▪️Chap 11▪️

1870 Kata
-Salah satu hal yang sangat menyakitkan di dunia adalah ketika kita mencintai namun dunia dan takdir tak merestui- ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Casnia Academy memiliki ratusan ruang kamar untuk ratusan siswa di sana. Satu kamar dapat ditempati empat orang dengan gender yang sama. Asrama khusus putra memiliki kamar yang lebih sedikit dari asrama siswi. Dengan ukuran kamar sekitar tiga kali empat dan satu kamar mandi dalam, mereka tetap bisa hidup dengan nyaman. Ranjang yang ditempati pun berbentuk dua tingkat. Almari dua buah dengan ukuran sedang dan satu meja belajar. "Berlatih lagi?" Bel—gadis yang baru saja masuk di kamar nomor tujuh itu mengangguk. Setelah itu melepas seragam dan menggantinya dengan pakaian tidur. Gadis itu memang tak banyak bicara. Sama seperti kembarannya. Mungkin, selain identik wajah, Bel dan Mel memiliki satu sifat yang sama. Yaitu, tak banyak bicara. Meskipun jika dibandingkan dengan Bel, Mel terkenal lebih ramah dan memiliki cukup banyak teman atau kenalan. "Apa kau ... berhasil?" Pertanyaan kedua Mel membuat Bel meliriknya sekilas. Lalu gelengan menjadi jawabannya. Terdengar hembusan napas berat dari Mel. Gadis yang tengah asyik tengkurap di ranjang sambil membaca komik itu mendadak gelisah. Ia menelungkupkan wajahnya ke bantal dan terus menggumamkan sesuatu. "Ada apa denganmu?" tanya Bel penasaran dengan sikap aneh saudari kembarnya. Meski hal itu sudah cukup sering bahkan menjadi rutinitas. "Komikmu tamat? Atau memiliki ending yang tak sesuai?" "Bukan." Keningnya mengerut karena tebakannya salah. "Lalu?" "Aku penasaran dengan Zealin Casia. Seperti apa dia?" "Yang pasti dia memiliki warna rambut pirang pucat sama seperti Gretha Casia." "Sudah kuduga kau akan menjawab seperti itu. Hmm, tapi, Bel ... kudengar sebentar lagi akan ada ujian kenaikan tingkat. Apa kau terpilih?" Bel mengedikkan bahunya sekilas. Kemudian merebahkan diri di ranjang yang berbeda dengan Mel. "Apa kau terpilih, Mel?" tanya Shina, seorang teman sekamar yang sedang tertidur di ranjang atas. Mel melirik ke ranjang atas yang ditempati oleh Shina. "Besok akan diumumkan. Namun, aku tak yakin. Karena aku hanya menguasai satu sihir. Mungkin aku akan ditempatkan di bagian medis suatu saat nanti." "Kurasa kau juga akan lolos. Kami para penyihir petarung, pasti membutuhkan penyihir sepertimu, Mel," sahut Charlotte—seorang teman sekamar Mel dan Bel yang lain. Gadis yang sedang duduk di meja belajar itu mengalihkan pandangannya ke Mel. Mendengar ucapan Charlotte, Mel hanya diam membisu. Sudut matanya beralih ke Bel yang sudah mulai menutup mata. Meski ia yakin, Bel masih tersadar sepenuhnya dan mendengar ucapan Charlotte. "Bagaimana denganmu, Bel?" tanya Charlotte pada Bel. Gadis bernetra kecokelatan itu seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Bel meski kedua mata itu sudah tertutup. "Entahlah. Besok akan terlihat pengumumannya dan kalian akan tahu itu." Jawaban Bel membuat Charlotte membisu seketika. Ia pun kembali memutar tubuh dan fokus dengan kegiatannya tadi. Mel merasakan ada atmosfer yang mulai mendingin. Ia pun menepuk kedua tangan dan berkata, "Baiklah. Saatnya kita tidur!" ▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Di lain sisi, ruang lima belas adalah ruang yang menampung Zealin beserta tiga siswi lain. Untuk pertama kalinya, Zealin memasuki ruangan itu, semua mata langsung tertuju padanya. Ketiga gadis yang asyik bergurau langsung terdiam membisu dan memasang senyuman kaku pada Zealin. "Hai? Aku, Zealin. Teman sekamar kalian yang baru. Lyan sudah mengatakannya, kan?" Perkenalan Zealin pada ketiga teman sekamarnya. "Ah, ya. Selamat datang, Zealin. Semoga betah satu kamar dengan kami yang super berisik," sapa seorang gadis dengan rambut kecokelatan dan warna mata hitam keabuan. Gadis itu bangkit dari ranjang dan menyambut Zealin dengan hangat. "Jangan sungkan-sungkan. Kemarilah, duduk bersama kami." Zealin pun digiring mendekati kedua gadis lain dan duduk di kursi berlajar menghadap mereka. "Perkenalkan, namaku Givara berasal dari Sunlone." Gadis yang duduk di ranjang bersama dengan seorang gadis lainnya pun memperkenalkan diri. "Kalau namaku adalah Fio. Aku berasal dari Vandoria." Gadis yang menyambut hangat Zealin pertama kali pun akhirnya memperkenalkan diri pula. "Kalau kau?" tanya Zealin pada salah seorang gadis lain yang masih terdiam menatapnya aneh. "Emh, maaf jika aku banyak bertanya." Merasa tak ada respon bagus, Zealin pun tersenyum kikuk. "Caroline. Namaku, Caroline." Akhirnya gadis yang sedari tadi hanya memandangnya diam pun membuka mulut. "Aku ... tak percaya bisa bertemu dengan keturunan Casia. Apa kau ... memiliki inti murni?" Fio dan Givara menatap si target yang akan memberi jawaban—Zealin. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tipis. "Bukan. Kembaranku yang memilikinya." Mendengarkan jawaban Zealin, ketiga gadis itu terlihat kecewa. "Ah, ternyata gosip itu benar. Kau ada di sini untuk menyelamatkan kembaranmu yang berinti murni dan diculik oleh Dark Master?" tanya Givara tepat sasaran. "Tepat sasaran." "Aku turut berduka atas kematian Gretha Casia. Bukan hanya kau yang kehilangan seorang ibu, tapi kami—para penyihir—juga merasakannya." Fio menepuk bahu Zealin. "Aku baru tahu jika kalian mengetahui seluk beluk keluargaku. Apa keluargaku sangat mencolok?" tanya Zealin penasaran. "Kalau aku, aku mengenal Gretha Casia hanya dari cerita ibuku. Selain itu, tentang keturunan Casia, aku mengetahuinya saat aku berada di sini. Ya, dari kabar simpang siur yang beredar beberapa hari terakhir," jelas Fio. "Ya, sama. Aku juga sama seperti Fio." Zealin mengangguk paham dengan penjelasan ketiga temannya. "Lalu, apa keluarga kalian tahu jika kalian berada di sini?" "Justru ibuku yang menyuruhku untuk bergabung di akademi ini dan beliau memilih untuk menyembunyikan sihirnya." Sebagian besar dari siswa akademi memiliki rentang umur dari empatbelas tahun hingga dua puluh tahun. Hal itu dikarenakan usia lebih dari dua puluh tahun dianggap dewasa dan mampu menahan sihir yang ada dalam diri mereka. Jika mereka—yang berumur lebih dari dua puluh tahun—ingin bergabung dengan Casnia Academy, mereka akan dituntun untuk menjadi couch para penyihir yang masih di bawah umur dua puluh tahun. "Jadi, sekarang kau sebatang kara?" Sontak Fio dan Givara langsung menatap Caroline dengan tajam. "Kenapa kalian menatapku dengan aneh?" "Maafkan Caroline. Dia memang suka berbicara tanpa berpikir." Fio menutup kedua telinga Zealin dan Givara membungkam mulut Caroline. Zealin hanya terkekeh. "Tak apa. Aku dan Agetha memang sebatang kara sekarang." "Di mana ayahmu?" tanya Givara sembari memberi isyarat oada Caroline untuk tetap diam. "Kata ibuku, ayahku meninggal saat aku masih kecil." Ketiga gadis yang mendengar jawaban Zealin hanya mengangguk paham. Mereka pun kembali melanjutkan percakapan singkat yang cukup menyita waktu. Tanpa terasa, waktu terus berputar dan mereka pun tertidur di ranjang masing-masing. ▪️▪️▪️▪️▪️ Malam yang panjang bagi Lyan. Saat para mata tertutup rapat dan menikmati indahnya dunia mimpi, Lyan memilih untuk begadang dan melamun hingga melupakan waktu. Bulan sabit yang tertutup awan kelabu masih tetap bersinar terang. Ditemani para bintang yang berpijar di gelapnya malam. Sepoi angin menghembus perlahan. Menggelitik bulu kuduk untuk berdiri. Namun, sedingin apapun malam ini, tak membuat Lyan bergerak untuk masuk ke dalam kamar. Masa lalu kembali terkenang. Menggores luka lama yang hampir tertutup sempurna. Kadang, Lyan meratapi nasibnya karena memiliki sihir dalam diri. Namun, terkadang pula ia bersyukur karena sihir mempertemukannya dengan keluarga yang sesungguhnya. Meski tak ada hubungan darah, perasaannya tetap mengalir hangat setiap berada di dekat para penghuni Casnia Academy. "Sedang apa kau di sini?" Sapaan yang tiba-tiba terdengar membuat lamunannya membuyar. Ia tak melirik atau memastikan siapa sosok yang terdengar berjalan mendekatinya. Sebab, ia sudah sangat hapal dengan suara nyaring milik Edrea. "Kau sendiri kenapa belum tidur?" tanya Lyan tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun dari gelapnya malam. Kini, mereka tengah bercakap di sebuah bangku dekat dengan lapangan Gedung Amethys. Menikmati angin malam yang berhembus dengan tenang. "Awalnya aku lapar dan mau membuat masakan enak di dapur. Tapi, saat melihatmu sendirian, aku merasa iba." "Jangan suka mengasihaniku, Ed." "Tapi wajahmu memang pantas untuk dikasihani, Ly." Lyan terkekeh pelan. "Kau memang menyebalkan." "Tapi kau menyayangiku. Benar, kan?" goda Edrea sembari menyenggol bahu Lyan. Lyan terdiam beberapa saat. "Ya, itu benar," jawab Lyan dengan suara sendu. Membuat Edrea menghentikan aksi jahilnya dan merangkul pundak sosok bermata biru Saphire itu. "Ayolah, Ly. Kau selalu saja begini. Berbahagialah." "Aku sudah bahagia, Ed. Kau tak lihat?" Dengan raut wajah datar, Lyan mengatakannya. Edrea terkekeh. Lalu mengangkat tangannya dari pundak Lyan. "Kau mengatakannya dengan raut wajah terpaksa." "Ed." "Hm?" "Kenapa kau dan Klein tak bisa bersama?" Sebuah dehaman kecil keluar dari kerongkongan Edrea setelah mendengar pertanyaan Klein. Seolah ia tiba-tiba tersedak tanpa alasan. "Kenapa kau bertanya tentang hal itu sekarang? Sedangkan kau sudah bersama kami belasan tahun." Jawaban dari seorang Edrea berujung menjadi pertanyaan balik. "Aku hanya teringat dengan ucapan Zealin tentangmu dan Klein." "Zealin?" "Ya, dia bertanya padaku. Apa hubungan Klein denganmu. Tapi, aku tak bisa menjawabnya." Edrea terkekeh mendengar hal itu. Ia tak menyangka jika kedekatannya dengan Klein akan menuai rasa penasaran banyak orang termasuk Lyan—sosok yang sangat acuh tak acuh dengan lingkungan. Flashback on. . . Selangkah sebelum sampai di depan pintu masuk gedung Saphire, Zealin menahan lengan Lyan hingga langkah sosok itu terhenti. Tatapan heran pun muncul dari Lyan akan alasan apa Zealin menahan lengannya. "Ada apa?" "Aku penasaran dengan satu hal." Lyan mengangkat sebelah alisnya. "Apa?" "Apa hubungan Edrea dengan Klein? Aku melihat ada aura yang berbeda saat mereka bersama. Seperti ... cinta?" "Entahlah. Aku juga tak mengerti dengan mereka berdua. Kenapa tak kau tanyakan sendiri pada mereka?" Usul Lyan membuat Zealin membulatkan kedua matanya. Lalu menggeleng kuat dan memijat tulang hidungnya pelan. "Ah, itu ide buruk." Lyan terkekeh sekilas. "Kalau begitu, urus saja urusanmu sendiri." "Tapi ... apa kau tak merasa aneh?" "Apa maksudmu?" Kedua netra indah berwarna Aquamarine itu menatap lurus ke manik indab milik Lyan. Manik mata yang mampu memabukkan siapapun yang memandang. "Setiap kali Klein menatap Edrea, selalu menyorotkan sebuah luka. Bukankah itu tidak baik? Aku takut jika ternyata Klein sudah mengutarakan tapi Edrea tak mampu memahami." Lyan terdiam. Ia tak bisa menyangkal hal itu. Kejelian Zealin memang tepat. Ia juga merasakan hal yang sama. Terkadang, cinta bertepuk sebelah tangan juga berakibat buruk bagi siapapun. Ia tak mau jika hubungan yang awalnya baik-baik saja menjadi berantakan hanya karena rasa yang tak terbatas. "Sudahlah. Jangan urusi masalah orang lain. Aku pergi dulu." Tanpa mempedulikan Zealin yang terus menahannya, Lyan tetap berjalan meninggalkan Zealin dan melambaikan tangannya. Flashback off . . . "Cinta bertepuk sebelah tangan, ya?" gumam Edrea. "Sebenarnya ... masalah ini tak terlalu penting untuk dibahas. Tapi, karena kau penasaran mengapa aku dan Klein seperti ini, maka akan kujelaskan alasannya." Keheningan antara keduanya mulai terhapus saat Edrea memulai sebuah cerita. Lyan memandang lurus ke depan meski kedua telinganya hanya fokus pada satu suara. Kisah antara Klein dan Edrea. "Aku dan Klein ... teman semasa kecil. Kami sempat terpisah. Namun, pada akhirnya takdir kembali mempertemukan kami di Casnia Academy. Hubunganku dengan dia memang terbang cukup dekat. Kami terbuka tentang apapun. Ya, tapi ada satu hal yang tak bisa kami ceritakan satu sama lain. Tentang perasaan kami." "Tapi kenapa? Kalian sudah cukup lama bersama. Kenapa—" "Aku mengerti. Aku sangat mengerti apa yang kau ingin tahu." Lyan terdiam. Mendengarkan penjelasan Edrea hingga selesai tanpa kembali memangkas penjelasan itu. "Ada satu hal yang akan berakibat fatal jika aku dan Klein bersama. Itulah mengapa, aku tak bisa mengutarakan apa yang kurasakan pada Klein." Keningnya mengerut saat mendengar kata fatal di sana. "Fatal?" Edrea tersenyum miris. "Salah satu dari kami akan mati." "Ta—tapi, kenapa bisa terjadi?" "Aku dan Klein ... memiliki tanda kutukan yang sama." ▪️▪️▪️▪️▪️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN