“Hei ... aku bilang stop! Jangan kelewatan dong, ini kamar wanita! Bukan kamar umum yang bisa digeledah seenaknya!”
Sekretaris Al pun diam, tidak melanjutkan lagi aksi geledah kamar itu. Dia sendiri masih bingung dengan semua rencana tuan Father, mana mungkin celana dalam sampai ketinggalan? Kalaupun memang iya, kenapa tidak beli yang baru, benar-benar membingungkan.
Ambar pun mendekat, semakin mendekat lalu membisikan sesuatu yang berhasil membuat sekretaris Al langsung terkejut.
“Hah? Kamu teh serius, Neng?”
“Iya dong, aku sangat-sangat yakin. Gimana? Kamu harus bisa balas dia, kerjain balik dong dianya, nggak mungkin tuh jaket burung bisa ketinggalan di sini, udah jelas-jelas ibuku memasukkan semua barangnya tanpa ketinggalan satu pun, itu mungkin akal-akalan dia doang.”
“Kenapa bisa seyakin itu? Saya pun tidak yakin.”
“Alahh, pokoknya kamu setuju nggak sama kesepakatan tadi? Tinggal bawa aja, sih,” cecar Ambar.
“Tidak, nanti saya dipecat. Jangan sampai pokoknya, kamu teh tahu sendiri gimana keadaan orang tua saya, harus bisa membanggakan mereka.”
“Jangan kebanyakan mikir deh, nggak akan kenapa-kenapa kok, gimana? Ini anggap aja membalaskan kejahilan dia, lagian barang ini bukan punyaku, tapi punya saudaraku yang tertinggal di sini,” ucap Ambar meyakinkan sekretaris Al.
“Hmmm, gimana, ya?”
Tanpa menunggu jawaban dari sekretaris Al, sudah menyiapkan semuanya di dalam kantong plastik, Ambar menyerahkannya dengan cekikikan.
“Ah, tidak. Jangan dilakukan, oke? Kasian tuan saya.”
“Kamu lagi kasian sama siapa? Sama aku yang dikerjain sama dia, apa kasian sama orang seperti dia!”
“Baiklah, tapi janji jangan melibatkan saya oke? Kita teman dari kecil, kan, Neng? Oke?”
“Iya oke iya, udah sana bawa, sekalian suruh dia pakai ha ha.”
Sekretaris Al hanya geleng-geleng lalu melenggang dari rumah itu setelah berpamitan, Ambar sendiri sangat tidak sabar untuk menunggu reaksi apa nantinya yang akan terjadi.
Siapa suruh Ambar ditantang, semuanya pasti kalah, kadal kok dikadalin, Ambar tak berhenti cekikikan membayangkan bagaimana nantinya.
Sekretaris Al pun pulang ke rumahnya dengan tergesa, setelah masuk ke dalam rumah, ternyata Tuan Father tidak ada, ke mana lagi? Di saat dia melangkah menuju ke belakang rumah, di mana di sana terlihat ibunya dan Tuan Father sedang bersenda gurau.
“Ha ha, Ibu ini bisa saja, masa, sih?”
“Iya loh, bahkan Ibu suka pengen banget makan itu, tapi belum kesampaian juga, kasian Al cari duit susah payah masa habis cuma untuk beli pizza.”
“Ya, tidak mungkin akan langsung habis, Bu. Nanti saya belikan beberapa porsi deh, supaya Ibu kenyang dan tidak penasaran lagi.”
“Aihh, Ibu hanya bergurau loh, jangan dibelikan Nak Father.”
“Tapi sayangnya saya tidak suka bergurau, Bu, saya serius akan membelikan pittza itu, tenang saja, Al tidak akan tahu.”
Keduanya pun kembali tertawa, hanya membahas makanan saja sudah seperti kebahagiaan yang hakiki, membuat Al mengurungkan niatnya untuk menjalankan perintah dari Ambar tadi, buru-buru dia menyembunyikan barang tersebut.
Sekretaris Al pun menghampiri mereka, bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi, Tuan Father yang melihat Al sudah kembali, mengedipkan matanya.
“Walah, kamu sudah pulang, Ujang? Ya sudah, kalian lanjut ngobrol, Ibu ke dalam dulu,” pamit Ibu Ratih, ibunya Al.
Saat mereka sudah berduaan saja, Tuan Father pun mengedipkan matanya lagi, memberikan isyarat kepada Al, apa hasilnya? Dan apa yang terjadi tadi.
“Maaf, Tuan, saya tidak berhasil menemukan barang yang Tuan cari, sudah mencari sampai mengeledah rumahnya, hasilnya nihil.”
“Apa kamu benar-benar sudah mencarinya, Al? Hmm? Apa kamu sudah ....”
“Tuan, sudah makan? Ayo, pasti Ibu sudah menunggu kita di dalam.”
“Al, kamu jangan seperti itu lah sama saya, jujur apa yang terjadi? Apa dia ngotot lagi? Menyeramkan?” tanya Tuan Father.
“Anak-anak, ayo, makan, nanti keburu dingin nggak enak loh,” teriak Ibu Ratih dari dalam.
Tuan Father pun mau tak mau langsung menurut di saat Al mendorong kursi rodanya dengan baik, dia pun sebenarnya memang sudah lapar, tetapi rencananya yang sudah direncanakan belum tercapai.
***
Malam harinya, Ambar terlihat fokus sekali dengan pekerjaannya saat ini, dia dengan tekun, cekatan, melakukannya sendiri, dari habis isya sampai pukul sembilan malam masih berkutat di luar rumah.
Sedangkan yang dilakukan Tuan Father adalah marah-marah tidak jelas sudah seperti domba yang benar-benar ngamuk, dia tahu apa yang sudah Al lakukan di belakangnya, bahkan kantong plastik yang tadi dibawa Al pun ketahuan.
“Kamu gimana, sih! Yang gaji kamu saya atau dia! Kenapa kamu gagal! Sudah jelas-jelas saya simpan di situ, di dekat ranjangnya, saya benar-benar meninggalkan seempak! Mengerti tidak!”
“Hah? Jadi, Tuan benar-benar meninggalkannya? Dengan sengaja? Tapi, untuk apa, Tuan?”
“Hmm, sudahlah, saya mau tidur, jangan diganggu,” cicit Tuan Father yang masih marah.
Sekretaris Al pun dengan cepat pergi lagi ke rumah Ambar, dia harus benar-benar mengambil seempak itu, entah apa alasannya, yang terpenting harus diambil dulu.
Berlarian malam-malam di desa yang penuh dengan tanah becek, hampir membuat Al terpeleset di sana, untung ada Ambar yang dengan cepat menolongnya.
“Eh ... Al? Ngapain? Hampir aja kamu jatuh, encok tahu rasa loh.”
“Aduhh, jangan ditanya saya kenapa, intinya buruan balikin seempak Tuan Father, Neng, dia benar-benar marah sama saya.”
“Hidih, kamu masih aja terpengaruh sama ide gilaanya dia? Dia itu cuma jahil, kamu mau aja, sih, disuruh ini dan itu sama dia, bohong doang dianya, Al.”
“Tapi, katanya, dia benar-benar meninggalkan seempaknya di dekat ranjang kamu, Ambar.”
“Hah? Seriusan kamu, Al? Terus? Maunya dia gimana? Aku kok nggak paham juga.”
“Kalau kita ambil ke dalam nggak mungkin, di dalam lagi ada bude, sama suaminya, lebih baik ayo! Antarkan aku bertemu dengan dia!”
“Jangan ... dia sudah tidur, Neng, dia ....”
“Kata siapa saya sudah tidur hmm? Saya juga bisa tuh mendorong roda ini sendirian sampai ke sini, apa coba yang saya tidak bisa,” ucap seorang laki-laki berkursi roda yang mengejutkan karena kedatangannya tiba-tiba.
“Tuan? Tu-an, kok ... bisa?”
“Bantu saya, semakin sini semakin jelek jalannya! Tidak beda jauh dari yang punya rumah,” celetuk Tuan Father menyeringai lebar dengan sengaja.
“Heiii, kamu bilang apa Domba?”
“Domba? Kamu tuh yang kerbau!”
“Kamu yang jelas-jelas brewok domba!”
“Kamu tuh sapi!”
“Domba!”
“Katak!”
“Dasar kerbau!”
Terus saja keduanya menyebutkan nama-nama hewan lainnya, membuat sekretaris Al menggila sendiri dengan sikap dua orang itu malam ini.