▪️Chap 10▪️

2295 Kata
-Terkadang seseorang membutuhkan tekanan agar dirinya mampu untuk terus berlari dan maju- ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ "Ada apa, Ly?" Melihat Lyan bergegas keluar ruangan, Edrea pun melontarkan sebuah pertanyaan. "Zealin diserang. Aku harus membantunya." Edrea tertawa mendegar jawaban Lyan. Sebenarnya ia tahu hal itu akan terjadi. "Jangan panik. Biarlah dia urus urusannya sendiri." "Apa maksudmu, Ed? Dia dalam bahaya. Kita harus membantunya." sepertinya Lyan memang tak mengetahui apapun kali ini.  "Tenanglah, Ly. Zealin tidak sedang berhadapan dengan para Hex." Lyan mengerutkan dahinya heran. "Lalu?" "Dia sedang diuji oleh ... Klein." ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ "Klein?" Keadaan membuat Zealin semakin tampak seperti manusia terbodoh yang pernah ada. Dengan beberapa luka yang ia tuai, ia masih sanggup berdiri bahkan mencecarkan pertanyaan pada Klein. "Jadi, kau yang ada di balik makhluk tanah itu? Kau gila? Kau hampir membunuhku!" kesal Zealin setelah mengingat betapa kuwalahannya ia menghadapi si makhluk tanah. Terpental beberapa kali bahkan dihujam kerikil kecil yang menyakitkan. Sedangkan Klein, hanya tertawa setiap kali melihat kekesalan Zealin. "Tapi, kau sudah cukup lihai melafalkan bahkan menggunakan elemen airmu. Ternyata Lyan sudah mengajarimu dengan baik." "Aku bahkan belum mengajarinya apapun hari ini," celetuk seseorang yang baru saja muncul dengan santai—Lyan. Sosok itu bersandar di sebuah pohon rindang dengan melipat kedua tangannya di d**a. "Tapi ... kau bahkan cukup hebat meski pertama kali menggunakan elemen air." "Kau melihatnya?" Zealin menatap polos ke arah Lyan. Yang ditanya hanya mengangguk sekali. Anggukan itu justru membuat Zealin menepuk jidatnya pelan. Ia mendesah dan entah mengapa ia merasa jika mereka sedang mempermainkannya. "Ah! Aku merasa dipermainkan sekarang." "Kau belum menyadarinya? Aku sengaja membuatmu terpojok dan pada akhirnya kau bisa menggunakan sihir dalam dirimu." Klein menimpali pernyataan yang salah dari Zealin. Tujuan mereka melakukan semua ini hanyalah melihat tentang apakah kemampuan Zealin muncul hanya dalam keadaan terdesak. Hal itu memang benar, setiap kali Zealin merasa terdesak, ia mampu melafalkan mantera dengan cukup baik. "Dan kalian juga membuatku terluka," kesalnya. "Lihatlah." Gadis itu menunjukkan beberapa lebam dan goresan dengan noda merah berbau anyir di beberapa tempat. Tampaknya memang tak terlalu parah karena Klein tidak menggunakan energi penuh saat menyerang Zealin. Namun, bagi Zealin, luka yang ia dapat terasa menyakitkan. "Kau bisa mencoba untuk melatih sihir penyembuh," timpal Lyan. Sosok itu berjalan mendekati Klein dan Zealin berada. "Bagaimana caranya?" Lyan menatap kedua mata Aquamarine yang terlalu indah saat tersorot sinar mentari. "Fokuskan energimu pada telapak tangan. Sembuhkan, lafalkan itu dalam hatimu. Tetap fokus hingga kau merasakan ada rasa hangat yang menjalar." Zealin mengangkat telapak tangan kanannya dan mengarahkannya ke luka yang ada di tangan kirinya. Ia memejamkan kedua mata. Berusaha untuk memusatkan seluruh energi ke satu titik—telapak tangan kanan. Tak lama kemudian, sebuah cahaya biru muncul dari telapak tangan Zealin. Rasa hangat menjalar di telapak tangan kanan perlahan-lahan luka yang ada di tangan kirinya mulai memudar. Zealin membuka kedua matanya. Melihat cahaya biru yang masih berpijar dengan terang. Menyembuhkan luka-luka kecil yang ada di tubuhnya secara bergilir. Setelah merasa badannya terasa ringan kembali dan luka-luka sudah menghilang tanpa bekas, cahaya biru itu berangsur hilang. Kedua netra Aquamarine yang sedari tadi mengamati aksi penyembuhannya sendiri kini berpaling menatap kedua lelaki yang sudah memasang senyuman di bibir mereka. "Selamat. Kau berhasil ... lagi." Klein menepukkan kedua tangan dengan senyuman lebar menghiasi. "Kau termasuk gadis cerdas, Ze. See? Kau bisa menggunakan sihir penyembuh hanya dalam waktu kurang dari dua menit." Zealin tersipu dengan pujian itu. "Terima kasih atas pujianmu, Klein. Tapi ... aku masih merasa sangat kaku saat menggunakan sihir-sihir ini." "Tak apa. Gunanya berlatih adalah untuk menguasai apa yang kau miliki saat ini. Ah, kalau begitu, aku permisi dulu. Ada yang harus kuurus sebentar lagi." Tanpa menunggu lama, Klein pun langsung meninggalkan Lyan dan Zealin. "Kerja bagus, Ze. Akhirnya kau sedikit demi sedikit mampu menggunakan sihir dengan baik. Aku bisa melihat energimu mengalir dengan kuat." "Terima kasih, Ly. Ini juga berkatmu dan Edrea. Jika kalian tak membawaku ke akademi, mungkin selamanya aku tak mampu mengeluarkan sihir dalam diriku." Lyan tersenyum. "Jadi, aku tak perlu repot lagi untuk mengajarimu menggunakan elemen air, kan?" "Ah, kau harus tetap mengajariku. Aku hanya mampu menggunakan sihir dasar elemen air. Tapi ... untuk sihir modifikasinya—" "Penyihir juga harus kreatif." Lyan menyunggingkan senyuman miring. Membuat Zealin menggaruj tengkuknya yang tak gatal. "Oke, aku paham. Aku akan mencoba untuk memodifikasinya sendiri." Lyan terkekeh melihat wajah Zealin yang tampak pasrah. Namun, kekehan Lyan membuat Zealin mengerutkan keningnya. Merasa bahwa Zealin terus mengamatinya, kekehannya pun terhenti. "Ada apa?" "Aku baru pertama kali melihatmu tertawa." "Aku tidak tertawa." "Kau tampak lebih manis saat tersenyum lebar seperti tadi. Kenapa kau terus memasang wajah dingin dan menyebalkan?" Lyan membuang mukanya dan berdeham pelan. "Apa itu sebuah pujian atau ejekan?" "Kurasa itu sebuah pujian," kekeh Zealin. "Ah, Ly. Bisakah aku menggabungkan elemen air dengan panahku?" "Kurasa bisa. Jika kau berhasil menguasai elemen es juga." "Bagaimana caranya?" Lyan tersenyum tipis. "Belajar sendiri dari holomoire-mu." Ia pun berbalik dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Kemudian berjalan meninggalkan Zealin yang mendadak kesal dengan sikap Lyan. "Tunggu aku, Ly." "Cepatlah. Kau lambat." Akhirnya Zealin pun berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Lyan. Menikmati suasana hutan di antara gedung akademi yang menjulang tinggi. "Aku senang melihatmu berhasil walau tanpa belajar dengan keras. Tak salah, jika kami menjadikanmu sebagai harapan para penyihir." Ucapan Lyan membuat Zealin terheran. "Apa maksudmu? Harapan para penyihir?" "Kehadiranmu memiliku pengaruh cukup besar di sini. Kejadian yang kau membuatmu menderita, sebenarnya adalah jalan yang membuka harapan bagi kami—para penyihir." Lagi-lagi Lyan mengatakan hal yang tak mampu Zealin pahami. "Tunggu. Aku tak mengerti apa maksudmu, Ly." Langkah sosok itu terhenti. Sepoi angin yang membawa dedaunan kering berjatuhan dari ranting membuat suasana terasa hening dan intens antara keduanya. "Singkatnya, kau akan menjadi penyelamat hidup para penyihir." "Bagaimana itu bisa terjadi?" Beberapa saat, Lyan terdiam. "Karena ... kau keturunan dari Casia." Zealin menghela napas kasar. Ia memutar bola matanya malas dan kembali menatap Lyan. "Aku masih tak mengerti." "Baiklah. Kau hanya harus berlatih dengan keras dan mengalahkan Dark Master." "Benar juga. Aku hanya harus berlatih dengan keras, mengalahkan Dark Master, dan menyelamatkan Agetha. Kemudian, aku akan mengajak Agetha untuk tinggal di akademi yang sudah menyelamatkan hidupku. Endingnya, kita semua akan bahagia." Kali ini senyuman yang hadir dari Lyan terasa pilu. Sungguh indah harapan yang dilangitkan oleh gadis di depannya. Tanpa tahu, jika harapan itu adalah harapan yang mengandung resiko terlalu berat. "Akan sangat melegakan, jika harapan itu tercapai dengan sempurna." "Tentu saja. Selama kita bersatu, tak akan ada kegagalan. Benar, kan?" Lyan hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Walau sebenarnya, harapan yang terlalu tinggi, hanya akan menghasilkan luka yang teramat dalam. ▪️▪️▪️▪️▪️ "Bagus. Satu langkah kemajuan. Lalu, di mana dia sekarang?" "Bersama dengan Lyan." Edrea mengangguk paham. Ia kembali membaca beberapa kertas yang ada di mejanya. Kemudian, mendesah pelan dan memijat keningnya pelan. "Ada yang bisa kubantu?" tanya Klein setelah menyeruput kopi panasnya. "Tidak. Aku hanya merasa gelisah." "Apa yang membuatmu gelisah? Bukankah Zealin sudah berhasil maju satu langkah?" Edrea menggeleng. "Bukan. Bukan karena Zealin. Aku ... hanya berpikir kemungkinan terburuk." "Kemungkinan terburuk?" "Ya. Kita akan gagal, dan Zealin pasti—" "Ed," sela Klein. Sosok itu berjalan mendekati Edrea yang duduk sembari memijat kepalanya. "Hasil takkan mengkhianati usaha. Yakinlah dengan pepatah tua itu." "Ya, aku tahu. Tapi terkadang aku berpikir, bahwa kita hanya memperalat Zealin di saat Zealin tengah hancur. Ibunya terbunuh dan kita tak bisa menyelamatkannya. Kembarannya diculik oleh Dark Master dan seolah-olah kita hanya memperalatnya agar memusnahkan Dark Master dengan alibi penyelamatan Agetha." "Hei, hei. Tenanglah, Ed. Kita bukan memperalat Zealin. Gadis itu memiliki tujuan yang sama dengan kita. Meski tujuannya memang menyelamatkan Agetha, tapi Dark Master juga target utamanya seperti kita," bantah Klein. "Jadi, kita tidak memperalat Zealin, kita hanya menggabungkan dua kekuatan menjadu satu. Kekuatan luar biasa yang dimiliki Zealin dan kekuatan para penyihir di Casnia Academy. Saat kita bersama Zealin berhasil menumbangkan Dark Master, para penyihir sekaligus Agetha akan terselamatkan." "Planning dengan ending yang terdengar sangat indah, Klein. Tapi di dunia ini tidak ada yang gratis." Klein menatap Edrea tak mengerti. "Ada pengorbanan di setiap usaha yang kita lakukan." ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Malam kembali datang. Meski sirine pengingat untuk jam tidur sudah berbunyi lima menit yang lalu, Zealin masih asyik berjalan-jalan di koridor Gedung Saphire. Sebenarnya malam ini ia akan tidur dengan teman baru di salah satu kamar. Namun, ia belum menginjakkan kaki di kamar yang sudah diberitahu oleh Lyan. Ia memilih untuk berjalan-jalan sebentar dan menikmati angin malam. "Argh!" Saat dirinya berjalan melewati area lapangan yang biasa digunakan untuk berlatih, ia mendengar ada suara rintihan dari sana. "Siapa di sana?" ucapnya sembari mengedarkan pandangan. Ia pun menangkap seorang gadis dengan seragam yang sama dengannya. Tanpa basa basi, Zealin pun mendekati gadis yang tampak kesakitan itu. "Kau baik-baik saja?" Gadis dengan netra berwarna Amber itu mengalihkan pandangannya. Menatap Zealin yang tampak khawatir karena melihatnya menahan sakit. "Ah, ya. Aku baik-baik. Aku hanya sedang berlatih." "Kau yakin?" Gadis berambut hitam legam itu mengangguk dengan senyuman pucat di bibirnya. "Ya." "Bukankah kau ... Mel Darren?" Zealin mencoba untuk mengingat gadis yang ia lihat tadi siang. Mendengar pertanyaan Zealin, gadis itu terkekeh pelan. "Bukan. Aku, Bel Darren. Kembaran dari Mel Darren." "Oh, maaf. Aku belum bisa membedakan kalian. Kalian benar-benar identik." Bel—gadis bermata Amber itu tersenyum getir. "Wajah kami memang identik. Tapi, aura kami sangat berbeda. Bahkan sihir yang mengalir dalam energi kami juga sangat berlawanan." Zealin terdiam. Mencoba untuk mencerna sanggahan dari Bel. "Mel memiliki sihir penyembuh yang sangat baik. Dia disukai banyak orang karena kelihaiannya dalam menyembuhkan sesuatu. Ah, sihir yang dimilikinya sangat membantu orang lain." Bel masih memaku senyuman getir dengan tatapan sayunya. Kali ini, Zealin melihat ada perbedaan antara Mel dan Bel. Mel yang ia lihat tadi siang, memiliki aura kelembutan yang terpancar. Di balik hukuman yang menggelayuti, Mel tetap tenang dan senyumannya masih tampak tulus saat itu. Sedangkan Bel yang sekarang ada di depannya, memiliki aura yang sangat berbeda dari Mel. "Bagaimana denganmu?" tanya Zealin penasaran. Kedua mata Amber itu menatap Zealin sayu. "Aku pengguna sihir yang sangat berlawanan dengan Mel." "Maksudmu?" "Ya, jika Mel pengguna sihir penyembuh. Maka aku ... pengguna sihir pemusnah." Tepat. Zealin sudah menduganya. Dari apel yang hancur lebur itu—di depan mereka bercakap, Zealin mengetahui jika Bel adalah pengguna sihir pemusnah. "Jadi, kau kesakitan saat menggunakannya?" tanya Zealin. "Ya, benar. Aku memang pengguna sihir pemusnah. Namun, saat aku menggunakannya, sihir itu juga akan kembali padaku. Semakin sering aku menggunakan sihir ini, semakin dekat kematian berjalan ke arahku." "Tapi, apakah ada cara agar kau bisa menggunakan sihirmu tanpa melukai dirimu sendiri?" tanya Zealin. "Bisa. Tapi butuh waktu yang cukup lama. Ayahku juga pengguna sihir pemusnah. Hingga ayahku meninggal pun, beliau masih belum bisa menguasai sihir pemusnah tanpa melukai dirinya sendiri. Kepergian ayahku pun karena sihir ini. Tapi, ia berpesan agar aku tetap menggunakan sihir ini. Entah apa alasannya." "Aku tahu apa alasan mengapa ayahmu berpesan seperti itu." Bel menatap Zealin penasaran. "Apa itu?" "Kau dengan Mel adalah pemilik sihir yang berlawanan. Mel pengguna sihir penyembuh dengan sangat baik. Sedangkan kau kebalikannya. Harusnya kau sudah paham hal itu. Dunia ini menakdirkan kalian untuk terus bersama. Karena apa? Karena kalian saling melengkapi. Saat kau melawan sesuatu dengan sihir pemusnah yang bisa kapan saja melukaimu, ada Mel dengan sihir penyembuhnya yang siap menyembuhkanmu. Ketika Mel terluka, kau juga bisa melindunginya dengan sihirmu. Begitulah yang kupikirkan tentang kau dan Mel." Mendengar asumsi dari Zealin, Bel hanya terdiam. Meresapi dan memahaminya. Hingga akhirnya, senyuman getir yang sedari tadi terpaku, luntur perlahan. "Kau benar." Bel kembali menatap Zealin. Kali ini tatapan sayu itu mengulas sebuah senyuman tipis. "Tak salah jika akademi mengandalkanmu untuk mewujudkan harapan para penyihir." "Harapan?" "Ya, mengalahkan Dark Master." "Ah, jadi begitu." "Aku senang bisa bercakap denganmu, Zealin Casia." Zealin sedikit terkejut karena lagi-lagi ada yang mengenalinya dengan mudah. "Kenapa kau bisa tahu namaku dengan mudah?" "Dari warna rambut pirang pucatmu. Setahuku, hanya ada tiga marga di Castavonia yang memiliki rambut pirang. Vinom, Kin, dan Casia. Tapi, marga Vinom memiliki rambut pirang kemerahan. Marga Kin memiliki ramhut pirang yang sedikit gelap. Sedangkan Casia memiliki rambut pirang pucat. Jadi, aku mengetahui margamu dari warna rambutmu. Hanya saja, aku heran dengan warna matamu yang tampak sedikit aneh. Seingatku, Gretha Casia memiliki warna mata hijau Emerald. Apa warna mata itu diturunkan oleh ayahmu?" "Kupikir begitu. Karena kembaranku—Agetha—memiliki warna mata dan warna rambut yang sama dengan ibuku. Mungkin karena kami adalah kembar tak identik. Sedangkan aku, mungkin mewarisi warna mata dari ayahku." "Aku mendengar tentang kejadian yang menimpamu. Aku turut berduka. Sebenarnya Gretha Casia adalah orang yang sangat ingin kutemui. Tapi, aku terlambat." "Untuk apa kau menemui ibuku?" "Ada yang ingin kutanyakan." "Hey yo, kalian!" Kedua gadis itu mengalihkan pandangan pada sosok yang tiba-tiba datang. Sosok dengan sapaan khasnya itu membuat Zealin tersenyum lebar. "Hey yo, Zinno!" balas Zealin. "Ho-ho, sudah kubilang, Nona. Jangan meniru gayaku." Zealin terkekeh mendengar itu. "Apa kalian tak mendengar suara sirine pengingat?" tanya Zinno. Zealin dan Bel saling memandang satu sama lain. "Apa kalian mau hukuman?" Gelengan menjadi jawaban kedua gadis tersebut. "Kalau begitu, kalian harus segera masuk ke kamar dan beristirahat. Terutama kau, Zealin. Besok, kau harus berlatih personal dengan Klein. Jadi, kau harus menghemat energimu." "Ah, baiklah." Zealin menatap Bel yang sudah menatapnya sejak tadi. "Senang bertemu denganmu, Bel. Semoga lain hari kita bisa bercakap seperti ini lagi." "Senang bertemu denganmu juga, Ze." Bel menambahkan tangannya pada Zealin yang sudah berjalan menjauh dari mereka. Melihat Zealin sudah hilang dari pandangan, Zinno menepuk bahu Bel yang masih setia menatap kepergian Zealin. "Bel, tidurlah. Tenangkan hati dan pikiranmu." "Baiklah." ▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN