▪️Chap 8▪️

2167 Kata
-Sebuah senyuman mengantar pada pintu harapan keberhasilan- ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ "Target kita lolos." Sosok bersuara nyaring dengan tampilan rapi itu terlihat gelisah. Seolah takut akan dirajam hingga mati atau bahkan diluluh-lantahkan saat itu juga karena memberikan kabar buruk. Sosok lain yang mendengar kabar itu hanya terdiam menatap jendela. Langit pagi yang bersinar terang menjadi suram saat kedua mata itu melototinya. "Pergilah." Perintah itu memang sebuah perintah untuk pergi. Namun, setelah mendengar seucap kata itu, tak menggerakkan satu pun anggota tubuh sosok wanita bertubuh ramping di balik balutan pakaiannya yang ketat. Rasa takut dan gemetar menggelayutinya. Pikirannya ingin untuk pergi tapi tubuhnya tak merespon hal yang sama. "Ma—maafkan kami," ucapannya mulai menampakkan ketakutannya yang luar biasa. Sosok itu mengalihkan pandangannya dari jendela ke wanita yang masih terdiam di tempat. "Katastráfike apó." Sebuah jentikkan jari membuat sesuatu terdengar meledak. Bukan bom atau geranat. Melainkan ... tubuh sang wanita yang meledak bagaikan balon yang ditiup hingga meletus. Cairan merah kental yang awalnya mengalir rapi di pembuluh kini telah bebas berterbangan di udara. Membasahi lantai putih yang awalnya bersih. Setetes cairan yang tak sengaja hinggap di ibu jari sosok yang masih memaku senyum licik itu terasa seperti gulali. Dijlatnya penuh kenikmatan. "Itu hukuman, untuk orang yang tak bisa mampu melakukan tugas dengan baik." ▪️▪️▪️▪️▪️ Sebuah tepuk tangan terdengar dari arah pintu. Semua mata yang semula terfokus pada tabung elemen itu beralih ke sosok yang menepukkan kedua tangan. Terlihat seorang lelaki bertubuh jangkung dengan rambut sedikit kecokelatan itu berkacak pinggang. Tak lupa dengan senyuman miring tercetak di bibirnya. "Waw! Itu keren. Bagaimana kau bisa melakukannya, Ze?" tanya Klein—sosok yang baru saja datang—dan langsung berjalan mendekati ketiga sosok yang berdiri dekat tabung elemen. "Kau melihatnya? Bukankah sudah kubilang, jangan mengintip?" tanya Edrea menimpali pertanyaan Klein. "Kau memang kepala batu, Klein." Klein terkekeh pelan. "Aku hanya penasaran bagaimana reaksi tabung elemen, saat dia ...," ucap Klein sembari menatap Zealin. "... menyentuh tabung dan manyalurkan sihir mematikannya," sambung Klein. "Energi milik Zealin mengingatkanku dengan seseorang. Mungkin ... mereka hampir sama." Ucapan Edrea membuat Zealin menatap penasaran. "Seseorang? Siapa?" Lyan dan Edrea saling memandang. Sedangkan Klein hanya terdiam menatap kedua rekannya yang masih bertatapan seolah bertukar pikiran itu. Sontak, keduanya menatap Klein dengan serempak. "Klein?" tanya Zealin menebak. "Ya." "Ba—bagaimana bisa?" Dehaman kecil dari Klein ditujukan agar perhatian hanya miliknya. Semua mata pun langsung melirik ke arahnya dan menunggu apa yang akan diucapkan. "Kau ... memiliki tanda yang sama denganku. Namun, kita berbeda dari kesamaan yang kita miliki." "Aku ... tak mengerti bagaimana maksud dari perbedaan atas kesamaan yang kita miliki. Jelaskan dengan singkat karena aku tak sepandai yang kau pikir." Klein terkekeh sebelum melanjutkan ucapannya. "Jadi, kita ... sama-sama pengendali sihir hitam. Itu adalah persamaan kita. Tapi—" "Sihir hitam? Bagaimana kau bisa tau jika aku mampu mengendalikan sihir hitam? Sedangkan aku saja belum pernah mengeluarkan sihir apapun." Zealin menyela dengan tergesa. Setelah mendengar bahwa dirinya mampu mengendalikan sihir hitam, entah mengapa perasaannya semakin takut dan kalut. Ocehan Zealin membuat Klein mendesah berat. Ia memijat tulang hidungnya dan menggeleng pelan. "Inilah mengapa sebutan wanita bawel itu pantas kau dapatkan." Mendengar cemoohan Klein, Zealin menggembungkan pipinya kesal. "Baiklah, lanjutkan saja ucapanmu. Aku takkan menyela lagi." Saat Klein dan Zealin asyik beradu mulut, Lyan dan Edrea sudah santai duduk di sofa yang tersedia. "Kau benar-benar merepotkan." "Sudahlah. Lanjutkan saja penjelasanmu." Klein berdeham lalu bersedekap. Menatap Zealin dengan keseriusan terpancar dari kedua netra kecokelatannya. "Begini, akan kujelaskan tentang sihir hitam. Sesuai dengan pengetahuanku tentang hal itu. Dengarkan baik-baik dan jangan menyela. Atau ... akan kuhukum kau. Jadi, sihir hitam adalah sihir yang hanya bisa dikendalikan atau bahkan dikuasai oleh beberapa penyihir tertentu. Penyihir khusus. Di sini, yang dimaksud dengan penyihir khusus adalah penyihir yang berasal dari keturunan silang atau murni. Keturunan murni adalah keturunan yang berasal dari kedua orang tua sebagai penyihir. Seperti ibumu, dia adalah penyihir murni. Ada kemungkinan, nenek dan kakekmu adalah penyihir juga. Sedangkan, keturunan silang yang dimaksud adalah keturunan dari penyihir dan manusia. Atau bahkan, penyihir dengan manusia berdarah keturunan Hex. Sekarang, aku persilakan untuk kau bertanya terlebih dulu. Kurasa dari raut wajahmu, aku menerka akan ada banyak pertanyaan yang kau lemparkan." Zealin mengangguk. Tebakan Klein memang benar, dia banyak menuai pertanyaan dari semua penjelasan Klein. "Yang pertama, kemungkinan besar aku berasal dari keluarga penyihir murni sehingga aku mampu mengendalikan sihir hitam? Lalu, mengapa Agetha tak mampu melakukannya dan mengapa dia lemah? Yang kedua, apa perbedaan antara aku dan kau?" "Kemungkinan besar kau memang terlahir dari kedua penyihir murni. Namun, ada kemungkinan pula, kau terlahir dari keturunan silang. Tapi, kemungkinan kedua merupakan kemungkinan terbesar. Sebab, kau dan Agetha memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Dari kekuatan fisik dan inti tubuh kalian. Apa ayahmu orang biasa? Atau kakek nenekmu merupakan keturunan berdarah Hex?" Gelengan menjadi jawaban Zealin. "Aku memang mampu mengingat sebagian dari ingatanku saat aku masih berumur tiga tahun. Tapi aku tak pernah ingat siapa ayahku. Mom juga bilang kalau ayah sudah meninggal saat aku dan Agetha berumur satu tahun." "Kakek nenekmu? Atau, ibumu pernah mengatakan jika ayahmu juga seorang penyihir?" "Ya, mom bilang ayah juga seorang penyihir. Tapi untuk kakek nenekku, aku belum pernah dengar tentang mereka." "Ah, mungkin Agetha menguasai darah dari ibumu yang merupakan penyihir murni dan diserap oleh inti tubuhnya dengan baik. Sedangkan kau, menguasai sihir dari ibumu. Bisa saja kau juga punya inti tubuh yang mampu mengendalikan sihir sebagai sihir hitam." Zealin membulatkan mulutnya dan mengangguk paham setelah mendengar penjelasan Klein. "Baiklah, pertanyaan pertama sudah kujawab. Pertanyaan kedua, tentang perbedaanmu denganku. Jadi, kita memang mampu mengendalikan sihir hitam. Namun, kita berbeda. Kau ... punya kekuatan yang kurasa tidak normal. Berbeda denganku. Kekuatanku normal. Itulah mengapa aku lebih lemah darimu. Lihat ini." Klein berjalan mendekati tabung elemen. Saat kedua telapak tangannya menyentuh kaca tabung elemen itu, energi yang berada di dalam tabung langsung bergemuruh dan berubah menjadi seperti gumpalan awan hitam. Sedangkan saat Zealin menyentuhnya, awalnya tabung itu diam tanpa reaksi dan beberapa saat setelah itu, terjadilah reaksi. Itulah yang menjadi penyebab sihir hitam Klein dengan Zealin memiliki perbedaan. Klein pun melepas tautan tangannya dengan tabung. Kembali menatap Zealin dan mulai menjelaskan lagi. "Kau tahu perbedaannya, kan?" "Kurasa begitu. Tapi untuk spesifiknya, aku belum mengerti." "Sihirku, akan muncul saat aku benar-benar dalam keadaan terdesak. Bahkan bisa saja muncul saat aku dalam keadaan hampir mati. Tapi untuk sihirmu, mungkin sekarang kau belum bisa menguasainya. Karena bisa saja kau tak diajari untuk mengasah sihir yang kau punya. Namun, jika kau bertekad menguasai dan belajar sihir, kau akan menjadi kuat. Dengan sihir hitam, kau mampu menguasai beberapa elemen. Mulai dari air, api, tanah, udara, bahkan modifikasi. Ah, ya ... kau juga perlu mengontrol dirimu untuk tak terlalu sering mengucap mantera terlarang. Sangat berbahaya." Mantera terlarang. Ya, mantera yang tanpa sadar ia ucapkan untuk menyelamatkan diri. Ia memang tak sadar saat mengatakannya ketika berlawanan dengan Edrea. Namun, nalurinya secara otomatis mengucap mantera yang hampir saja membunuh Edrea. Zealin teringat, hari itu. Hari di mana Gretha—ibunya—melawan seseorang. Ia tak ingat begitu jelas karena ingatan itu adalah ingatannya saat berumur empat tahun. Hanya ingatan samar dan hitam putih. Gretha melawan sosok itu dengan susah payah. Ada dua mantera yang diucapkan wanita paruh baya itu. Namun, setelah mantera itu terucapkan, sosok yang menjadi lawan akhirnya tumbang dan sirna entah di mana. Sedangkan Gretha mengalami luka serius dan mati-matian menyembuhkan dirinya sendiri. "Synthlívetai, Péfto káto." Zealin kembali menggumamkan mantera sihir itu. Sekarang ia teringat dan paham, jika kedua mantera itu harus benar-benar ia tahan agar tak terucap kembali. "Sekarang kau paham?" tanya Edrea menyela percakapan mereka. "Sebenarnya simple, Ze. Kau hanya perlu berlatih sihir dan mengendalikan beberapa elemen hingga kau benar-benar bisa memastikan elemen sihir apa yang kau kuasai." "Ya, aku mau sesegera mungkin belajar sihir. Jadi, aku harus belajar darimana dulu?" "Pertama, kau akan dijelaskan tentang tingkatan sihir. Kedua, besok kau bisa bergabung dengan kelas Lyan—elemen air—terlebih dulu. Setelah itu, bergabung dengan elemen api dan seterusnya." Zealin mengangguki arahan Edrea. Setelah itu Edrea bangkit dari sofa dan berjalan menuju sebuah lemari kayu yang cukup lebar dan tinggi. Saat wanita itu membuka pintu almari, tampaklah rentetan buku dan ada beberapa helai baju yang tampak seperti seragam Casnia Academy. Edrea pun mengambil sepasang seragam. Kemudian memberikannya pada Zealin. "Pakailah. Seragam ini dilindungi sihir agar kau tetap berada di lindungan Casnia Academy." "Terima kasih, Nona." ▪️▪️▪️▪️▪️ Udara Hutan Criveus memang selalu menyejukkan. Memberikan oksigen murni untuk paru-paru yang terus bersirkulasi. Meski banyak semak belukar yang beracun tak membuat langkahnya terus menyusuri hutan dengan santai. Terik mentari yang mulai meninggi tak menganggunya sama sekali. Ia hanya terus berjalan menikmati sejuknya hutan dan rindangnya pepohonan. Baginya, Hutan Criveus adalah salah satu tempat terdamai. Tak ada yang berani masuk ke sana selain para penyihir dan para Hex. Tapi, Hex pun tidak menjadi kendalanya untuk tetap mempertahankan hobbynya mengelilingi hutan. "Hei," sapa seseorang dari belakang. Sontak ia berhenti dan memalingkan wajahnya. Sebab, ia mengenal pasti siapa pemilik suara itu. "Kenapa kau sendirian?" "Hobby." Gadis yang berjalan menghampirinya itu terkekeh. Lengkap dengan seragam yang sama dengannya meski ada tanda logo yang berbeda—Amethys dengan Shapire, gadis itu tampak lebih berbeda. "Bagaimana seragamku? Apa cocok?" tanya gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Zealin. Lyan—sosok itu—hanya mengangguk sekilas. Kemudian melanjutkan langkah santainya. "Kau suka ke sini sendirian?" "Ya, begitulah." Tak ada percakapan apapun setelahnya. Mereka berjalan beriringan hingga sampai di sebuah ujung. Ujung yang menampakkan sebuah pantai di Hutan Criveus. Pantai itu menghubungkan dengan Hutan Criveus dengan Kota Sunlone. Beberapa nelayan terlihat berlayar dan menjaring ikan. Begitulah mata pencaharian sebagian penduduk Kota Sunlone. "Kenapa kau menyukai kesendirian?" Selang beberapa saat, Lyan tak menjawab pertanyaan Zealin. Ia tampak fokus menikmati sepoi-sepoi angin pantai. "Karena dulu ... aku merasa nyaman saat sendiri. Keramaian adalah hal yang sangat mengerikan bagiku." "Kenapa?" "Kenapa?" Zealin mengerutkan keningnya heran karena Lyan tiba-tiba menatapnya penuh tanya. "Kenapa kau banyak bertanya tentangku?" tanya Lyan lagi. Menegaskan. "Karena aku tertarik dengan kehidupan orang yang sudah menyelamatkan jiwaku. Apa aku salah?" Lyan mengangguk. "Aku tak suka orang lain mencampuri hidupku. Jadi, jangan tanya apapun tentang diriku." "Baiklah. Kalau begitu, aku akan menanyakan tentang sihir. Apa saja sihir elemen air yang bisa kupelajari dari sekarang?" "Banyak." "Katakan padaku." Lyan menggeleng. "Ada banyak mata yang melihat. Kita harus jaga identitas kita sebagai penyihir. Apa kau mau dieksekusi publik karena mereka melihatmu menggunakan sihir di sini?" Zealin terdiam. Namun, mulutnya kembali meloloskan sebuah pertanyaan. "Ly, mengapa penyihir begitu dibenci?" "Aku ... tak mengerti." ▪️▪️▪️▪️▪️ "Mereka sedang mencari udara di Criveus. Kupastikan Zealin baik-baik saja bersama Lyan." Edrea yang terus menatap jendela itu tersenyum tipis. "Aku cukup lega karena Zealin mau bergabung dengan kita. Sebelum dia ditemukan oleh Dark Master." "Ya, aku pun begitu." "Ah, ya. Bagaimana dengan dua anak kembar itu? Apa mereka sudah mulai belajar sihir?" Klein menyesap kopinya sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Edrea. "Mereka sedang berlatih di tempat yang berbeda. Ya, karena mereka pengguna sihir yang berbeda. Yang satu, menguasai sihir penyembuh. Yang lainnya, menguasai sihir pemusnah. Kembar tapi berlawanan. Sama dengan Agetha dan Zealin." "Tak apa. Hal itu akan melengkapi mereka suatu saat nanti." Suasana hening sejenak. Dari sudut pandang Klein, hanya dedaunan yang dipandangi oleh wanita di sebelahnya. Sedangkan dari sudut pandang Edrea, Klein sangat yakin tercipta banyak harapan di sana. Wanita itu selalu banyak bermimpi. Melambungkan berbagai keinginan setinggi langit. Hingga terkadang melupakan jati dirinya sebagai manusia biasa. Sejak dulu, Edrea sangat menginginkan kebebasan bagi siapapun. Entah itu manusia normal ataupun penyihir. Namun, impiannya jatuh seketika. Setiap tahun ia melihat ada seorang penyihir di eksekusi publik. Sangat kejam baginya. Padahal para penyihir pun juga berhak untuk kehidupan yang layak. Tapi kini kehadiran Zealin seolah membuat harapan itu kembali ada. Bencana yang menimpa Zealin seolah pintu gerbang untuk kemenangan. Jika Zealin berhasil menaklukkan Dark Master, akan ada kemungkinan besar kutukan lenyap dari Castavonia. Sebab, Edrea sangat yakin jika Castavonia berada di bawah pengaruh Dark Master selama ratusan tahun ini. "Kau mengharapkan hal yang besar akan terjadi, Ed?" "Kau pasti tahu itu." "Kupikir, jangan lagi mengharapkan hal yang membelenggu dirimu sendiri." Edrea terdiam. Tak lama setelah itu, ia melirik Klein yang setia menatapnya. "Para penyihir juga berhak atas kebebasan hidup mereka. Mereka sudah berjuang sedemikian rupa. Jadi, aku juga harus membangun harapan yang bisa memicu semangatku. Tentu saja semangat ini demi kenyamanan mereka." "Kau begitu istimewa. Tak salah petinggi kita memilihmu untuk menjadi pemegang Casnia Academy." Edrea terkekeh. "Jangan rayu aku. Karena itu takkan berpengaruh apapun untuk kita." "Uuh, sangat sulit ternyata." "Sudahlah. Aku mau berkeliling dulu melihat para siswa berlatih. Kau bersantailah." Melihat Edrea keluar dari ruang Tabung Elemen, Klein mengulas sebuah senyuman tipis. "Kuharap, harapanmu akan terwujud, Ed." ▪️▪️▪️▪️▪️ Footnote : ▪️Katastráfike apó : Musnah ▪️Synthlívetai : Remuk ▪️Péfto káto : Jatuh
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN