarta yang terkenal keras akan pekerjaan.
“Wah, ini rumahnya? Ini rumah atau istana, mewah banget dah.”
Sudah banyak wanita yang datang lebih dulu darinya, membuat Ambar insecure dengan penampilan wanita-wanita itu, sangat berbeda sekali dengan dirinya yang hanya gadis desa.
Melangkah dengan membaca basmalah, lalu duduk dengan santai diantara para wanita itu, bukannya dipersyaratan harus kalem dan tidak boleh menor, ya? Kenapa mereka menor sekali seperti akan pergi ke kondangan jika di desa.
“Itu mereka nggak salah dandan, kan? Aku aja seperti ini loh, selain aku pengen diterima kerja, penampilan aku emang seperti ini.”
“Hai, kamu siapa namanya? Kenalkan, namaku Seli,” sapa seorang wanita yang penampilannya mewah sekali, tidak seperti orang yang sedang melamar pekerjaan.
Menatap wanita itu, Ambar kembali mengingat lagi, bukannya wanita itu yang waktu itu bertengkar dengan domba? Kenapa bisa bertemu lagi dengannya, Ambar sampai menganga lebar melihatnya.