Menghilang

1196 Kata
“Kamu nyebelin banget, sih, udah sana pergi ... ngapain juga malam-malam ke sini!” “Kembalikan barang saya! Baru saya pergi,” cetus Tuan Father. “Lah? Aku nggak tahu apa-apa, jadi nggak ada tuh tugas untuk mengembalikan barang kamu,” ucap Ambar tak kalah tegas. Tuan Father pun meminta sekretaris Al untuk segera melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan, tetapi Ambar tetap menolak untuk digeledah lagi, tentu itu semua karena dia malu jika harus mengembalikan barang paling sensitif bagi laki-laki. “Kembalikan!” “Nggak mau!” “Kembalikan atau saya yang geledah!” “Bisa emang? Jalan aja susah kok, mana mungkin bisa geledah rumah aku.” Sakit, itu yang pertama Tuan Father rasakan, dia memang lumpuh, tetapi setidaknya jika ada orang yang berkata seperti itu, sangat tidak bisa diterima olehnya walaupun itu sebuah kenyataan. “Kenapa? Diam, kan? Makanya, jalan aja dulu yang benar, baru cari gara-gara sama aku!” “Al, bantu saya untuk pulang, sekarang,” titah Tuan Father. “Tuan? Pulang ke mana maksudnya?” tanya sekretaris Al. “Ke Jakarta, malam ini juga!” “Tapi, kan, Tuan ... kita nanti anu ....” “Saya benar-benar tidak tahan lagi, ayo, pulang, antarkan saya pulang,” titah Tuan Father lagi, kali ini dia langsung membuang muka ke lain arah. “Barang itu bagaimana Tuan?” “Gapapa, biarkan saja, toh semuanya sama, kan? Tidak ada yang bisa diajak berteman? Setelah saya seperti ini keadaannya, ayo,” ucap Tuan Father yang belum bisa diartikan apa maksudnya. Sekretaris Al pun melirik sekilas ke arah Ambar, lalu mereka pun benar-benar pergi dari sana, awalnya memang Father ingin jahil, tetapi niat utamanya untuk berkenalan, hanya saja itu semua sudah tak ada artinya lagi. “Apa aku udah keterlaluan, ya? Tapi, aku nggak salah kok, kan, dia nggak bisa jalan,” ucap Ambar lirih. Ambar pun menjadi semakin penasaran, dia masuk ke dalam rumah, lalu mengeledah sendiri isi kamarnya, ternyata memang benar ada barangnya, pakai kantong plastik dan ada suratnya juga. “Ihhh, apaan, sih, kok ada di sini. Ini surat apa?” Terima kasih sudah membantu saya, Ambar, dari kamu membantu di sawah itu, lalu membantu saya di rumah kamu, memang, sih, rumahnya jelek kayak kandang ayam, tapi setidaknya kalian sudah baik, ucapkan terima kasih juga untuk orang tuamu, ya, jangan dikembalikan seempaknya, kalau kamu belum mau berteman dengan saya, maaf cara saya aneh, tapi ini cara yang saya mau, untuk bisa berteman dengan kamu, terima kasih. “Ya Allah, ternyata dia benar-benar orang baik, cuma mulutnya aja sedikit pedas nggak bisa dikontrol kalau ngomong, jadi ... dia sengaja gak jelas kayak gini cuma untuk kenalan sama aku? Hmm, aku harus minta maaf sama dia.” Ambar menyimpan surat dan barang itu, lalu menyelinap pergi dari rumah karena takut ketahuan orang rumah, dia mengetuk pintu rumah Al tetapi yang ada hanya kedua orang tuanya saja. “Bu? Serius mereka udah pergi? Di mana alamatnya, Bu? Ambar harus nyusul mereka.” “Masya Allah geulis, ada apa sebenarnya? Ibu saja nggak tahu di mana alamat rumah Nak Father, kalau tempat kerja mereka Ibu tahu,” ucap Bu Ratih. “Di mana, Bu? Di mana? Tolong, Bu, ini penting banget.” “Tapi, kamu ke sananya besok pagi aja oke? Kasian kamu malam-malam begini, nggak boleh pokoknya, nanti orang tua kamu juga nyariin, ini alamatnya, ya, jangan sembarangan ke sana, ini pengadilan agama soalnya,” cecar Bu Ratih. “Hah? Oke, Bu, kalau gitu terima kasih, pamit pulang dulu, ya, Bu, jangan sampai dikasih tahu soal aku minta alamat,” kata Ambar setelah berpamitan untuk pulang. Setidaknya dia punya petunjuk di mana keberadaannya nanti, dia harus bisa minta maaf secara langsung, karena benar-benar tidak menyangka niatnya baik, hanya saja caranya aneh. *** Setengah tahun berlalu, semenjak kejadian malam itu, sampai saat ini Ambar selalu dihantui rasa bersalahnya, dia sudah berkali-kali nekat ke Jakarta untuk mencari, tetapi selalu gagal, datang ke kantor itu pun tidak ada orangnya, hanya ada Al saja, yang tetap bungkam. “Aku harus gimana, ya? Kenapa dia menghilang lama banget, perasaan kayak baru kemarin kita berantem, tapi ... hmm ini salah aku.” Namun, di saat Ambar akan pulang lagi ke kosan yang dia sewa selama di Jakarta, di saat itu juga ada seorang wanita cantik sedang menggoda seorang laki-laki yang sepertinya tidak mau digoda. “Apaan, sih, lepas! Kamu ngapain datang lagi? Bukannya selama ini sudah berbahagia dengan pasangan s*x kamu itu!” “Kok kamu kayak gitu, sih, Sayang, aku benar-benar menyesal, dulu cuma kebawa napsu aja kok, cintanya cuma sama kamu.” “Jijik, Seli! Jijik! Mendingan kamu pergi, saya harus pulang!” “Enam bulan ini kamu ke mana, Sayang? Al pun bungkam, sebenarnya kamu ke mana?” tanya Seli, dengan gilanya dia mengecup hidung Father. “Sialan banget kamu, pergi! Al ... ke mana kamu Al! Usir wanita ini!” teriak Tuan Father. Andai saja kedua kakinya bisa berjalan seperti dulu, pastinya sudah lari meninggalkan Seli, hanya saja dia tak mampu untuk itu sekarang. “Kamu teriak aja, Sayang, Al nggak ada, dia aku suruh ke supermarket ha ha, kasian banget, sih, kamu, Sayang, aku bantu dorong, ya,” desah Seli tepat di telinganya Father. Di saat Seli hendak menciumnya lagi, saat itu juga Ambar yang sudah geram hanya mendengarkan sejak tadi, dia mendorong tubuh Seli sampai terjungkal ke lantai, meringis kesakitan seorang diri. Ambar dengan cepat mendorong kursi roda itu, entah dia mau ke mana yang jelas membawanya menjauh dari Seli, dengan tenaganya yang kuat, Ambar membawa Father sampai jauh. “Hentikan! Kamu siapa? Ngapain kamu sosoan nolongin saya?!” “Hmm, kamu udah lupa sama aku?” Tuan Father menggeleng, dia pastinya masih ingat, hanya saja malas jika harus berurusan dengan para wanita yang hanya kasihan padanya. “Kamu namanya ... hmm iya, Father, kamu lupa sama aku, ya? Enam bulan ini kamu ke mana? Aku ....” “Hei, kamu lupa sama aku, ya? Aku Ambar loh, Ambar. Yang waktu itu di desanya Al, kamu brewok domba itu.” “Siapapun kamu, dari manapun kamu, saya tidak peduli, kamu tolong pergi menjauh dari saya, atau saya ... panggilkan security, pergi!” “Kamu ingat aku, ya? Kok nyebelin, sih, pura-pura nggak kenal sama aku, padahal aku dari enam bulan yang lalu nyari kamu, khawatir sama kamu,” cecar Ambar. “Untuk apa cari saya? Lagian saya tidak mengenal kamu, pergi sana!” “Kamu kok marah sama aku? Bukannya yang bikin kesel wanita tadi, ya?” Tuan Father menatap Ambar yang saat ini bersikap seperti tidak ada salah sama sekali, sengaja berbulan-bulan dia menghilang untuk melupakan semua rasa sakitnya, tetapi ternyata menghilang pun tidak mampu menyembuhkan kakinya. “Aku antar kamu ke rumah, ya? Rumah kamu di mana? Atau mobil kamu? Aku bantu, ya.” Ambar terlihat sangat baik, tapi nyatanya tidak mempan. “Security, iya kamu? Tolong antar saya ke mobil, ya, jangan bengong, buruan!” Ambar tercengang melihat itu, dia benar-benar diabaikan bahkan tidak dianggap ada, Tuan Father sudah dibawa oleh salah satu security yang kebetulan tadi lewat. “Aku kok jadi agresif, sih? Tapi, kata-kata aku pada malam itu, benar-benar menyakitkan, harus segera minta maaf, tapi gimana caranya, ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN