“Mau sampai kapan saling diam seperti ini? Saya sebagai penengah hanya bisa ikut diam juga loh,” cicit sekretaris Al membuyarkan rasa canggung diantara mereka.
Ambar sendiri yang meminta ingin berbicara di ruang televisi saja, karena alasannya agar ramai, walaupun itu karena berisiknya suara dari televisi, yang terpenting jangan di tempat sepi, entahlah, mengapa Ambar mempunyai pemikiran seperti itu.
Awalnya Tuan Father tidak mau diatur seperti itu, dia berpikir memangnya siapa yang boss? Dan siapa yang cuma pengasuh, hanya saja keegoisannya diundur terlebih dahulu sebelum dia sendiri tahu apa yang sebenarnya ingin Ambar lakukan dan katakan kepadanya.
“Ayolah, kenapa kamu diam saja? Apa yang ingin kamu sampaikan pada saya?” tanya Tuan Father pada akhirnya memulai pembicaraan.
“Al, bisa tinggalkan kita berdua, kan? Ada yang ingin aku sampaikan secara pribadi dengannya,” ucap Ambar.
“Loh, memangnya kenapa jika Al berada di sini? Dan ada hak apa kamu memerintah dirinya? Harusnya saya, yang berhak mengaturnya,” cicit Tuan Father.
“Tuan, sebaiknya menurut saja padanya untuk saat ini, siapa tahu ada yang ingin dia sampaikan secara hmm bagaimana bicaranya, ya, secara rahasia intinya, Tuan.”
Tuan Father menatap ke arah Ambar lalu bergantian menatap ke arah sekretaris Al, mereka terlihat sangat kompak saat ini, tentu membuat perasaan Tuan Father tidak begitu tenang, jangan sampai dirinya yang akan kena jebakan, takut-takut hal itu akan terjadi padanya, karena bagaimanapun juga, Tuan Father masih mencurigai sosok Ambar.
Namun, jika dia tidak menuruti kemauan yang Ambar inginkan, maka dia tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya akan terjadi, maka dari itu Tuan Father pun lebih memilih berpura-pura tidak tahu apa-apa dulu, polos dan menurut saja.
“Baik, kalau begitu, kamu tunggu di ruangan lain, biarkan dia berbicara sesuai keinginannya,” ucap Tuan Father.
Setelah sekretaris Al pergi, Ambar pun berjongkok sambil menatap tuannya itu dengan wajah yang memelas, tak tahu sebenarnya itu salah atau tidak, hanya saja Ambar tidak mempunyai cara lain lagi untuk membalas dendam pada domba berbulu itu yang sudah berani-beraninya membuat seorang Ambar menciumnya terlebih dahulu, tangan Ambar tak diam saja saat ini.
“Hei, apa yang ingin kamu lakukan? Berdiri! Untuk apa kamu berjongkok seperti itu,” cecar Tuan Father.
“Gapapa, domba, eh maksudnya Tuan, aku cuma mau minta maaf aja kok, dengan cara seperti ini, kita bisa sejajar, iya, kan? Kalau memang iya Tuan belum bisa berdiri lagi, setidaknya aku bisa berjongkok seperti ini, supaya kita tetap sama.”
“Saya tidak mengerti apa maksud kamu, yang jelas saya tidak suka jika berurusan dengan orang seperti kamu, berbelit-belit! Katakan, apa yang kamu mau?”
“Nggak ada yang aku mau, dari tadi aku cuma mau minta maaf aja nggak lebih,” ucap Ambar menahan tawanya.
“Ohhh, begitu. Lalu? Ngapain masih jongkok? Lebih baik kamu duduklah, itu akan jauh lebih baik,” titah Tuan Father.
Ambar pun mengangguk dan menurut, tetapi dia sudah berhasil menjalankan tugasnya sedari tadi pada saat Tuan Father hanya fokus pada dirinya, entahlah sampai kapan dia akan tak sadar akan semua itu, yang jelas Ambar sudah tak sabar menanti momen tersebut.
Mereka hanya berbincang mengenai kontrak kerja saja, selama Tuan Father masih sakit, Ambar akan tetap menjadi pengasuh khususnya, tinggal bersama dan tetap menjalankan kehidupan seperti biasanya, layaknya kehidupan Ambar selama di desa dulu, bedanya tempat tinggalnya sekarang di Jakarta, hanya kebiasaannya saja yang akan tetap sama.
“Loh, kenapa berhenti? Cepat, tanda tangani semuanya dengan cepat, saya mau istirahat ini, buruan.”
“Sabar, Tuan, aku lagi baca dulu sebelum tanda tangan, takutnya ada ranjau-ranjau menakutkan, nanti aku sendiri yang akan menyesal.”
“Apa maksudmu? Jangan kepedean deh,” ucap Tuan Father.
Benar saja, pada saat Ambar membaca halaman terakhir di sana tertulis pihak B harus mau menuruti perintah pihak A, selama bekerja jangan sampai ketahuan mempunyai pasangan di luaran sana, setidaknya sampai kontrak selesai, bagi Ambar itu semua aneh, pekerjaan manapun tidak ada yang melarang seperti itu, apalagi berhubungan dengan urusan pribadi.
“Lah? Ini apaan, domba? Kenapa kamu ....”
“Bukannya kamu sudah membacanya, jangan ada kata domba diantara kita lagi, panggil saya dengan panggilan sesopan mungkin! Ingat itu? Ingatlah!”
“Galak banget, sih, biasa aja kali. Pokoknya aku nggak mau peraturan yang terakhir, memangnya kamu siapa? Ngatur segitunya,” cetus Ambar.
Ambar bangkit dari tempat duduknya, lalu dia berkacak pinggang di hadapan Tuan Father tanpa mempedulikan apa itu yang namanya kesopanan terhadap atasan, hanya karena peraturan tersebut membuat Ambar lupa akan arti pentingnya kesopanan itu seperti apa.
Namun, pada saat Tuan Father akan membalikkan kursi rodanya untuk pergi meninggalkan Ambar yang cerewetnya minta ampun, saat itu juga rencana yang sedari tadi sudah Ambar lakukan baru disadari.
“Aihh, kenapa roda ini tidak bisa berfungsi, kenapa tidak bisa putar balik? Aduh, Al ... tolong, cepat ke sini,” teriak Tuan Father yang sangat kewalahan.
***
“Ha ha, kasian banget, sih, kamu. Nggak bisa, ya? Susah banget, ya?”
“Apa yang kamu tertawakan, Ambar?!”
Ambar mendekat lalu cekikikan menunjuk ke arah roda tersebut, dengan kedua mata yang melongo, Tuan Father pun langsung menarik kedua tangan Ambar sampai tidak sengaja menjadi duduk di pangkuannya saat ini, kedua mata mereka saling bertatapan, degup jantung keduanya pun tak ingin kalah, kali ini keduanya sama-sama merasakan hal yang sama.
“Katakan, apa ini semua ulahmu? Hmm?”
“Lepaskan aku, jangan c***l sama aku lagi! Aku nggak mau!”
“Aku bilang tolong lepaskan, apa dengan posisi seperti ini nggak membuat kamu kesakitan, domba? Ayolah, lepas ....”
“Jawab saya dulu, apa yang sebenarnya kamu inginkan hmm? Apa ini disengaja olehmu? Kapan kamu melakukannya? Sampai-sampai saya tidak menyadari sebelumnya, hebat sekali kamu rubah!”
“Aku bukan rubah, lepaskan aku, sakit tangan ini sakit, lepas domba.”
Tuan Father tak mau melepaskannya, sebelum mulut Ambar sendiri yang menjawab apa sebenarnya yang dia inginkan padanya, bukannya Ambar sebelumnya sudah meminta maaf? Kenapa pada saat Tuan Father akan memaafkannya, justru Ambar kembali membuatnya terluka seperti sekarang ini.
Bukan keterlaluan karena masalah roda yang dibuat rusak oleh Ambar secara tidak diketahui, hanya saja ... Tuan Father merasa tindakan Ambar kali ini sungguh menyakitkan, seolah-olah benar-benar merendahkan kondisi dirinya pada saat ini, lumpuh dan tak berdaya, sekadar untuk berdiri pun tak mampu.
“Domba, kenapa kamu menangis? Aku yang seharusnya nangis, karena kedua tanganku sakit kamu tekan seperti ini, ayolah, apa kamu nggak berat diduduki olehku.”
“Katakanlah, apa maumu?”
“Maksudnya apa? Mauku itu ... ayolah, lepaskan tanganku, domba, lepaskan.”
“Apa maumu itu hanya untuk merendahkan kondisi seseorang yang buruk seperti saya? Apa kamu selalu bahagia jika melihat orang lain menderita? Hmm? Katakan, jika benar ... kamu tidak perlu menjadi pengasuh saya.”
Ambar menatap kedua mata laki-laki itu, air matanya mengalir terus sampai membasahi brewok dombanya, untuk pertama kalinya juga dia melihat langsung seorang laki-laki menangis, apa dia salah lagi kali ini? Niatnya hanya balas dendam dengan bercanda, kenapa hasilnya tetap salah.
“Katakanlah, apa maumu, Ambar?!”