“Aku ... aku nggak mau apa-apa, sih, cuma ....”
Tuan Father merengkuh tubuh wanita itu dengan kasar lalu meremas rambutnya, dan menciumnya dengan beringas, tak ada ampun dari Father untuk saat ini, yang dia mau adalah membuktikan pada Ambar, bahwa laki-laki lumpuh tak berguna sepertinya pun masih bisa memuaskan mangsanya. Memang, ini untuk pertama kalinya Tuan Father bersikap keterlaluan kepada wanita, tetapi nasi sudah menjadi bubur, hasrat dan amarahnya telah menyatu.
Awalnya memang Ambar tak membalas perlakuannya, bahkan sekuat tenaga dia berusaha untuk bisa lolos dari Father, hanya saja tenaganya tidak bisa mengalahkan cengkraman tangan besar laki-laki itu. Ciuman panas kali ini terus mereka lakukan, walaupun tidak bisa melakukannya, Tuan Father bersikeras untuk menuntaskan amarahnya saat itu juga.
Cukup lama, sampai dia sendiri yang melepas cengkraman tersebut, Ambar terdiam sejenak lalu memukuli d**a berbulu itu dengan amarahnya, dia sudah dilecehkan habis-habisan, ya, walaupun itu hanya bibir, tetap saja bagi Ambar sudah kelewatan dan bahkan keterlaluan.
“Apa yang kamu lakukan hah? Apa ini yang namanya pekerjaan bergaji mahal itu? Jika iya, aku akan mengundurkan diri saat ini juga!” teriak Ambar.
“Diam, atau saya cium lagi!”
“Turun? Tubuhmu berat bagaikan gentong yang besar itu, menyingkir lah ... sebelum saya melakukannya lagi, bahkan lebih dari itu,” cecar Tuan Father.
Ambar bangkit dan kembali menjauh dari laki-laki itu, dia sudah dipermalukan kali ini, padahal sebelumnya Ambar merasa bersalah karena tadi Tuan Father sempat menangis, tahu-tahunya sekarang dia yang dibuat ingin sekali menangis tetapi sekuat tenaga Ambar tahan.
Mungkin kejadian di sawah pada waktu itu masih bisa termaafkan karena tidak disengaja sama sekali, tetapi kali ini? Sengaja dan tidak bisa dibiarkan begitu saja, mengenai mengundurkan diri itu tidak mungkin Ambar lakukan, karena benar-benar sangat membutuhkan uang untuk bisa hidup di Jakarta, terutama untuk ongkos pulang nantinya ke desa.
“Saya tunggu hari ini juga, kalau memang kamu mau mengundurkan diri,” ucap Tuan Father tanpa menoleh sedikit pun.
“Nggak akan! Kalau aku pergi gitu aja, yang ada kamu tuh menang! Dan aku kalah, nggak mau. Di mana kamarku? Aku akan mandi!”
“Kalian sudah selesai? Lama sekali, maaf, Tuan, tadi saya ketiduran.”
Sekretaris Al datang terlambat, andai saja dari tadi, mungkin nasib Ambar tidak akan seperti tadi, nasi benar-benar sudah menjadi bubur, mau bagaimanapun tetap terlambat. Melihat tuannya dan Ambar saling diam satu sama lain seperti itu, membuat Al yakin pasti sudah ada yang terjadi di saat dirinya tertidur tadi.
Mana mungkin akan baik-baik saja, sebelum hari ini pun kedua manusia itu selalu membuat sekretaris Al pusing tujuh samudera jika sudah cek-cok seperti domba dan angsa.
“Tuan, apa Tuan baik-baik saja?”
Tuan Father dengan kedua matanya yang tajam memperlihatkan dengan kode mata, apa yang sudah Ambar perbuat pada kursi rodanya, tentu melihat itu semua sekretaris Al langsung menatap Ambar untuk meminta penjelasan yang sejelas mungkin apa maksud dari semua itu.
“Al, kamu percaya, kan, sama aku? Beneran deh maksudku cuma bercanda doang, tapi dia ... anggap serius, aku mohon bela aku.”
“Tapi, Neng soalnya ....”
“Al, bantu saya ke kamar, biarkan kursi roda ini, buang saja ke manapun itu yang penting buang! Saya muak dengan semua ini,” titah Tuan Father.
Di saat Ambar akan membantu, di saat itu juga sekretaris Al menggeleng menandakan jangan lakukan itu, menunggu Tuan Father diantar ke kamar terlebih dahulu, susah payah Al menggendongnya, setelah itu barulah dia menghampiri Ambar kembali di ruangan yang sama.
“Neng, aduh kamu kenapa rusakin rodanya? Kamu tidak tahu, sih, kenapa Tuan begitu menyayangi kursi roda tersebut, bisa saja dia membeli ratusan kursi roda bahkan seluruh toko nya pun bisa saja dia beli, tapi asal kamu tahu, karena kamu lah yang sudah memperbaiki rodanya dulu, membuat Tuan tidak mau kursi roda yang lainnya, apa kamu mengerti?”
“Lupa? Itu loh waktu kalian kecebur ke sawah, saat itu rusak, kan, lalu kamu perbaiki? Nah, itu alasannya kenapa sekarang Tuan Father sangat marah.”
Ambar mematung sedari tadi, dia benar-benar tidak menyangka itu semua, tetapi mendengarkan sekretaris Al yang berbicara dengan lantang, mana mungkin bohong? Jika memang semua itu nyata, maka Ambar semakin bersalah pada tuannya, sudah tidak sopan, ditambah Ambar tidak menghargai ketulusan laki-laki itu.
“Kenapa diam? Buruan minta maaf, sebelum kamu menyesal, Neng.”
“Terus aku harus gimana sekarang? Apa aku harus masuk ke kamarnya? Apa itu baik untuk aku?” tanya Ambar.
“Gapapa, kamu aman. Tuan tidak jahat kok, sebenarnya dia orang yang baik, jangan takut toh niat kamu untuk meminta maaf, saya jagain dari luar pintu oke? Ayo, sebelum terlambat.”
“Beneran kamu jagain di luar, Al? Jangan ketiduran seperti tadi.”
“Tidak akan, memangnya apa yang sudah terjadi pada saat saya ketiduran, Neng?”
Ambar tak menjawab, yang dia lakukan adalah memberanikan diri untuk masuk ke dalam sana, bisa saja terjadi sesuatu yang lebih dari tadi, tetapi sebelum menyesal, Ambar pun tetap berani melakukan apa yang sekretaris Al katakan padanya.
***
Sengaja sekaligus jahil, sekretaris Al mengunci pintu kamar tersebut dari luar, untung saja dia masih menyimpan kunci cadangan kamar tuannya, untuk memperbaiki hubungan kedua manusia itu, ya, sudah seharusnya begitu.
“Tuan, maaf, aku datang untuk meminta maaf, kalau nggak boleh masuk aku bisa ....”
“Untuk apa? Untuk apa datang ke sini? Kamu tidak tahu jadwal atau pelupa? Bukannya tadi sudah kamu tandatangani semuanya? Dan kamu baca dari awal, kenapa masih melakukan kesalahan.”
“Jadwal masuk ke kamar ini memang bukan sekarang, aku tahu itu, cuma niat untuk meminta maaf kok, soalnya apa yang udah aku lakukan pada kursi roda itu, nggak seharusnya dilakukan, aku minta maaf, Tuan.”
Tuan Father masih malas menatapnya, dia sengaja memejamkan kedua matanya meskipun tidak sedang tidur, jangan sampai dirinya melakukan hal yang tidak baik lagi seperti tadi pada Ambar, hanya karena emosi sesaat.
Penuh keberanian, Ambar duduk di lantai dekat ranjang itu, dia tidak berani duduk di ranjang empuk itu, takut-takut kesalahannya semakin banyak, bagaimanapun dia sudah menyetujui pekerjaan tersebut dengan materai.
“Tuan, apa Tuan sangat membenciku? Sampai nggak mau melihat aku, Tuan ... maaf untuk semua kesalahanku, apapun itu bentuk kesalahannya, maaf.”
“Saya terima maaf kamu.”
“Beneran dimaafkan gitu aja? Tuan, buka dulu matanya, aku belum tenang.”
Tuan Father pun membuka kedua matanya dan menatap ke arah wanita itu, tatapan tajam yang menakutkan sudah tiada, Ambar kasihan sekali pada Tuan Father, bahkan tatapannya saat ini seperti orang yang sudah lelah, entah lelah dalam hal apa, Ambar tahu itu tatapan lelah.
“Sudah puas, kan? Pergi!”
“Tapi, Tuan ....”
“Pergi ... mulailah bekerja besok pagi, pergi dari sini, dan jangan ganggu saya.”
“Baik, kalau begitu terima kasih, dom ... Tuan Father maksudnya, udah memaafkan aku, permisi.”
Ambar dengan tatapannya yang masih tertuju pada Tuan Father pun sangat merasa bersalah, mulai saat ini dia akan bersikap lebih baik lagi, tidak ada kejahilan ataupun peperangan seperti tadi.
Pintu tersebut sulit sekali dibuka, Ambar sudah sekuat tenaga membukanya, tetapi nyatanya tidak bisa dibuka juga. Melihat Ambar kesulitan, membuat Tuan Father kembali kasihan, pada saat dirinya akan memberikan sebuah remote untuk membuka pintu secara otomatis tanpa kunci, saat itu juga Tuan Father kembali mengantongi remote nya, biarkan saja Ambar mendapatkan balasan yang setimpal.
“Tuan, kenapa pintunya nggak bisa dibuka? Duh gimana dong, Al ... kamu masih di luar? Bukain dong, Al, aku nggak bisa ke luar,” teriak Ambar.
“Oh, jadi niat kamu datang ke sini untuk meminta maaf hanya karena rekomendasi dari Al? Bagus, ya, kalian bekerja sama seperti itu di belakang saya.”
“Bukan, Tuan, bukan seperti itu maksudnya, siapa tahu ada Al di luar, tolong ... bantu aku, Tuan.”
“Lah? Bagaimana bisa saya membantu kamu? Bukannya kamu sendiri yang terus-menerus menyepelekan orang lumpuh seperti saya, untuk apa meminta tolong seperti itu.”
Ambar kembali mendekati Tuan Father dengan wajahnya yang memelas, dia benar-benar ingin ke luar karena jika semakin lama berduaan, semakin takut juga akan ada yang terjadi lagi seperti tadi.
“Saya bisa saja kasih jalan pintas, tapi sayangnya, sekarang sudah termasuk jam tidur siang, maaf, ya, saya tidur dulu, jangan ganggu.”
“Loh? Kok gitu? Terus aku gimana, Tuan? Aku pengen ke luar, aku harus mandi, aku harus ....”
“Diam! Atau saya cium lagi!”