-Sebuah keputusan yang dianggap tepat ternyata belum sepenuhnya tepat-
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Senja telah berpulang dan mengawal rembulan untuk menyinari bumi. Kecantikan bulan sabit terasa seperti senyuman Agetha yang selalu membayangi. Zealin tersenyum. Mengingat kebiasaannya dengan Agetha dan sang ibu sepanjang malam. Ya, menatap langit dan menemani rembulan. Namun, terkadang momen indah yang pernah dirasakan mampu berubah menjadi momen yang menyedihkan ketika tak mampu lagi melakukannya.
Kepergian sang ibu menoreh luka yang teramat dalam. Seperti jatuh ditimpa tangga, Zealin harus menelan pahitnya kehilangan saudari kembarnya. Ia merasa seperti kuda yang sedang tidur lalu mendapat cambukan demi cambukan untuk bangun dan berlari. Mengejar apa yang seharusnya ia jaga.
Terlintas di benaknya, di mana Agetha sekarang hingga apakah saudarinya masih mampu menghidup udara ketenangan. Kadang ada rasa sesak setiap kali teringat jika dirinya hidup tenang dan nyaman sedangkan Agetha harus berada di bawah tekanan. Namun, memilih untuk melangkahkan kaki seorang diri, juga tak memungkinkannya mampu melawan Dark Master tanpa bala bantuan mendampingi. Tapi, jika dengan tekad kuat dan taktik yang cerdas, ia berpikir akan mampu membawa kabur Agetha tanpa harus melawan Dark Master secara face to face.
"Ya, mungkin memang harus kuputuskan sekarang. Agar waktuku tak terulur lebih lama lagi."
Tanpa terasa, kantuk mulai menyerang. Ia langsung menutup jendela beserta tirainya. Tak membiarkan sedikitpun nyamuk masuk dengan mengaktifkan 'Pengusir nyamuk otomatis' yang tertempel di dinding ruangan.
"Besok. Besok aku harus menemui Edrea."
▪️▪️▪️▪️▪️
Melalui sihir pengintai, Edrea tersenyum tipis. Ia langsung mengibaskan telapak tangannya dan bayangan Zealin yang tampak dari sana terhapus seketika.
"Jadi, besok kita akan mendengar keputusannya?" tanya Klein yang asyik mengupas apel untuk dirinya sendiri.
"Ya, begitulah. Sepertinya besok akan ada happy or sad ending yang kita dapatkan."
Klein memasukkan sepotong apel ke dalam mulut lalu mengucapkan sebuah kalimat, "Bagaimana jika Zealin menolak tawaranmu?"
"Aku akan mengajaknya berduel."
"Uhuk!" Sontak Klein tersedak hingga matanya memerah. Ia melotot ke arah wanita yang duduk menyeringai. "Kau gila? Zealin akan—"
"Tenang saja. Aku hanya memberinya tahu, bagaimana mengerikannya sihir yang dilawan tanpa sihir. Kecerdasan ataupun taktik yang cerdik pun takkan mampu mengalahkan sihir dengan begitu entengnya."
"Singkatnya, kau ingin mendesaknya agar mau bergabung?"
Edrea tersenyum. "That's true."
"Kau memang ahli dalam menekan batin seseorang."
▪️▪️▪️▪️▪️
Bersama hembusan angin yang membawa keheningan, Lyan duduk di pinggir jendela sembari menatap langit. Sejak kecil, ia sangat membenci bulan. Sebab setiap malam tiba, semua rasa sakit akan ia terima.
Namun, semua berubah semenjak ia mengenal para penyihir konyol di Casnia Academy. Seperti ada aura kebersamaan yang mengantarnya ke dalam lautan bahagia. Ia bersyukur, karena berhasil lolos dari gelapnya dunia luar.
"Hey yo!"
Lyan menghela napas kesal. Ia melirik malas sosok yang selalu saja muncul tanpa aba-aba.
"Sedang memikirkan Zealin?" godanya dengan senyuman lebar menampilkan rentetan gigi rapi seputih salju. Sosok itu merebahkan diri ke ranjang tanpa izin dari sang pemilik.
"Ah, apa kau berhasil membujuknya?" tanyanya lagi meski pertanyaan sebelumnya menuai abai.
"Aku tak berniat membujuk siapapun."
Zinno terkekeh. "Tapi aku yakin, jika kau tak berhasil membujuknya. Edrea akan berhasil menekannya."
"Tanpa tekanan, kupikir dia akan bersama kita." Suara Lyan terdengar pelan. Namun, ada keyakinan di sana.
"Kenapa kau seyakin itu?" Zinno memiringkan tubuh dan menyangga kepalanya dengan tangan kiri.
Bola mata Lyan memusat ke kiri atas—mengingat kejadian yang sempat ia amati. "Saat melatih para siswa baru tadi, aku melihatnya mencoba melafalkan mantera. Kupikir dia tertarik mendalami dunia sihir. Jadi, meskipun dia menolak di keputusan pertama, dia akan tetap bergabung tanpa tekanan."
"Ho-ho. Seperti biasa. Kau terlihat keren setiap kali mengamati seseorang." Sambutan tepuk tangan menanggapi hipotesis yang terlempar dari Lyan. Namun, hal itu justru menyulut kekesalannya.
"Cih! Pergilah. Jangan kotori ranjangku."
▪️▪️▪️▪️▪️
Denting jam terus berjalan. Menuntun waktu terus berlalu. Suara hentakan kaki terdengar terburu. Seolah ada yang tengah bermain kejar-kejaran di malam hari. Dalam heningnya malam, suara derap langkah terdengar jelas. Hingga napas yang tersengal-sengal pun terdengar menyesakkan. Seperti ada seekor macan yang terus mendesak kelinci.
"Hahh ... haahhh ... Tu—nghh—nggu," cegat seorang gadis dengan pakaian lusuh kerana lumpur yang bercampur dengan debu. Beberapa kali ia terjatuh dan terbangun tanpa mempedulikan rasa sakit.
"Jangan ber—eumhh—henti," cegah seorang gadis lain yang memiliki keindentikan wajah pada gadis lusuh itu. "Kita harus terus berlari. Kau tidak ingin—eumh—mati, kan?" ucapnya yang seperti cambuk hebat.
Tanpa berkata lagi, mereka terus bergandengan sembari berlari menyisir kota yang tengah sepi. Meski di belakang mereka ada beberapa pemburu yang siap menerkam kapanpun.
"Ke mana lagi? Ke mana lagi kita—hahh—harus pergi?"
"Ke mana pun!"
▪️▪️▪️▪️▪️
"Huh, dasar bocah. Seenaknya sendiri mengusirku keluar. Padahal aku, kan, hanya ingin menemaninya," gerutu Zinno setelah keluar dari kamar Lyan. Ia menendang kecil pintu yang bertuliskan kamar 203.
Setelah itu, ia berjalan menyusuri lorong yang sepi. Ya, karena setiap jam tidur, tidak ada seorangpun siswa yang boleh keluar dari kamar. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga mereka dari Hex yang bisa kapanpun datang menyerang. Apalagi di malam hari, kekuatan para Hex akan meningkat tiga puluh persen karena sinar rembukan yang mereka dapatkan.
Sembari bersenandung kecil, Zinno memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Mencari ketenangan di saat hatinya mendadak gundah gulana. Ia merasakan akan ada sesuatu yang terjadi. Mungkin ... sesuatu yang buruk.
Para penyihir memang peka setiap kali akan ada bencana yang mengancam kerabat mereka—sesama penyihir. Namun, kepekaan itu terkadang mereka abaikan demi menjaga keselamatan mereka sendiri. Jika harus memikirkan kepekaan, mereka akan terus-menerus merepotkan diri sendiri. Sebab, tak ada yang bisa tenang selagi para Hex masih mengincar para penyihir dan berniat memusnahkan mereka. Dengan cara apapun, termasuk menghasut warga normal untuk membenci para penyihir.
Di persimpangan lorong yang menghubungkan kamar para siswa kelas satu dengan kamar para petinggi Casnia Academy, langkah Zinno mendadak terhenti. Kedua matanya menangkap bayangan sosok wanita berpakaian seragam Casnia Academy dengan lambang batu Amethys di sana.
"Hey yo, Edrea. Kau mencariku?" sapa Zinno sembari melambaikan sekilas tangan kanannya.
Wanita itu—Edrea—terdiam dan menatapnya seolah menyiratkan sesuatu.
"Ada yang terjadi?"
"Malam ini, kau ada tugas penting."
▪️▪️▪️▪️▪️
"Kau memiliki kekuatan yang tak kau sadari, Sayang. Mom tahu itu. Mom harap, kau bisa menjaga saudari kembarmu yang tak memiliki kekuatan fisik. Mom percaya padamu."
Suara itu menggema bersama dengan aliran darah yang terus menetes. Membasahi kulit putih sang ibu nan gaun putih yang dikenakan. Wajah pucat pasi dengan senyuman terukir tipis membuat hatinya teriris nyeri.
"Mom!"
Zealin terbangun. Napasnya terburu seperti tengah berhenti dari pelarian yang melelahkan. Peluh yang menetes membasahi dahi pun langsung ia seka dengan asal.
Matanya melirik ke celah jendela yang sedikit terbuka. Ternyata pagi telah menjelang ceria. Ia pun segera bangkit dari ranjang dan bergegas menata diri.
Beberapa saat berlalu, dengan pakaian rapi yang masih sama ia kenakan sejak kemarin, Zealin menatap dirinya dalam cermin.
"Apa aku benar memiliki kekuatan? Apa aku bisa menggunakannya untuk membantu Agetha? Apa itu pertanda jika aku tak membutuhkan bala bantuan? Oh, God! Apa yang harus kuputuskan? Mimpi malam ini membuat keputusanku goyah."
Gerutunya tak berangsur lama. Ia tak ingin membuang waktu lagi. Sebab itu, tangannya langsung meraih sebuah busur beserta anak panah yang menjadi peninggalan sang ibu. Setelah itu, ia pun bergegas menemui seseorang—Edrea.
Baru saja ia keluar dari kamar, para siswa kelas satu yang berbondong-bondong menatapnya sekilas. Tatapan itu tak mengartikan apapun. Seolah tak ada yang membuat mereka heran mengapa ada sosok asing yang berada di lingkungan mereka.
Tanpa mempedulikan para siswa kelas satu yang berbondong-bondong menaiki lift secara antri, Zealin pun memilih untuk turun menggunakan tangga. Zealin tak seorang diri saat melewati tangga tersebut. Di belakangnya ada beberapa siswa kelas satu yang asyik menceritakan sesuatu. Tanpa sengaja, percakapan itu terserap oleh gendang telinga hingga membuatnya paham apa yang mereka bicarakan.
"Aku tak sabar melihat Nona Edrea melawan gadis itu." Seorang siswi terdengar sangat antusias dengan pembicaraan mereka.
"Gadis? Seorang gadis yang akan melawan Nona Edrea? Jika kita taruhan, aku akan mendukung Nona Edrea sepenuhnya," sambar siswi lainnya.
"Aku yakin, pertarungan itu pasti akan sangat seru," timpal seorang siswa dengan suara berat.
"Ku dengar, gadis yang akan dilawan oleh Nona Edrea memiliki sihir yang belum diketahui." Siswi lain kembali menimpali percakapan mereka. Membuat Zealin makin tertarik mendengarkannya dan tanpa sadar memperlambat langkah kakinya saat menuruni tangga.
"Aku juga mendengarnya. Tapi kupikir, mungkin dia memang tak mampu menggunakan sihir?" balas sang siswa dengan bertanya-tanya.
"Entahlah. Kita lihat saja nanti."
"Apa kalian tahu siapa gadis itu?"
"Tidak. Aku sibuk mengasah sihir, jadi aku tak peduli dengan siapapun gadis bodoh yang dengan sombongnya menandingi Nona Edrea."
Tiba-tiba langkah Zealin terhenti dan ia berbalik menatap ketiga siswa kelas satu yang ikut terhenti karenanya.
"Maaf, apa kalian tahu di mana Edrea berada?" tanya Zealin tanpa basa-basi.
Ketiga siswa itu saling menatap, kemudian memandang Zealin kembali. "Kudengar Nona Edrea berada di aula pertandingan."
▪️▪️▪️▪️▪️
Baru saja sampai di depan pintu masuk aula, ia melihat Lyan bersandar sembari melipat kedua tangannya ke d**a. Matanya menatap kosong ke satu arah. Seperti ada hal yang ia pikirkan.
Zealin pun langsung bergegas menghampiri. Ia melewati beberapa siswa yang asyik bergurau di depan pintu masuk. Hingga akhirnya sampai di depan sosok itu.
"Pagi," sapa Zealin membuyarkan lamunan Lyan. Sosok itu pun segera memperbaiki posisi dan langsung menarik pergelangan tangan Zealin masuk ke aula pertandingan. "Ada apa?"
Tak ada jawaban dari Lyan. Sosok itu terus menarik pergelangan tangan Zealin hingga masuk ke sebuah ruangan yang berada di dalam aula pertandingan. Zealin pun tak memberontak, sebab ia tahu jika Lyan pasti akan membawanya menemui Edrea.
Dan benar adanya, saat Lyan membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dulu, tampak di dalam ruangan ada Edrea, Klein, dan Zinno yang tengah bercakap. Hingga kehadirannya dengan Lyan menjeda percakapan mereka.
"Hey yo, Ze dan Ly!" sapa Zinno dengan senyuman khasnya—menunjukkan rentetan gigi kuda yang ia miliki.
"Hai, Zinno." Zealin membalas senyuman seraya menyapa kedua orang lainnya.
Setelah Lyan melepas genggamannya, ia pun langsung duduk di samping Klein tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Jadi, apa kau sudah memutuskannya?" Seperti biasa, Klein tak suka basa-basi. Ia terobsesi untuk mencecar pertanyaan bagi siapapun.
Zealin mengangguk. Ia menatap Edrea dengan penuh keyakinan atas apa yang sudah ia putuskan. Walaupun sebenarnya masih ada keraguan dicelah keyakinan yang ia ambil.
Begitupun dengan Edrea, dengan senyuman tipis yang membuatnya makin mempesona, Edrea menatap intens kedua netra milik Zealin. Bola mata itu selalu mengingatkannya dengan sahabat yang sudah lama tak ia jumpai lagi. Mungkin ... takkan bisa ia temui kembali.
"Aku menolaknya."
Tak ada yang terkejut dengan jawaban itu. Mereka tetap mempertahankan posisi awal dan ekspresi mereka yang terlihat santai. Sebab, mereka memang sudah menyangka sebelumnya jika Zealin akan menolak.
"Alasan?" tanya Edrea.
"Aku tak ingin membuang waktu. Bisa saja Dark Master mengambil inti murni Agetha tanpa menunggu Supermoon tiba. Atau bisa saja, tujuan Dark Master bukanlah mengambil inti murni Agetha. Namun, hal lain, seperti ... membunuhnya?" jelas Zealin. Ia menarik napas panjang dan kemudian melanjutkan ucapannya, "Jadi, itulah alasanku menolak tawaranmu untuk bergabung di sini. Sebelumnya aku sangat berterima kasih karena kalian menyelamatkan nyawaku dan memberiku tempat berteduh. Tapi, aku takut jika Agetha akan semakin terluka dan aku gagal menyelamatkannya."
"Bukankah dengan kau bertindak bodoh seorang diri, kau juga akan membuat Agetha terluka? Bahkan bukan hanya Agetha yang akan terluka, kemungkinan kau juga akan mati." Zinno menimpali dengan kenyataan yang mungkin akan terjadi.
Zealin terdiam. Ia teringat dengan ucapan Zinno dimana para penyihir waktu mampu melihat masa depan seseorang. Hal itu membuatnya bergidik ngeri.
"Aku tau kau sangat mengkhawatirkan saudari kembarmu itu. Tapi, bisakah kau berpikir sedikit realistis? Tentang apa yang menjadi bekalmu melawan Dark Master," timpal Klein yang semakin membuat Zealin terpojok. "Jangan katakan jika kau hanya berbekal busur dan anak panah yang kau punya. Atau ... hanya dengan akal cerdik untuk menyusun taktik?" Klein tertawa remeh. "Jangan gila. Dark Master tak sebodoh yang kau pikirkan."
Ya, ia memang tak memiliki bekal apapun. Kekuatan pun sebatas berada di busur panah yang ia pegang. Seperti yang sudah terjadi, meski terbaluti dengan sihir, busur panahnya tak mampu menumbangkan Hex tingkat dua. Apalagi saat ia gunakan untuk melawan Dark Master yang merupakan Hex tingkat satu. Sudah pasti ia memang benar-benar akan mati sebelum terluka.
Diam kembali menyelimuti Zealin. Ia tak mampu menjawab dengan alasan apapun. Karena memang yang dikatakan Klein adalah benar. Ia masih belum memiliki bekal yang cukup untuk menyelamatkan Agetha.
Saat yang lain sibuk mencerca keputusan Zealin, Lyan hanya terpaku diam mengamati gerak-gerik Zealin yang tampak gelisah. Sudah dipastikan jika gadis itu kembali dilema dengan tawaran.
"Baiklah jika kau menolak. Aku menerima penolakanmu. Tapi ... dengan satu syarat." Edrea bangkit dari duduk dan berjalan menghampiri gadis berambut pirang dengan busur dan anak panah yang menggantung di bahu kirinya.
"Syarat?"
"Lawan aku."
▪️▪️▪️▪️▪️