▪️Chap 6▪️

2313 Kata
-Setiap orang memiliki kekuatan yang tak dimiliki pribadi lainnya- ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ "Ho-ho, ini akan seru." Zinno terlihat sangat antusias mendengar syarat yang dilontarkan Edrea pada Zealin. "Ta—tapi ... Aku tak mampu menggunakan sihir," bantah Zealin. Jelas ia takut, jika dirinya akan dikalahkan dan pada akhirnya menguras tenaganya untuk melawan Dark Master. "Jika kau menolak, aku takkan segan untuk mengikatmu dengan sihir penyegel. Kau takkan mampu pergi kemanapun semaumu." Suasana semakin mendesak Zealin. Ia seperti tenggelam di dasar lautan dengan tekanan yang amat mengerikan. Zealin menghela napas pelan. Ia menutup mata dan menunduk sebentar. Kemudian mengangkat wajahnya kembali dan melempar tatap pada Edrea. "Baiklah. Aku akan melawanmu." ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Aula pertandingan berada di belakang ketiga gedung akademi. Gedung yang menjulang tinggi berbentuk setengah lingkaran berwarna silver dan ada logo Casnia Academy. Aula ini hanya digunakan untuk pertandingan-pertandingan tertentu. Seperti halnya pertandingan kenaikan tingkat dan pertandingan khusus seperti sekarang. Sangat jarang ada seseorang yang berani melawan Edrea selain Klein. Bahkan sekarang Klein pun tak sesombong saat itu yang mengajak Edrea berduel one by one. Kini Edrea dan Zealin tengah berada di titik pusat perhatian. Tempat duduk melingkar yang bertingkat membuat para mata dimanjakan dengan sempurna. Mereka mampu melihat dari titik manapun saat pertandingan akan dimulai nanti. Terlihat Edrea dengan tangan kosong dan Zealin menggunakan busur panah andalannya. "Apa kau yakin berani melawanku tanpa sihir?" tanya Edrea sebelum pertandingan dimulai. Terlihat cahaya merah yang keluar dari kedua telapak tangan Edrea yang sedikit terangkat ke depan. Seolah jawaban 'ya' dari Zealin akan langsung mendapat hantaman dari sihir yang Edrea gunakan. "Aku memakai sihir. Meski tak sekuat dirimu." Busur dan anak panah yang sudah menyatu di tangan terarah kepada Edrea. Jika Edrea tak main-main dengan pertandingan itu, maka Zealin pun juga takkan main-main meskipun harus melukai Edrea sekalipun. Sunggingan senyum tipis menggantung di bibir Edrea. "Nyalimu besar juga." "Akríveia, tachýtita, ischýs." Busur panah yang sudah terangkat langsung bercahaya emas menyilaukan. Telunjuk dan ibu jari yang menarik anak panah perlahan melepaskan bersama mantera sihir yang ia lantunkan usai. Di sisi lain, Edrea menggumamkan sesuatu. Memperkuat angin yang berada di sisinya. "Roufíchtra," gumamnya yang membuat pusaran angin berputar mengelilingi dan menumbangkan anak panah yang hampir berhasil mengenai d**a. "Chtýpima Fireball." Dalam sekejap mata, Zealin dirundung bola api yang melesat cepat. Kelincahannya sangat menguntungkan. Gadis bernetra Aquamarine dengan rambut pirang terkuncir satu di belakang berhasil menghindari bola-bola api milik Edrea. Ia terus berusaha membidik Edrea dengan anak panah yang tersisa. Walau sebenarnya, tenaganya telah terkuras habis karena penghindaran yang ia lakukan. Andai ... andai dia bisa menggunakan sihir. Keseimbangan tubuh, kekuatan, bahkan pemulihan akan terkontrol sebaik Edrea saat ini. Wanita itu tetap pada posisinya. Berbeda dengan Zealin yang sudah kalang kabut menghindari serangan demi serangan. "Fotiá anemostróvilos." Mantera yang kali ini diucapkan oleh Edrea menimbulkan pusaran hebat berbentuk spiral. Melayangkan hawa panas sepanas bara api yang menyayat kulit. Jika Zealin terkena sihir yang saat ini akan dilayangkan untuknya, sudah dipastikan Zealin akan hangus terbakar tanpa sisa. Melihat keruhnya pertandingan, pihak akademi membangun sihir pelindung untuk para penonton. Menyelamatkan mereka dari amukan Edrea yang amat dahsyat. Zealin tampak jatuh bangun hingga mendapat luka di beberapa bagian tubuhnya. Lagi-lagi ia berhasil menghindari serangan mengerikan dari Edrea yang tampak santai melafalkan berbagai mantera sihir. Sedangkan dirinya yang hampir kehabisan stok anak panah harus menahan sakit dan tetap tersadar. Lain hal dengan Edrea yang selalu mampu beregenerasi dengan cepat saat dirinya terluka. Semua itu karena sihir penyembuh yang ia kuasai. Akibatnya, luka yang didapatkan Edrea karena mata panah milik Zealin selalu berhasil sembuh dan tertutup tanpa membutuhkan waktu lama. "Apa kau ingin menyerah?" tanya Edrea di sela serangannya yang bertubi-tubi. Lantai aula yang beralaskan tanah mengeluarkan percikan-percikan api yang membuat Zealin harus lincah menghindarinya. Zealin yang tampak kuwalahan langsung terjatuh dan terdiam meringis kesakitan. Ia hampir tersungkur ke bawah dengan menahan sakit pada luka-lukanya. Napasnya tersengal hingga pada akhirnya lututnya tak mampu lagi menopang tubuh. Zealin ambruk bersimpuh. Meski tangannya masih setia memegang busur emas yang menjadi penyangga tubuhnya agar tak tergeletak ke lantai aula. "Synthlívetai," gumam Zealin disela napasnya yang tersendat. Langkah yang diambil Edrea mendadak terhenti. "Uhuk!" Wanita berambut hitam kecokelatan itu tampak menakan d**a kirinya. Tepat di area jantung yang tiba-tiba berdetak menyakitkan. "Péfto káto." Zealin kembali menggumamkan sesuatu. Membuat Edrea kembali bersimpuh seperti tengah menahan sakit. Suasana tampak menegang. Membuat para mata yang menjadi pengamat memicu degub jantung menjadi bertalu-talu lebih cepat. Mereka bersorak. Memberi kekuatan untuk sang pemimpin agar tetap bangun. Memberi dukungan untuk Edrea agar tak merelakan hilangnya kesadaran. Edrea memahami semua sorakan yang terdengar sebagai dengungan tanpa arti di telinganya. Rasa sakit yang seolah melilit hati, membuatnya sangat ingin jatuh dan menyerah. Namun, ia tak mau jika harus menyia-nyiakan usahanya untuk membujuk Zealin agar mau bergabung di Casnia Academy. "Dýnami, prostasía." Seketika rasa sakit yang ia rasa sedikit berkurang. Perlahan Edrea bangkit dan menarik napas. "Sfragída antochís" Edrea meredam cahaya merah yang keluar dari kedua telapak tangan. Ia berjalan mendekati Zealin yang sudah tak berdaya dan bersimpuh di depannya. Edrea meraih dagu Zealin dan membuat gadis itu menatapnya. Wajah cantik gadis itu penuh dengan luka dan bercak darah. "Maafkan aku." Walaupun penuh dengan sesal, Edrea puas karena berhasil memberitahu Zealin akan mengerikannya kekuatan sihir yang dilawan tanpa sihir. Ia pun mengangkat tangan kanan sebagai interupsi jika bala bantuan kesehatan harus datang. Sorak sorai yang terdengar sebagai pertanda bahwa kemenangan telah melekat pada Edrea. Kemenangan yang dirasakan para penonton mungkin lebih spesifik ke hal yang umum—pemimpin mereka berhasil menang melawan gadis asing. Sedangkan kemenangan yang Edrea rasakan adalah berhasil membawa Zealin bergabung bersama mereka. ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ "Sepertinya kau lebih beruntung karena mampu menumbangkannya secepat itu, Ed," ucap Klein setelah melihat keadaan Zealin yang masih tak sadarkan diri. "Kau lihat, kan?" Edrea mengangguk. Ia tetap fokus menyembuhkan Zealin dengan sihirnya. Gadis itu hanya kelelahan sesuai dengan diagnosa. Tak ada luka serius karena memang dirinya tak berniat melukai Zealin. Apalagi Zealin begitu lincah dan sigap menghindari setiap serangan yang Edrea hantarkan. Tenaga Zealin tanpa sihir memang sudah dibatas maksimal. Namun, jika Zealin mampu menggunakan sihir yang ia kuasai, pertarungan yang Zealin tangani pasti takkan mudah dihentikan. Krieett Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Klein. Tidak dengan Edrea yang tetap fokus dengan Zealin. Tampak seorang lelaki jangkung dengan wajah datarnya masuk dan menghampiri Klein. Matanya tertuju pada Zealin yang berada di bawah pengobatan Edrea. "Bagaimana keadaannya?" "Seperti yang kau lihat. Dia masih belum sadarkan diri," jawab Klein mewakili Edrea. "Kau melukainya?" "Tidak. Zealin hanya kelelahan karena tenaganya terkuras habis." Lagi-lagi Klein yang menjawab pertanyaan Lyan—sosok itu—meski pertanyaan itu ditujukan untuk Edrea. "Kau cemas?" Kali ini Edrea yang melontarkan pertanyaan tanpa menatap sosok yang ditanyai. "Aku hanya tidak ingin dia mati begitu saja." Klein tertawa sarkas. "Alasanmu mengejutkan, Ly. Kupikir kau tak menyukainya." "Bukan masalah aku menyukai atau tidak menyukai. Aku hanya tak ingin ada kematian lagi." "Kematian itu pasti. Tapi aku tidak berniat membunuhnya," sanggah Edrea. Cahaya biru—sihir penyembuh—yang keluar dari telapak tangan Edrea mulai mereda. Gadis berambut pirang pucat yang masih terlelap menjadi pusat perhatian ketiga orang itu. "Dia akan segera sadar. Aku menitipkannya padamu." Edrea bangkit dari duduk. "Aku pergi sebentar. Ada yang harus kutangani." Tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut, Edrea langsung berpaling dari ruang kesehatan dan meninggalkan Lyan bersama Klein. "Apa kau melihatnya juga?" Lyan mengangguki pertanyaan Klein. Seolah tahu apa yang dimaksud tanpa penjelasan lebih detail. "Aku menyusul Edrea. Kau di sini menemaninya." Setelah Klein mengekori Edrea keluar dari ruangan, Lyan mendudukkan diri. Rasanya lega karena gadis yang ia khawatirkan ternyata baik-baik saja. Ia hanya tak ingin melihat Edrea melukai seseorang yang sangat ambisius menyelamatkan nyawa keluarga tersayangnya. Karena ia sangat paham, bagaimana rasa menjadi sebatang kara yang selalu menuai diskriminasi. "Eungh," lenguh Zealin sembari membuka kedua matanya secara perlahan. "Lyan?" Sosok yang pertama kali tertangkap kedua netranya itu hanya diam duduk di tempat semula. "Kupikir aku akan mati." "Kau salah." "Hm?" Zealin mengubah posisinya menjadi duduk. Meski kepalanya masih sedikit pening, namun staminanya terasa penuh kembali. "Salah bagaimana maksudmu?" "Edrea yang akan mati jika dia tak bisa menumbangkanmu sesegera mungkin." Zealin terkekeh hambar. "Bagaimana bisa? Kau meledekku?" "Jadi, kau belum menyadarinya?" "Aku sedang malas berteka-teki, Ly. Jadi, kumohon jangan buat aku penasaran." "Kau ... memang seistimewa yang dikatakan ibumu. Jika kau mendalami sihir yang ada dalam dirimu, aku yakin sihirmu akan melebihi kehebatan sihir milik Edrea." Lyan bangkit dari duduknya. Ia berdiri di sebelah tempat Zealin berada dan menatap gadis itu dengan intens. "Aku melihat ada sihir hitam mengelilingimu." "A—apa kau yakin?" Helaan napas panjang membuat Lyan harus memijat keningnya. "Kau benar-benar tak menyadarinya? Mantera-mantera yang kau ucapkan berhasil membuat Edrea terluka cukup parah. Aku terkejut karena kau hanya mengalami kelelahan karena staminamu terkuras habis. Tapi aku lebih terkejut karena melihat Edrea mati-matian menggunakan sihir penyembuh untuk dirinya sendiri." "Tapi, aku—" "Dengarkan aku," sela Lyan. "Sihir yang kau gunakan tanpa kontrol, akan memusnahkanmu sendiri. Jika kau bertanya, dimana kau bisa belajar menguasai dan meng-handle sihirmu, aku yakin kau sudah tau jawabannya." Zealin terdiam. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Lyan. Laki-laki itu sudah pasti berusaha membujuknya agar dirinya mau bergabung di Casnia Academy. "Apa yang kukatakan bukan kata-kata bujukan atau rayuan. Aku hanya membuat pikiranmu terbuka dan ... kau bisa berpikir realistis. Bukankah jika kau bisa mengusai sihirmu dengan baik, kau bisa menyelamatkan Agetha tanpa kesulitan? Aku yakin, Dark Master juga akan kuwalahan menghadapi sihir yang kau punya." Seperti biasa, tanpa basa-basi lagi dan mendengar bantahan Zealin, Lyan langsung berpaling dari ruang kesehatan. Meninggalkan gadis berambut pirang pucat itu sendirian dan dibaluti keresahan. "Edrea terluka karenaku?" ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ "Bagaimana keadaan kedua gadis itu? Apa mereka sudah membaik?" Sembari menunggu lift berhenti di tempat tujuan, Edrea terus meletakkan tangan kanannya di d**a kiri. Cahaya biru yang terpancar samar mengartikan bahwa dirinya tengah menggunakan sihir penyembuh. "Mereka baik-baik saja. Seperti yang sudah kita duga, mereka memiliki stamina yang luar biasa. Untung saja Zinno datang tepat waktu dan berhasil membawa kabur mereka dari pemburu." TING! Suara lift yang terhenti saat sampai di tujuan membuat Edrea melerai sihir penyembuhnya. Ia tak mau jika ada siswa atau mata lain yang melihatnya menggunakan sihir penyembuh. Bukan karena ia tak ingin terlihat lemah, hanya saja ia tak ingin membuat khawatir yang lainnya. Setelah keluar dari lift, mereka pun langsung menuju ke tempat tujuan. Percakapan mereka masih berlanjut. Menceritakan tentang kejadian semalam yang sempat menggemparkan. Beruntung malam itu Edrea sigap dan Zinno pun bergegas melaksanakan tugas dari sang pemimpin. Alhasil, kedua gadis yang saat ini berada di depan mata Edrea, bersama-sama memasang senyuman terindah mereka. "Nona Edrea, kami berterima kasih padamu." Edrea membalas senyuman itu. Kehangatan langsung tersalur dengan nyaman. Akhirnya, ia tak melihat adanya korban yang berjatuhan lagi akibat eksekusi publik di Vandoria. ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Tak terasa, senja kembali menyapa. Sayup-sayup suara burung mengantar mentari untuk beristirahat. Masih dalam keadaan pucat, Zealin akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruang kesehatan. Ia celingukan mencari seseorang yang bisa ditanyai tentang keberadaan Edrea. Jujur saja, ia memang khawatir karena mendengar bahwa Edrea terluka cukup parah karenanya. Padahal dia sendiri tak sadar telah melakukan apa. Seingatnya, ia hanya terus berusaha menghindari setiap serangan yang Edrea lempar ke arahnya. "Kau mencariku?" Suara nyaring itu mengagetkannya. Zealin pun langsung berbalik dan mendapati sosok yang ia cari. Matanya menelusuri tubuh wanita itu dari ujung kaku hingga ujung kepala lalu kembali lagi ke ujung kaki. Tak ada luka sedikitpun di sana. "Kau baik-baik saja?" "Awalnya tidak. Tapi sekarang, aku sudah merasa lebih baik. Ada apa?" "Bisakah kita bicara berdua?" "Baiklah. Mari ke ruanganku." Edrea pun menggiring Zealin ke sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat mereka bertemu. Sebuah ruangan yang tampak sederhana hanya dengan meja dan kursi kebesaran, sofa yang tertata dengan posisi letter U, kemudian rak-rak buku yang penuh dengan buku-buku tebal membosankan, lalu jendela yang cukup lebar dan menampakkan area luar Casnia Academy. "Silakan duduk." Mereka pun duduk berhadapan di sofa yang empuk dan nyaman. Dengan suasana hari yang mulai malam, keheningan cukup rentan menghinggap di keduanya. "Apa benar aku melukaimu?" tanya Zealin sedikit takut. "Kau tidak menyadarinya?" Sebuah jawaban yang mengandung pertanyaan itu pun segera dibalas dengan gelengan. "Ya, benar. Kau melukaiku. Saat kau hampir hilang kesadaran, kau mengucapkan mantera sihir terlarang." Kening Zealin mengerut tak percaya. Ia benar-benar tak mengingat apa yang sudah dikatakan oleh Edrea. Meski ia tahu jika Edrea tak mungkin berbohong akan hal itu. "Itu pertanda, aku benar-benar pengguna sihir hitam?" Edrea terkekeh mendengar pertanyaan polos dari Zealin. "Siapa yang mengatakan itu?" "Lyan Rald." "Aha-ha-ha! Ternyata dia juga menyadarinya. Aku suka dengan gaya pikir Lyan." Zealin hanya terpaku diam melihat Edrea tertawa puas. Seolah apa yang didengar oleh wanita itu adalah kabar gembira sebuah pernikahan. "Jadi, yang dikatakan oleh Lyan itu benar?" "Emh, kita tak bisa menyimpulkan itu dengan cepat. Kita harus melihat sampai dimana batas sihir dan sihir apa saja yang bisa kau kuasai. Untuk mantera yang kau ucapkan, kupikir semua penyihir juga bisa melafalkannya. Hanya saja, saat kau melafalkan mantera terlarang itu, efeknya sangat dahsyat untukku. Apalagi, kau mengucapkannya di saat energimu sudah terkuras habis." Anggukan paham menjawab penjelasan dari Edrea. "Jadi, intinya ... aku memang harus berada di sini, kan?" "Keputusan tetap berada di tanganmu. Pertandingan yang kita lakukan kemarin, hanya mengandung satu tujuan." "Apa?" "Aku hanya ingin kau tahu, betapa beresikonya melawan sihir ... tanpa sihir." ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Footnote : ▪️Akríveia, tachýtita, ischýs : Kekuatan, Kecepatan, Ketepatan ▪️Roufíchtra : Pusaran Angin ▪️Chtýpima Fireball : Hantaman bola api ▪️Fotiá anemostróvilos : Tornado Api ▪️Synthlívetai : Remuk ▪️Péfto káto : Jatuh ▪️Dýnami, prostasía : Kekuatan, perlindungan ▪️Sfragída antochís : Segel kekuatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN