Celana Dalam Tertukar

1027 Kata
“Apaan, sih, jangan kepedean kamu brewok!” cetus Ambar lalu membuang muka ke arah lain. Setelah ibunya benar-benar sudah masuk ke dalam rumah lagi, Father pun mendekati Ambar dengan gemetaran, berusaha untuk menggerakkan kursi rodanya sendiri. “Eh, kamu ngapain? Dibilangin udah diem di situ,” ucap Ambar. “Saya kedinginan, hih. Biasanya diam di ruangan ber-AC pun kuat, tapi ini aneh sekali sangat dingin.” “Nah, itu namanya kampungan. Masa cuma dengan suasana pedesaan aja sampai kedinginan gitu.” “Heh, kalau punya mulut itu dijaga, jangan nyablak kayak gitu terus. Lulusan apa, sih? S1? Di mana? Fakultas apa hah?” Father menantang seorang Ambar yang tak bisa diremehkan begitu saja. “Apa kamu bilang? Dengar, ya, walaupun aku bukan lulusan sarjana seperti kamu dan orang kaya lainnya, setidaknya aku punya skill dalam bidang yang aku tekuni di sekolah dulu, jaga tuh mulut nyinyir!” pekik Ambar. “Yang ada kamu tuh jaga mulut nyablak, tidak pernah mengenyam pendidikan itu mulut, bau!” celetuk Father, yang tak ingin kalah. Ambar menghela napasnya kemudian berusaha untuk tetap tersenyum, karena bagaimanapun tamu adalah raja, yang harus tetap dihormati, lebih tepatnya tamu yang tidak diundang. Entah itu semua mimpi atau nyata, yang jelas Ambar benar-benar ingin mati saja, daripada harus terus meladeni laki-laki singa berkedok domba. “Lama banget, sih, sudah tidak kuat lagi di sini, banyak nyamuk ... mana banyak onyet pula.” Ambar tahu, Father pasti meledeknya lagi, tetap tak peduli akan itu semua. Mana yang katanya asisten mau jemput? Alah, paling-paling itu hanya sandiwara si brewok, pikir Ambar. “Eh, kamu ... kamu siapa namanya? Gambar? Eh tampar?” Father sengaja mempermainkan nama tersebut. “Ambar! Nama aku A M B A R, dibaca Ambar, kalau nggak fasih, jangan kebanyakan makan keju deh, ganti tuh makanan jadi jengkol,” cetus Ambar berkacak pinggang. “Apa itu jengkol? Makanan seafood? McDonald's? Atau ... sejenis stik?” tanya Father. “Lebih enak dari itu! Orang kaya yang sombong seperti kamu, nggak akan suka, jadi nggak usah so ingin tahu,” jawab Ambar. Baru saja Father akan menjawab dengan ledekkan lagi, tetapi kedatangan sekretaris Al membuyarkan semuanya, dengan cepat Al pun mengambil alih kursi roda Tuan Father untuk segera didorong sampai ke tempat tujuan, rumahnya Al. “Kamu dari mana saja? Saya sudah menunggu kamu sangat lama, gimana, sih, mau saya potong gaji hah?!” cetus Father lagi. “Maaf, Tuan, tadi saya menyelesaikan urusan terlebih dahulu dan ini menyangkut orang tua saya, maaf sekali lagi saya terlambat, bahkan sudah lalai menjaga Tuan,” ucap sekretaris Al. “Halahh, alasan kamu saja, buruan dorong kursi roda saya! Kita pergi dari sini sekarang juga,” titah Father. “Baik, Tuan, Neng Ambar ... saya ucapkan terima kasih untuk semua kebaikannya, ya, salam untuk orang tua kamu, permisi,” pamit sekretaris Al tersenyum lalu mendorong kursi roda majikannya itu. “Iya sama-sama, Al. Ihhh, nyebelin banget, sih, masa yang bilang terima kasih harus si Al, kenapa dia langsung pergi gitu aja coba! Nggak sopan!” cicit Ambar, mengutuk laki-laki itu dengan kesal. Ambar berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan laki-laki itu, brewok domba, tidak tahu terima kasih sama sekali padahal sudah ditolong. *** “Neng, kamu lagi ngapain? Siap belum?” “Ini masih prepare, Bu. Kalau gitu Ibu duluan aja, ya, Neng masih lama nih.” Kemudian orang tuanya pun berangkat lebih dulu, sedangkan yang dilakukan oleh Ambar saat ini adalah mencari sesuatu yang tiba-tiba hilang di tempatnya, bertahun-tahun dia menyimpan di satu tempat, belum pernah hilang dan baru kejadian hari ini. “Aneh banget, di mana, ya? Perasaan aku masih simpan di sini, belum pernah aku pindahkan. Ke mana dong, masa hilang begitu aja.” Ambar terus mencari di sekitar kamarnya, setelah merasa tidak ada di kamar barang yang dia cari, dia mencari ke sekitar rumahnya. Di mana-mana tidak ada, mencari ke luar rumah pun hasilnya tetap sama, nihil. “Permisi, saya menganggu tidak?” “Al? Ngapain? Pagi-pagi ke sini tumben banget,” sahut Ambar. “Jadi seperti ini, Ambar. Saya diperintahkan untuk ke sini lagi, karena katanya ada barang yang ketinggalan, barang tersebut sangat penting buat tuan saya,” ucap sekretaris Al menjelaskan. “Barang apa, ya? Perasaan kemarin dia nggak ninggalin apapun, mungkin hilang di tempat lain,” sahut Ambar lagi. “Maaf sebelumnya, ini sedikit tidak sopan, tapi saya harus mengatakannya. Kamu lihat sempak tuan saya? Dia ganti pakaian kemarin diganti oleh siapa, ya? Pakaian basah memang sudah kami bawa kemarin, tapi setelah dicari tidak ada di dalam pelastik itu.” “Hah? Apa kamu bilang, Al? Sempak? Astaghfirullah, nyebut aku.” Sekretaris Al pun malu sudah mengatakannya, mau bagaimana lagi ini sudah perintah, sebenarnya dia pun merasa aneh, sejak kapan hanya satu sempak saja sampai diributkan seperti ini? Biasanya, jika sudah hilang ya beli lagi, tetapi kali ini tuan Father mempermasalahkan itu semua. “Gimana? Kamu lihat tidak? Warnanya ....” “STOP! Bilangin sama si brewok domba, ya, di sini nggak ada satu barang pun punya dia. Kenapa? Karena semua pakaiannya udah dimasukan semuanya ke dalam pelastik kemarin,” cecar Ambar menahan emosinya. “Serius tidak ada, Ambar? Saya takut dimarahin kalau pulang tanpa membawa hasil, oh iya ... ini pakaian yang kemarin kamu pinjamkan, maaf belum sempat dicuci,” ucap sekretaris Al. “Iya gapapa kok, makasih udah dikembalikan, lengkap pula. Dia mau aja tuh pakai dalaman bapake, tapi aku benar-benar nggak tahu punya anunya di mana,” tegas Ambar memasang wajah serius. “Boleh saya geledah dulu rumahnya, Neng Ambar?” tanya sekretaris Al. “Hah? Apa? Geledah?” Kini kedua mata Ambar hampir copot saking terkejutnya, hanya karena satu celana dalam. Tanpa persetujuan yang empunya rumah, sekretaris Al menjalankan misi dari atasannya itu, mengeledah isi rumah Ambar, sampai lelah mencari ke mana-mana tidak ada yang dicari. “Gimana? Ada? Aku yakin, nggak akan ada di sini,” tanya Ambar. Sekretaris Al pun melirik ke arah lemari pribadi milik Ambar, tentunya pasti tidak akan mendapatkan izin jika harus bertanya dulu, Al pun langsung gerak cepat membuka lemari itu. “Ehhh ... jangan woiii! Haduh parah,” teriak Ambar mencoba untuk menahan sekretaris Al untuk tidak melanjutkan aksinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN