-Ada kalanya nasih buruk seseorang menjadi pintu orang lain menuju harapan selanjutnya-
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Zealin terdiam. Mengerjapkan mata beberapa kali dan tampak gelisah. Sebenarnya ia hanya menargetkan satu misi. Penyelamatan Agetha. Ya, hanya itu. Meski beberapa kejadian telah menghambatnya, ia hanya tetap memaku satu misi tanpa ingin mengubahnya.
"Bagaimana? Apa kau setuju?" Edrea menarget Zealin sebagai titik pusatnya. Namun, gadis itu masih setia dalam diam.
Zealin sadar. Edrea dan kedua lelaki yang berada di sana adalah penyelamat baginya. Tanpa kehadiran mereka, mungkin sekarang ia sudah tak mampu menghirup oksigen kembali. Hanya saja, ia pikir akan sangat membuang waktu jika harus bergabung dengan sebuah akademi yang bahkan belum genap dua hari ia kenali.
"Ah, kau tak perlu tergesa-gesa untuk menjawabnya. Malam ini, kau bisa beristirahat di sini dan besok ... kau bisa memberiku jawaban."
Zealin menatap Edrea dengan kosong. Ia ingin menolak meski ada sedikit keraguan. Sedangkan Edrea masih setia memaku tatap pada sosok gadis berambut pirang dengan netra Aquamarine yang tampak mengagumkan itu.
"Kurasa kau harus mempertimbangkan tawaran ini. Kalau kau benar-benar ingin menyelamatkan kakak kembarmu itu, seharusnya kau tahu apa yang harus kau putuskan," timpal Klein dengan tampang wibawa yang entah sejak kapan ia dapatkan.
"Emh, baiklah. Aku akan memikirkannya matang-matang."
"Lyan," panggil Edrea pada seorang lelaki bertubuh jangkung nan menawan. "Bisa kau antar Zealin ke tempat istirahat yang sudah kusiapkan?"
"Kenapa harus aku?"
Edrea tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tak ada jawaban berupa kata-kata. Hanya sorotan mata yang menyiratkan sebuah tanda. Lyan mendengus pelan dibuatnya. Ia pun mengangguk dan langsung melempar perhatiannya pada Zealin.
"Ikuti aku."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Setelah keluar dari ruang pertemuan, Zealin mengekori seorang lelaki yang bernotabene sebagai sang penyelamat nyawanya. Mungkin ia memang menganggap aksi penyelamatan itu adalah sebagai hutang budi. Namun, tampak terlihat jelas jika Lyan bukanlah tipe orang yang menerima balas budi atas hal yang ia lakukan kepada orang lain. Nyatanya, hingga detik ini Lyan masih tetap kaku dan seolah tak ingin mempersempit hubungan antara mereka.
Zealin berdeham pelan. Langkah kakinya berusaha menyamai langkah lebar milik Lyan. Meski sedikit kesusahan karena tinggi tubuh yang terpaut cukup jauh. Namun, Zealin tetap keras kepala ingin berjalan berdampingan dengan Lyan.
Lyan memiliki postur tubuh ideal dengan tinggi kira-kira seratus delapan puluh. Rambut hitam legam dan hidung runcing dengan bibir tipis. Ketampanannya bisa dikatakan masuk dalam ketegori 'Nyaris Sempurna' hanya saja sikapnya yang sedingin es seperti elemen yang ia kuasai juga telah mendarah-daging dalam diri.
"Kenapa terburu? Apa kau merasa tak nyaman jika harus mengantarku?" Akhirnya pertanyaan itu lolos dari genggaman orofaring. Matanya melirik dan terpaku pada sosok yang terus fokus ke depan tanpa berniat membalas tatapan sang gadis.
"Tidak."
Suasana hening sesaat. Zealin yakin jika Lyan pasti juga tengah memikirkan sesuatu. Sosok itu memang terlihat sulit ditebak. Hingga akhirnya, Zealin berniat kembali menyerukan pikirannya.
"Lyan, aku pikir, kau bisa memberiku alasan mengapa aku harus menerima tawaran atau menolaknya." Zealin kembali menatap lurus ke depan. Menatap setiap pilar yang menjadi penyangga lorong gedung.
"Mantabkan saja hatimu. Jika kau pikir tempat ini adalah tempat yang bisa kau percaya, kupikir kau harus menerima tawaran Edrea," balas Lyan. "Tapi, jika kau ragu kalau tempat ini takkan mampu membantumu menuntaskan tujuan, langkahkan kakimu sendiri tanpa kami."
Mendengar jawaban Lyan, Zealin kembali membisu. Seolah ada dua hasutan di pundak kanan dan kiri. Memilih antara ya dan tidak sekaligus pikiran tentang penyesalan telah membuat pikirannya terobrak-abrik.
Tanpa disadari, mereka kembali masuk ke sebuah ruangan yang cukup lebar. Ruangan yang berisi beberapa kamar tamu dan ruangan tanpa identitas. Dengan sikap sebagai pengamat yang jeli, Zealin menelaah satu persatu pintu yang tertutup rapat—para kamar tanpa identitas. Keningnya mengernyit heran. Bibirnya terasa gatal ingin menanyakan ruangan apa saja yang rapi dengan gagang pintu terkunci.
Saat langkah Lyan terhenti, secara otomatis Zealin juga mengikutinya. Mereka berada di depan sebuah pintu bertuliskan angka 102.
"Beristirahatlah di sini."
Zealin melihat kamar yang sudah dibukakan oleh Lyan. Mengedarkan pandangan ke dalam sebuah bilik yang tampak sederhana namun bersih dan nyaman. "Terima kasih," gumamnya. "Eumh, Lyan."
"Hm?"
"Mau ke mana kau?"
Lyan terdiam sejenak. Sorot matanya menatap datar seperti biasa. "Melatih para siswa tingkat tiga. Kenapa?"
"Bolehkah aku ikut?"
Lyan menggeleng. "Kau masih dalam perawatan. Jadi, harus banyak istirahat."
"Jika harus berada di kamar sepanjang hari, aku akan sangat bosan. Apalagi memikirkan Agetha yang membuatku semakin frustasi. Jadi, kumohon, bolehkan aku ikut."
Lyan menghembus napas berat. "Baiklah."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Apa yang mau kau lakukan pada gadis itu?"
"Tentu saja kau tau maksudku."
Suara tawa menggelegar renyah. Namun, dalam waktu sesaat, tawa itu terhenti dan berganti dengan tatapan tajam pada sosok yang duduk di depannya.
"Supermoon masih lama. Bagaimana jika gadis itu kabur?"
Sosok dengan pakaian rapi dan wajah cukup tampan itu berdiri dari kursi kebesarannya. Kemudian berjalan mendekati sebuah tempat. Ia menjetikkan jari dan blam ... jeratan bersinar birung terang tiba-tiba muncul seketika.
"Tak ada yang mampu mematahkan sihir pengikat milikku."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Klein, kurasa dia butuh bimbinganmu."
Sosok yang dipanggil Klein pun hampir tersedak saat menyesap kopi hangatnya. Ia melirik sekilas pada seorang wanita yang seumuran dengan dirinya dan menaruh kembali kopi di atas cawan.
"Kita tunggu dulu, bagaimana jawabannya tentang tawaran kita."
Wanita itu—Edrea—menghela napas panjang. Ia memutar kursinya menghadap jendela yang memperlihatkan gemelantung para dedaunan. Sebilah kaca jendela yang terpasang itu memantulkan dirinya meski samar. "Aku yakin, Lyan akan berhasil membujuk Zealin."
Klein terkekeh pelan. "Benar juga. Lyan itu punya aura yang aneh. Orang-orang di sekitarnya selalu mudah percaya dengan apapun yang ia katakan. Seperti, dia mampu menggunakan sihir perayu."
"Untung saja kau yang masih betah sendiri tidak terbujuk rayu untuk berbelok arah pada Lyan," hina Edrea sembari menyunggingkan senyuman miring.
"Cih, aku masih normal," bantah Klein sembari melirik kesal pada wanita yang kembali menatap jendela luar. "Nyatanya aku masih menunggumu," ujarnya dengan suara pelan. Terdengar hampir berbisik.
"Hm? Apa kau bilang?"
"Nothing." Akhirnya Klein bangkit dari duduk dan meninggalkan secangkir kopi yang baru ia cicipi satu seruput. "Aku akan melihat Lyan. Jangan ikuti aku."
Melihat kepergian rekannya yang sangat berisik itu pergi dari ruang pertemuan, Edrea mengulas senyum. Senyuman yang amat lembut hingga terasa menusuk dalam hati. "Kita tak bisa bersama, Klein. Selamanya kita hanya mampu menahan rasa kita masing-masing."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Terlihat jajaran para siswa akademi yang baru saja bergabung membentuk barisan rapi di area lapangan Gedung Saphire. Mereka tampak sangat antusias mendengarkan arahan dari kepala couch yang memegang Gedung Saphire. Arahan-arahan itu dipergunakan untuk memberitahu peraturan apa saja yang perlu ditaati dan larangan apa saja yang harus dipahami. Meski sinar mentari terus meninggi, untung saja banyak ranting pohon yang melindungi. Sehingga sinar yang terpancar harus rela menembus celah-celah daun yang membentang. Terasa sejuk dan nyaman. Bahkan untuk waktu berjam-jam mungkin para siswa akan sanggup menjalaninya di lapangan.
Zealin terus melihat ke bawah—lapangan—seraya mengikuti langkah lebar milik Lyan. Mereka akan menuju ke lift untuk segera turun ke lapangan. Dari Gedung Amethys—dimana mereka berada sebelumnya—hingga ke Gedung Saphire memang bisa dilalui lewat koridor layang yang berhubungan antar gedung—Saphire, Emerald, dan Amethys. Namun, jalan itu dikhususkan untuk para couch dan tamu saja.
"Selain menjadi couch para siswa kelas tiga, apa kau juga menjadi couch untuk siswa kelas lain?" Pertanyaannya terlantar meski kedua bola matanya terus fokus memperhatikan sekitar.
"Ya. Aku menjadi couch para siswa yang naik ke kelas satu."
Zealin hanya membulatkan bibir pertanda paham dengan apa yang diucapkan Lyan.
"Mereka adalah para penyihir yang diusir dari masyarakat. Salah satu anggota kami, berhasil menyelamatkan mereka dari eksekusi publik."
Penjelasan Lyan membuatnya terhenti sejenak. Netranya beralih menatap punggung sosok yang masih santai berjalan di depannya. Entah mengapa, hatinya terasa pilu saat mendengar kalimat 'penyelamatan dari eksekusi publik.'
"Apa kau mendengar kabar tentang eksekusi publik beberapa hari lalu?" tanya Zealin dengan suara gemetar.
Jelas. Ia teringat dengan sang ibu. Bagaimana perpisahannya dengan sang ibu dan bagaimana wujud sang ibu dalam saat terakhir. Begitu mengenaskan. Membuat seluruh amarahnya memuncak dan akan meldak seperti nuklir yang mengguncang. Namun, ia sadar. Dirinya lemah. Ia sadar, ia memiliki saudari yang lemah. Jika ia menggunakan sihir yang belum sempurna ia kuasai untuk membalas kematian sang ibu, hal itu justru akan membuatnya kalah sebelum berperang.
Lyan terhenti saat mendengar pertanyaan sosok gadis yang bersamanya. Tanpa berbalik dan menatap Zealin, terdengar hembusan napas berat dari Lyan. "Ya."
"Kenapa? Kenapa kalian tak menyelamatkannya?"
Lyan paham dengan pertanyaan itu. Para anggota akademi pun merasa kecewa karena kegagalan yang mereka alami. Aksi penyelamatan yang seharusnya berhasil, telah dikalahkan oleh takdir.
"Zealin Casia. Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat kehilangan sosok yang kau cintai. Tapi, apa kau mengerti bahwa dunia ini berada di tepi garis takdir?" ucap Lyan sembari berbalik dan menatap dalam kedua netra Aquamarine milik Zealin yang kemilau indah. "Para petinggi akademi mengetahui apa yang telah terjadi. Penyihir murni yang dieksekusi publik adalah orang yang sangat berharga. Bukan hanya untukmu, tapi juga untuk akademi."
"Apa maksudmu?"
"Gretha Casia."
Zealin membulatkan kedua matanya. "K—kau mengenal ibuku? Apa kau tau semua ini akan terjadi? Dan apa kau sudah tahu jika aku akan kehilangan saudari kembarku?"
"Jika tentang saudarimu, aku sama sekali takkan menyangka. Namun, tentang Gretha Casia, aku mengetahuinya. Bahkan tentang eksekusi itu. Kami berusaha menyelamatkannya dari eksekusi, meski kami harus digagalkan oleh sesuatu yang lebih penting."
"Jadi, yang kau maksud, nyawa ibuku tidak penting?"
Pertanyaan Zealin membuat Lyan menghela napas pelan. Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana dan memejam sejenak. "Tepat hari eksekusi, akademi dimasuki oleh para penyusup."
"Penyusup? Siapa?"
"Para Hex tingkat dua. Mereka mengejar para siswa kelas dua dan siswa kelas satu. Beberapa di antara mereka lenyap karena melawan para hex yang menyerang kami secara membabibuta. Kau lihat di sana?"
Jemari Lyan mengarah ke sebuah pohon yang menjulang tinggi. Ada beberapa daun yang memerah di salah satu ranting. Jumlahnya hampir mencapai empat puluh persen dari keseluruhan daun di ranting itu.
"Daun merah?"
"Daun merah yang kau lihat bukanlah daun biasa. Pohon itu sudah dialiri sihir ikatan. Dimana semua siswa yang memilih bergabung, nyawanya akan tercatat di daun pohon itu.
Jika daun masih berwarna hijau segar, maka itu menjadi pertanda bahwa para siswa masih dalam keadaan baik. Namun, jika daun berwarna merah, itu pertanda bahwa siswa telah digugurkan oleh para Hex.
Asal kau tahu, kami—para petinggi akademi—telah berusaha semaksimal mungkin untuk misi penyelamatan Gretha Casia. Namun, kami juga harus menyelamatkan para siswa akademi yang lebih membutuhkan pertolongan kami. Jika telat sedikit saja, kami akan kehilangan tempat bernaung sekaligus keluarga besar yang selama ini tinggal di akademi.
Aku tidak munafik. Bukankah lebih baik mati satu daripada mati seribu? Lagipula, Gretha Casia sudah memberi kami surat pesan telepati, bahwa beliau akan mengirimkan seseorang yang mampu menjadi pilar terkuat kami."
"Itu alasan mengapa kalian menghentikan misi penyelamatan pada ibuku?"
Lyan mengangguk. "Apa kau tau siapa yang dimaksud oleh ibumu? Orang yang akan ia kirimkan sebagai pilar terkuat kami?"
Zealin terdiam. Hanya hembusan angin beserta gemerisik gesekan ranting yang terdengar.
"Kau."
"Aku?"
"Ya."
"Ta—tapi, sihirku lemah. Aku bahkan tak tahu apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan Agetha. Bagaimana aku bisa menjadi pilar terkuat untuk akademi ini?"
"Karena itulah Edrea menawarimu bergabung dengan kami."
Zealin kembali terdiam untuk sesaat. Baru saja Lyan akan kembali melanjutkan langkah, Zealin kembali membuka mulut.
"Tentang penculikan Agetha. Apa kalian juga telah mengetahui sebelumnya?"
"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Jawabannya adalah tidak. Saat pertama kali kau kubawa ke sini pun, aku masih belum menyadari jika kau adalah keluarga Casia. Selain aku dan Edrea, tak ada yang tahu tentangmu. Bahkan Klein sekalipun tak mengetahui bahwa kau ... adalah orang yang dimaksud Gretha Casia. Ya, begitulah, lagi-lagi semua ini ulah takdir."
"Kenapa begitu?"
Lyan mengedikkan bahunya. "Jika kau ingin tahu, bergabunglah dengan kami." Tanpa menunggu pertanyaan selanjutnya yang sudah pasti akan dilontarkan oleh Zealin, Lyan langsung berbalik dan melanjutkan langkahnya.
"Hei, percakapan kita belum selesai!"
Hanya lambaian tangan yang terlihat. "Aku bukan tipe orang yang menghabiskan waktu dengan orang asing."
"Dasar menyebalkan."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Kedua tangannya menopang dagu. Matanya fokus memperhatikan para couch akademi yang sibuk melatih para siswa baru. Berbagai mantera sihir yang terucap selalu ia gumamkan. Ia berusaha mengingat mantera-mantera sihir itu. Dengan harapan, ia mampu menguasai mantera sihir tanpa harus bergabung dengan akademi.
Namun, ternyata harapannya pupus. Ia bahkan tak mengerti mengapa mantera-mantera yang ia hapalkan tak bereaksi apapun pada tubuhnya. "Kenapa Mom mengatakan jika aku akan menjadi pilar terkuat bagi akademi ini? Bahkan untuk mantera pelindung, aku tak bisa melakukannya," gumamnya kesal.
"Hey yo! Apa kau siswa baru?"
Lamunanya dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya. Entah sejak kapan sosok itu berada di sana. Meskipun Zealin fokus mengamati satu area, ia tak pernah lengah jika ada seseorang yang menghampiri atau bahkan mendekatinya.
"Zinno. Satu angkatan dengan Klein. Bisa dikatakan bahwa aku adalah adiknya yang menggemaskan." Ia memperkenalkan diri tanpa diminta.
Hal itu membuat Zealin menatapnya bingung. Sosok yang berumur kisaran dua puluhan, tersenyum lebar padanya.
"Aku sudah mendengar tentangmu. Kau gadis yang dibawa Lyan ke sini karena hampir terbunuh oleh Hex tingkat dua, kan?"
"Ya, itu benar. Namaku—"
"Zealin."
"Ah, ternyata aku memang menggemparkan. Hingga seluruh akademi mengenaliku," kekehnya. "Apa kau juga couch bagi mereka—para siswa kelas tiga?"
Zinno menggeleng dan mengalihkan perhatiannya pada beberapa siswa yang sedang fokus mengasah sihir.
"Aku hanya mampu menggunakan pedang."
"Kau yakin? Tapi, aku merasa bahwa kau memiliki energi sihir yang kuat."
Zinno terkekeh mendengar pernyataan yang Zealin ungkapkan. "Hanya sihir waktu dan teleportasi."
"Waw, keren. Bisa kau ajari aku cara menggunakan sihir waktu?"
Gelengan menjadi jawaban dari Zinno. "Hanya sebagian kecil penyihir yang mampu menggunakannya. Harus ada keturunan yang membawa gen itu."
"Ah, begitu." Tampak raut kecewa dari gadis yang duduk di sampingnya. Meski dirinya lebih kecewa karena harus mencetak kesedihan yang mendalam bagi si gadis.
"Aku ... mengetahui apa deritamu."
"Maksudmu?"
"Tentang Gretha Casia."
Zealin terheran. Sontak ia memaku tatap pada Zinno yang masih menatap lurus ke depan. "Kau tau tentang Gretha Casia?"
"Tentu. Aku mendengar percakapanmu dengan Lyan saat di lantai dua Gedung Saphire."
"Mengapa jika aku adalah keturunan Casia?"
Pada akhirnya, pertanyaan Zealin membuatnya harus mengalihkan perhatian. Lagi-lagi Zinno melempar sebuah senyuman hingga kedua matanya hampir menyipit.
"Bagiku sebagai penyihir elemen waktu, aku mengetahui masa lalu bahkan masa depan semua orang yang kutemui. Hal itu terkadang membuatku resah jika harus mengetahui masa depan ataupun masa lalu yang kurang mengenakkan.
Tentangmu dan tentang keturunan Casia, aku mengetahuinya saat aku bertemu dengan Gretha. Aku memiliki firasat buruk yang ternyata benar adanya.
Para keturunan Casia, memiliki keistimewaan yang berbeda. Juga berbahaya. Jika ada yang lemah, maka akan ada yang kuat. Jika yang lemah akan kalah, maka yang kuat akan menjadi penguasa."
"Bisakah kau menjelaskan sesuatu yang bisa kumengerti?"
Zinno tertawa renyah. "Bergabunglah. Aku akan lebih senang bercerita panjang lebar dengan anggota keluargaku—anggota Casnia Academy," ucapnya. "Sampai jumpa, Zealin." Seraya menjentikkan jari, Zinno mengatakan, "Domátio metaforás."
Sama halnya seperti Lyan, Zinno berlalu begitu saja. Kali ini berbeda, Zinno menghilang seperti hembusan angin. Jelas sihir waktu yang membuatnya menghilang tak berbekas.
Zealin kembali memangku wajah. Bibirnya mengerucut dan hatinya semakin bimbang. Semua orang di akademi memang orang yang baik. Kekeluargaan yang kental begitu hangat dan sangat terasa nyaman. Namun, zona nyaman yang akan ia dapatkan selalu membuatnya takut. Ia juga tak mampu merasa tenang jika Agetha masih berada jauh dari pantauannya.
"Mom, apa yang harus kuputuskan?"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Footnote :
Domátio metaforás : Ruang perpindahan