-Kesalahpahaman hanya akan menuai penyesalan di masa depan-
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Di rimbunnya Hutan Criveus, Casnia Academy berdiri kokoh dengan tenang. Keempat gedung—Saphire, Emerald, Amethys, dan Aula Pertandingan—memiliki luas yang cukup memakan area. Mereka tak tanggung-tanggung membangun gedung-gedung itu dengan megah walaupun hanya memiliki tingkat tiga. Pemerintah Castavonia tidak mengetahui adanya Casnia Academy meski bangunan mereka memakan separuh wilayah hutan. Sebab, sihir. Para pendiri Casnia Academy telah mengerudungi akademi dengan sihir pelindung. Dimana takkan ada manusia normal—yang tidak memiliki keturunan penyihir—mampu melihat gedung akademi. Namun, tidak untuk para Hex. Para Hex mampu mendeteksi keberadaan para penyihir meski para penyihir tak menyadari jika dirinya adalah seseorang yang memiliki sihir dalam dirinya. Akan tetapi, setelah kejadian pemberontakan Hex di Casnia Academy, Edrea bersama Klein membangun dinding pelindung tambahan dan alarm pengingat jika hawa negatif dari Hex terdeteksi dari jarak tertentu.
Awalnya siswa akademi hanya terdiri dari beberapa belas siswa. Namun, seiring berjalannya waktu, siswa yang bergabung dari tahun ke tahun pun makin meningkat. Kemungkinan keturunan para penyihir lebih menyadari bahwa keberadaan mereka semakin terancam.
Ibukota Vandoria merupakan ibukota yang mengerikan. Hawa negatif yang ditimbulkan semakin meluas dan menjadi-jadi. Apalagi saat para penyihir yang masih menyembunyikan identitasnya mengetahui tentang eksekusi publik seorang penyihir murni. Semenjak saat itu, keberadaan para penyihir semakin terancam dan akhirnya memilih untuk bergabung dengan Casnia Academy.
Tujuan mereka hanya satu, mengasah sihir mereka agar mampu melawan kekuasaan yang sudah menyalahi perikemanusiaan. Mereka ingin meluluh-lantahkan hasutan-hasutan para Hex yang membuat warga semakin membenci penyihir tanpa alasan. Kesalahpahaman di masa lalu juga harus teratasi. Karena anak cucu mereka juga membutuhkan hidup normal layaknya manusia biasa.
Kini mereka tengah bersemangat menjalani hari di Casnia Academy. Para siswa baru sangat antusias mendengarkan materi yang disampaikan oleh Lyan—sebagai couch penyihir elemen air. Dengan gagah mengenakan seragam couch Casnia Academy, Lyan berdiri di depan barisan para siswa yang yang terdiri dari sekitar dua puluh siswa. Ia hanya memegang seperempat dari siswa baru, karena yang lainnya dilimpahkan ke couch lain. Dia memegang khusus siswa yang menguasai elemen air saat penentuan dominan sihir.
"Sihir yang kita kuasai itu terdiri dari tiga jenis. Yang pertama adalah sihir dasar, sihir modifikasi, dan sihir terlarang.
Sihir dasar adalah sihir yang mampu kita gunakan dengan menggunakan energi yang tak cukup banyak. Sihir-sihir dasar bisa dikatakan seperti sihir bola-bola air, sihir tornado air, atau yang lainnya. Kalian bisa membaca materi di file yang sudah pihak akademi kirim bentuk hologram. Kalian bisa pahami itu dan dua hari lagi kita akan lakukan ujian praktek.
Lalu, sihir modifikasi adalah sihir yang kita modifikasi menjadi sihir kita sendiri atau jelasnya, menjadi sihir dimana hanya kita yang mampu mengontrolnya.
Sedangkan, sihir terlarang yang dimaksud adalah sihir yang sangat berbahaya. Para penyihir mampu melafalkan semua mantera sihir terlarang. Namun, mereka akan musnah seiring mantera itu bekerja. Jadi, bukan hanya si target yang akan mati, tapi si pelafal mantera juga akan musnah. Sampai di sini, paham?"
Setelah mendengar penjelasan dari Lyan, seorang siswa mengangkat tangannya. Lyan pun mempersilakan untuk memberinya waktu berbicara.
"Sewaktu pertandingan Nona Edrea dengan gadis asing itu, aku melihat hanya ada bola-bola api dan tornado api. Itu berarti Nona Edrea hanya menggunakan sihir dasar saat pertandingan? Kenapa? Bukankah pertandingan itu merupakan pertandingan yang serius? Tapi kenapa Nona Edrea terkesan main-main dan tak menggunakan sihir modifikasinya?" Pertanyaan itu seolah mewakili pertanyaan setiap kepala yang berbeda. Pada akhirnya, Lyan memang harus menganggukkan kepala karena memang Edrea hanya menggunakan sihir dasar saat melawan Zealin.
"Yang pertama, Edrea memang menggunakan sihir dasar saat itu. Dia memiliki maksud dan tujuan. Ya, hanya dia sendiri yang tahu apa alasannya. Yang kedua, jika Edrea menggunakan sihir modifikasi miliknya, sudah dipastikan Casnia Academy akan mengalami kerusakaan cukup parah. Kalian bisa melihat, seperti apa sihir dasar milik Edrea. Bukankah sudah cukup mengerikan?"
Seorang siswi ikut mengangkat tangan setelah Lyan menjawab pertanyaan seorang siswa tadi.
"Couch, tapi aku melihat Nona Edrea kesakitan secara tiba-tiba. Apa Nona Edrea menggunakan sihir terlarang juga saat itu?"
"Tidak."
Mereka saling menatap satu sama lain. Seolah tak percaya jika dugaan mereka dibelokkan. Ya, bukan Edrea yang menggunakan sihir terlarang. Namun, lawan dari Edrea.
"Jadi, maksudnya, si gadis itu yang menggunakan sihir terlarang?" timpal siswa lainnya semakin penasaran.
Lyan hanya diam. Membiarkan mereka bertanya-tanya.
"Lalu, bagaimana keadaan gadis itu? Apa sekarang dia—"
"Dia akan menjadi teman kalian di Gedung Saphire." Lyan menjawab sebagai penutup percakapan tentang Edrea dan Zealin. Ia tak bisa mengatakan semua hal kepada para siswa. Hal itu ia lakukan untuk menjaga hubungan tanpa memikirkan rasa takut dengan rekan sendiri.
Para siswa semakin melongo dibuatnya. Antara takut dan tak percaya karena seorang gadis yang mampu menggunakan sihir terlarang—terlebih lagi tak ada luka yang serius setelah menggunakannya—akan menjadi rekan mereka sebagai siswa tingkat tiga.
"Baiklah. Hari sudah semakin sore. Kalian harus kembali mengasah sihir dasar kalian agar semakin kuat. Karena, sihir dasar sangat penting untuk para penyihir."
"Siap, Couch!"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Sembari menunggu para siswa bimbingannya berlatih secara mandiri, Lyan duduk berteduh di bawah pohon rindang dekat dengan lapangan Gedung Saphire.
Ia memejamkan mata sejenak dan mengingat mengerikannya Zealin saat melafalkan mantera-mantera sihir terlarang. Namun, Zealin sama sekali tak menyadarinya. Gadis itu tak mungkin berbohong. Sebab, ia melihat sendiri bagaimana kesulitan Zealin saat menirukan mantera yang ia ajarkan ke para siswa tempo hari.
Secara sadar, gadis itu mungkin masih belum mampu menampung sihir secara berlebih. Namun, saat gadis itu terdesak, energi sihirnya seolah berpusat menjadi satu dan menjadi sebuah perangkap yang mematikan. Bagi lawan maupun bagi dirinya sendiri.
"Hey yo, Ly!"
Seperti biasa, Zinno hadir tanpa aba-aba. Dia langsung duduk di sebelah Lyan dan ikut bersandar di pohon yang menjulang tinggi.
"Jadi, Zealin memutuskan untuk bergabung?" Pertanyaan Zinno mengusik ketenangan.
Lyan terdiam sejenak. Setelah itu membuka matanya secara perlahan. Menatap langit sore yang tampak indah dengan kicauan burung saling bersahutan. Seolah mengajak untuk segera kembali ke rumah dan bersiap untuk mengistirahatkan diri. "Kupikir begitu. Tapi entahlah ... Edrea belum mengumumkan apapun." Setelah mengatakannya, kedua matanya kembali tertutup.
Zinno terdiam. Ikut menutup mata seperti Lyan yang terdiam menikmati sapuan angin sore.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Masih larut dalam percakapan sebelumnya, mereka sampai tak sadar jika malam telah tiba. Akhirnya, Edrea pun mengakhiri dengan sebuah pertanyaan yang belum juga mendapat jawaban.
"Jadi, kau mau bergabung?"
Zealin terdiam. Setelah percakapan dengan Edrea yang cukup panjang dan menyakinkan, Zealin pun menarik napas panjang dan tersenyum.
"Baiklah. Tapi, aku mohon padamu. Bantu aku menyelamatkan Agetha."
"Tak perlu kau memohon padaku, Ze. Karena kami—Para penghuni Casnia Academy—selalu membantu keluarga kami." Edrea selalu memasang senyuman yang menenangkan membuat hati gundah Zealin hilang.
"Terima kasih, Nona Edrea." Tentu saja senyuman manis Edrea di balas dengan senyuman indah milik Zealin.
Edrea terkekeh mendengar sapaan yang belum pernah ia dengar dari Zealin. "Baiklah kalau begitu. Istirahatlah di kamarmu yang kemarin. Besok, kau harus pindah ke Gedung Saphire dan menjalani langkah berikutnya."
"Siap, Nona."
Zealin pun langsung keluar dari ruangan Edrea. Ia merasakan ada yang terlepas dari pundaknya. Beban. Ya, beban yang berada di pikulannya terasa berkurang. Ia merasa yakin jika suatu saat teman-temannya di akademi akan membantunya menyelamatkan Agetha.
Saat perjalanannya menuju kamar tamu—kamar sementara yang ia tinggali, ia melihat Lyan bersama dengan Zinno tengah menunggu lift terbuka. Langkahnya pun semakin cepat menghampiri kedua sosok itu.
"Hey yo!"
Sontak Zinno berbalik dan melihat siapa yang menirukan gayanya. Senyumannya merekah sempurna. "Hey yo!"
Melihat kedua orang yang sedang asyik terkekeh, Lyan hanya membuang muka.
TING!
Suara pintu lift terbuka. Mereka pun segera masuk karena lift tampak kosong. Setelah itu, Lyan menekan tombol lantai yang ia tuju. Satu tujuan dengan Zealin dan Zinno.
"Kenapa kau memakai lift? Bukankah tinggal menjetikkan jari kau sudah bisa sampai di tempat yang kau inginkan?" tanya Zealin polos.
Pertanyaan itu membuat Zinno terkekeh renyah sedangkan Lyan tetap memaku wajah datarnya.
"Kau kira menggunakan sihir itu tak memerlukan energi, eum?"
Zealin terkekeh kikuk. "Mungkin." Selang beberapa menit, mereka terpaku dalam diam. Hingga akhirnya sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Zinno.
"Jadi, bagaimana keputusanmu?"
Zealin memasang sebuah senyuman. "Bergabung."
Tangan kekarnya menepuk pucuk kepala Zealin lalu mengusapnya pelan. "Anak pintar. Dengan mengasah kekuatanmu, aku yakin kau bisa menyelamatkan saudarimu itu."
"Semua ini berkat Lyan." Kedua netra Aquamarine yang berkilau indah di malam hari tersorot pada seseorang yang masih setia dalam diam. Sosk dengan rambut hitam legam dan netra biru Saphire yang mengagumkan. "Aku berhutang budi padanya."
Zinno berdeham. "Ho-ho, jangan jadikan aku angin lalu di sini, Ze."
"Semua karena takdir. Bukan karenaku. Jadi, jangan merasa ada hutang budi antara kita." Meski melontarkan sebuah sanggahan, Lyan tetap fokus menatap pintu lift yang masih tertutup tanpa sedikitpun melirik Zealin dan Zinno.
TING!
Ucapan Lyan membuat Zealin tertegun sejenak. Terkadang Lyan memang seperti air yang mampu dihangatkan oleh mentari. Bersikap mengalir dengan santai dan menyamankan. Namun, dalam sekejap, sosok itu lebih mirip disebut sebagai manusia es karena sikap dinginnya yang selalu menusuk.
"Jangan pikirkan sikap Lyan. Mungkin dia sedang lelah. Persiapkan saja dirimu. Karena besok, kau akan mengetahui sihir apa yang mendominasi energimu."
Zealin mengangguk sembari terus menatap punggung Lyan yang mulai menjauh. "Terima kasih, Zinno."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Di lantai satu Gedung Amethys, terdapat sebuah ruangan yang cukup luas. Ruangan itu berada di sebelah ruang diskusi. Di sana terdapat sebuah silinder yang berdiri tegak berisikan energi setiap elemen. Setiap kali ada penyihir yang menempelkan kedua tangan di sana, akan ada sebuah elemen yang mendominasi silinder tersebut. Mereka menyebutnya sebagai tabung elemen.
Zealin digiring Lyan dan Edrea untuk masuk ke ruangan tabung elemen. Mereka ingin memastikan elemen apa saja yang mendominasi sihir milik Zealin. Meski mereka tahu bahwa Zealin berpotensi menguasai sihir hitam, namun mereka juga ingin memastikan jika Zealin benar-benar mampu mengontrol elemen yang ia miliki.
Kini Zealin tengah berada di titik yang sudah ditentukan sebagai titik aman. Di depan sebuah tabung besar berukuran tinggi sekitar tiga meter dan diameter sebesar kurang lebih satu meter, Zealin diminta untuk fokus dan menempelkan kedua telapak tangannya ke dinding tabung.
"Fokus. Jangan pikirkan hal lain. Kosongkan pikiran dan hanya fokus pada telapak tangan yang menyentuh dindingnya tabung."
Edrea terus menuntun Zealin yang masih tampak ragu. Gadis itu mendesah pelan seolah tak nyaman. Beberapa kali ia melepaskan tangannya dari tautan dinding tabung. Ada rasa tak nyaman yang menjalar.
Saat tangannya akan kembali menyentuh dinding tabung, tiba-tiba saja Lyan menepuk pundaknya. Mengalihkan pandangan Zealin beserta Edrea.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.
"Aku takut."
"Lihat aku. Perhatikan ini," tuntun Lyan. Sosok berambut hitam dengan mata biru seperti batu Saphire itu menempelkan telapak tangan kanannya ke dinding tabung. Matanya terpejam dan fokusnya hanya ke satu titik. Selang beberapa saat, bagian isi tabung didominasi dengan air, ada buliran salju, dan beberapa sengatan seperti listrik. Hal itu menandakan jika Lyan menguasai elemen air dan mampu memodifikasi elemen air menjadi elemen es dan elemen petir.
Lyan pun melepas tangannya dari dinding tabung. Bagian isi tabung langsung kembali normal. Matanya melirik pada Zealin yang masih terpana dengan indahnya isi tabung saat disentuh oleh Lyan.
"Ah, bagaimana denganmu, Nona? Aku ingin melihatnya juga." Ucapan antusias Zealin membuat Edrea tertawa renyah. Gemas dengan sikap gadis yang masih terpana-pana dengan adegan yang ada.
"Ayolah, Ze. Ini bukan permainan. Kau harus mengetahui elemen apa yang kau kuasai." Tawanya mereda dan membuat Zealin mengangguk paham.
Gadis berambut pirang pucat itu pun langsung menghela napas panjang. Merilekskan pikiran dan memfokuskan pikirannya pada satu titik. Seperti yang dilakukan oleh Lyan. Gadis itu menempelkan kedua telapak tangannya ke dinding tabung dan memejamkan mata.
Beberapa saat berlalu, tak ada yang terjadi apapun di dalam tabung. Isi tabung masih sama seperti semula. Padahal Zealin sudah memfokuskan pikirannya sebaik mungkin.
Pada akhirnya, Zealin menyerah. Ia menatap lesu ke arah Edrea dan Lyan bergantian. "Sepertinya ... aku memang tak mampu menggunakan sihir."
"Ini aneh," gumam Edrea. Tangannya terlipat di diafragma dan jemari lentiknya mengetuk-ketuk dagunya heran. "Jika kau pemilik sihir hitam, tabung energi ini masih mampu mendeteksinya. Namun, mengapa—"
"Ed," sela Lyan. "Lihat."
Edrea melirik Lyan yang mengamati isi tabung. Saat kedua tangan Zealin terlepas dari dinding, isi tabung itu bergemuruh hebat. Seolah energi tengah berada di guncangan yang hebat.
"Ke—kenapa ini bisa terjadi?" Zealin terkejut karena isi tabung seperti diporak-porandakan oleh tornado besar.
Energi yang semula mengalir tenang, mendadak bercampur-aduk menjadi satu. Elemen-elemen yang berada di sana menggumpal jadi satu dan tak berbentuk. Mengerikan. Bahkan Lyan pun tak mampu mengalihkan pandangannya sedetik pun.
"Zealin ... kau benar-benar mengerikan." Kedua netra Edrea masih terpaku di tabung elemen. Untuk pertama kalinya, ia melihat energi besar yang berhasil mengobrak-abrik isi tabung. "Siapa kau sebenarnya?"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️