-Rahasia yang masih terpendam, menjadi sebuah pecut untuk menggalinya-
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Aku ... tak mengerti."
Rambutnya terkibas terkwna sapuan angin yang permisi untuk lewat.
"Bohong."
Suara derik ranting memekak memenuhi telinga keduanya. Dahan-dahan yang bersinggungan berisik dan makin membuat suasana tampak hampa. Keduanya memang saling bercakap. Namun, tak semulus hembusan angin yang lewat.
Zealin merasa masih ada rahasia yang belum ia ketahui. Sejak dulu hingga sekarang, Gretha tak pernah bercerita mengapa penyihir diasingkan. Hingga datang hari kematian, Gretha masih menyembunyikan rahasia itu.
Kebencian terhadap penyihir telah mendarah-daging di umat Castavonia. Seolah dendam masa lalu sudah berangsur turun-temurun. Zealin hampir mengetahui akan hal itu, saat dirinya mencoba untuk memancing Agetha bercerita. Ya, kembarannya mengetahui seluk beluk kebencian para warga Castavonia terhadap penyihir. Namun, gadis itu selalu menyembunyikannya sama seperti Gretha.
"Mau ke mana?" tanya Zealin saat Lyan bergeser dari tempatnya. Sosok itu menatapnya sekilas lalu melihat sebuah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Saat ibu jarinya menekan sebuah tombol, keluar sebuah hologram yang menunjukkan para siswa telah menunggu. "Mereka siap belajar."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Grimoire adalah sebuah buku yang memuat teks sihir seperti halnya cara mengucap atau mengeja mantera dan sebagainya. Ribuan tahun lalu, grimoire telah digunakan berjuta-juta penyihir. Mereka dipilih oleh grimoire mereka sendiri. Seolah tergantung dengan kecocokan tubuh mereka dengan grimoire yang mereka dapatkan. Dahulu, mereka mendapatkan grimoire saat berusia lima belas tahun. Namun, seiring berjalannya waktu, nenek moyang menurunkannya secara modern.
Sebuah hologram yang muncul dari jam tangan adalah pengganti grimoire yang biasanya berbentuk buku cetak. Mereka dengan mudah belajar melafalkan mantera sesuai dengan elemen yang mereka kuasai. Setiap siswa akademi yang bergabung akan mendapatkan jam tangan bernama holomoire dan seragam sesuai dengan tingkatan mereka. Semua senjata yang sudah menyatu dengan mereka seperti panah, pedang, atau yang lain tetap menjadi hak milik dengan syarat dipergunakan sebaik mungkin.
Meski holomoire yang mereka pakai lebih sering digunakan untuk belajar sihir, namun tidak dibatasi juga jika holomoire milik mereka juga bisa dijadikan sebagai GPS atau alat bercakap dengan pihak akademi. Mereka bisa diketahui keberadaannya sekaligus bercakap dengan pihak akademi jika dalam keadaan terdesak saat menjalankan misi. Dunia modern memang sangat memudahkan bagi siapapun, termasuk para penyihir.
"Grogi?" Melihat raut wajah yang dimunculkan oleh Zealin, Lyan mengetahui jika gadis itu sedang tak nyaman.
"Ya, begitulah." Kedua alisnya terangkat sekilas dan menyunggingkan senyuman kaku.
"Tak apa. Masuklah ke kelas. Hari ini kita hanya belajar etika untuk para penyihir." Lyan mendahuluinya masuk ke kelas. Dimana semua siswa yang ia ampu sebelumnya sudah menyambutnya dengan ramah.
"Kalian kehadiran teman baru," ucap Lyan setelah membalas sapaan para juniornya. "Masuklah. Perkenalkan dirimu."
Setelah menghirup napas dalam, Zealin menghelanya perlahan. Menguatkan hati agar tak menampakkan diri jika sedang grogi.
Langkahnya masuk ke sebuah kelas. Menyaksikan para siswa akademi yang tampak sebaya dengannya. Mata mereka jelas tertuju pada satu titik. Dirinya. Tak ada yang berisik. Namun, tatapan mereka seolah penuh dengan tanya.
Zealin berusaha memperlihatkan sikap setenang mungkin. Seulas senyuman ia paku dengan manis. "Hai, aku Zealin Casia." Perkenalan yang cukup singkat. Hal itu mengundang tepuk tangan beberapa di antara siswa yang ada.
"Kau duduk di sebelah sana. Kemudian kita mulai kelas hari ini." Perintah Lyan pun diangguki oleh Zealin.
Saat Zealin berjalan melewati beberapa siswa, mereka mulai berbisik. Zealin berusaha menutup telinga, namun pada kenyataannya mereka sengaja membuat Zealin mendengarnya.
"Bukankah dia gadis yang melawan Nona Edrea?" bisik seorang gadks pada teman sebangkunya.
"Iya, dia gadis yang mengerikan," jawab teman sebangku si gadis dengan bahu yang bergedik ngeri
"Bagaimana jika kita bertanding melawannya kelak?" bisik si gadis lagi memicu ketakutan yang mendalam pada si teman sebangku.
"Mungkin kau akan mati di tangannya," sahut gadis lain yang duduk di belakang mereka.
"Jangan menakutiku, Bodoh!" Lagi-lagi si gadis tampak melotot kesal.
Salah seorang siswi terkekeh melihat teman sebangkunya bergidik ngeri sembari melihat ke arah Zealin yang duduk di deretan kedua dari belakang.
Meski percakapan itu menganggunya, Zealin berusaha mengabaikan. Ia hanya fokus ke satu tujuan. Belajar sihir untuk menyelamatkan Agetha.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Sunlone."
"Dekat dari sini."
Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Di tengah kelas yang sedang mulai, mereka berbisik dan bercakap singkat.
"Apa sebelumnya kau mengetahui akademi ini?" tanya teman sebangkunya lagi. Terkadang percakapan antara mereka membuatnya sedikit kurang fokus menerima materi.
Gadis itu hanya menggeleng pelan sembari terus fokus menatap couch yang berdiri di depan kelas.
"Lalu bagaimana kau bisa tau?"
"Aku ditemukan oleh Zinno."
Tanpa disadari, bola mata teman sebangkunya itu membulat total. "Ja—jadi kau hampir—"
"Ya, aku dan kembaranku hampir dieksekusi publik."
"Mengerikan. Siapa yang memerintahkan eksekusi publik bagi para penyihir? Kurasa dia memang orang yang sangat membenci sihir."
Gadis itu terdiam. Tak menanggapi pertanyaan yang sebenernya ia pun tak tahu apa jawabannya. Pertanyaannya itu masih menjadi misteri. Mungkin hanya beberapa yang tahu, atau bahkan tak ada yang tahu siapa dalang di balik kebencian para warga Castavonia terhadap penyihir.
"Caroline dan Mel, bisakah kalian ulangi materi yang saya sampaikan tadi?" Akhirnya couch pun menyadari percakapan yang sedari tadi terjadi. Akibatnya, keduanya hanya diam membisu karena menyadari kesalahan mereka. "Jika tak bisa menjelaskan ulang, kalian berdua akan terkena sanksi. Setelah kelas selesai, ikut saya."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Masing-masing kelas telah menyelesaikan materi hari ini. Para siswa berhamburan keluar dari kelas dan langsung menuju rencana mereka sendiru. Entah itu berlatih, bersantai, tidur, makan, atau bermain. Mereka dibebaskan selama jam istirahat. Tidak seperti sekolah pada umumnya, di Casnia Academy mereka hanya cukup menjalankan peraturan dengan disiplin selama kelas berlangsung. Kelas pun hanya berlangsung selama dua jam setiap harinya. Setelah itu, mereka bebas menggunakan jam-jam sisa hingga esok hari dengan kegiatan mereka sendiri.
"Bagaimana kelas pertamamu? Apa membosankan?" tanya seseorang dari belakang.
Ia pun menoleh dan mendapati Zinno tersenyum padanya. "Hey yo!" sapanya meniru gaya khas Zinno.
"Jangan meniruku, Nona Muda." Meski terkekeh, Zinno menatapnya tajam.
Zealin hanya tersenyum kikuk. "Kelas tadi cukup membosankan. Tapi aku senang karena Lyan yang membawakan."
"Jadi, kau lebih fokus pada Lyan daripada materi yang kau terima?"
Rona merah menyembur dari pipinya. Ia rasa, ia memang salah berbicara. "Ti—tidak begitu. Lyan tampak berbeda saat menjelaskannya. Jadi, aku yang mulai bosan menjadi melupakan kebosanan itu."
Zinno terkekeh pelan. "Baguslah. Kuharap kelasmu besok juga akan menyenangkan."
"Ya, semoga."
Mereka berjalan santai menyusuri koridor gedung Shapire. Beberapa siswa asyik di samping koridor dan memainkan holomoire-nya. Tampak sangat antusias belajar sihir.
Hari yang mulai sore memperlihatkan semburat oranye dari ufuk barat. Sepasang netra Aquamarine itu tampak berbinar setiap kali menatap birunya langit yang bercampur senja. Tanpa sengaja, ia menangkap sebuah tontonan. Beberapa siswa lain pun juga sedang menonton kedua gadis yang asyik beradu sihir di lapangan Gedung Shapire.
Langkahnya mendadak terhenti. Ia mengamati seorang gadis berambut hitam legam dengan warna mata Amber. Indah. Cantik. Anggun. Ketiga hal itu yang tersangkut dipikiran saat menatap mata gadis itu.
"Mereka sedang dihukum."
"Karena apa?" tanya Zealin penasaran. Matanya terus fokus menatap salah satu gadis dari kedua gadis yang dimaksud.
"Kurasa mereka asyik mengobrol saat kelas dimulai. Jika Couch Gerd yang mengampu, usahakan jangan banyak mengobrol. Karena beliau sangat tidak suka diabaikan."
Zealin hanya membulatkan mulutnya paham. "Zin, apa kau mengenal gadis bermata Amber itu?"
Zinno mengikuti arah pandang Zealin dan menangkap gadis yang dimaksud. "Ah, Mel Darren. Saudara kembar dari Bel Darren. Mereka hampir mati dieksekusi publik."
"Benarkah?" Zealin tampak terkejut saat mendengar jawaban Zinno. "Ta—tapi bagaimana bisa mereka lolos dari eksekusi itu?"
"Edrea menyadarinya dan dia langsung menyuruhku untuk datang menjemput mereka. Untung saja, mereka masih berada di perbatasan Kota Sunlone dan Hutan Criveus."
"Dari mana Edrea tahu?"
Pertanyaan itu memang hal wajar. Meski kedua mata Zinno tak terpaku pada Zealin, ia tahu jika gadis itu sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
"Edrea itu istimewa."
"Bagaimana maksudnya?"
"Dia ... seolah memiliki ikatan batin dengan para penyihir. Aku juga tak tahu pasti. Tapi, aku bisa merasakannya."
Kapasitas otak Zealin masih tak mampu menerima maksud dari Zinno. Hanya saja, ia memahami satu hal. Edrea adalah orang terpenting bagi para penyihir. Sebab, dia lah penyelamat mereka. Termasuk Zealin.
"Zinno, bagaimana caraku berterima kasih pada Edrea?"
Zinno tersenyum dengan tatapan yang hangat sehangat mentari hari ini. "Kabulkan keinginannya."
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Setelah berpisah dengan Zinno di persimpangan gedung, Zealin memutuskan untuk berjalan-jalan seorang diri mengitari area akademi. Rasa penasarannya semakin bertambah untuk ingin mendalami tentang tempat barunya sekarang. Ia hanya mengetahui empat gedung yang ada. Namun, ia masih ingin melihat area lain di belakang gedung serba guna.
Langkah kakinya terus melangkah damai. Sembari menikmati udara sejuk yang dikeluarkan oleh pepohonan Hutan Criveus, Zealin mengabsen satu persatu lekuk demi lekuk area akademi.
Namun, tiba-tiba saja ia merasakan ada keanehan. Tanah yang ia pijaki terasa bergetar. Seperyi ada gempa yang menyerang. Zealin berjongkok dan menyentuh tanah. Merasakan getaran yang tiba-tiba datang dan pergi. Beberapa saat getaran itu menghilang, saat Zealin kembali bangkit, getaran itu kembali lagi.
"Dari arah belakang gedung." Tanpa basa-basi, Zealin pun langsung berlari ke arah tempat perkiraan asal muasal getaran itu tercipta.
Sesampainya di sana, ia melihat sesosok makhluk aneh. Seperti robot yang menjulang tinggi ke angkasa. Namun, terbuat dari reruntuhan batu atau semacam tanah yang menggumpal. Zealin terbelalak seketika. Kepalanya mendongak untuk melihat makhluk yang berukuran raksasa itu.
"Ma—makhluk apa ini?"
Saat Zealin terfokus memikirkan jenis dari makhluk yang ada di hadapannya, ia tak menyadari jika serangan memdadak jatuh menimpa.
Sebuah ledakan muncul dari tanah tempatnya berpijak. Dengan sigap gadis berambut pirang itu menghindar meski sedikit terlambat. Ia terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri semua. Napasnya mulai tersengal. Ia terlalu bingung mengambil keputusan. Belum sampai ia belajar mantera apapun, ia harus dihadapkan dengan masalah baru.
"Sebenarnya siapa di balik makhluk itu?" gumamnya lagi. Ia terlalu banyak berpikir. Hingga tak sadar jika serangan kembali datang.
Hantaman sebuah tanah keras mengarah kepadanya. Gerakan gesit yang membuat tubuh Zealin berpindah cepat membuatnya sedikir beruntung. Sebab, hantaman itu meleset dan mengenai beberapa pepohonan hingga tumbang.
"Sial."
Zealin kalang kabut. Otaknya berputar untuk mencari cara melawan makluk tanah aneh itu. Sembari bersembunyi, Zealin menekan tombol di jam tangan miliknya.
"Lyan!" teriaknya saat panggilannya pada Lyan tersambungkan.
"Apa?"
"Aku diserang!"
"Di mana kau?" Suara Lyan tampak khawatir.
"Belakang gedung aula."
Panggilan itu langsung terputus. Sepertinya Lyan segera meluncur ke tempatnya berada. Sembari menunggu kehadiran Lyan, Zealin berusaha untuk melawan.
Ia mengeluarkan segala macam cara untuk menemukan titik lemah. Meski berulang kali dirinya tersambar jatuh, gadia bernetra Aquamarine itu selalu bangkit dan maju.
Makhluk itu tak menggunakan sihir untuk melawan. Namun, Zealin merasakan adanya sihir yang terselubung di sana. Seperti ada seseorang pengguna sihir yang menjalankan makhluk tanah itu.
"Hei! Keluar kau!" teriak Zealin yang masih terus menghindar dari setiap hantaman si makhluk tanah. Tempat yang semula rata, menjadi penuh dengan lubang dan retakan.
Zealin terus memutar otak. Mengingat setiap memori saat Lyan mengucap berbagai mantera sihir elemen air. Ia memilih untuk bersembunyi dan menyempatkan diri membuka holomoire.
Baru saja Zealin menampakkan diri, serangan kerikil kecil menghujam seluruh tubuhnya. Menimbulkan luka yang membuat pergerakannya terhambat. Entah sudah berapa kali umpatan yang ia lontarkan. Hal itu tetap tak membuat dirinya berhasil mengalahkan si makhluk tanah.
"Kýmata ydromasáz!" Cahaya biru berhasil keluar dari kedua telapak tangannya. Menyemburkan sebuah pusaran air yang begitu dahsyat hingga mematahkan sebelah tangan milik si makhluk tanah. Zealin tetap terjaga. Melontarkan segala macam mantera air yang ia yakini mampu meluluh-lantahkan makhluk tanah yang mengerikan sedemikian rupa. "Báles neroú." Kali ini mantera yang ia ucapkan berhasil melayangkan bola-bola air yang menghantam dengan energi cukup kuat. Kembali mematahkan kaki kiri si makhluk tanah hingga membuatnya hampir tumbang. Namun, keanehan kembali terjadi. Sebelum makhluk tanah itu berhasil tumbang, seseorang melafalkan mantera di sebelahnya, "Gíino plásma." Dan ... makhluk itu hilang seketika. Seperti debu yang tersapu angin.
"Klein?"
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Footnote :
▪️Kýmata ydromasáz : Pusaran Gelombang Air
▪️Báles neroú : Bola-bola Air
▪️Gíino plásma : Makhluk Tanah